Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Jago Berkuda Juga
Didit mengantarkan Rayi ke ruang kelasnya. Dan lagi-lagi dia tak menyadari dia diikuti oleh Lala yang memendam rasa cemburu pada kebersamaannya dengan Rayi.
"Oke selamat belajar sukses, ya, sampai ketemu di pacuan nanti .." ujar Didit melambai pada Rayi yang memasuki kelasnya. Tentu saja Lala yang berada di tempat yang tak terlalu jauh dengan pintu masuk ruang kelas Rayi.
"Oh dia anak semester pertama ..." gumam Lala dari tempatnya mengintai, "Pacuan?" Lala mengernyitkan alisnya, pacuan apa, ya, batinnya terus berpikir. Oh pacuan kuda tentu saja.
Lala mengangguk-anggukkan kepala paham. Dia tahu jika Didit dulu sering menunggang kuda.
Hem berarti mereka janjian bertemu di pacuan kuda. Apa gadis itu juga gemar berkuda seperti.Didit?
"Nggak boleh ..." gumam Lala tanpa sadar sambil melayangkan pandangannya kearah Didit yang khusuk mendengarkan
Lala tahu dimana Didit sering latihan berkuda karena waktu mereka masih menjadi sepasang kekasih sudah beberapa kali diajak ke sana.
"Hem aku akan ke tempat latihan menunggang kuda, tunggu saja."
Sapporo
Musim dingin di Sapporo memang sangat menakjubkan. Salju yang yang telah terbentuk menjadi patung-patung berbagai ukuran dan bentuk sangat indah di pandang.
"Aku pernah dengar kalau pemahat patung es asal Indonesia pernah juga menoreh prestasi di Sapporo Snow Festival ..."
"Ya aku juga pernah lihat pemahat asal negeri papaku, mereka nggak kalah dari peserta negara lain," ujar Aruna.
"Ya sungguh menakjubkan indah dan penuh kreasi semuanya," gumam Rio mengakui detil tiap detil pahatan pada masing-masing patung yang sangat halus.
"Sayangnya kita tak bisa menyaksikan keindahan patung es salju ini di malam hari ..." gumam Aruna dengan suara agak kecewa.
"Kenapa tak bisa?" Rio menoleh pada Aruna.
"Bukankah kita nanti sore sudah harus kembali ke Tokyo?"
Rio tersenyum.
"Apa kau punya janji dengan seseorang malam ini hingga kita harus kembali sore?"
Aruna tertegun menatap Rio, "Aku?"
Rio tersenyum dan mengangguk.
"Aku tak punya janji dengan siapa pun," geleng Aruna.
"Nah kalau gitu deal kita nanti malam akan melihat keindahan patung-patung itu,"
"Jadi?"
"Kita akan menginap semalam dan besok pagi-pagi kita terbang ke Tokyo, bagaimana?"
"Nginep di hotel?!" Aruna membelalakkan kedua matanya merasakan sebuah kejutan, seorang Rio mantan teman es em unya, yang dulu ditaksirnya mengajaknya tidur di hotel. Apa nggak sedang mimpi aku?
Rio tertawa dan menjulurkan tangannya menepuk pipi kanan Aruna, "Nggak usah takut apa kamu nggak percaya padaku?"
"Oh bukan ... Bukan itu ..." wajah Aruna seketika memanas saat menyadari pikirannya telah mengawang-awang.
Rio tertawa, "Aku ini sampai saat ini masih menjadi lelaki dengan menjaga diriku seutuhnya ..." menatap Aruna, "Tentu saja aku juga harus menghormatimu, "Jangan berburuk sangka, Non, kita akan menyewa dua kamar,"
"Iyya ... Ya ..." agak gugup Aruna. Padahal tadi dirinya sudah goyah antara menolak dan menerima jika Rio mengajaknya tidur satu kamar. Ih dasar mesum aku tiba-tiba. Tapi dia menyadari jika seandainya Rio benar mengajaknya tidur dalam kamar yang sama kemungkinan pertahanannya akan goyah.
Huh kenapa aku jadi selemah ini? Apa karena perasaan lama itu muncul kembali dan masih mengharapkan Rio.
Oh walau pun aku masih menyukai dan mengharapkan Rio, tapi aku harus bisa menjaga diri.
Lalu teringat ucapan Rio barusan tentang pertahanan lelaki itu sebagai bentuk bahwa Rio sampai detik ini masih perjaka. Dan juga menghormati dirinya pula.
Aku ini sampai saat ini masih menjadi lelaki dengan menjaga diriku seutuhnya ...Tentu saja aku juga harus menghormatimu, "Jangan berburuk sangka, Non, kita akan menyewa dua kamar,"
Aruna jadi malu sendiri.
"Hei kenapa bengong ayo kita lihat patung yang lainnya," ajak Rio dan tanpa sadar menarik tangan Aruna.
Dug.
Ada yang berdetak.dalam dada Aruna saat tangannya digenggam Rio.
Duh kenapa rasanya kok nyaman banget, ya, batin Aruna melirik tangan kirinya berada dalam genggaman Rio.
Setelah berkeliling melihat patung salju mereka menikmati ramen yang menyegarkan di siang hari.
Sebelum mencari hotel Rio mengajak Aruna untuk membeli baju salin untuk mereka. Masing-masing membeli satu pakaian untuk tidur, dan juga pakaian untuk dikenakan saat besok pagi kembali ke Tokyo.
Setelah memilih keperluan segera Rio membayar belanjaan mereka dan meninggalkan toko untuk mencari hotel.
Di Pacuan Kuda
Rayi dan Airin berlatih bersama kuda mereka dengan serius untuk melewati rintangan demi rintangan yang telah dibuat oleh Siswoaji pelatih di Sasana Pacuan Kuda Satya.
Rayi bisa memberi ruang pada Airin untuk lebih berani melampauinya jika memang begitu keadaannya, dan Airin pun bisa mengimbangi Rayi yang jelas lebih senior dari dirinya.
Didit yang sedang berada di atas punggung kudanya boleh dikatakan lebih fokus pada latihan yang dilakukan Rayi, daripada memacu kuda mengelilingi lapangan seperti seperti yang lainnya.
Hal itu tak lepas dari perhatian Lala yang sejak tadi berada di sekitar Rayi berlatih. Kehadirannya tak menarik perhatian anggota penunggang kuda lainnya, walau dia tak berada di atas kuda. Karena di sana banyak para anggota Satya Club Berkuda yang juga hanya melihat temannya yang berkuda karena kuda mereka memang sedang istirahat.
Namun kedatangan Lala penuh persiapan. Berkacamata hitam hitam mengenakan masker dan menutup kepalanya dengan topi. Hal itu sengaja untuk tidak dikenali oleh Didit.
Selesai sudah Rayi dan Airin berlatih. Siswoaji mendekat.
"Kalian hebat bisa kosentrasi penuh dan semua rintangan dibabat habis, jadi ingat pupuk kerjasama dengan kuda kalian, kalau nggak kompak tamat sudah ..." ujar Siswoaji yang merasa puas melihat aksi Rayi dan Airin, terutama pada Airin yang catatan prestasinya jauh berada dibawah Rayi. Tapi diantara anggota berkuda lainnya gadis itulah yang paling layak mendampingi Rayi pada event berkuda se Jabodetabek yang akan diselenggarakan dua minggu lagi.
"Ya Om " angguk Airin.
"Oke istirahat dulu," ujar Siswoaji.
"Oke, Om,"
Siswoaji meninggalkan Rayi dan Airin.
"Airin kamu hebat lho tadi bisa mimpin Silver jumping dua kali terus langsung belok, euy ..." goda Rayi pada Airin.
"Tapi deg deg gan juga, Kak," ujar Airin.
"Tapi bisa kan?"
"Ya meniru semangat Kak Rayi," malu-malu Airin.
"Pokokna mah, hebat euy ..." goda Rayi.
Didit mendekat."Emang benar Airin kemajuannya pesat .." Didit mendekat dan langsung nimbrung, "Tetap semangat, Rin .."
Airin tersenyum,"Siap, Kak," kemudian Airin menuntun kudanya, "Aku mau ambil minum dulu," menjauh dari Rayi dan Didit.
Didit memberikan satu botol air mineral.
"Wah terima kasih Kak Didit jadi enak ..." canda Rayi.
Didit tersenyum tak lepas tatapannya pada Rayi yang kini sedang meneguk air dari botol mineral pemberian Didit.
Apa mereka sudah jadian, ya ...?" Lala merasa cemas bagaimana jika Didit memang sudah jadian dengan Rayi, ah aku tak perduli pokoknya bagaimana pun harus aku harus mendapatkan cintanya Didit kembali. Bila perlu harus bisa membuat gadis itu tak berani menjadi pacar Didit.
Lala kemudian mulai mencari informasi tentang Rayi. Maka didekatinya salah seorang yang sedang mengaso di dekat kudanya. Maka dia melepas kaca mata hitamnya, serta maskernya pula, namun tak perlu membuka topinya.
"Hai ..." sapa Lala ramah pada seorang gadis yang kira-kira lebih muda dari dirinya.
"Hai Kakak ..." sambut gadis itu ramah pada Lala, "Aku Anik,"
"Suka menunggang kuda, ya, Anik," mulai mencari sela pada gadis berambut pendek itu Lala.
"Ya ..." gadis itu tertawa.
"Enak ya berkuda," tanya Lala.
"Ya begitulah," sahut gadis itu, "Kakak juga anggota berkuda di sini?"
"Ah nggak hanya nganter teman," jawab Lala pura-pura, "Oh ya itu cewek yang kudanya coklat susu mahir juga ya dia berkuda," lanjutnya sambil menunjuk pada Rayi yang masih bercakap-cakap dengan Didit.
Gadis itu mengikuti telunjuk Lala, kemudian tertawa, "Wah kak Rayi, mah jangan ditanya, dua dari umur balita udah naik kuda ..."
"Namanya Rayi?"
"Ya, dia udah juara berkali-kali, aku juga ingin kayak dia ..."
Lala merasa Rayi memang ancamannya untuk mendapatkan cinta Didit Kembali. Ada nilai tambah ada pada Rayi yang tak dimilikinya yaitu tentang Rayi yang jago menunggang kuda.
"Aku harus bisa berkuda juga pokoknya, kalau aku tekun pasti aku juga bisa jago ..."
suka banget alurnya