NovelToon NovelToon
Pura-Pura Tak Kenal

Pura-Pura Tak Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosida0161

Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelaki Yang Merindukan Putrinya

Kakek Brata tak menyalahkan Rayi jika menantu cucunya itu belum memberitahu Rio soal hobbynya berkuda.

Namanya juga baru pendekatan, apalagi setelah menikah mereka harus berjauhan. Rayi mungkin tak mau mengganggu kesibukan dan tugas Rio di Jepang. Begitu kesimpulan kakek Brata yang memang tak curiga jika Rio cucunya sudah memberikan kalimat yang membuat Rayi tak memiliki keinginan untuk bersama suaminya.

Brata tak akan pernah tahu jika Rayi sudah dibuat tersinggung oleh Rio pada hari pertama pernikahannya. Dia juga telah dibohongi oleh gadis itu jika selalu mengaku hubungannya dengan Rio lagi pendekatan.

Wah seandainya lelaki tua itu tahu jika Rio akan berpisah dengan Rayi, pun Rayi akan mengikuti maunya Rio, karena mana mungkin mempertahankan hubungan yang tak diingikan sebelah pihak. Walau perjodohannya dengan Rio adalah juga keinginan kakek Satya.

Kecewa jelas kakek Brata, karena dia sudah punya janji dengan kakek Satya. Selain ini dia juga menyukai Rayi yang ramah dan terkesan santun sikap yang diwariskan oleh kakek Satya.

Hari ini Rayi pulang untuk menengok kakek Brata. Gadis itu berhasil membujuk kakek Brata untuk tinggal di rumah kakek Satya dan kakek Brata secara berselang seling. Tiga hari di rumah kakek Satya dan empat hari di rumah kakek Brata.

Bagi kakek Brata selama Rio di Jepang tak mengapa, lagipula cucu menantunya itu mengatakan jika Rio setuju dengan pengaturan waktu itu.

"Rayi ..."

"Ya, Kek,"

Mereka sedang sarapan pagi bersama.

"Bagaimana persiapanmu untuk event yang hanya tersisa dua hari lagi?"

Rayi tersenyum, "Alhamdulillah persiapan cukup, Kek, ya maju ajah berlomba kalau menang ya rejeki dikasih kesempatan, kalau kalah berarti lawan lebih tangguh, tapi usaha harus semaksimal mungkin." ujarnya tenang tak menunjukkan ambisi untuk menguasai lapangan lomba, namun di dalam dirinya tentu saja semangat untuk berjuang bersama kuda si coklat susu seratus persen untuk menang.

"Sudah kasih tahu Rio kalau mau ikut lomba?" Kakek Brata menatap cucu menantunya.

Untuk menghindari tatapan kakek Brata, segera Rayi sibuk melanjutkan makannya. Dia khawatir kakek mertuanya itu bisa melihat kebohongan di sinar matanya.

"Nanti Rayi mau kasih tahu mas Rio, Kek," padahal bohong, buat apa laporan sama lelaki sok dan sombong yang mengira dirinya sangat berharga itu. Huh nggak sudi aku ngasih tahu lelaki kepedean, entar makin gede kepala dia!

"Bagaimana pun kalian kan sah sebagai suami istri dalam agama, suami pengganti orang tua biar dia dari jauh membantumu dengan doa ..." ujar kakek Brata.

"Ya, Kek," angguk Rayi lalu mengangkat gelas berisi air, huh mana mungkin aku mau dia menggantikan orang tuaku. Walau papa nggak suka dan benci aku bukan lelaki macam Rio kali yang akan kujadikan sandaran dan panutanku, batinnya.

Masalah Rusli sang papa yang tak menyukainya, bahkan menyalahkan kehadiran dirinya telah menyebabkan mamanya meninggal, sudah dia ketahui dari kakek Satya.

Mulanya kakek Satya merahasiakannya, tapi seiring waktu saat Rayi berumur tujuh belas tahun kakek Satya menceritakan tentang kepergian Rusli dari rumah mereka, bahkan penyebabnya merasa terpukul akibat Ratri mamanya Rayi meninggal karena perdarahan hebat saat melahirkan.

"Maafkan papamu dia khilaf doakan dia dalam keadaan sehat," ujar kakek Satya waktu itu sambil mengelus rambut Rayi yang merasa sangat terpukul dan sedih.

"Tapi aku memang jadi penyebab kematian Mama, Kek," waktu itu Rayi menangis menyalahkan dirinya atas kematian sang mama.

"Takdir itu sudah ada yang mengatur, sayang, umur manusia jodoh dan rejeki rahasia Tuhan, jangan menyalahkan dirimu. Papamu itu terlalu cinta pada mamamu. Dia jadi bucin dibudaki cinta."

Rayi melihat raut muka kakek Satya tiba-tiba sangat serius.

"Anak itu anugerah dan bayi mungil dirimu adalah pemberian Tuhan mana bisa disebut pembunuh!" Suara kakek Satya agak keras dan berat, "Rusli lelaki rapuh. Akal sehatnya sudah hilang karena kecintaannya meninggal, dia betul-betul bagai orang tak beriman menyalahkan bayinya sendiri sebagai pembunuh istrinya. Hal itu membuat mata hatinya buntu, serta pikirannya tak berfungsi!"

Namun begitu Rayi tiga hari sulit makan dan terus menerus menangis di dalam kamarnya.

"Rayi jangan menangisi keadaan yang seharusnya tak membuatmu nanti bisa hilang akal sehat. Kematian mamamu sudah takdir, tak perlu menangis karena papamu tak bisa menerimamu. Biar saja papamu tak menyukaimu. Tapi doakan saja dia sadar dan memiliki iman yang kuat bahwa kematian itu ketentuan dari Tuhan ..."

                                             *

Sore yang cerah di lereng bukit.

Seorang lelaki paruh bayah berumur empat puluh enam tahun berbadan kokoh serta raut muka masih menyisakan ketampanan masa mudanya.

Dengan cekatan lelaki itu melompat ke atas kuda yang baru dibelinya dua tahun lalu. Belum terlalu akrab memang karena selama dua tahun dia tidak setiap hari bertemu dengan kuda miliknya yang memiliki bulu berwarna putih salur hitam. Karena profesinya adalah pelaut yang memiliki rutinitas pekerjaan di atas kapal yang belayar. Dengan perbandingan empat bulan di atas kapal dan satu bulan di darat.

Namun begitu dia terlihat sangat mahir berkuda berkeliling di bukit yang tak jauh dari vila tempat tinggalnya. Bahkan sangat telaten dan cekatan menghadapi kuda tunggangannya, sehingga walau boleh dikatakan dia dengan kuda tunggangannya walau tak intens bertemu, namun elusan tangannya pada kuda putih salur hitam itu, cukup membuat kudanya patuh, seakan mereka sering bersama.

Tentu saja lelaki itu tak merasa kerepotan dengan kuda tunggangannya. Karena dia adalah Rusli seorang penunggang kuda handal masa mudanya. Sejak kecil sudah terbiasa dengan kuda, karena orang tuanya adalah pelatih kuda tunggangan, atau ayahnya adalah seorang pelatih joki untuk kuda.

Rusli mengenal kuda dari ayahnya yang bersahabat dengan kakek Satya, bahkan ayah Rusli adalah pelatih di club milik kakek Satya, yang kemudian jatuh cinta pada Ratri putri kakek Satya.

Rusli dan Ratri menikah dan Rusli menggantikan ayahnya menjadi pelati kuda sekaligus asisten kakek Satya, hingga saat Ratri meninggal karena melahirkan Rusli merasakan dunianya runtuh.

Bagai kehilangan akal sehat Rusli menganggap bayinya adalah penyebab istri tercintanya meninggal, dia tak suka pada bayinya dan pergi meninggalkan rumah kakek Satya delapan belas tahun lalu.

Nekat menjadi anak buah kapal meninggalkan Indonesia. Namun dua tahun lalu kembali ke Indonesia, membeli vila di lereng bukit.

Saat pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta, yang didatanginya adalah makam Ratri istrinya. Lalu selama dua tahun ini dia selalu pulang ke vilanya dan setelah satu bulan akan berangkat belayar lagi.

Delapan belas tahun mengarungi samudera bekerja di sebuah kapal tangker berbendera Amerika, maka saat ini lelaki yang telah mencapai pangkat nakhoda itu ingin pensiun dari pekerjaannya. Dari jerih payahnya sebagai pelaut akan dipergunakan untuk membuka toko peralatan olah raga, termasuk olah raga berkuda tentunya.

Setelah tiga kali berputar mengelilingi lereng bukit, maka Rusli membawa kudanya pulang. Sore ini dia akan menerima tamu.

Setelah sampai di depan kandang Rusli turun dari punggung kudanya, dan Amin dengan sigap mengambil alih kuda miliknya untuk diurus. Amin adalah penjaga rumahnya sekaligus pengurus kuda.

Tak menunggu terlalu lama datang Teguh yang mengenakan celana levis dan jaket kulit. Lelaki berkulit coklat gelap itu adalah orang yang diminta untuk menyelidiki keadaan di rumah kakek Satya.

"Ini, Pak," ujar Teguh memberikan amplop coklat yang berisi hasil penyelidikannya tentang Satya dan Rayi.

Saat membuka amplop dan mengeluarkan catatan serta beberapa foto Rayi dari berbagai tempat.Di kampus dan ketika sedang berkuda.

Dada Rusli terguncang hebat menatap foto anak gadisnya yang mirip dengan Ratri. Raut mukanya langsung merah.

Ada rasa bersalah yang begitu besar pada bayi yang dulu hanya dilihatnya sepintas dan tak pernah disentuhnya, apalagi diberinya kasih sayang.

Terlintas dalam benaknya bayi itu menangis di samping jasad ibunya. Namun hati Rusli membatu tak menghiraukan tangisan kecil itu.

Dan bayi itu kini sudah menjelma gadis cantik delapan belas tahun.

Saat kau bayi membutuhkan aku sebagai papamu, justru aku meninggalkanmu tanpa perasaan. Papa sudah jahat padamu ..." tanpa merasa malu pada teguh di depannya lelaki itu menitikkan air mata, "Anakku ..."

1
Rosida0161
ya mike up trimksih koreksinya
Ririn Rafika
semangat kak
Ririn Rafika
semangat kak
suka banget alurnya
Memyr 67
𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖺𝗄𝗌𝗎𝖽 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉? 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗇𝗎𝗅𝗂𝗌, 𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗎𝗌 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝗂𝗁?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!