Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 RTJ
Keheningan yang menyelimuti Desa Suku Roh Salju setelah ritual di Mata Air Kehidupan terasa begitu kental, seolah-olah waktu sendiri pun enggan bergerak di tempat yang disucikan ini. Uap hangat dari kolam masih mengepul, namun suasana di dalam gubuk es tempat Long Chen dan Lin Xi beristirahat dipenuhi oleh ketegangan yang tak kasat mata.
Lin Xi duduk di tepi ranjang yang terbuat dari balok es yang dilapisi kulit beruang kutub. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Warna kulitnya kini jauh lebih pucat, hampir transparan, dengan urat-urat keunguan yang sesekali berdenyut di bawah permukaan. Rambutnya, yang dulu hitam pekat seperti malam tanpa bintang, kini memiliki gradasi perak di bagian ujungnya—sebuah tanda permanen bahwa ia bukan lagi manusia biasa, melainkan wadah bagi energi Yin purba.
Di sampingnya, Long Chen terbaring dengan napas yang mulai teratur. Meskipun wajahnya tidak lagi seputih kertas, ada guratan kelelahan yang mendalam di matanya saat ia perlahan membuka kelopak mata.
"Xi'er..." suara Long Chen terdengar parau, nyaris seperti gesekan amplas.
Lin Xi segera meraih cangkir kayu berisi air hangat yang dicampur dengan sari bunga es—pemberian dari tetua suku. Ia membantu Long Chen minum dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah pria di hadapannya adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
"Jangan banyak bicara dulu, Chen. Tubuhmu masih beradaptasi dengan kekosongan energi setelah semua racun itu ditarik keluar," bisik Lin Xi. Jemarinya yang dingin menyentuh kening Long Chen, mencoba memberikan ketenangan yang ia sendiri sulit temukan.
Long Chen menangkap tangan Lin Xi. Ia merasakan suhu tubuh gadis itu yang jauh di bawah normal. "Kau melakukannya... Kau menyerap semuanya kembali. Kenapa kau tidak membiarkan aku pergi saja, Xi'er? Menjadi wadah kegelapan itu... itu adalah hukuman yang tidak seharusnya kau tanggung."
Lin Xi terdiam sejenak. Ia menatap mata Long Chen, mencari pantulan dirinya di sana. "Dunia ini sudah cukup gelap bagi kita berdua, Chen. Jika aku harus menjadi monster untuk memastikan kau tetap bisa melihat cahaya, maka aku akan menjadi monster yang paling mengerikan sekalipun. Lagipula, bukankah kau yang mengajariku bahwa singgasana tidak ada artinya tanpa orang yang kita cintai?"
Interaksi itu berlangsung lama dalam keheningan yang menyesakkan namun manis. Mereka saling memandang, menyadari bahwa takdir mereka kini telah terikat dalam simpul mati yang tak mungkin diurai. Namun, di luar gubuk es yang tenang itu, badai lain sedang terbentuk—bukan badai salju, melainkan badai pengkhianatan.
Di sudut desa yang gelap, jauh dari pengawasan para prajurit suku, Satu berdiri menyandar pada pilar es. Luka di bahunya sudah dibalut, namun pikirannya jauh lebih terluka. Ia sedang mengawasi seorang anggotanya, seorang pemuda bernama Dua, yang sedang sibuk mengasah belatinya dengan gerakan yang terlalu gelisah untuk seorang elit Garda Bayangan.
Satu mengingat kembali setiap detail perjalanan mereka. Bagaimana Hua Ling bisa menemukan posisi goa mereka dengan begitu presisi? Bagaimana para prajurit Suku Roh Salju bisa tahu kedatangan mereka dalam hitungan menit? Hanya ada satu jawaban: ada sinyal yang dilepaskan.
"Dua," panggil Satu dengan nada datar.
Pemuda itu tersentak, belatinya terlepas dari tangan dan jatuh ke salju dengan bunyi ting yang tajam. "Ah, Kakak Satu... Kau mengejutkanku. Kenapa kau tidak beristirahat? Jenderal Lin memerintahkan kita untuk memulihkan diri."
Satu berjalan mendekat, langkah kakinya tidak meninggalkan suara. Ia menatap Dua dengan mata elang yang telah melewati ratusan pertempuran. "Berapa harganya?"
Wajah Dua berubah kaku. "Apa maksudmu, Kakak?"
"Berapa harga yang dibayar oleh Pangeran Pertama atau mungkin Guru Wu untuk menjual nyawa Pangeran Kedua dan Jenderal Lin?" Satu kini berdiri tepat di depan Dua, aura membunuhnya perlahan keluar. "Aku melihatmu membakar sesuatu saat kita berada di hutan pinus sebelum masuk ke lembah. Kau bilang itu hanya sampah, tapi asapnya berwarna biru—warna sinyal dari faksi bayangan istana."
Dua terdiam. Matanya bergerak liar mencari jalan keluar. Tiba-tiba, ia tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat asing bagi Satu. "Kau selalu terlalu teliti, Satu. Itulah sebabnya kau tidak pernah naik pangkat. Pangeran Pertama menjanjikanku posisi Komandan Garda jika aku berhasil memberikan koordinat mereka. Lagipula, kau lihat sendiri... Jenderal Lin sudah menjadi iblis. Dia bukan lagi pemimpin yang kita kenal!"
Sret!
Belati hitam milik Satu sudah berada di leher Dua sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kalimatnya. "Jenderal Lin menjadi seperti itu karena melindungi kita! Dan kau... kau hanyalah sampah yang tidak pantas menyentuh bayangannya."
"Bunuh aku jika kau mau," desis Dua dengan kebencian. "Tapi terlambat. Hua Ling hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengejar mereka. Tentara perbatasan Kekaisaran Awan sudah bergerak menuju Utara. Mereka membawa dekrit dari Kaisar untuk menghukum mati Jenderal Lin atas tuduhan pengkhianatan dan praktik ilmu hitam."
Hati Satu mencelos. Jika militer resmi sudah bergerak, maka situasi ini bukan lagi sekadar pertarungan antar praktisi, melainkan perang terbuka.
Sementara itu, di kediaman Tetua Agung, Lin Xi sedang menjalani ujian pertamanya. Ia berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi oleh kristal resonansi. Tetua Agung duduk bersila di hadapannya, memegang tongkat kayu kunonya.
"Kekuatan Yin yang kau miliki sekarang seperti naga liar yang baru saja bangun dari tidur seribu tahun," ucap Tetua Agung. "Jika kau tidak belajar mengendalikannya dengan 'Kehendak Pedang', energi itu akan memakan organ dalammu dari dalam ke luar."
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Lin Xi.
"Tutup matamu. Rasakan kegelapan itu bukan sebagai musuh, tapi sebagai bagian dari napasmu. Jangan mencoba menekannya, tapi arahkan dia."
Lin Xi memejamkan mata. Seketika, ia merasa seolah-olah tenggelam dalam samudera tinta hitam yang dingin. Di dalam kegelapan itu, ia melihat bayangan-bayangan mengerikan—wajah orang-orang yang pernah ia bunuh di medan perang, suara tangisan, dan tawa mengejek dari Guru Wu.
Ggggrrr...
Asap hitam mulai keluar dari pori-pori kulit Lin Xi, membentuk tentakel-tentakel yang mencambuk udara di sekitarnya. Kristal-kristal di ruangan itu mulai retak satu per satu akibat tekanan energi yang luar biasa.
"Fokus, Jenderal!" seru Tetua Agung. "Ingat tujuanmu! Untuk siapa kau memegang pedang ini?!"
Wajah Long Chen yang tersenyum muncul dalam benak Lin Xi. Rasa hangat yang ia rasakan saat Long Chen memegang tangannya menjadi pelita di tengah samudera tinta tersebut. Lin Xi menarik napas dalam-dalam. Secara perlahan, tentakel asap hitam itu mulai menyusut dan memadat, membungkus lengan kanan Lin Xi seperti baju zirah tipis yang berkilau.
Ia membuka matanya, dan untuk pertama kalinya, warna merah delima di matanya tampak stabil, tidak lagi liar.
"Bagus," puji Tetua Agung, meski ia tampak sangat lelah. "Kau memiliki kemauan yang lebih kuat dari siapapun yang pernah kulihat. Tapi ingat, Lin Xi... semakin banyak kau menggunakan kekuatan ini, semakin tipis batas antara kemanusiaanmu dan kegelapan itu. Suatu saat, kau mungkin harus memilih antara tetap menjadi manusia atau menjadi dewa kematian demi menyelamatkan pangeranmu."
Lin Xi mengepalkan tangannya. "Aku sudah membuat pilihan itu di Mata Air Kehidupan, Tetua."
Tiba-tiba, Satu berlari masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah. Darah terlihat membasahi tangan kanannya—darah yang bukan miliknya.
"Jenderal! Pangeran!" seru Satu. "Kita harus pergi sekarang juga!"
Lin Xi berdiri seketika, auranya menajam. "Ada apa, Satu?"
"Dua telah berkhianat. Dia mengirimkan sinyal ke tentara perbatasan. Pangeran Pertama secara pribadi memimpin pasukan 'Garda Langit' dan mereka hanya berjarak beberapa jam dari lembah ini. Mereka tidak hanya mengincar Jenderal, tapi mereka juga membawa 'Alat Penyaring Arwah' untuk menghancurkan Kakek Bai!"
Lin Xi menoleh ke arah gubuk tempat Long Chen berada. Amarah yang dingin kembali membakar hatinya. Ia baru saja mendapatkan kembali Long Chen dari ambang kematian, dan sekarang keluarganya sendiri ingin menghancurkan mereka kembali.
"Tetua Agung, terima kasih atas segalanya," ucap Lin Xi sambil membungkuk rendah. "Tapi sepertinya kedamaian di desa ini harus berakhir karena kami."
Tetua Agung menghela napas, menatap langit-langit gua. "Ramalan salju merah itu memang tidak pernah salah. Pergilah melalui jalur belakang pegunungan. Ada jalan kuno yang menuju ke wilayah suku nomaden Utara. Mereka tidak terikat pada Kekaisaran Awan."
Lin Xi segera kembali ke gubuk Long Chen. Ia mendapati pria itu sudah berusaha duduk, meskipun tubuhnya masih gemetar. Long Chen rupanya telah mendengar semua pembicaraan tadi.
"Chen, kita harus bergerak," kata Lin Xi sambil menyiapkan perlengkapan mereka.
Long Chen menatap Lin Xi, lalu menatap Satu yang berdiri di pintu. "Satu... di mana Dua?"
Satu menunduk. "Hamba sudah menyelesaikan pengkhianat itu, Pangeran."
Long Chen memejamkan mata sejenak, ada rasa perih di sana. Dua adalah orang yang tumbuh bersamanya sejak kecil. "Begitu ya... Baiklah. Xi'er, bantu aku berdiri. Jika saudaraku ingin melihat bagaimana rasanya 'kekuatan gelap' yang ia bicarakan, maka aku akan menunjukkannya padanya."