Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Air Mata Sunyi
Hening yang menyelimuti apartemen pribadi di High Tower terasa lebih berat daripada beton labirin yang baru saja mereka lalui. Di balik jendela kaca besar, kota Astinapura tampak seperti hamparan sirkuit listrik yang dingin, tak peduli pada dua jiwa yang baru saja nyaris tercekik oleh ilusi ghaib. Arkananta berdiri di ambang pintu kamar utama, membiarkan tangannya yang terluka menggantung di sisi tubuh. Ia masih mengatur napas manualnya, merasakan uap dingin dari sirkulasi udara gedung yang kini berbau logam pembersih, bukan lagi bau anyir kabut gelap.
Di depan meja rias, Nayara duduk mematung. Ia tidak melihat pantulan wajahnya di cermin. Fokusnya tertuju pada benda di atas meja: butiran tasbih kayu dari panti asuhan yang kini warnanya memudar pucat, nyaris kehilangan serat alaminya akibat benturan energi negatif. Retakan di setiap butirnya tampak seperti luka terbuka yang tak bisa dijahit kembali.
"Lakukan relaksasi, Nayara. Kamar ini sudah melalui pemindaian teknis oleh Bayu. Saya menjamin tidak ada residu jebakan frekuensi atau manifestasi Void di koordinat ini," ucap Arkan, suaranya parau, menahan getar di tenggorokannya yang terasa seperti tersumbat pasir.
Nayara tidak menoleh. Jemarinya meraba permukaan sapu tangan Terra yang kasar, benda yang ia bawa sejak meninggalkan dapur panti saat teror surat kaleng tiba. "Arkan, lidah saya masih mendeteksi rasa pahit. Dan setiap kali saya melakukan terminasi visual, saya masih menyaksikan proyeksi dokumen medis palsu itu terbakar di hadapan saya."
"Itu adalah residu trauma psikis. Saya akan melakukan mobilisasi tim medis independen dari luar yurisdiksi Empire Group besok pagi untuk melakukan restorasi nama baik Anda secara privat," Arkan melangkah mendekat, namun langkahnya terhenti saat pintu kamar diketuk dengan kasar.
Tanpa menunggu izin, pintu terbuka. Elena, adik perempuan Arkan yang selalu memandang Nayara sebagai noda pada silsilah keluarga, melangkah masuk dengan sepatu hak tinggi yang bunyinya mendenting angkuh di atas lantai marmer. Di belakangnya, dua pelayan membawa kotak-kotak besar yang kosong.
"Apa motif Anda berada di sini, Elena? Saya tidak memberikan otorisasi bagi Anda untuk memasuki area privat saya," Arkan berdiri tegak, rahangnya mengeras hingga otot pipinya berkedut samar.
Elena tertawa singkat, suara yang terdengar seperti gesekan kaca. "Ibu yang mengutusku, Arkan. Berita tentang diagnosa mandul istrimu sudah sampai ke telinga seluruh dewan keluarga. Tidak ada gunanya menyimpan barang-barang dari 'rahim kering' di kamar utama pewaris Empire Group. Kami di sini untuk membersihkan tempat ini."
Nayara memejamkan mata rapat-rapat. Kuku jarinya menusuk telapak tangannya sendiri, mencari rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit batin yang jauh lebih mengerikan. Ia merasakan Shared Scar berdenyut hebat; ulu hati Arkan pasti sedang terasa seperti dipukul gada seiring dengan penghinaan yang ia terima.
"Keluar. Lakukan prosedur evakuasi dari ruangan ini sekarang juga," suara Arkan merendah, sebuah tanda bahwa integritas tulang besinya sedang berada di ambang ledakan murka.
"Jangan emosional, Kakak. Ini adalah protokol keluarga. Seorang wanita yang tidak bisa memberikan penerus adalah wanita yang sudah mati fungsinya bagi kasta kita. Lagipula, Kireina sudah bersiap untuk kembali ke sini," Elena menatap Nayara dengan pandangan merendahkan, lalu beralih pada tasbih retak di atas meja. "Dan singkirkan sampah kayu ini. Baunya seperti kemiskinan."
Martabat di Ujung Sapu Tangan
Nayara berdiri perlahan. Ia tidak menangis histeris. Ia tidak membalas cercaan Elena dengan teriakan. Dengan gerakan yang sangat tenang namun kaku, ia mengambil sapu tangan Terra yang kasar itu dan menggunakannya untuk membungkus tasbih retaknya. Air mata pertamanya jatuh—sunyi, tanpa isakan, tanpa suara. Air mata itu membasahi kain sapu tangan, menciptakan noda gelap yang hangat di tengah suhu ruangan yang mendadak turun drastis.
"Sapu tangan ini mungkin memberikan input aroma kemiskinan pada sensor Anda, Elena. Namun objek ini memiliki derajat kesucian yang jauh melampaui napas Anda yang terkontaminasi fitnah," ucap Nayara, suaranya sangat lirih namun memiliki ketajaman Mata Kebenaran yang membuat Elena tersentak mundur.
"Kau berani bicara padaku? Kau hanyalah gadis panti yang beruntung dipungut oleh kebodohan Arkan!" Elena mencoba meraih kotak di dekatnya untuk mulai mengosongkan laci meja rias.
Arkan melangkah maju, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Elena sebelum adiknya itu menyentuh barang-barang Nayara. Kekuatan genggamannya membuat Elena meringis kesakitan. Buku jari Arkan yang sudah berdarah sejak dari labirin tadi kini meninggalkan bekas merah di kulit putih Elena.
"Jika Anda atau personel pelayan Anda menyentuh satu unit pun aset milik istri saya, saya akan memastikan data nama Anda dihapus dari register ahli waris Empire Group malam ini juga. Nyonya Besar mungkin memegang otoritas dewan, namun saya adalah pemegang kendali operasional gedung ini," ancam Arkan, matanya mendingin hingga membuat Elena gemetar.
"Kau membela wanita cacat ini di depan adikmu sendiri?" Elena memekik, mencoba melepaskan tangannya.
"Wanita ini adalah permaisuri saya. Dan kedaulatan martabatnya tidak memiliki korelasi dengan rahim yang Anda fitnah, melainkan pada integritas kesetiaan yang berada di luar kapasitas pemahaman Anda," Arkan melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. "Bayu! Lakukan ekstraksi pada mereka semua. Jika terdeteksi resistensi, aktifkan protokol keamanan tingkat tiga."
Bayu muncul di ambang pintu dengan wajah tanpa ekspresi, segera menggiring Elena dan para pelayannya keluar dari kamar. Pintu tertutup kembali dengan dentuman yang meninggalkan gema hampa.
Nayara kembali terduduk. Ia menempelkan sapu tangan yang basah itu ke pipinya. Air mata terus mengalir dalam keheningan yang menyiksa. Ia merasa dunianya sedang runtuh, namun ia tetap memaksa punggungnya tegak. Inilah penderitaan yang ia pilih saat setuju menjadi istri seorang politisi; sebuah perang di mana senjata utamanya adalah kesabaran yang berdarah.
Arkan berdiri di belakangnya, menatap pantulan istrinya yang hancur namun tetap tegar di cermin. Ia merasakan napasnya semakin berat, seolah udara di kamar itu telah dicuri oleh tangis sunyi Nayara. Tangannya terangkat, ingin menyentuh bahu Nayara, namun ia ragu—ia merasa tidak layak menyentuh martabat yang begitu murni dengan tangannya yang penuh dengan dosa politik.
"Terimalah permohonan maaf saya, Nayara. Saya telah membawa Anda kembali ke menara ini hanya untuk membiarkan martabat Anda dikompromikan seperti ini," bisik Arkan, suaranya penuh dengan penyesalan yang mendalam.
Nayara menurunkan sapu tangannya, memperlihatkan matanya yang memerah namun tatapannya tetap jernih. "Jangan melakukan atribusi maaf atas destruksi yang dilakukan pihak lain, Arkan. Saya mengalami desolasi bukan karena verbal Elena. Saya menyadari bahwa dalam arsitektur semegah ini, tidak terdapat satupun koordinat yang dapat saya klasifikasikan sebagai rumah."
Arkan terdiam. Kalimat itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada serangan santet mana pun. Ia tahu bahwa mulai malam ini, isolasi mereka bukan lagi tentang pintu yang terkunci, melainkan tentang jiwa yang dipaksa berdiri sendirian di tengah badai marmer yang tak punya hati.
Gema di Ruang Hampa
Arkananta melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi separuh meja rias. Ia menarik kursi kayu kecil dan duduk di samping Nayara, membiarkan lutut mereka bersentuhan. Resonansi Shared Scar di antara mereka kini tidak lagi mengirimkan rasa sakit yang tajam, melainkan kesedihan yang tumpul dan pekat. Arkan merasakan kerongkongannya perih, seolah-olah ia sendiri yang sedang menahan isakan yang tidak boleh keluar.
"Sapu tangan tersebut... Anda masih mempertahankan eksistensinya," ucap Arkan pelan, matanya tertuju pada kain kasar di tangan Nayara.
Nayara mengusap ujung kain yang lembap oleh air mata. "Ini adalah satu-satunya objek yang masih membawa residu aroma matahari dan sabun murah panti, Arkan. Di koordinat ini, seluruh sensor mendeteksi zat pembersih kimia dan parfum yang menyesakkan. Sapu tangan ini adalah validasi bahwa saya bukan sekadar 'instrumen reproduksi' bagi Empire Group. Saya adalah manusia."
"Anda adalah satu-satunya entitas manusia yang tersisa di dalam gedung ini, Nayara. Sisanya hanyalah mekanisme organik yang dibungkus atribut jas dan gaun sutra," Arkan mengambil tangan Nayara, jemarinya yang kasar karena sisa Void Energy mengusap luka bekas tancapan kuku di telapak tangan istrinya. "Elena akan menerima konsekuensi atas setiap tetes air mata yang jatuh pada kain ini. Saya tidak akan memberikan peluang bagi mereka untuk merasa menang hanya karena mereka mengendalikan narasi medis tersebut."
"Mereka telah mencapai kemenangan di ruang publik, Arkan. Kireina tidak perlu melakukan aksi apapun, cukup dengan berposisi di samping Ibu, opini publik akan mengklasifikasikan saya sebagai pihak yang gagal," Nayara menatap suaminya dengan mata yang masih basah. "Apakah Anda merasa malu memiliki pasangan yang kini menjadi target devaluasi di antara para petinggi?"
Arkan mengunci tatapan Nayara. Rahangnya mengeras, memberikan kesan integritas tulang besi yang tak tergoyahkan. "Malu? Saya justru merasakan devaluasi diri sendiri karena belum mampu meruntuhkan menara ini demi Anda. Bagi saya, martabat Anda tidak memiliki variabel keterikatan dengan fungsi reproduksi. Martabat Anda terefleksi pada determinasi Anda untuk berdiri tegak saat mereka mencoba menghancurkan Anda."
Tiba-tiba, suhu ruangan kembali merosot drastis. Lampu kristal di langit-langit bergetar halus, menciptakan denting kaca yang memecah kesunyian. Nayara tersentak, penglihatan batinnya menangkap gumpalan asap kelabu yang merayap dari balik lemari pakaian—sebuah serangan sisa dari Kyai Hitam yang memanfaatkan celah kesedihan batinnya.
"Jangan menyerah pada penurunan suhu tersebut, Nayara. Pertahankan kontak fisik dengan tangan saya," perintah Arkan.
Arkan menarik napas manual dengan ritme yang berat. Ia melakukan proses Absorbsi, menarik sisa rasa pahit dan sesak yang menyelimuti Nayara ke dalam tubuhnya sendiri. Nayara melihat pembuluh darah di leher Arkan menegang, dan setetes darah segar muncul di sudut bibir suaminya—efek dari sumsum tulang yang dipaksa memproses racun emosional.
"Arkan, hentikan prosedur ini! Anda akan mengalami kerusakan sistemik jika terus melakukan absorpsi energi ini!" Nayara mencoba menarik tangannya, namun Arkan memegangnya lebih erat.
"Biarkan saya memikul beban ini. Kapasitas saya untuk menahan rasa pahit ini lebih tinggi daripada kapasitas saya untuk melihat hilangnya cahaya pada mata Anda," Arkan berbisik di antara gigi yang merapat.
Perlahan, asap kelabu itu memudar. Suhu ruangan kembali stabil, meski kehangatan tetap terasa jauh. Nayara merasakan bebannya sedikit terangkat, namun ia melihat suaminya tampak jauh lebih lelah. Kesadaran bahwa Arkan rela mempertaruhkan nyawanya demi ketenangannya membuat Nayara menyadari satu hal: mereka tidak bisa lagi hanya bersembunyi di balik pintu kamar yang terkunci.
"Kita tidak bisa mempertahankan status quo seperti ini, bukan?" tanya Nayara setelah napas Arkan kembali teratur.
Arkan menyeka noda darah di bibirnya dengan ujung lengan kemejanya yang putih. "Negatif. Besok malam terjadwal pesta topeng tahunan di kediaman gubernur. Seluruh subjek yang menghina Anda akan hadir di sana. Termasuk Erlangga dan Kireina."
"Anda menghendaki kehadiran saya? Di tengah eskalasi fitnah ini?" Nayara menatap tasbihnya yang retak dengan ragu.
"Saya menghendaki kehadiran Anda bukan sebagai korban, melainkan sebagai pemilik absolut dari martabat yang coba mereka rampas. Gunakan sapu tangan ini sebagai jangkar di balik gaun Anda jika itu memberikan penguatan. Namun tunjukkan pada mereka, bahwa permaisuri Arkananta tidak dapat dihancurkan oleh selembar dokumen diagnosa palsu," Arkan berdiri, memberikan tangan untuk membantu Nayara bangkit.
Nayara menatap sapu tangan di genggamannya, lalu menatap Arkan. Kesedihannya belum hilang, namun di balik air matanya yang sunyi, mulai tumbuh sebuah tekad yang dingin. Ia tidak akan membiarkan retakan pada tasbihnya menjadi tanda kekalahannya.
"Saya akan hadir, Arkan. Namun saya tidak akan menggunakan topeng untuk prosedur penyembunyian. Saya akan menggunakan topeng untuk mendeteksi siapa yang mengalami tremor saat saya melakukan kontak mata dengan mereka," ucap Nayara tegas.
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum langka yang penuh dengan api peperangan. Ia tahu, mulai saat ini, masa kehidupan mereka yang tenang telah berakhir sepenuhnya, digantikan oleh tarian politik yang mematikan di bawah lampu pesta yang menipu.