Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rey menang lagi satu langkah
Sammy mengendarai mobil sendirian, tangan kanannya memegang kemudi dengan kuat, sementara tangan kirinya diletakkan di jendela mobil, jari-jarinya mengetuk-ngetuk ritmis di atas pintu. Matanya terfokus ke depan, tapi pikirannya jauh di tempat lain, mengingat kembali detail kasus yang masih membingungkan.
Dia mengingat kembali posisi mayat, luka-luka yang ada di tubuh korban, dan bukti-bukti yang ditemukan di tempat kejadian. Otaknya bekerja keras, mencoba menghubungkan titik-titik yang masih hilang.
Sammy menghela napas, mencoba melepaskan ketegangan yang ada di dadanya. Dia tahu bahwa dia harus fokus, tapi pikirannya terus kembali ke kasus ini, mencari jawaban yang belum ia temukan.
"Kemana kira-kira pria tua itu?" pikirnya, mencoba membaca peta pergerakan Santaroni.
Sammy kembali mengingat lima belas tahun lalu, kemudian terlintas lokasi TKP lama, dimana jasad seorang wanita ditemukan. Jasad yang membawa penyelidikan akhirnya menjatuhkan hukuman lima puluh tahun bagi Santaroni. "Mungkinkah?" gumam Sammy, matanya melebar dengan kemungkinan baru.
Sammy menginjak pedal gas, mobil melaju kencang di jalan yang lurus. Semakin cepat, semakin kuat harapan Sammy bahwa dia bisa menemukan sesuatu. "Mungkinkah Santaroni kembali ke tempat itu?" pikirnya lagi.
Dua puluh menit cukup ia habiskan untuk menuju ke TKP lama. Sammy memarkirkan mobilnya di area parkir di tepi jalan. Kemudian menuruni tangga menuju ke jalan yang sepi di bawah, tepat di tepi sungai itu.
“Tempat ini tak banyak berubah,” gumam Sammy menatap sekeliling.
Jalanan di sepanjang sungai itu bersih dan tertata rapi, dengan trotoar yang luas dan bebas dari sampah. Pohon-pohon yang rindang berdiri di sepanjang jalan, daun-daun orange kekuningan yang bergoyang karena angin di awal musim dingin, memberikan kesejukan dan kesegaran, ditambah dengan aroma tanah yang lembab dan suara gemuruh air sungai yang mengalir.
Sammy berjalan di sepanjang jalan itu, menuju ke sebuah jembatan tua yang sudah terjangkau dari pandangannya, seraya menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.
Sementara dari arah lain, tampak seorang pria berjalan santai namun pasti. Kedua tangannya ia masukkan ke saku mantel panjangnya. Topi bucket lusuh ia pakai hingga menenggelamkan sebagian besar wajahnya.
Sammy menyipitkan mata, mencoba fokus pada sosok yang menarik perhatiannya. Langkahnya memelan sesaat, namun mempercepatnya kemudian, mencoba mendekati pria itu tanpa menarik perhatian. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, karena ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu.
Sammy teringat potongan rekaman CCTV yang sempat dikirimkan Jack sebelumnya. “Kurasa itu dia!” gumamnya semakin mempercepat langkahnya.
Jarak semakin terpangkas, namun pria itu masih tampak berjalan biasa, dengan kepala sedikit menunduk, seolah memang tak menyadari ada seorang petugas sedang mendekat ke arahnya.
“Jangan bergerak!” seru Sammy seraya mengacungkan pistolnya.
Pria yang kini hanya berjarak beberapa langkah darinya itu, menghentikan langkah karena terkejut, lalu mendongak menatap pada petugas wanita di depannya. Tampak jelas ekspresi bingung di wajahnya.
“Angkat tangan dan berbalik!” seru Sammy lagi.
Pria itu tak melawan, ia membalikkan badan dengan kedua tangan terangkat keatas, persis seperti yang Sammy intruksikan.
“Berlutut, lalu lepaskan mantel anda!”
Pria itu menurut lagi tanpa bertanya. Sammy menunggu dengan jantung yang semakin berdetak kencang saat pria itu melepas mantelnya.
Kosong!
Sammy tak mendapati apapun dalam mantel itu, seperti yang sempat diceritakan Jack sebelumnya.
Pria itu tampak mendengus kesal, namun masih mempertahankan posisinya—berlutut dengan kedua tangan kembali terangkat ke atas. “Apa yang salah denganku, Petugas?” protes pria itu kemudian.
Sammy memucat, ia terlalu larut dalam penyelidikan, membuatnya mencurigai penampilan semua orang. Ia tak punya alasan yang pasti untuk menjawab pertanyaan sederhana itu.
“Mayat! Tolong!”
Belum sempat Sammy memberi jawaban, terdengar teriakan seseorang dari dekat jabatan yang hendak dituju Sammy sebelumnya.
“Akan kujelaskan nanti, tapi kurasa kau harus ikut denganku sekarang!” Tanpa alasan yang pasti, Sammy memborgol pria itu, kemudian menariknya menuju ke tempat yang dimana dua wanita tampak terkejut hingga keduanya terduduk lemas di tanah.
Sammy menghubungi Jack, dan memintanya untuk datang ke tempat itu, sebelum kekacauan lain kembali terjadi.
Tak lama kemudian, Jack pun tiba bersama beberapa petugas polisi. "Siapa pria in" tanya Jack saat mendapati Sammy kerepotan menjaga TKP, dua saksi lain serta seorang pria terborgol.
Sementara beberapa petugas lain mengamankan lokasi, memasang garis polisi, dan menghalau beberapa warga lain yang mulai berdatangan karena penasaran.
"Yang jelas, penampilannya tampak mencurigakan, dan yang lebih penting pria ini melewati TKP. Jika bukan pelaku, kurasa dia bisa menjadi saksi. Kita periksa rekaman CCTV di pintu masuk dan keluar area ini, kurasa akan ada petunjuk."
Pria yang diborgol Sammy berdecak. "Sudah kukatakan aku tak tahu apa-apa! Lepaskan aku petugas!" rontanya.
"Lalu kenapa kau ada di sini dengan mantel itu!" tandas Jack.
"Sudah kukatakan juga pada petugas wanita itu, seseorang memberikannya padaku!" serunya jujur.
Sammy fokus menelisik TKP dengan saksama. Mayat yang tergeletak di tepi sungai itu masih tampak segar, seolah baru saja meninggal. Terbungkus lembaran plastik tebal, dengan jejak luka yang mirip seperti korban-korban yang sebelumnya.
Sementara Alex mengamankan dua saksi perempuan yang masih tampak pucat karena syok.
Di ujung jalan, diatas tanggul, Rey berdiri mengawasi, wajahnya menyeringai puas menikmati kekacauan yang sudah dibuatnya. Kemudian ia membuang puntung rokok ke tanah, menginjak baranya, lalu membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu tanpa diketahui siapapun.
...........lima belas menit sebelumnya.
Rey berjalan di tepian sungai dengan mantel berisi jasad gadis pirang, tepat seperti yang diperkirakan Jack. Ia bertemu dengan beberapa orang yang tampak juga sedang menikmati suasana tepian sungai yang segar.
Beberapa diantaranya sekilas melirik penampilan Rey yang tak biasa.
"Apa sedingin itu?" bisik seseorang pada rekannya.
"Kurasa tidak, tapi mungkin dia hanya sedang memamerkan mantel viral dengan harga selangit itu," sahut yang lain kemudian berlalu tak lagi peduli dengan Rey.
Selama beberapa menit Rey berdiri di dekat jembatan, menunggu situasi aman untuk meletakkan jasad, agar rencananya berjalan mulus tanpa tertangkap.
Dengan sigap dan cekatan, Rey membungkuk, meraih bagian belakang mantelnya kemudian menggunting bawahnya, hingga membuat jasad wanita itu kakinya menjuntai keluar dari bagian kantong mantel itu, kemudian melepas kedua tangan yang ia lingkarkan di lehernya.
Rey berhasil mengeluarkan jasad terbungkus plastik tanpa perlu melepas mantel dari tubuhnya. Jasad gadis pirang itu pun tergeletak begitu saja di tepian sungai, dibawah jembatan kecil.
Rey bergegas melangkahi taman kecil di tepian sungai itu, dan kembali berdiri tegak di jalan. Kemudian seorang pria tampak berjalan tertunduk, mengenakan topi bucket yang lusuh. Dengan sigap Rey meraih goodie bag yang tadi diletakkannya sejenak di tepi jalan, kemudian mengambil isinya, seraya menghampiri pria yang berjalan menuju ke arahnya itu.
"Permisi, Pak." sapanya membuat pria yang berjalan menunduk itu mendongakkan kepala, menatap Rey.
"Ya?" sahut pria itu, sesaat menelisik penampilan Rey.
"Hari ini ulang tahun ibuku, dan aku berbaik hati ingin memberikan mantel ini untukmu yang beruntung. Sepertinya kau belum memiliki mantel yang tepat untuk musim dingin ini," ucapnya seraya berjalan kecil mengikuti langkah ringan pria itu.
"Kau serius?" sahut pria itu tanpa menghentikan langkah.
"Ya, dan ini mantel seperti yang sedang kupakai sekarang, kau bisa langsung memakainya."
Situasi yang menguntungkan bagi Rey, perhitungannya yang sangat tepat pun membuatnya lolos.
Tepat setelah pria itu menerima mantel dari tangan Rey, matanya menangkap seorang petugas wanita tampak berjalan menuruni tangga. Rey melepas mantelnya, melipatnya dengan cepat kemudian memasukannya ke dalam goodie bag dan bergegas pergi ke arah lain.
..............
Di dalam mobilnya, Rey tertawa licik, mengingat kembali bagaimana wajah bingung dan kesal para petugas.
"Mereka benar-benar bodoh dan ceroboh, bagaimana seorang polisi begitu asal menangkap warga!" ucapnya begitu puas diakhiri dengan tawa penuh ejekan.
"Sekarang giliran pria tua itu dihukum, sebelum memilih hidangan kelima!" gumamnya kemudian melaju cepat dengan mobilnya, dengan rencana baru yang telah disusunnya.
...****************...
Bersambung...