NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

 Malam semakin larut, namun hawa dingin di lobi utama apartemen tempat Safira tinggal bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari dua pria yang berdiri mematung di dekat pilar besar. Raka dan Bima, si kembar yang biasanya tampil dengan aura dominan, kini terlihat seperti dua prajurit yang kalah perang. Bahu mereka merosot, dan sorot mata mereka tidak lagi memancarkan keangkuhan Maheswara yang biasa mereka banggakan.

Ketika lift berdenting terbuka, Safira melangkah keluar dengan langkah yang teratur. Di sampingnya, Abian berjalan dengan satu tangan di saku celana, memberikan perlindungan pasif yang membuat siapa pun akan berpikir dua kali untuk mendekat.

Safira berhenti tepat lima langkah di depan kakak-kakaknya. Ia tidak terkejut. Ia sudah menduga bahwa Raka dan Bima tidak akan bisa duduk diam setelah pengacara Haryo datang membawa badai ke rumah mereka.

"Fira," panggil Raka. Suaranya tidak lagi menggelegar seperti saat ia memarahi Safira di ruang tamu rumah mereka sebulan yang lalu. Suara itu kini sarat dengan permohonan.

Safira hanya menatapnya datar. "Vian sudah tidur. Jika kalian ke sini untuk menyeretnya pulang, sebaiknya kalian pergi sebelum aku memanggil keamanan."

"Kami ke sini bukan untuk memaksa Vian, Fira," sela Bima cepat, langkahnya maju satu tindak namun segera tertahan oleh tatapan tajam Abian . Bima menelan ludah, lalu beralih menatap adiknya. "Kami ke sini karena Papa... Papa hampir kena serangan jantung setelah tahu kamu meminta audit yayasan. Kenapa harus sejauh itu, Fir? Itu yayasan keluarga."

Safira tertawa, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat sinis di telinga kedua kakaknya. "Yayasan keluarga? Sejak kapan uang yang disumbangkan untuk anak yatim dan pendidikan menjadi tabungan pribadi Ratih untuk membelikan Maya tas seharga mobil mewah? Kalian menyebut itu 'keluarga', aku menyebutnya 'pencurian'."

"Kami tidak tahu kalau Mama Ratih memakai uang itu sampai sebanyak itu," Raka mencoba membela diri, meski suaranya terdengar tidak yakin.

"Kalian tidak tahu karena kalian memilih untuk menutup mata, Kak Raka!" nada suara Safira naik satu oktav, memecah kesunyian lobi. "Selama bertahun-tahun aku mencoba bicara, aku mencoba menunjukkan kejanggalan laporan keuangan itu pada kalian. Tapi apa jawaban kalian? 'Jangan iri pada Maya', 'Jangan cari masalah dengan Mama Ratih', 'Fira, jaga sikapmu'. Kalian ingat itu?"

Raka terdiam. Bayangan masa lalu saat Safira menyodorkan map dokumen dan ia justru membuangnya ke lantai kini berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa sesak mulai menjalar di dadanya.

"Sekarang setelah audit itu mengancam posisi Papa di perusahaan, kalian baru datang dan bicara soal keluarga?" Safira menggeleng pelan. "Kalian terlambat. Sangat terlambat."

Bima mengacak rambutnya frustrasi. "Lalu apa yang kamu mau, Fir? Kamu mau Maheswara hancur? Kalau Papa jatuh, kita semua ikut jatuh! Kita ini satu darah!"

"Darah tidak menjamin kesetiaan, Bima. Buktinya, kalian lebih memilih melindungi perasaan Maya daripada melindungi harga diriku yang diinjak-injak di sekolah," balas Safira dingin. "Dan soal kehancuran... Maheswara tidak akan hancur jika kalian punya nyali untuk mendepak benalu itu dari rumah. Tapi kalian terlalu pengecut untuk melawan Ratih dan air mata buaya Maya."

Raka menatap Safira dalam-dalam. Ia melihat seorang wanita yang sangat kuat, sangat mandiri, namun juga sangat terluka. Ia menyadari bahwa selama ini, Safira-lah yang paling menyerupai mendiang ibu mereka—tegas dan memiliki prinsip. Sementara dia dan Bima hanyalah boneka yang digerakkan oleh rasa sungkan dan kenyamanan.

"Fira..." Raka melangkah mendekat, kali ini Abian membiarkannya karena melihat Raka tidak berniat menyerang. Raka meraih tangan Safira, namun Safira segera menariknya kembali. "Kalau aku dan Bima bisa membuktikan bahwa kami ada di pihakmu... apa kamu mau pulang? Apa kamu mau mencabut tuntutan audit itu?"

Safira menatap tangan kakaknya yang menggantung di udara. "Aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu selama Ratih dan Maya masih bernapas di sana. Dan soal audit... itu bukan lagi urusanku. Pihak berwenang sudah mencium bau busuknya. Sekali mesin dijalankan, tidak bisa dihentikan begitu saja."

"Tapi Papa bisa dipenjara kalau terbukti ada kelalaian pengawasan!" seru Bima panik.

"Maka biarkan dia belajar bahwa kelalaian punya konsekuensi," jawab Safira tanpa emosi. "Sama seperti dia lalai melindungiku, sekarang dia harus menanggung akibat dari kelalaiannya mengawasi istrinya."

Suasana membeku. Raka dan Bima menyadari bahwa adik kecil mereka yang dulu selalu mengalah kini telah bertransformasi menjadi algojo bagi kesalahan keluarga mereka sendiri.

Tiba-tiba, ponsel Bima berdering. Itu pesan video dari grup keluarga mereka. Bima membukanya, dan wajahnya seketika memucat. Ia memperlihatkan layar ponsel itu ke Raka.

Di video itu, terlihat Maya sedang mengamuk di dalam kamarnya, melempar barang-barang dan berteriak bahwa ia akan mengakhiri hidupnya jika Safira tidak mencabut laporannya. Di latar belakang, suara Ratih terdengar histeris memanggil-manggil nama Raga.

"Lihat, Fir... Maya nekat. Dia bisa saja melakukan sesuatu yang gila," ucap Bima dengan tangan gemetar.

Safira melirik layar ponsel itu sekilas, lalu kembali menatap abangnya dengan tatapan yang hampir terlihat seperti kasihan. "Kalian masih saja tertipu oleh trik yang sama? Dia tidak akan pernah melakukannya. Maya terlalu mencintai dirinya sendiri dan kemewahan ini untuk mati. Itu hanya pertunjukan untuk membuat kalian lari kembali padanya dan memohon padaku."

"Tapi kalau kali ini dia benar-benar melakukannya, itu akan jadi beban seumur hidupmu, Fir!" Raka memperingatkan.

"Beban?" Safira tersenyum tipis. "Beban terberatku sudah aku lepaskan saat aku keluar dari rumah itu. Jika dia ingin mati, itu pilihannya. Tapi kita semua tahu, dia hanya sedang memancing Papa agar semakin membenciku."

Safira berbalik, memberi isyarat pada Abian bahwa pembicaraan sudah selesai.

"Tunggu, Fira!" teriak Raka. "Besok ada rapat pemegang saham darurat. Papa minta kami untuk membawamu. Dia ingin membuat kesepakatan secara kekeluargaan sebelum semuanya meledak di media."

Safira berhenti sejenak tanpa menoleh. "Katakan pada Papa. Aku tidak butuh kesepakatan. Aku hanya butuh keadilan untuk ibuku, untukku, dan untuk Vian. Sampai besok di rapat itu... jika dia masih punya muka untuk bertemu denganku."

Safira dan Abian melangkah menuju lift, meninggalkan Raka dan Bima yang terpaku di lobi yang luas.

Raka menyandarkan punggungnya ke pilar, ia menutup matanya rapat-rapat. "Bim... kita benar-benar salah, ya?"

Bima tidak menjawab. Ia hanya menatap video Maya di ponselnya yang masih berputar, lalu menatap pintu lift yang sudah tertutup. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, si kembar Maheswara merasakan apa yang dirasakan Safira selama bertahun-tahun: Terisolasi, tidak berdaya, dan dikelilingi oleh kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.

"Dia tidak akan luluh, Raka," bisik Bima parau. "Fira yang kita kenal sudah mati. Yang ada sekarang adalah seseorang yang akan meratakan siapa pun yang menghalangi jalannya. Termasuk kita."

Raka mengepalkan tangannya. "Besok... di rapat itu. Aku tidak akan membiarkan Papa melakukan kesalahan lagi. Kalau Papa tetap membela Ratih, aku yang akan berdiri di depan Safira. Aku tidak mau kehilangan adikku lagi."

Bima menoleh, terkejut dengan pernyataan kakaknya. "Kamu mau mengkhianati Papa?"

"Bukan mengkhianati Papa," koreksi Raka dengan mata yang kini berkilat penuh tekad. "Tapi menyelamatkan apa yang tersisa dari martabat Maheswara. Dan martabat itu ada pada Safira, bukan pada mereka yang ada di rumah itu."

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

1
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!