NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Langkah Aluna terhenti saat melihat darah mengalir deras dari lengan seorang pria yang tengah terengah-engah merangkak untuk bersembunyi. Di tangannya sebuah pistol untuk berjaga-jaga jika seseorang datang untuk menghentikan napasnya hari itu.

Brak.

"Periksa semua tempat, jangan beri celah untuk monster itu dapat kabur. Ini kesempatan terakhir untuk mengakhiri kebiadabannya."

Beberapa orang berbaju hitam itu segera berpencar untuk mencari target mereka itu. Namun nihil, yang dicari tidak ada di tempat itu.

"Jangan berisik, atau mereka akan menemukan kita," bisik Aluna pada lelaki itu.

"Mustahil Luciano tidak ada ditempat ini, ini tempat terakhir, seharusnya dia ada disini."

"Bos, ada pergerakan di gedung Utara, kemungkinan Luciano ada disana," ucapnya, sambil memperlihatkan sebuah video yang diputar kan dari ponsel miliknya.

Lelaki yang di sapa Bos itu pun langsung mengangguk, lalu mengisyaratkan dengan tangannya untuk keluar dari gereja tersebut.

Setelah memastikan semua orang-orang itu pergi, Alana akhirnya dapat bernapas dengan legah, ia menuntun pria itu dengan perlahan untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

"Terimakasih," ucapnya, ia menekan lengannya yang masih mengeluarkan darah segar.

"Jangan khawatir, aku perawat, aku bisa membantu kamu untuk mengeluarkan peluruh ini."

Lelaki itu mengangguk, ia menatap wajah Alana dalam-dalam, ada sesuatu yang bergetar dalam dada pria itu, namun sayangnya ia tidak berusaha untuk menyangkalnya sama sekali.

Tangan Alana bergerak dengan sempurna, perlahan peluru itu mai keluar dari bahunya, dan Alana pun merobek rok putih miliknya dan kemudian dijadikan sebagai perban untuk membantu meredakan darah yang keluar dari bahu tersebut.

"Syukurlah, tuan selamat dari mereka. Aku nggak akan tanya kenapa, tapi aku hanya meminta satu hal. Jangan terlalu ekstrim untuk mencari lawan, mereka sepertinya sangat berbahaya, tuan."

Pria itu tidak menjawab, ia hanya menatap kedua iris abu-abu milik Alana. Lalu tidak berselang lama, sebuah mobil terdengar berhenti di depan gereja tersebut.

"Ada yang datang? Tuan, jangan-jangan itu mereka," ucap Alana dengan cemas.

"Tuan Luciano," panggil seseorang. Kecemasan yang sempat dirasa oleh pria itu pun langsung lenyap seketika, saat namanya disebut.

"Lain kali saya akan membalas kebaikan kamu, Nona. Saya permisi."

Lelaki yang bernama Luciano itu pun langsung pergi dari hadapan Alana, di bantu oleh anak buahnya.

Langkah Luciano menghilang di balik pintu gereja yang berat, menyisakan Alana dengan napas yang masih belum stabil dan tangan yang gemetar karena adrenalin yang belum sepenuhnya surut.

Suara mesin mobil itu menjauh, perlahan… lalu lenyap.

Alana berdiri terpaku beberapa detik, menatap lantai gereja yang kini ternodai bercak darah. Darah yang hampir merenggut nyawa seorang pria—atau mungkin, mengubah hidupnya sendiri tanpa ia sadari.

Ia menarik napas panjang, menekan dadanya yang terasa sesak.

“Gila .…” gumamnya lirih.

Baru kali ini Alana merasa kematian begitu dekat. Bukan hanya karena suara tembakan dan ancaman pria-pria berbaju hitam tadi, tapi karena tatapan Luciano. Tatapan dingin, lelah, namun penuh luka—seolah hidup telah terlalu sering menamparnya tanpa ampun.

Alana merapikan syall nya yang sedikit berantakan, lalu melangkah keluar dari gereja. Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk tulang. Jalanan tampak sepi, terlalu sepi untuk sebuah kota yang biasanya tak pernah tidur.

Ia hendak melangkah pergi, ketika sebuah perasaan aneh menyergapnya.

Perasaan diawasi. Langkah Alana terhenti.

Dari balik bayangan tiang gereja, sesosok pria berdiri dengan tangan di saku mantel hitamnya. Matanya tajam, sorotnya dingin—berbeda dari Luciano, tapi sama-sama berbahaya.

“Seorang perawat yang terlalu baik hati,” ucap pria itu datar, namun senyum tipis di sudut bibirnya membuat bulu kuduk Alana meremang. “Atau… seseorang yang terlalu berani ikut campur.”

“Siapa kamu?” tanya Alana, berusaha terdengar tegas meski jantungnya berdetak kacau.

Pria itu melangkah mendekat satu langkah. Cukup satu langkah, tapi cukup untuk membuat Aluna refleks mundur.

“Katakan saja… aku bagian dari masalah yang baru saja kamu selamatkan.”

Darah Alana seolah membeku.

“Luciano bukan monster,” lanjut pria itu pelan, nyaris seperti bisikan. “Tapi dia juga bukan pria yang seharusnya kamu temui malam ini.”

“Aku tidak berniat ikut campur urusan siapa pun,” sahut Alana. “Aku hanya menolong orang yang terluka.”

Senyum pria itu melebar, kali ini tanpa kehangatan sedikit pun.

“Sayangnya, di dunia kami… kebaikan adalah utang.”

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Dan mulai malam ini, Nona… kamu sudah masuk ke dalam dunia Luciano.”

Pria itu berbalik pergi, menghilang seperti bayangan yang ditelan gelap.

Aluna berdiri terpaku, dadanya naik turun tak beraturan.

Ia tidak tahu siapa Luciano sebenarnya.

Tidak tahu siapa pria-pria berbaju hitam itu.

Namun satu hal ia yakini—

Malam ini bukan akhir.

Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya… dan mungkin, jauh lebih sulit untuk dihindari.

Tidak membutuhkan waktu lama, Aluna akhirnya sampai di rumahnya. Ia segera membuka pintu.

Pintu rumah itu tertutup dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinga Alana.

Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu, napasnya terengah, seolah baru saja berlari dari kejaran maut. Tangannya gemetar saat mengunci pintu, memastikan dua kali—bahkan tiga kali—bahwa rumah itu benar-benar tertutup rapat dari dunia luar.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Alana menelan ludah, lalu melangkah pelan menuju kamarnya. Setiap bayangan di sudut rumah terasa hidup, setiap bunyi kecil membuat jantungnya hampir meloncat keluar dari dada. Sepatunya dilepas begitu saja di depan pintu kamar, tak peduli tergeletak sembarangan.

Begitu pintu kamar tertutup, Alana langsung menguncinya.

Klik.

Ia menempelkan telapak tangan ke dadanya, mencoba menenangkan detak jantung yang tak mau menurut. Tubuhnya merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada pintu, sementara lututnya ia tarik ke dada.

“Aku cuma nolong orang…” bisiknya, suara itu nyaris tak terdengar. “Cuma itu…”

Namun ingatan tentang darah yang mengalir, suara langkah sepatu bot, dan tatapan Luciano kembali menyerbu tanpa ampun.

Matanya terpejam erat.

Bayangan pria berbaju hitam itu muncul lagi di benaknya—kalimat terakhirnya terngiang jelas.

Kebaikan adalah utang.

Alana menggigil.

Ia merangkak ke tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, seolah kain tipis itu mampu melindunginya dari dunia yang mendadak terasa kejam. Lampu kamar sengaja tidak dimatikan. Ia tak berani membiarkan kegelapan mengambil alih.

Beberapa menit berlalu, atau mungkin jam—Alana tak yakin.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.

Satu kali.

Alana menegang.

Getaran kedua menyusul, lebih lama.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel itu.

Nomor tak dikenal.

Pesan masuk.

Nomor Tidak Dikenal:

Pastikan pintumu terkunci, Nona Alana.

Napas Alana tercekat. Darahnya serasa berhenti mengalir saat pesan kedua masuk.

Nomor Tidak Dikenal:

Kami tidak berniat menyakitimu. Tapi mulai malam ini… kamu berada dalam pengawasan Luciano.

Ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke kasur.

Alana menutup mulutnya, menahan isak yang nyaris lolos.

Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya dalam diam.

Di balik pintu kamarnya yang terkunci rapat, Alana menyadari satu hal yang membuatnya semakin ketakutan—

Ia mungkin sudah pulang ke rumah.

Tapi rasa aman itu… telah tertinggal jauh di gereja malam tadi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!