Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Acara lamaran itu berlangsung sederhana, hanya keluarga yang hadir namun aura cinta dan kebahagiaan terpancar begitu kuat. Nafiza dalam balutan gamis berwarna ivory yang lembut, tampak anggun dan bersahaja. Zayn, dengan setelan jas yang pas di tubuhnya, berdiri tegap di sampingnya, memancarkan aura wibawa dan ketulusan. Keluarga dan sahabat terdekat hadir, memberikan doa restu dan dukungan untuk memulai babak baru dalam kehidupan Zayn dan Nafiza.
Setelah prosesi lamaran usai, Zayn mendekati Nafiza, duduk di sampingnya. Ia menatap calon istrinya itu dengan penuh rasa cinta dan syukur.
"Terima kasih sudah menerima lamaranku, Sayang," ucap Zayn dengan suara lembut yang membuat hati Naf berdesir tak karuan.
Dengan mata berkaca-kaca Nafiza menyahut. "Aku yang seharusnya berterima kasih, Zayn. Kamu menerimaku dengan segala masa laluku ..."
Zayn sangat ingin membelai wajah cantik Nafiza, namun ia tahu wanita yang di depannya wanita yang menghormati ajaran agama dan mematuhi batasannya.
"Masa lalu itu yang membentukmu menjadi Nafiza Azzahra yang ku kenal dan ku cintai. Kamu sempurna di mataku, Nafiza Azzahra. Aku mencintaimu karena Allah, dan karena dirimu seutuhnya."
Air mata Nafiza merembes keluar membasahi cadarnya. Ia merasa sangat beruntung dipertemukan dengan pria sebaik Zayn. Pria yang tidak menghakimi masa lalunya, tetapi justru mencintainya dengan tulus. Maka nikmat mana lagi yang kamu dustai Nafiza. Allah memberikannya cobaan bukan untuk menghakimi tapi untuk memberikan nikmat yang lebih besar.
"Aku juga mencintaimu, Zayn," bisik Nafiza, suaranya bergetar menahan haru.
Setelah lamaran prosesi lamaran yang berjalan lancar tanpa hambatan. Ke dua belah pihak keluarga sibuk mempersiapkan tanggal dan rencana pernikahan putra putri mereka. Zayn dan Nafiza sepakat untuk mengadakan akad nikah yang intimate, dan sesuai dengan syariat Islam dan sesuai permintaan Nafiza yang tak ingin berlebihan.
_______&&______
Keesokan harinya ada yang berbeda dari kedua keluarga itu. Mereka terlihat antusias untuk menyiapkan acara pernikahan.
"Umi, Naf bingung pilih gaun yang mana," ujar Nafiza, menunjukkan beberapa desain gaun pengantin pada Umi Maryam dan Zahra sang adik tersayangnya.
"Yang ini bagus, Kak. Sederhana tapi elegan, sesuai dengan keinginan Kakak!" sahut Zahra, menunjuk sebuah gaun berwarna putih dengan detail bordir yang cantik, elegan namun tak berlebihan.
"Iya, Umi juga suka yang ini. Menutup aurat, tidak berlebihan, tapi tetap terlihat anggun," timpal Umi, tersenyum lembut.
"Tapi Naf takut terlalu polos, dan mengecewakan keluarga Zayn," balas Naf, sedikit ragu.
"Nggak kok, Sayang. Kamu akan tetap cantik dengan gaun apapun, Kan putri Umi udah cantik dari lahir," goda sang Umi Maryam sambil mencolek hidung mancung Nafiza. " Yang penting kan niatnya," lanjut Umi Maryam, meyakinkan.
_______&&______
Sementara di kediaman Zayn juga tidak kalah sibuk mengurus berbagai keperluan akad nikah. Dari pemilihan tempat hingga susunan kursi tamu, Zayn ingin memastikan semua berjalan lancar dan sesuai dengan keinginan kekasih hatinya.
"Gimana, Bro? Udah siap jadi suami?" tanya David, sahabat terbaiknya, sambil menepuk pundaknya dengan senyum bangga saat mereka sedang mengecek daftar tamu.
Zayn tersenyum lebar, meskipun keringat sedikit muncul di dahinya. "InsyaAllah siap. Tapi jujur, deg-degan gue!" akunya dengan jujur.
"Santai aja! Lo itu Zayn Al Malik CEO muda yang tampan rupawan! dan terkenal dingin dan tak tersentuh. Masak gugup hanya menghadapi calon istri sih?" balas David dengan nada sindiran ringan, namun matanya penuh dukungan.
"Ck! Ya beda konsep lah Dav! Ini tuh momen sakral, sekali seumur hidup!" jawab Zayn dengan tatapan serius, lalu sedikit menurunkan suara. "Tapi Doain ya, biar semuanya lancar dan Nafiza merasa bahagia. Aku tidak ingin ada satu pun hal yang membuatnya kecewa."
"Iya bro, doa gue yang terbaik untuk kalian berdua. Kamu memang pantas punya orang yang bisa membuatmu jadi manusia yang lebih hangat kayak sekarang," sahut David dengan senyum hangat sambil memberikan jempol ke arah Zayn.
Selama masa persiapan pernikahan yang hampir satu bulan itu, Zayn dan Nafiza semakin dekat. Mereka saling berkomunikasi setiap hari, bertukar pikiran tentang segala hal, dan saling menguatkan saat ada rasa ragu yang muncul.
Suatu malam, suara Nafiza terdengar lembut dari seberang telepon. "Zayn ... aku takut ...," ucapnya dengan nada yang sedikit gemetar.
"Takut kenapa, Sayangku? Eh kamu menangis, ya?" tanya Zayn dengan khawatir, saat mendengar ada getaran di nada suara Nafiza. Dan Zayn buru-buru menurunkan nada suaranya lebih lembut lagi.
"Takut nggak bisa jadi istri yang baik buat kamu. Takut nanti aku akan malu-maluin kamu, takut nggak sesuai dengan ekspektasi keluarga besar kamu ..." jawab Nafiza dengan jujur, menahan suara yang ingin menangis.
"Jangan bicara seperti itu, aku gak suka mendengarnya!" ujar Zayn dengan tegas namun tetap lembut. "Kamu pilihan terbaik dari yang terbaik buatku! Aku tidak mencari istri yang sempurna secara sempurna, tapi seseorang yang mau bersama aku belajar dan tumbuh bersama. Aku percaya kamu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik, dan aku janji akan selalu ada di sampingmu, baik dalam suka maupun duka. Kita akan saling melengkapi." jawab Zayn bijak.
"Terima kasih, Zayn ... aku merasa lebih tenang sekarang setelah mendengar tanggapanmu," bisik Nafiza, rasa lega terasa dalam suaranya.
"Aku akan selalu berusaha ada untukmu. Jadi jangan pernah menyimpan kekhawatiran sendiri lagi, ya?" pinta Zayn dengan penuh cinta.
"Iya, calon imanku ... aku mencintaimu," ucap Nafiza malu-malu.
"Aku juga mencintaimu lebih dari yang kau tahu, bidadari surgaku!" balas Zayn tak mau kalah.
Bersambung ....