NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 – Nama yang Terlalu Sering Disebut

Evaluasi itu tidak diumumkan secara terbuka.

Tidak ada papan pengumuman. Tidak ada daftar resmi. Namun semua murid dalam merasakannya perubahan kecil yang terlalu seragam untuk disebut kebetulan.

Instruktur berganti.

Rute latihan diubah.

Jadwal dimajukan tanpa alasan jelas.

Dan di setiap perubahan itu, satu nama selalu muncul dalam pembicaraan pelan.

Ren Tao.

Di halaman latihan timur, Unit Ketujuh menjalani sesi simulasi pertempuran tak langsung. Bukan duel, melainkan pengambilan keputusan di bawah tekanan. Formasi ilusi aktif, medan terus berubah, dan waktu dipotong setengah dari standar.

Li Shen berdiri di sisi lapangan, memperhatikan dengan serius.

“Kali ini,” katanya, “tidak ada diskusi panjang. Keputusan harus cepat.”

Zhou Min mengangguk tegang. Sun Qiao terlihat gugup. Han Yue menatap medan dengan mata waspada.

Ren Tao tidak mengatakan apa pun.

Simulasi dimulai.

Medan bergeser. Jalur aman menyempit. Ilusi gangguan qi muncul bertubi-tubi. Beberapa murid langsung bergerak agresif kesalahan pertama.

“Jalur kiri,” kata Zhou Min cepat. “Tekan sebelum tertutup.”

Ren Tao menggeleng pelan. “Itu umpan.”

“Terlalu lama!” bentak Zhou Min.

Ia bergerak lebih dulu.

Tiga langkah kemudian, formasi ilusi mengunci pergerakannya. Qi Zhou Min terguncang, ilusi menyerang dari dua arah. Ia tidak cedera, tapi tersingkir dari simulasi.

Kesalahan tercatat.

Sun Qiao panik. “Terus kita ke mana?”

Ren Tao akhirnya bicara, suaranya datar tapi tegas. “Diam. Hitung napas. Tunggu perubahan kedua.”

Han Yue menahan Sun Qiao, mengikuti instruksi.

Beberapa detik berlalu. Medan bergetar lagi pola berubah. Jalur sempit terbuka di sisi yang sebelumnya terlihat berbahaya.

“Sekarang,” kata Ren Tao.

Mereka bergerak. Tidak cepat. Tidak lambat. Tepat.

Simulasi berakhir.

Unit Ketujuh lolos dengan satu kegagalan. Bukan hasil sempurna tapi stabil.

Instruktur mencatat tanpa komentar.

Di luar arena, bisikan terdengar lebih jelas sekarang.

“Kalau Zhou Min dengar Ren Tao tadi—”

“Dia selalu tahu sebelum perubahan.”

“Itu insting atau pengalaman?”

Ren Tao mendengar semuanya. Ia tidak menanggapi.

Sore harinya, batu giok identitasnya bergetar lagi.

Pemanggilan pribadi. Aula Pengamatan.

Ren Tao menghela napas pelan.

Aula Pengamatan terletak di bagian dalam sekte. Tempat yang jarang digunakan kecuali untuk evaluasi sensitif. Di dalam, tiga tetua duduk berjajar. Wei Kang berdiri sedikit di belakang, posisinya netral terlalu netral.

“Ren Tao,” ucap Tetua Lu, “kau sering disebut dalam laporan.”

Ren Tao menunduk sopan. “Saya hanya menjalankan tugas.”

“Dan itu masalahnya,” jawab tetua lain. “Tugas-tugas itu seharusnya cukup untukmu bertahan. Tapi kau melampauinya.”

Tidak ada nada marah. Hanya observasi.

“Kau membaca pola,” lanjut Tetua Lu. “Bukan hanya qi. Tapi manusia.”

Ren Tao diam.

Wei Kang akhirnya bicara. “Sekte menghargai murid cerdas. Tapi kecerdasan tanpa posisi bisa berbahaya.”

Ren Tao mengangkat kepala. “Lalu apa yang sekte inginkan?”

Hening sejenak.

Tetua Lu menatapnya lurus. “Penempatan.”

Satu kata itu berat.

“Mulai sekarang,” lanjutnya, “kau akan masuk dalam daftar pengamatan khusus. Bukan hukuman. Bukan promosi.”

Ren Tao memahami artinya.

Setiap langkahnya dicatat.

Setiap keputusan ditimbang.

Kesalahan kecil tidak lagi kecil.

Ia mengangguk. “Saya mengerti.”

“Kami ingin melihat,” kata Tetua Lu, “apakah kau bisa tetap rapi… saat ruang gerakmu dipersempit.”

Ren Tao menunduk lagi. “Saya akan berusaha.”

Luar aula, Wei Kang berjalan sejajar dengannya untuk beberapa langkah.

“Kau sadar,” kata Wei Kang pelan, “nama yang terlalu sering disebut akan mengundang dua hal.”

Ren Tao menatap ke depan. “Perhatian dan kebencian.”

Wei Kang tersenyum. “Dan kau baru mendapat keduanya.”

Ren Tao tidak menjawab.

Malam turun. Di kamarnya, Ren Tao duduk bersila. Tekanan terasa jelas sekarang bukan dari qi, tapi dari struktur.

Ia tidak lagi bergerak di pinggir papan.

Ia ada di tengah.

Dan di tengah papan—

Setiap langkah

harus dihitung dua kali.

Ren Tao membuka mata.

Kalau ruang dipersempit,

maka kesalahan orang lain

akan terlihat lebih jelas.

Dan itu

selalu menguntungkannya.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!