Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda yang Diabaikan
Pagi itu, Revan tiba di kantor lebih cepat dari biasanya. Ruang kerja yang luas dan rapi menyambutnya dengan keheningan yang ia butuhkan. Di tempat inilah Revan merasa memiliki kendali. Tidak ada tatapan dingin, tidak ada jarak emosional, tidak ada istri yang diam-diam menjauh. Yang ada hanya pekerjaan.
Ia menyalakan komputer, membuka berkas demi berkas, menelusuri kasus yang seharusnya sudah ia baca kemarin. Jemarinya bergerak cepat, matanya fokus, seolah dunia lain tidak lagi penting. Namun setiap kali layar komputer berhenti sejenak, bayangan itu kembali.
Wajah Aruna yang datar, sapaan singkat di pagi hari, dan tidak ada pesan setelah pintu tertutup. Revan mengembuskan napas berat, lalu kembali menunduk pada pekerjaannya.
“Tidak penting,” katanya dalam hati. “Kami memang tidak menikah karena cinta.”
Ponselnya bergetar di atas meja, n ama Viona muncul di layar. Revan melirik sekilas sebelum mengangkat panggilan itu.
“Kamu udah sampai kantor?” suara Viona terdengar di seberang, lembut seperti biasa.
“Udah,” jawab Revan singkat. “Ada apa?”
“Kamu terdengar dingin,” kata Viona. “Masih kepikiran omongan adikmu?”
Revan terdiam sejenak. “Aku sedang kerja.”
“Hanya mau memastikan kamu baik-baik saja,” ucap Viona. “Aku rindu.”
Kata itu membuat Revan memejamkan mata sejenak. “Aku sibuk hari ini,” katanya akhirnya.
“Aku tahu,” balas Viona cepat. “Makanya nanti siang kita makan bareng. Aku sudah kangen.”
Revan menghela napas. “Nanti aku kabari.” Panggilan ditutup.
Revan kembali menatap layar, tetapi fokusnya tidak sepenuhnya kembali. Ia tahu seharusnya ia menjaga jarak. Ia tahu seharusnya ada batas, namun justru di situlah ia gagal.
Hubungannya dengan Viona adalah pelarian. Dari pernikahan yang sunyi, dari tuntutan yang tidak pernah ia pilih, dan dari perasaan bersalah yang tidak ingin ia hadapi. Ia memilih mengabaikan tanda-tanda itu.
Siang harinya, Revan bertemu Viona di sebuah restoran kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka duduk di sudut, cukup tersembunyi dari pandangan orang lain.
“Sayang, kamu kelihatan lelah,” ujar Viona sambil menyentuh tangan Revan di atas meja.
Revan tidak menarik tangannya. “Aku sedang banyak kasus.”
“Atau rumah tanggamu?” tanya Viona pelan.
Revan mengalihkan pandangan. “Jangan bahas itu.”
Viona tersenyum tipis. “Kamu selalu seperti ini. Menutup mata saat masalah muncul.”
Kalimat itu membuat Revan mengernyit. “Aku tahu apa yang kulakukan.”
“Benarkah?” tanya Viona. “Atau kamu hanya takut mengakui bahwa pernikahanmu retak?”
Revan terdiam. “Aruna mulai menjauh, kan?” lanjut Viona. “Aku bisa merasakannya.”
Revan menghela napas panjang. “Itu urusanku.”
Viona mencondongkan badan. “Dan aku?” tanyanya. “Apa aku masih punya tempat?”
Pertanyaan itu menggantung, Revan memilih untuk tidak menjawab.
Ia memilih membicarakan hal lain, tentang pekerjaan, rencana bisnis, jadwal pertemuan. Segala hal yang aman dan tidak menyentuh masalah pernikahannya.
Viona tidak memaksa. Ia hanya tersenyum, tetapi di balik senyum itu, ada tuntutan yang perlahan tumbuh.
Malam harinya, Revan pulang lebih larut dari biasanya.
Lampu teras menyala, tetapi rumah terasa sunyi. Ia membuka pintu dan melangkah masuk. Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kaki. Hanya keheningan yang menyambutnya.
“Aruna?” panggilnya singkat. Tidak ada jawaban.
Di meja makan, Revan mendapati sepiring makanan yang sudah dingin, ditutup tudung saji. Masakan Aruna. Seperti biasa, disiapkan tanpa diminta, tanpa komentar.
Revan menatap piring itu sejenak, lalu melangkah pergi. Ia tidak membuka penutupnya. Naik ke lantai atas dan berhenti di depan kamar utama. Revan menoleh ke kamar di ujung, pintu kamar Aruna tertutup rapat. Lalu ia masuk ke dalam kamarnya, menyalakan lampu, lalu menjatuhkan tas kerjanya ke kursi.
Ia mengganti pakaian dengan gerakan malas, kemudian duduk di tepi ranjang. Hening terasa lebih pekat saat ia sendirian di kamar itu.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar Aruna terbuka. Ia keluar sebentar menuju kamar mandi di ujung koridor. Rambutnya terikat rapi, wajahnya terlihat tenang.
“Kamu sudah pulang?” tanya Aruna singkat saat melihat pintu kamar Revan terbuka.
“Iya,” jawab Revan.
Tidak ada basa-basi, tidak ada sapaan lanjutan. Hanya sekedar jawaban formalitas.
“Oh ya,” ucap Aruna sebelum kembali ke kamarnya, “tolong sampaikan pada kekasihmu itu agar tidak lagi mengirimiku pesan yang tidak bermutu. Suruh dia menunggu sampai kita resmi bercerai.”
Revan mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu, Aruna?” tanyanya, tidak mengerti.
Tanpa menjawab, Aruna mengeluarkan ponselnya dari saku celana tidurnya. Ia mengetuk layar beberapa kali, lalu meneruskan sebuah pesan ke ponsel Revan. Pesan dari nomor tidak dikenal yang ia terima siang tadi.
Revan membaca pesan itu perlahan, dadanya terasa sesak. Ia tahu persis siapa pengirimnya. Cara bertanya, pilihan kata, dan nada merendahkan itu terlalu familiar. Viona. Hanya saja kali ini perempuan itu menggunakan nomor yang berbeda.
“Dari mana kamu tahu ini nomor Viona?” tanya Revan akhirnya, meski ia sendiri sudah memiliki jawabannya.
Aruna mengangkat wajahnya. Tatapannya dingin, tanpa emosi berlebih. “Aku tidak bodoh, Kak Revan. Siapa lagi yang tidak suka dengan pernikahan ini, selain kekasihmu itu?” Ia tersenyum tipis dan sinis. “Sudah pasti dia ingin kita segera bercerai.”
Revan terdiam, tidak ada sanggahan yang bisa ia berikan. Ulah Viona kembali terulang dan kali ini Aruna yang menjadi sasaran. Hal itu membuat Revan menghela napas panjang, menahan kesal yang menumpuk.
Tanpa menunggu tanggapan, Aruna berbalik menuju kamarnya. Beberapa detik kemudian, pintu kamar itu tertutup pelan. Namun bunyinya tetap terdengar jelas di telinga Revan.
“Viona, kenapa kamu tidak pernah mendengarkan ucapanku?” gumam Revan lirih sambil mengepalkan kedua tangannya. “Sampai kapan kamu bisa mengerti?”
Revan memejamkan mata. Di dalam hatinya, kelelahan mulai menggerogoti. Untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang selama ini ia hindari. Apakah keputusannya mempertahankan Viona dalam hidupnya memang tepat?
Ponselnya tiba-tiba bergetar, nama Viona kembali muncul di layar. Revan menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Aku baru sampai rumah,” katanya singkat.
“Dari suara kamu, kelihatannya capek,” suara Viona terdengar lembut. “Kamu sendirian?”
Revan tidak langsung menjawab. Ingatannya kembali tertuju pada kata-kata Aruna barusan.
“Iya,” jawabnya akhirnya.
“Kamu mau aku temani bicara?” tanya Viona pelan.
Revan menghela napas panjang. “Kenapa kamu mengirim pesan ke Aruna?”
Di seberang, Viona terdiam beberapa detik. “Apa maksudmu, Revan?” tanyanya, berusaha menghindar.
Revan tidak menjawab. Ia meneruskan pesan dari Aruna ke ponsel Viona. “Baca sendiri,” ucapnya dingin.
Sunyi sejenak. “Aku minta maaf, sayang,” ujar Viona akhirnya dengan suara lirih.
“Sudah berkali-kali aku katakan,” ucap Revan, nadanya mulai mengeras, “jangan ganggu Aruna. Bersabarlah sedikit saja, sampai aku mendapatkan bagian warisanku.”
“Tapi aku sudah minta maaf,” balas Viona pelan.
“Aku lelah, Vio,” potong Revan. “Berkali-kali aku ingatkan, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan.”
Nada suara Revan membuat Viona ketakutan. Ia tidak ingin kehilangan posisinya.
“Tolong jangan marah,” kata Viona tergesa. “Aku janji tidak akan pernah mengganggu perempuan itu lagi.”
Revan terdiam, ia tidak memberi jawaban. Beberapa detik kemudian, sambungan telepon terputus.
Jam di dinding menunjukkan hampir tengah malam. Revan menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Ia bersandar di balik pintu, memejamkan mata.
Ia tahu, ada sesuatu yang sedang runtuh perlahan dalam hidupnya. Ia sadar, tanda-tanda itu kini terlihat jelas. Namun lagi-lagi, Revan memilih cara paling mudah yaitu mengabaikannya.