NovelToon NovelToon
Merangkai Hasrat

Merangkai Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.

Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.

Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.

Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.

"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Pembicaraan dengan calon ibu mertua

"Jennie, temui Tante di Tea House pukul dua siang, sendiri. Ada hal yang ingin Tante bicarakan berdua denganmu."

Jennie yang baru menghidupkan ponselnya dan melihat pesan dari Ibu Johan seketika menahan napasnya.

Dia sudah beberapa kali pergi keluar untuk sekedar makan atau belanja bersama Ibu Johan, tapi kali ini berbeda karena identitasnya sudah terbuka.

"Ada apa?" tanya Johan yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil tersampir di bahunya.

"Ibumu mengajakku minum teh siang ini, sendiri," jawab Jennie pelan.

Johan menghentikan gerakannya mengeringkan rambut, rahangnya mengeras. "Aku ikut, aku tidak akan membiarkan Mama memarahimu."

Jennie menggeleng lalu mendekat ke arah Johan dan mengelus lengan pria itu. "Tidak usah, Mas. Jika Ibumu memintaku datang sendiri berarti ini pembicaraan antara wanita, kali ini biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Aku tidak mau selamanya bersembunyi dibalik punggungmu."

Johan menatap Jennie dalam-dalam lalu menghela napas pasrah. "Baiklah, tapi jika dalam dua jam kamu tidak memberiku kabar, aku akan menjemputmu ke sana."

Tea House itu terletak di kawasan Menteng yang asri dan sunyi. Di pojok ruangan dekat jendela yang menghadap ke taman, Ibu Johan sudah duduk dengan anggun sembari menyesap teh dari cangkir porselen.

"Duduklah," ujar Ibu Ratna tanpa basa-basi saat Jennie tiba.

Jennie duduk dengan punggung tegak, berusaha agar terlihat tenang meskipun degup jantungnya menggila. "Terima kasih sudah menggundang saya, Tante."

Ibu Ratna menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkirnya tanpa suara. Matanya yang tajam yang diturunkan langsung pada Johan menatapnya seolah bisa membedah isi kepalanya.

"Semalam Tante melihat sisi Johan yang belum pernah Tante lihat selama tiga puluh tahun dia hidup," buka Ibu Ratna. "Bahkan saat dia menantang ayahnya sendiri untuk tidak putus denganmu hari itu, dia rela membuang segalanya hanya untuk melindungimu. Dia bukan lagi putraku yang penurut."

Ibu Ratna menjeda ucapannya, jemarinya mengusap pinggiran cangkir. "Tapi itu membuat Tante bertanya-tanya. Kamu adalah seorang penulis, terlebih penulis...ya kamu pasti paham lah. Kamu pintar dalam merangkai kata dan emosi, kamu tahu persis apa yang ingin didengar pria dan kamu tahu bagaimana menciptakan momen yang dramatis."

Tangan Jennie sedikit meremas gaunnya, dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Yang ingin Tante tahu," lanjut Ibu Ratna, suaranya kini lebih rendah. "Apakah kamu benar-benar mencintai anak Tante sebagai manusia? Atau kamu hanya menganggap Johan sebatas bahan riset seperti yang dibicarakan di luar sana? Jangan-jangan cinta yang dia rasakan itu hanyalah hasil dari manipulasi kata-kata yang kamu susun dengan apik?"

Jennie menarik napas dalam, pertanyaan itu tidak mengandung kebencian, melainkan kekhawatiran seorang ibu yang takut anaknya hanya menjadi mainan wanita.

"Tante," Jennie mulai bicara, suaranya tenang namun mantap. "Saya tidak akan berbohong, pada awalnya saya memang hanya menjadikan Mas Johan untuk bahan riset novel saya. Dia adalah prototipe pria alpa yang dingin, kaku dan juga tampan, karakter yang sangat laku di pasaran."

Ibu Ratna sedikit menyipitkan matanya, namun Jennie belum selesai.

"Tapi semakin lama saya mengenal Mas Johan, ternyata dia tidak sedingin dan sekaku itu. Dan ternyata dia jauh lebih berantakan dari yang terlihat," lanjut Jennie di akhiri dengan tawa kecil.

Ibu Ratna menaikkan alisnya, "Berantakan? Johan sangat perfeksionis."

Jennie tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat tulus. "Mamang benar, tapi apakah Tante tahu Mas Johan punya kebiasaan mendengkur seperti kucing saat dia benar-benar lelah setelah lembur menggambar denah?"

Ibu Ratna tertegun, gerakan tangannya terhenti.

"Atau bagaimana dia selalu lupa di mana meletakkan sendok setiap kali membuat kopi meski dia sangat teliti soal suhu airnya, dia tetap akan berputar di dapur dengan wajah bingung."

"Mas Johan sangat benci wortel yang dipotong dadu dalam supnya. Tapi semalam saat saya mencoba memasak dan hasilnya berantakan, dia tetap memakannya tanpa protes agar saya tidak sedih."

Jennie menatap lurus mata Ibu Johan, "Saya tidak mencintai karakter yang saya buat, saya mencintai manusia nyata yang suka bermanja-manja saat kami sedang menonton, pria yang yang memijat kaki saya tanpa diminta, dan pria yang memberikan saya keberanian untuk bangga pada diri saya sendiri."

Suasana di meja itu mendadak sunyi, aroma teh yang menguar di antara mereka seolah membawa pengakuan Jennie meresap ke dalam hati ibu Johan. Detail-detail kecil yang diucapkan Jennie bukanlah sekedar imajinasi, tapi seseorang yang benar-benar memperhatikan orang yang dia cintai.

Ibu Ratna menghela napas panjang, bahunya yang kaku perlahan rileks. Sebuah senyum tipis hampir tak terlihat muncul di bibirnya.

"Dia memang sangat benci wortel sejak kecil," gumam wanita paruh baya itu. "Dan dia memang selalu payah mencari barang yang ada di depan hidungnya sendiri."

Ibu Ratna menatap Jennie lagi, kali ini dengan binar yang berbeda. "Seorang penulis mungkin bisa memalsukan gairah di atas kertas, tapi mereka tidak bisa memalsukan perhatian pada hal-hal yang tidak penting bagi orang lain. Kamu benar-benar mengenalnya, Jen."

Beliau kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru biru tua dan meletakkannya di atas meja. "Johan meminta izin Tante untuk memberikan ini padamu beberapa waktu lalu. Ini milik neneknya, dan Tante sempat menahannya karena ragu."

Ibu Ratna mendorong kotak itu ke arah Jennie. "Simpanlah, tolong pastikan dia tetap mendengkur dengan tenang di sampingmu, karena itu artinya dia merasa aman."

Jennie merasakan matanya memanas, dia menerima kotak itu dengan tangan bergetar. "Terima kasih, Tante. Terima kasih sudah mempercayai saya."

Pertemuan itu akhrinya berakhir, saat Jennie keluar dari Tea House dia melihat SUV hitam Johan sudah terparkir disebarang jalan. Pria itu bersandar di mobil dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan, begitu melihat Jennie keluar dia langsung menghampirinya.

"Sayang? Apa Mama bilang sesuatu yang buruk? Kamu nangis?" tanya Johan panik sembari menangkup wajah Jennie.

Jennie tertawa di tengah tangis harunya, dia memeluk Johan erat-erat di depan umum. "Tidak, Mas. Mamamu hanya ingin memastikan aku benar-benar tahu bahwa calon suamiku ini benci wortel dan suka mendengkur seperti kucing."

Johan tertegun, "Sayang! Kamu menceritakan itu pada Mama?!"

Jennie tertawa dan menarik Johan menuju mobil. "Kenapa? Itu kan bagian favoritku."

Kini rintangan terbesar Jennie telah terlewati, yaitu sebuah restu dari orang yang sudah melahirkan dan membesarkan Johan.

Bersambung

1
qurro thul
beneran menang banyak ini Johan 🥴🥴🥴
qurro thul
jd👉👈
qurro thul
duh sayang 🥴🤣
qurro thul
sdh sangat berpengalaman sepertinya Johan ini dalam seluk beluk hati wabita🥴
qurro thul
knp d ijinkan ikut m kantor 🤣
qurro thul
pulang jen, kamar mu cm butuh brp langkah🥴
qurro thul
Johan menang banyak 🥴🥴
qurro thul
tenyata somplak juga tetangga 5012🤣
qurro thul
ini mulud TDK bs d kontrol 🫣🤣
qurro thul
membayangkan semalu apa ituh 🤣🤣🤣
qurro thul
narsis juga kah 🤣
qurro thul
dasar usil si johan
HiLo
Suka, konfliknya ringan
HiLo
ditunggu kelanjutannya
Aria
lanjut kakkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!