Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sementara di tempat lain, Lampu neon klub yang berkedip-kedip menyinari wajah Bayu yang kini babak belur. Darah segar masih menetes dari sudut bibirnya, namun sorot matanya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Kebencian yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun kini benar-benar telah mengubahnya menjadi monster.
Indra membantu Bayu duduk di sofa VIP yang kini berantakan dengan pecahan kaca. "Lo harus ke dokter, Bay. Rahang lo bisa geser kalau nggak diobatin," ucap Indra dengan nada yang mulai lelah.
"Gue nggak butuh dokter," desis Bayu sambil menyeka darah dengan kasar. "Gue butuh kehancuran Devano. Gue mau dia ngerasain gimana rasanya kehilangan segalanya, sama kayak yang gue rasain waktu Sheila nolak gue di depan muka gue sendiri."
Indra hanya bisa terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia tidak benar-benar mengenal siapa Bayu sebenarnya. Bayu yang ia kenal sebagai sahabat yang asyik, ternyata menyimpan kegelapan yang begitu pekat.
Tiba-tiba, Bayu merogoh saku celananya dengan tangan yang gemetar. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor yang sudah lama tersimpan di sana, sebuah nomor yang sengaja ia simpan untuk saat-saat darurat seperti ini.
"Halo, Om..." bisik Bayu setelah panggilannya tersambung. Suaranya terdengar parau namun penuh dengan niat jahat. "Ini Bayu. Saya menerima tawaran dari Om. Saya punya rencana yang Om butuhkan untuk mengambil anak Devano dan mengambil hak asuh anak itu sepenuhnya."
Di seberang sana, suara berat Tuan Narendra terdengar tertawa kecil. "Pilihan yang sangat bijak, Bayu. Datanglah ke kantor saya sekarang. Kita habisi harga diri wanita itu sampai dia tidak punya alasan lagi untuk bangkit dan semakin menjauhi putraku."
Indra yang mendengar percakapan itu membelalakkan mata. "Bay! Lo gila? Itu Papanya Devano! Lo mau kerja sama, sama orang yang mau misahin Sheila dari anaknya?!"
Bayu hanya melirik Indra dengan tatapan dingin yang mematikan. "Gue nggak peduli siapa yang menang, Dra. Yang penting... Devano harus kalah dan merasakan apa yang pernah gue rasakan." Ujar Bayu dengan kilatan mata yang di penuhi oleh dendam terhadap Devano dan Sheila.
Kini bayu meninggalkan indra dan menuju kantor tuan Narendra, indra hanya bisa menatap punggung bayu yang menghilang.
" semuanya berantakan persahabatan kita dari kecil, rusak karena kalian mencintai wanita yang sama." Batin indra menatap miris pada kedua sahabatnya yang kini menghilang dari pandangannya.
Gedung Narendra Tower berdiri angkuh mencakar langit malam Jakarta. Di lantai paling atas, di dalam ruang kerja yang luas dan dingin, Tuan Narendra duduk di balik meja mahoninya. Ia tidak terkejut melihat Bayu masuk dengan wajah babak belur. Baginya, luka fisik hanyalah tanda dari bidak yang telah menjalankan tugasnya.
"Duduklah, Bayu. Wajahmu terlihat sangat berantakan," ucap Tuan Narendra tanpa sedikit pun rasa simpati. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dan mendorongnya ke arah Bayu.
Bayu duduk dengan kaku, rasa nyeri di rahangnya tidak sebanding dengan kepuasan yang ia rasakan saat ini. "Devano sudah tahu semuanya, Om. Dia menghajar saya habis-habisan di klub. Tapi itu tidak penting. Sekarang dia sedang di rumah sakit, mungkin sedang bersimpuh di kaki wanita itu." Cibir Bayu dengan kilatan mata penuh kebencian.
Tuan Narendra tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Putraku memang lemah jika menyangkut perasaan. Itulah sebabnya dia butuh sedikit 'dorongan' untuk menyadari siapa dirinya yang sebenarnya.
"Jadi, Rencana apa yang kamu punya?"
" Saya akan melancarkan misi penculikan bayi itu malam ini," Ucap Bayu dengan menampilkan seringai miring.
" Bagus! Saya tunggu kabar baiknya,"
Gedung Narendra Tower malam itu menjadi saksi bisu lahirnya konspirasi yang paling menjijikkan. Tuan Narendra menyesap wiskinya perlahan, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya, sementara pikirannya sudah melayang jauh membayangkan keberhasilannya merenggut ahli waris kecil itu dari tangan Sheila.
"Ingat, Bayu," Tuan Narendra meletakkan gelas kristalnya dengan denting yang tajam. "Jangan sampai ada satu pun jejak yang mengarah ke saya. Jika terjadi sesuatu, itu adalah murni kesalahanmu dan obsesi gilamu terhadap wanita itu. Paham?"
Bayu berdiri, menahan rasa sakit di wajahnya yang kian berdenyut. "Saya mengerti, Om. Malam ini juga, jagoan kecil Devano akan menghilang tanpa jejak sebelum Sheila sempat melihat wajahnya."
Bayu melangkah keluar dari ruangan dingin itu dengan langkah yang penuh kebencian. Ia segera menghubungi beberapa orang bayaran yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Mereka bukan sembarang orang, melainkan orang-orang yang terbiasa bekerja di bawah bayang-bayang.
Sementara itu, di taman rumah sakit, perasaan Devano mendadak tidak tenang. Instingnya sebagai seorang ayah seolah berteriak bahwa ada bahaya yang sedang mengintai. Ia melihat dua buah mobil van hitam tanpa plat nomor masuk ke area parkir belakang rumah sakit, area yang seharusnya tertutup untuk umum di jam operasional malam.
"Sial... apa yang mereka rencanakan?" gumam Devano.
Tanpa membuang waktu, Devano segera berlari masuk ke dalam gedung. Ia tidak menuju kamar Sheila, melainkan langsung menuju lantai di mana ruang NICU berada. Langkah kakinya yang berat bergema di koridor yang sepi.
Di saat yang bersamaan, Arkan yang baru saja selesai mengecek laporan medis pasien lain, melihat pergerakan mencurigakan dari dua orang pria berpakaian cleaning service yang berjalan menuju arah ruang bayi dengan gerak-gerik yang tidak wajar. Arkan segera mencegat mereka.
"Hey! Kalian dari divisi mana? Shift malam tidak punya jadwal pembersihan di area steril NICU sekarang," tegur Arkan dengan nada curiga.
Salah satu pria itu menatap Arkan dengan tajam, tangannya meraba sesuatu di balik pinggangnya. "Jangan ikut campur, Dokter. Minggir kalau Anda masih ingin melihat matahari besok."
Suasana NICU yang tenang pecah seketika oleh teriakan Devano. Langkah kakinya yang berat menggema di lantai koridor saat ia berlari sekuat tenaga.
"Jauhkan tangan kalian dari ruangan itu!" raung Devano. Suaranya serak, penuh dengan kebencian yang sudah di ujung tanduk.
Tanpa peringatan, Devano melompat dan menerjang pria pertama yang mencoba menyentuh Arkan.
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang pria itu. Devano tidak peduli meski rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari buku jarinya yang sudah hancur dan berdarah. Baginya, rasa sakit itu adalah pengingat akan dosanya yang harus ia bayar dengan melindungi anak dan istrinya.
KRETAK!
Bunyi benturan keras terdengar saat Devano menghantamkan tubuh pria kedua ke dinding koridor.
"Argh!" pria itu mengerang, mencoba membalas dengan pukulan ke arah perut Devano.
Dugh!
Devano terhuyung ke belakang, napasnya tercekat, namun matanya tetap menyala. Ia kembali maju, mencengkeram kerah jaket lawannya dan memberikan sundulan kepala yang keras.
TAK!
Darah segar mulai menetes dari dahi Devano, bercampur dengan darah lama di kemejanya. Ia terlihat seperti monster yang baru saja keluar dari neraka.
Arkan, yang melihat situasi semakin tidak terkendali, segera menekan tombol darurat di dinding. "Keamanan! Kode Merah di Lantai 4 NICU! Cepat!" teriaknya melalui interkom, suaranya bersaing dengan bunyi hantaman fisik di depannya.
BRAK!
Meja administrasi kecil di sudut lorong terguling saat salah satu preman itu mencoba menendang Devano. Gelas plastik dan tumpukan brosur rumah sakit berserakan.
Bugh! Bugh! Bugh!
Devano terus menghujami lawannya dengan pukulan bertubi-tubi. Ia tidak menggunakan teknik, hanya amarah murni. Ia memukul seolah-olah setiap hantamannya ditujukan pada dirinya sendiri dan juga pada pengkhianatan Bayu.
"Jangan... pernah... berani... sentuh... anak gue!" geram Devano di sela-sela setiap pukulan.
Brak!
Pria terakhir akhirnya tersungkur ke lantai setelah Devano menghantam wajahnya dengan lutut. Suara napas Devano memburu, terdengar seperti hewan buas yang terluka di tengah koridor yang kini riuh oleh suara sirine alarm.
Wiuuu... Wiuuu... Wiuuu...
Lampu merah di lorong mulai berkedip-kedip. Beberapa petugas keamanan berlari dari ujung koridor dengan tongkat pemukul dan borgol di tangan.
Devano berdiri dengan tubuh bergetar di depan pintu kaca NICU. Ia terengah-engah, menatap tangannya yang kini benar-benar hancur. Ia tidak peduli pada keamanan yang datang mengepungnya, matanya hanya tertuju pada inkubator jauh di dalam ruangan sana—satu-satunya alasan ia masih tetap berdiri.