Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Burhan menurunkan alis mata, lubang hidungnya melebar ketika mendengar kata-kata Aksa yang tidak sopan kepadanya. Dia tentu saja marah anaknya berani menuduhnya telah menyakiti kekasihnya padahal tidak tahu siapa wanita yang dimaksud. Namun begitu, ia mengingat-ingat di antara wanita yang akan menjadi targetnya. Benarkah salah satu di antara mereka adalah kekasih Aksa?
"Siapa wanita yang kamu maksud, Sa?" Burhan menurunkan suara. Pantas saja Aksa datang ke rumah ini, ternyata wanita alasannya. Sudah bertahun-tahun ia mengajak Aksa ke rumah ini, tapi Aksa menolak dengan berbagai alasan. Betapa bahagianya dia ketika hari ini Aksa tiba-tiba datang dengan sendirinya, tapi ternyata ada masalah pribadi dengannya.
"Jadi benar kan, Ayah selalu membeli gadis-gadis hanya untuk bersenang-senang?" Aksa menegaskan sebelum menyebut nama Dini. Rasanya malu sekali. Jika sampai masalah ini tersebar ke desa-desa mau dia sembunyikan di mana wajahnya.
"Itu tidak benar!" elak Burhan keras.
"Ayah jangan bohong, jangan karena banyak uang lantas Ayah gunakan untuk membeli wanita demi kenikmatan sesaat!" Aksa akhirnya mengeluarkan kata-kata seperti itu walaupun tidak sopan.
"Kamu!" Burhan berdiri melayangkan telapak tangan ke wajah Aksa. Saking kencangnya pria itu pun terhuyung, tapi secepatnya menjaga keseimbangan. Dia menatap pistol yang Burhan letakkan di atas meja kemudian bergerak maju. Aksa sudah tidak bisa menjaga kewarasan.
"Daripada saya malu mempunyai orang tua yang sudah setua Ayah tapi masih hobi bersenang-senang dengan para wanita, lebih baik bunuh saya. Yah!" Aksa memberikan pistol kepada Burhan.
Burhan menatap nyalang mata Aksa, anak laki-lakinya itu bukan sedang menggertak atau berpura-pura. Tentu saja ia tidak mau menerima pistol tersebut.
"Ayo, Ayah. Kenapa diam?!" Aksa berteriak mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Burhan masih juga diam tapi kali ini membuang pandanganya ke arah lain entah apa yang pria itu pikirkan.
Aksa meneteskan air mata, menatap wajah ayahnya yang sudah keriput dimakan usia, tapi belum juga sadar jika yang ia lakukan itu salah. Tampak dari samping tubuh Burhan memang masih gagah, tapi cepat atau lambat malaikat maut pasti datang menjemput. Aksa ingin di usia ayahnya sekarang segera menjemput hidayah tapi mengapa justru semakin tidak terkendali?
"Sekarang katakan, siapa wanita yang kamu cintai, Sa?" Burhan bertanya untuk yang ketiga kalinya, kali ini terdengar lirih tanpa merubah posisi entah seperti apa ekpresinya.
"Ayah membeli wanita yang bernama Dini kepada bapak tirinya yang bernama Ringgo bukan?" Aksa mendelik merah.
Daaarrr....
Jantung Burhan terasa mau lepas tapi tetap berdiri membeku. Mulutnya tertutup rapat tidak mungkin ia berkata jujur tentang masalah ini.
"Jika masih menganggap saya anak, hentikan niat busuk Ayah. Tapi jika tetap nekat, Ayah akan berhadapan dengan saya!" Aksa marah, kesal, kecewa bertumpuk hingga kata-kata kasar meluncur tanpa bisa dikontrol. Setelah berpesan seperti itu, ia melangkah pergi meninggalkan Burhan.
Burhan seketika balik badan, memandangi Aksa yang sudah tidak menoleh lagi. Tanpa mampu mengejar karena tubuhnya terasa lemas seperti disambar petir di tengah lapangan. Mulutnya terbuka lebar sungguh tidak percaya. Dini gadis cantik yang paling sulit ia tundukkan itu ternyata kekasih anak laki-lakinya? Burhan menjatuhkan lututnya di lantai marmer. Sikap angkuh, arogan, egois itu pun tiba-tiba runtuh. Beberapa menit kemudian ia bangun, lalu pindah ke sofa empuk.
Burhan ambil handphone menekan nomor Ringgo, tiga kali derup pemilik nomor pun mengucap 'hallo.
"Datang ke rumah saya sekarang juga!"
"Baik Bos"
************
Sore hari Dini baru pulang sekolah karena mengikuti pelajaran tambahan. Udara sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang tanpa helm terasa sejuk. Ia lambatkan kendaraan roda dua itu, ketika tiba di jalan pertigaan kecil.
"Terima kasih Dini..." ucap Lestari seperti biasanya ia turun dari motor Dini.
"Sama-sama. Sampai besok..." Dini menatap Lestari yang menoleh ke arahnya sembari melambaikan tangan.
Dini hendak menjalankan motornya begitu Lestari sudah belok ke arah lain.
"Ummm... Ummm..." Dini hendak berteriak tetapi sulit ketika tiba-tiba mulutnya ada yang membekap dari belakang.
...~Bersambung~...