NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Pertama

Pintu ruang kerja itu tidak terkunci. Ciarán tidak pernah menguncinya, seolah menantang siapa pun yang cukup bodoh untuk masuk dan mengganggunya.

Aku mendorong pintu berat itu dengan siku karena tanganku memegang nampan.

Ruangan di dalam gelap gulita, diselimuti asap rokok tipis yang menggantung di udara. Padahal aku tahu dia jarang merokok kecuali dalam keadaan terdesak. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu meja yang redup dan kilau layar laptop yang menampilkan deretan angka-angka merah yang menyakitkan mata.

Ciarán duduk di balik mejanya. Dia tidak mengenakan jas. Lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, dasinya sudah lama hilang entah ke mana. Rambutnya berantakan, seolah dia sudah berkali-kali menyisirnya dengan jari karena frustrasi.

Dia tidak menoleh saat aku masuk.

"Taruh di meja dan keluar, Greta," geramnya tanpa mengangkat wajah dari berkas di tangannya. Suaranya rendah, serak, dan penuh ancaman yang tertahan. "Dan kalau kau bertanya lagi apakah aku mau makan malam, aku akan memecatmu."

Aku tidak menjawab.

Aku berjalan melintasi karpet tebal itu, langkahku mantap meski jantungku berdegup kencang. Aku meletakkan nampan perak itu di atas tumpukan berkas yang sedikit lebih rapi di sudut mejanya. Klenting pelan suara porselen bertemu kayu.

Aroma kopi hitam yang kuat langsung menyebar, membelah bau asap rokok yang apek.

"Minumlah," kataku, memecah keheningan yang tegang itu. "Kau terlihat mengerikan."

Suara pena yang sedang menggores kertas berhenti mendadak.

Keheningan yang menyusul berlangsung selama tiga detik yang panjang. Udara di ruangan itu seolah membeku.

Perlahan, Ciarán mengangkat kepalanya.

Wajahnya... hancur.

Lingkaran hitam di bawah matanya begitu pekat hingga terlihat seperti memar. Matanya sendiri merah, pembuluh darahnya pecah karena terlalu lama menatap layar dan kurang tidur. Ada bayangan janggut kasar di rahangnya yang biasanya licin. Dia terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usianya.

Dia menatapku. Bukan dengan tatapan kosong seperti biasa, tapi dengan tatapan liar. Tatapan seekor binatang yang terpojok dan terluka namun masih siap menggigit.

"Elara," desisnya. Nama itu terdengar asing di lidahnya yang terbiasa memberi perintah.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang berderit protes. Matanya menyipit, menelanjangiku di dalam kegelapan. Dia tidak melihat gaun tidurku, dia melihat nyaliku.

"Kau punya keberanian yang bodoh," katanya pelan. "Semua orang di rumah ini sedang bersembunyi dariku. Bahkan ayahku sendiri mengunci diri di kamarnya seperti pengecut."

Dia mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya masuk ke dalam lingkaran cahaya lampu meja, mempertegas garis-garis keras di wajahnya yang tegang.

"Kau tidak takut aku lampiaskan amarah padamu?" tanyanya. Suaranya tenang, tapi ada getaran berbahaya di sana, seperti permukaan laut sebelum tsunami. "Aku bisa saja melempar cangkir panas itu ke wajahmu sekarang juga. Dan tidak ada yang akan membelamu."

Aku tidak menjawab. Aku juga tidak mundur.

Alih-alih lari, aku melakukan hal yang tidak terpikirkan. Aku berjalan memutari meja kerjanya yang besar.

Ciarán menegang. Matanya mengikuti setiap gerakanku dengan waspada. "Apa yang kau lakukan?"

Aku berhenti tepat di belakang kursi kulitnya. Jarak kami sekarang nol. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang menguar, bercampur dengan aroma cologne yang sudah memudar dan keringat dingin.

"Kau tidak akan melempar cangkir itu," kataku lembut, suaraku nyaris berbisik di telinganya. "Karena kau bukan orang yang menyia-nyiakan kopi enak."

Sebelum dia sempat membantah, aku mengangkat kedua tanganku.

Dengan ragu namun nekat, aku meletakkan telapak tanganku di atas bahunya yang lebar.

Otot-otot bahu itu sekeras batu. Tegang. Kaku seperti kawat baja yang ditarik terlalu kencang.

Ciarán tersentak hebat.

"Lepaskan," geramnya. Tangannya bergerak cepat, hendak menepis tanganku atau mungkin mematahkan jariku.

Tapi aku menekannya lebih kuat. Jempolku menekan titik simpul di pangkal lehernya, tempat semua stres itu berkumpul.

"Diamlah," perintahku. Suaraku tenang namun tegas, meniru nada bicaranya sendiri.

Gerakan tangannya terhenti di udara.

"Dunia di luar sana berisik, Ciarán," bisikku, mulai memijat bahunya dengan gerakan memutar yang lambat dan dalam. Aku menggunakan berat tubuhku untuk menekan otot trapezius-nya yang membatu. "Semua orang meminta sesuatu darimu. Investor. Wartawan. Ayahmu. Saudara-saudarimu. Mereka semua parasit yang bising."

Aku merasakan napasnya tertahan.

"Tapi di sini..." Aku mencondongkan tubuh sedikit, hingga daguku hampir menyentuh rambutnya. "Di ruangan ini, cuma ada aku. Dan aku tidak meminta apa-apa selain kau diam dan membiarkanku melakukan ini."

Perlawanan di tubuh Ciarán perlahan mencair.

Bukan karena dia menyerah, tapi karena dia terlalu lelah untuk melawan kenyamanan ini. Pijatanku mungkin tidak profesional, tapi jariku kuat. Bertahun-tahun mengangkat kardus di gudang minimarket membuat tanganku memiliki tenaga yang cukup untuk meremas otot kerasnya.

Sedikit demi sedikit, ketegangan di bahunya mulai terurai.

Kepalanya yang berat perlahan terkulai ke belakang.

Dia menyandarkan belakang kepalanya ke perutku, karena aku berdiri tepat di belakang kursinya.

Itu adalah posisi yang sangat intim. Sangat rentan. Lehernya terekspos padaku. Jika aku membawa pisau, aku bisa menggoroknya dengan mudah.

Tapi dia membiarkannya.

Dia memejamkan matanya yang merah. Bibirnya terbuka sedikit, mengembuskan napas panjang yang gemetar.

"Sakit," gumamnya, hampir tak terdengar.

"Aku tahu," jawabku, jemariku terus bekerja mengurai simpul di lehernya. "Rasa sakit ini nyata. Lebih nyata daripada angka-angka di layarmu."

Di kegelapan ruangan itu, di balik punggungnya, sebuah senyum tipis terukir di wajahku.

Bukan senyum manis. Itu adalah senyum kemenangan.

Sang Monster, si Raja Bisnis yang ditakuti, si pria yang menghina sepatuku... kini bersandar pasrah di tubuhku. Dia membiarkan gadis "gembel" ini menyentuhnya, merawatnya, dan menjadi satu-satunya hal yang menahannya agar tidak hancur.

Malam ini, aku menyadari sesuatu yang berbahaya.

Ciarán Vane adalah pria yang sakit. Sakit oleh beban, oleh kesepian, oleh ekspektasi. Dia butuh obat penenang yang kuat.

Dan aku... aku akan menjadi obat itu.

Obat yang akan membuatnya kecanduan sampai dia tidak bisa hidup tanpaku.

1
Fauziah Rahma
bertahan hidup seperti parasit, parasit mutualisme, semoga saja
Sha_riesha
aku tak pernah mau baca novel yang masih on going tapi entahlah novel ini punya magnet kuat banget yang bikin aku bolak balik ngecek udah up lagi apa belum 😍
Sha_riesha: 😭 sebenernya aku gak suka banget dibuat penasaran. nungguin up nya mana lama lagi 😭😭😭
total 2 replies
Sha_riesha
❤️🙏
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!