NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuhnya Biara Suci

Lokasi: Biara "St. Lucia", 20km dari perbatasan Hutan Blackwood.

Waktu: Tengah Malam, Seminggu Kemudian.

​Biara St. Lucia adalah benteng iman di wilayah perbatasan utara. Bangunan megah dari batu putih ini adalah simbol harapan bagi desa-desa sekitar. Di sini, para biarawati merawat anak-anak yatim piatu, menyembuhkan orang sakit, dan mendoakan keselamatan kerajaan. Tembok batunya kokoh, menara loncengnya menjulang tinggi, dan nyanyian doa selalu terdengar setiap jam, menciptakan aura kedamaian.

​Namun malam ini, ketenangan itu adalah kebohongan.

​Varian (menggunakan identitas Shadow Lord dengan jubah hitam panjang yang terbuat dari bayangan dan topeng porselen putih polos) telah diam-diam menyusup ke area sekitar biara sore tadi. Dia menyebarkan bubuk feromon khusus di hutan sekitar biara—feromon yang diekstrak dari kelenjar Ratu Manticore, dirancang khusus untuk menarik perhatian Leon yang kini sangat teritorial.

​Selain itu, Varian juga telah menyebarkan rumor palsu di desa terdekat bahwa "Monster Leon" terlihat berkeliaran di dekat biara dan berencana membakar desa. Rumor itu memancing satu peleton Ksatria Suci bersenjata lengkap untuk berjaga di biara.

​Perangkap telah dipasang. Umpan telah ditebar. Panggung telah siap.

​Di pinggir hutan, sepasang mata merah menyala dalam kegelapan.

​Leon keluar dari hutan. Langkahnya berat, menggetarkan tanah. Hidungnya kembang kempis. Dia mencium bau feromon yang menantang wilayahnya. Tapi yang lebih menyengat, dia mencium bau manusia. Bau Ksatria Suci—bau besi, minyak suci, dan kemunafikan yang sama dengan orang-orang yang menyerangnya dan mengikatnya di hutan dulu.

​Kebenciannya mendidih seketika. Memori penyiksaannya di kerangkeng besi kembali terputar.

​"Membunuh..." geramnya.

​Leon menyerbu.

​Tidak ada peringatan. Tidak ada taktik. Dia berlari dengan kecepatan penuh seperti kereta api yang lepas kendali, menabrak tembok luar biara setebal satu meter.

​BLAAARRR!

​Tembok batu itu meledak ke dalam. Puing-puing berterbangan, menghancurkan taman biara.

​"SERANGAN MONSTER! BUNYIKAN LONCENG!" teriak penjaga menara dengan suara panik.

​Teng! Teng! Teng! Lonceng bahaya berdentang nyaring, membangunkan semua orang.

​Para Ksatria Suci yang bersiaga berlarian keluar ke halaman dengan pedang terhunus dan perisai terangkat.

​"Itu dia! Monster itu!" teriak Kapten Ksatria. Dia mengenali ciri-ciri yang disebar di poster buronan. "Itu Leon si Pengkhianat! Serang! Bunuh dia atas nama Dewa!"

​Mendengar nama lamanya disebut dengan nada jijik, Leon semakin mengamuk. Nama itu adalah pengingat akan kegagalannya.

​"NAMAKU BUKAN LEON!"

​Leon membuka mulutnya lebar-lebar. Mana hitam berkumpul di tenggorokannya, memadat menjadi bola energi yang tidak stabil.

​"Hellfire Breath (Napas Api Neraka)."

​FWOOOOSH!

​Semburan api hitam pekat menyembur keluar, menyapu halaman depan biara. Api itu tidak hanya membakar fisik, tapi juga membakar mana dan jiwa. Tiga ksatria di barisan depan tidak sempat berteriak; mereka hangus seketika, baju zirah baja mereka meleleh menyatu dengan daging dalam hitungan detik.

​Pertempuran itu berat sebelah. Leon yang sudah berevolusi dan memakan puluhan monster hutan kini kebal terhadap pedang biasa. Sihir cahaya tingkat rendah hanya menggelitik kulit sisiknya.

​Dia mencabik, melempar, dan membakar. Biara suci itu berubah menjadi lautan api dan darah.

​Namun, di tengah pembantaian itu, Leon tiba-tiba berhenti.

​Di balik reruntuhan tembok kapel yang terbakar, dia melihat seorang biarawati muda yang terluka sedang memeluk seorang anak kecil yatim piatu. Mereka terpojok, menangis ketakutan, menatap Leon dengan mata terbelalak ngeri.

​Leon terdiam. Tangannya yang bercakar terangkat tinggi, siap menebas dan mengakhiri nyawa mereka.

​Tapi kemudian, bayangan adik perempuannya, Lily, yang mati di masa lalu muncul tumpang tindih dengan wajah anak kecil itu. Tatapan polos yang memohon.

​Sisa kemanusiaannya yang terkubur dalam-dalam di bawah lapisan monster memberontak. Tangan Leon gemetar.

​Bunuh mereka... mereka manusia... mereka akan tumbuh menjadi pemburumu... bisik darah iblis.

Jangan... mereka tidak bersalah... kau bukan pembunuh anak kecil... bisik hati kecil Leon yang retak.

​Leon menurunkan cakarnya perlahan. Dia mundur selangkah.

​Twing!

​Sebuah panah sihir yang sangat kuat melesat dari menara penjaga yang tersisa di belakangnya. Panah itu menancap tepat di mata kiri Leon, menembus bola matanya.

​"ARGH!"

​Leon meraung kesakitan, memegangi matanya yang buta sebelah. Darah hitam mengalir di wajahnya.

​Dia menoleh ke menara. Seorang pemanah ksatria sedang mengisi ulang panahnya. "Mati kau monster!"

​Rasa sakit itu menghilangkan keraguannya seketika. Belas kasih adalah kelemahan. Manusia tidak pantas dikasihani. Mereka akan selalu menyerangnya dari belakang.

​"MATI KALIAN SEMUA!"

​Leon mengamuk buta. Dia melompat ke menara penjaga, menghancurkan fondasinya dengan satu hantaman ekor. Menara itu runtuh, menimpa kapel utama tempat biarawati dan anak itu berlindung.

​BRAAAK!

​Biara itu runtuh rata dengan tanah, mengubur ksatria, biarawati, anak kecil, dan sisa hati nurani Leon sekaligus.

​Dari atas bukit yang aman, Varian menonton pertunjukan itu dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, Agna (Death Knight) berdiri diam seperti patung penjaga.

​"Dia ragu tadi," komentar Varian dingin, matanya tidak lepas dari reruntuhan yang terbakar. "Dia hampir membiarkan anak itu hidup. Hatinya masih terlalu lunak untuk menjadi Jenderal Perangku."

​Varian menggelengkan kepala kecewa.

​"Dia masih butuh satu dorongan lagi. Dorongan terakhir yang akan mematikan hatinya selamanya."

​Varian menunjuk ke arah jalan utama yang menuju biara. Dari kejauhan, terlihat debu mengepul dan kilauan cahaya sihir yang sangat terang, pertanda pasukan besar sedang mendekat.

​Pasukan elit kerajaan sedang bergerak dari arah ibu kota. Bendera emas dengan lambang Raja berkibar gagah.

​"Royal Guard sudah datang," kata Varian, tersenyum miring di balik topengnya. "Termasuk Grand Mage Eldric dan Jenderal Perang Kerajaan. Aku yang memanggil mereka."

​"Ini akan menjadi penangkapan yang spektakuler."

​Di bawah sana, Leon yang lelah dan terluka setelah menghancurkan biara, dikepung. Ratusan penyihir elit membuat formasi lingkaran, mengunci ruang gerak Leon. Jenderal Perang Kerajaan, seorang pria raksasa dengan kapak mithril, maju ke depan.

​"Leon Gremory!" teriak Jenderal itu, suaranya menggelegar. "Atas nama Raja, menyerahlah! Atau kami akan mencincangmu menjadi potongan daging!"

​Leon meraung, siap bertarung sampai mati meski dengan satu mata buta dan tubuh penuh luka. Dia tidak akan menyerah.

​Tapi dia kalah jumlah. Dan dia kalah pengalaman melawan para veteran perang terbaik di benua.

​"Gravity Press (Tekanan Gravitasi)!"

​Grand Mage Eldric, yang berdiri di barisan belakang, merapal sihir gravitasi tingkat 8.

​BRUK!

​Leon terhantam ke tanah seolah ada gunung yang menimpanya. Tulang-tulangnya retak. Dia tidak bisa bergerak, bahkan untuk mengangkat jarinya.

​Rantai Adamantite (logam terkeras di dunia) dilemparkan, mengikat leher, tangan, kaki, dan sayapnya. Pasak-pasak penyegel ditanamkan ke punggungnya.

​Leon meronta lemah, tapi tenaganya habis. Dia diseret lagi. Kali ini bukan ke penjara sekolah, tapi ke Dungeon Bawah Tanah Ibu Kota, tempat penjahat paling keji menunggu eksekusi mati di depan umum.

​Varian berbalik, jubah bayangannya berkibar tertiup angin malam.

​"Persiapkan pasukan, Agna," perintah Varian.

​"Tiga hari lagi adalah hari eksekusi. Kita akan membuat panggung pertunjukan yang tidak akan dilupakan dunia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!