"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Karin akhirnya memantapkan hatinya. Setelah sekian lama menyimpan kecurigaan dan menahan ketakutan, ia memutuskan untuk menyerahkan semua bukti kejahatan Mona yang selama ini ia kumpulkan. Tidak ada lagi keraguan di langkahnya. Karin tahu, kebenaran ini tak bisa terus disembunyikan.
Ia bertekad membongkar semuanya di hadapan papahnya, meski konsekuensinya mungkin akan menghancurkan keluarga mereka. Dengan hati yang bergetar namun tekad yang kuat, Karin siap mengatakan satu hal yang selama ini paling ia takuti, bahwa Mona lah penyebab atas kematian ibunya.
“ Sudah saatnya kamu mendekam di dalam penjara, Mona. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua kejahatanmu,” gumam Karin dengan suara tegas.
Sebelum menemui papahnya dan mengungkapkan semuanya, Karin menahan napas dan pergi ke kantor polisi dengan hati yang campur aduk antara takut dan tekad yang kuat. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia tahu ini adalah satu-satunya cara untuk mengungkap semua kebenaran.
Sesampainya di kantor polisi, Karin langsung menyerahkan semua bukti yang dimilikinya kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti.
“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?” ujar polisi itu ketika Karin sudah masuk ke ruangan.
“Ah iya, Pak. Saya datang ke sini ingin membuat laporan tentang kecelakaan yang dialami ibu saya 25 tahun lalu. Saya juga ingin melaporkan bahwa saya sudah memiliki bukti-bukti kuat mengenai orang yang merencanakan pembunuhan terhadap ibu saya.”
Polisi itu memutar sedikit kursinya ke arah komputer. Jarinya mulai bergerak di atas keyboard, lalu ia melirik kembali ke arah Karin
“Baik, kalau boleh tahu, nama Ibu siapa? Supaya saya bisa mendata terlebih dahulu,” ucap polisi itu.
Karin sedikit mengangguk.
“Karin Sanjaya, Pak,” jawabnya dengan suara tenang.
Polisi itu berhenti mengetik lalu menoleh ke arah Karin.
“Baik, Bu Karin. Boleh saya lihat bukti-bukti yang Ibu punya supaya bisa saya periksa?”
“Silakan, Pak. Bapak bisa memeriksanya. Di situ terlihat jelas bahwa ibu sambung saya, Mona, adalah pelaku pembunuhan itu,” ucap Karin sambil menyerahkan bukti-buktinya.
Polisi itu mulai memeriksa bukti-bukti tersebut. Ia melihat rekaman dan foto-foto yang menunjukkan Mona berada di lokasi kecelakaan. Wajahnya terlihat serius saat meneliti setiap detail.
Polisi itu mengangguk kecil.
“Baik, Bu Karin. Semua bukti ini akan kami proses secepatnya. Untuk sementara, Ibu tinggal menunggu kabar dari kami. Jika Mona berhasil kami tangkap, kami akan segera menghubungi Ibu.”
“Oke, terima kasih, Pak. Saya harap Mona segera ditangkap, karena saya sudah tidak ingin melihatnya lagi,” jawab Karin dengan tegas.
Setelah selesai membuat laporan, Karin meninggalkan kantor polisi dengan niat menemui papahnya untuk menceritakan semua kejahatan Mona. Namun, sebelum itu terjadi, ia melihat suaminya, Dirga, sedang bersama Laura di dalam satu mobil.
Rasa curiga langsung muncul. Karin pun memutuskan untuk mengikuti mobil Dirga secara diam-diam, ingin tahu ke mana mereka pergi.
“Itu kan Mas Dirga dan Laura. Mau ke mana mereka berdua? Aku harus mengikuti mereka,” gumam Karin.
Mobil itu berhenti di halaman rumah sakit. Karin ikut menghentikan langkahnya tak jauh dari sana. Ia menatap gedung tinggi berlampu terang itu dengan dahi berkerut.
“Rumah sakit?” gumamnya pelan.
“Kenapa mereka ke rumah sakit? Apa Laura sakit?” tanyanya pelan.
Begitu melihat Dirga dan Laura masuk ke dalam gedung, Karin langsung membuka pintu mobilnya. Tanpa sempat berpikir panjang, ia melangkah cepat, lalu berlari kecil menyusuri lorong masuk rumah sakit.
Matanya terus mencari dua sosok itu di antara orang-orang yang lalu lalang. Napasnya sedikit memburu, langkahnya tak berhenti, seolah takut kehilangan jejak mereka.
“Mas, bagaimana kalau aku benar-benar hamil? Aku takut Karin akan marah,” ucap Laura sebelum mereka masuk.
Dirga menatap Laura dengan wajah cemas.
“Sudah, kamu tenang dulu. Jangan berpikir macam-macam. Mungkin kamu cuma kecapekan atau masuk angin,”.
“Apa, Mas? Kamu bilang cuma masuk angin? Aku sudah telat datang bulan, lho. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus tanggung jawab!” ujar Laura dengan emosi.
“Iya, iya,” ucap Dirga dengan nada kesal.
Laura melangkah masuk lebih dulu, diikuti Dirga. Wajah mereka masih terlihat tegang.
Di meja pendaftaran, Laura menyebutkan namanya kepada petugas. Data pun dimasukkan ke komputer, lalu sebuah formulir disodorkan. Laura mengisinya, sementara Dirga berdiri di sampingnya dengan gelisah.
Setelah selesai, mereka menuju ruang tunggu dan duduk bersebelahan, menunggu giliran pemeriksaan.
Seorang perawat muncul di ambang pintu sambil membawa papan nama.
“Laura.”
Suara itu terdengar jelas di ruang tunggu.
Laura dan Dirga saling berpandangan sejenak, lalu Laura berdiri perlahan dan melangkah mengikuti perawat menuju ruang pemeriksaan.
“Selamat sore, Bu Laura. Silakan duduk. Apa yang Ibu keluhkan?” tanya dokter kepada Laura.
“Em… saya akhir-akhir ini sering mual dan merasa tidak enak badan, Dok.”
“Apa Bu Laura telat datang bulan? Dan apakah Bu Laura sudah melakukan tes pack?
“Iya, Dok. Saya memang sudah telat lebih dari dua minggu, tapi saya belum melakukan tes pack,” jawab Laura.
Dokter itu mengangguk.
“Baik, Bu Laura. Saya periksa dulu, ya. Silakan berbaring di tempat tidur,” ucapnya sambil memberi isyarat ke arah ranjang pemeriksaan.
Dokter menuangkan sedikit gel ke perut Laura, lalu menempelkan alat USG di atasnya. Laura merasakan dingin saat alat itu digerakkan perlahan.
Pandangan dokter tertuju pada layar monitor, wajahnya serius meneliti gambar yang muncul.
Laura menatap langit-langit, jantungnya berdebar, menunggu apa yang akan dikatakan dokter.
Karin, yang sejak tadi mengikuti dan menguping pembicaraan mereka di balik pintu, merasa penasaran ingin tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi.
“Baik, Bu Laura. Saya sudah memeriksa, dan hasilnya jelas Bu Laura memang hamil,” ucap dokter itu sambil tersenyum ramah.
“Apa, Dok? S-saya hamil?” jawab Laura gugup.
“Iya, selamat ya, Bu Laura, atas kehamilannya,” ujar dokter.
Laura dan Dirga saling menatap, wajah mereka sama-sama terlihat tegang dan gelisah.
“Kenapa kalian terlihat tidak senang? Ada apa?” tanya dokter, heran melihat reaksi mereka.
Karin yang sudah tidak tahan melihat kenyataan itu mendorong pintu dan masuk ke ruangan. Wajahnya tegang, matanya menatap Dirga dan Laura dengan penuh kemarahan.
“Karena mereka berdua itu pengkhianat, dan anak dalam kandungannya itu anak di luar pernikahan!” ucap Karin begitu saja saat masuk.
“Karin, kenapa kamu bisa ada di sini?!” seru Dirga panik, matanya terlihat takut.
“Kenapa, Mas? Kenapa kamu panik? Aku sudah dari tadi mengikuti kamu… Ternyata kamu tega menyembunyikan semua ini dariku,” ucap Karin dengan suara bergetar.
“Aku… aku bisa jelaskan semuanya, Rin,” ujar Dirga, memohon kepada Karin.
“Gak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mas. Semuanya sudah jelas, dan ini akan menjadi bukti kuat untuk perceraian kita nanti!” seru Karin tegas.
“Aku nggak mau cerai, Rin.”
“Kamu egois, Mas! Apa kamu pikir aku mau berbagi suami? Tidak akan! Aku nggak sudi!” ucap Karin sambil menatap Laura dengan tajam.
Karin menatap Dirga dan Laura satu kali lagi, lalu berbalik dan berlari meninggalkan mereka, napasnya tersengal dan amarahnya masih terasa jelas.
“Gimana ini, Mas? Karin sudah tahu semuanya.”
“Aku juga bingung,” jawab Dirga, wajahnya penuh kecemasan.
Dokter yang menyaksikan pertengkaran mereka hanya terdiam, menunduk sebentar sebelum menatap Laura dan Dirga lagi.
“Baik, Bu Laura. Ini resepnya untuk Pak Dirga. Silakan ke ruang administrasi untuk pembayaran. Saya tidak akan mencampuri urusan pribadi Ibu dan Bapak,” ucap dokter dengan tenang.
“Baik, Dok, terima kasih.”
Dirga dan Laura pun meninggalkan ruang dokter dan berjalan menuju ruang administrasi untuk melakukan pembayaran.
“Mas, ini gimana?”
“Udah lah, Laura. Ini juga semua salah kamu,” jawab Dirga.
“Kamu apa-apaan sih, Mas? Kenapa nyalahin aku?” seru Laura, menolak dituduh begitu saja.
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak