Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Lira alias adik sepupu Afif yang cukup dekat denganku. Dulu, saat dia belum bekerja di luar kota. Aku dan Lira sering mengobrol dan juga menghabiskan waktu bersama. Seperti: jalan-jalan ke mall, ke kafe atau pun sering masak-masan bareng.
Dia wanita yang cukup aktif, ceplos namun baik hati dan topik obrolan seolah tak ada habisnya kalau dengan dia. Jadilah kami sangat nyambung sekali.
Ngomong-ngomong Lira mengirimiku pesan dan dia memintaku untuk datang ke acara lamaran yang katanya di selenggarakan di rumah orang tuanya__aku pun sudah menolak dengan halus dan mengatakan alasan yang sebenarnya kalau mungkin aku bukan lagi bagian keluarga Afif, akan tetapi Lira mengancam akan membenciku selamanya, makanya aku pun dengan terpaksa memutuskan untuk datang saja, tentu tidak sendiri, melainkan bersama dengan anakku Bintang.
Arka sebenarnya sudah menawarkan diri untuk ikut membersamaiku, akan tetapi tidak jadi. Begitu ia ingat kalau hari ini pekerjaannya tak bisa di tinggalkan, maka aku pun memutuskan untuk bersama Bintang saja, Bibi juga tak bisa, katanya beliau sudah berjanji untuk membantu istri pak Rt masak-masak, katanya anaknya mau di lamar juga malam ini__ya sudah, karena kebetulan kami sekeluarga punya urusan masing-masing, aku pun memutuskan bersama Bintang saja.
Aku masih belum kelar memilih gaun yang akan ku pakai, padahal mah cukup banyak di lemari, ya. Meskipun tidak semuanya baru, tapi masih sangat layak untuk di pakai. Cewek mah gitu sih, kebanyakan memang seperti aku ini. Kalau sekalinya mau keluar suka bingung mau pake baju atau gaun yang mana, padahal stok di leamari dua kali lipat lebih banyak ketimbang anakku Bintang.
Gaun berwarna hijau, merah dan biru dongker yang lantas ku ambil dari dalam lemari lalu ku gantungkan di luar dan ku teliti satu persatu, sampai pada akhirnya aku memutuskan memilih gaun berwarna biru dongker yang agak sedikit besar dan tidak begitu pas di tubuhku. Baguslah, setidaknya dengan memakai gaun ini, aku tidak perlu khawatir kalau perutku terlihat jelas__bukan aku ingin menyembunyikannya, hanya saja aku masih bingung harus mengatakan apa pada orang-orang.
“Mama udah?.“Tanya Bintang yang kini terlihat berada di pintu masuk dengan kepala yang di miringkan, Bintang sudah tampan dengan memakai kemeja berwarna biru dongker, warna yang sama dengan gaunku serta bawahannya celana jeans. Rambutnya sudah ku pakaikan minyak rambut anak-anak, tak lupa bedak dan juga parfum kesukaannya, yaitu aroma strawberry.
“Belum Bin, bentar ya. Mama dandan dulu.“Jawabku lalu memberinya senyuman kecil, anak itu terlihat mengangguk lalu memutuskan masuk dan duduk di atas ranjang yang terlihat sudah bersih dan rapih mu bereskan beberapa menit yang lalu. Hm.. baiklah, sebetulnya aku tidak suka kalau ranjang yang sudah ku rapihkan di acak-acak lagi, pengecualian untuk anakku sebab aku tidak bisa melarangnya, dia anakku, bos di hidupku.
Make-up natural sengaja ku pilih, karena aku tidak mau menggunakan riasan yang terlalu tebal dan tampak mencolok. Wajahku cukup cantik juga, apalagi dengan rambut yang sengaja ku kepang dan ku tinggalkan beberapa helai sebagai pemanis__puji syukur ku panjatkan pada Alloh, sebab di balik aku yang suka makan ini, tetapi bentuk tubuhku masih bisa di bilang ideal. Karena tidak pernah semenggemuk itu, jika orang lain selalu protes bahkan mencoba untuk diet guna mendapatkan bentuk tubuh ideal. Maka aku tidak, bahkan aku berani makan nasi jika lapar di tengah malam, ya ya, aku tahu sangat tidak baik untuk kesehatan, tapi aku pun punya pemikiran lain, ketimbang aku tak bisa tidur dengan perut keroncongan, mending aku makan nasi sekalian__dan kabar baiknya, saat aku hamil pun, berat bobotku paling-paling gemuk itu hanya mencapai sekitar lima puluh tujuh kilo saja dan setelah melahirkan berangsur-angsur kembali ke semula. Alhamdulillah, aku selalu menikmati dan mensyukuri apapun yang Alloh beri untukku, termasuk fisik dan berat badanku.
“Giman Bin, mama cantik enggak?.“Tanyaku pada Bintang sambil tersenyum lebar, Anakku tak lantas menjawabnya dan malah meneliti penampilanku dari atas sampai ke ujung kaki, tampak kepalanya mengangguk-angguk beberapa kali, sudut-sudut bibirnya terangkat dan membentuk senyuman puas sekali.
“Cantik mama.“Jawabnya yang membuat bahagia, tak sia-sia selama beberap tahun ini aku mencoba otodidak dengan per make-up pan, meski berkali-kali salah mengaplikasikan sampai salah membeli produk dan memadu madankan make-up dengan baju yang ku pakai. Akhirnya aku mendapat itu, pengakuan dari orang lain, kalau kemampuan itu sudah sangat layak. Walau anakku sendiri sih yang mengatakannya, tapi tidak apa-apa. Kita lihat seperti apa reaksi orang-orang saat aku datang nanti.
“Cantikan mana mama dan Jennie?.“Tanyaku kembali dan jelas tidak begitu serius aku hanya ingin menggoda ankku saja yang sangat suka black pink dan Jenie sebagai idolnya itu.
Bintang terlihat gusar sekali, beberapa kali matanya menatapku lalu berputar dan menatap salah satu poster Jennie yang sengaja dia tempelkan di dekat ranjang, katanya kalau tidur. Yang pertama ingin di lihatnya pun dengan bangun tidur adalah Jennie..ckck tentu aku hanya menurut saja, karena aku takut kalau Bintang sampai tantrum nantinya.
“Mama sama jennie sama-sama cantik.“Jawab Bintang terdengar diplomatis dan sukses menbuatku mencibir ke arahnya.
“Halah, bilang aja cantikan Jennie dari pada mama, Bin.“
Bintang tersenyum meringis, raut gelisah masihlah terlihat jelas di wajahnya dan membuatku geli alih-alih marah terhadapnya.
“Udah, ayoh ah. Lagian mama tahu akan kalah sama si jennie jennie itu kok “Ujarku sambil mengulurkan satu tangan ke arah Bintang, Bintang mengambilnya sambil tersenyum meringis penuh sesal, lalu aku dan Bintang berjalan keluar dari kamar yang di tempati oleh kami berdua.
Aku berharap kalau di rumah Lira, kau tidak akan bertemu dengan mereka, semoga saja. Walau kemungkinan besar aku akan bertemu, sebab mereka masihlah kerabat.
****
Aku dan Bintang baru saja sampai. Bintang turun duluan dari taksi lalu dia mengulurkan tangan mungilnya ke arahku sambil tersenyum manis. Anakku, dia terlihat manis dan gentle sekali.
Aku meraih tangan mungilnya, lalu sedikit menyingkap gaunku yang panjang dan turun perlahan dari sana, aku berjalan bersisian dengan anakku Bintang__suasan rumah Lira terlihat cukup banyak orang. Mungkin mereka kerabat Lira, aku hanya tersenyum kecil sambil mengangguk-angguk kecil ketika berpapasan dengan mereka dan saat ada yang bertanya tentang siapa aku, aku memperkenalkan diriku sebagai sahabat Lira. Itu pun kalau mereka tampak asing dan tidak tahu siapa aku, kalau mereka yang dulu pernah melihatku menikah dengan Afif, maka mereka akan bertanya kepadaku “kok sendirian? Mana afinya?“ Atau “hei, sudah lama kita gak ketemu, gimana kabarmu? Afifnya mana” maka aku akan tersenyum tipis saja lalu cepat-cepat meninggalkan yang bertanya padaku__aku tak bermaksud untuk sombong atau belagu, tapi memang aku bingung harus menjawab apa, mengingat hubunganku dan Afif yang segera akan bercerai__aku juga tak mungkin mengatakan tentang perceraian kami, apalagi di acar begini. Aku tidak mau di tanya-tanya terlalu dalam dan tidak msu juga menjadi bahan gibahan semua orang.
Aku memilih mengabaikan beberap orang yang terlihat tercengang dan terkejut dengan keberadaanku, buru-buru aku pun menyuruh Bintang supaya mengikuti langkahku yang akan menuju kamar Lira dan bertemu dengan adik sepupu calon mantan suamiku itu.
“Hai kak..“Sapa Lira dengan riang gembira lalu memeluk tubuhku dan bercipika cipiki denganku, lalu dia melepas pelukan kami menatapku dari ujung rambut hingga kaki lalu terlihat dia tersenyum puas ke arahku.
“Cantik banget, sumpah..“Pujinya hang menbuatku balas tersenyum senang. Ada rasa puas serta bangga pada diriku sendiri yang berhasil mempertahankan kecantikan wajahku, padahal akhir-akhir ini aku sednag di dera dengan berbagai cobaan, tapi tentunya aku selalu mencoba untuk bersabar dan menggantunkan semuanya pada Alloh, untuk urusan menjaga wajah dan tubuh tentu aku tidak pernah melewatkannya, meski sedang galau pun. Bukan karena haus validasi, tapi karena kesadaran diri saja, lagi pula aku cabtik begini bukan ingin membuat Afif menyesal atau pun ingin mencari suami baru, bukan!! Tetapi karena aku ingin terlihat seperti bahagia tanpa masalah.
“Kamu juga, kebanya cocok sama make-upnya.“Pujiku balik dan sukses membuat kedua pipi Lira merona karena malu.
“Hallo Bintang, ini tante Lira. Gak lupa kan?.“Lira memusatkan perhatiannya pada anakku Bintang yang beberapa menit menjadi pemerhati kami, dengan malu-malu Bintang pun menganggukan kepalanya.
“Inget kok tante.“Jawabnya yang seketika membuat Lira gemas dan mencubit pipinya, Bintang tidak terlihat protes atau kesakitan, justru dia hanya yersenyum kecil saja.
“Oh ya, udah makan belum kak? Kalau belum makan dulu, gih.“
Aku cemberut dan memandangnya tak suka.
“Udah, kamu pasti belum ya?.“Tebakku sambil memicing ke arahnya, Lora nyengir kecil, tangannya menggaruk belakang kepalanya.
“Makan dulu, Lir. Takutnya acaranya akan sedikit lama, kasihan lho cacing kamu, apalagi kan kamu punya penyakit lambung.“Tukasku memberikannya wejangan, apalagi aku tahu kalau Lira ini punya penyakit lambung, telat makan sekali saja dia akan langsung sakit, dulu. Akus ering menjadi saksi bagaimana Lira terlihat kesakitan karena sering telat makan.
“Tapi kak aku sudah di make-up begini.“
Aku melotot ke arahnya”Kan bisa di re touch ulang, lagian kalau ada yang berubah kakak bantu deh benerin.“
“Emang kakam bisa?.“Tanyanya dan membuatku mendengus.
“Ini hasil tanganku sendiri, ya! Meskipun masih kalah di bsnding dengan MUA aktris, tapi kan masih bagus juga.“
Lira tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya”Ok deh, aku makan. Tapi sama kaka dan Bintang juga, nya?.“
Hehh dia ngelunjak sekali ternyata.
“Tenang kak, keluarga aku gak akan makan orang kok, lagian soal permasalahan kakak dan kak Afif, itu urusan kalian. Kami bukan keluarga yang hobi julidin orang kok.“Ujarnya yang membuatku menghela nafas lega.