Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sudah tiga hari Mentari beristirahat di rumah sakit. Hari ini, kondisinya cukup stabil untuk diizinkan pulang.
Langit masuk ke dalam ruangan ketika wanita itu tengah berkemas.
“Sudah siap?” tanya Langit.
“Sudah,” jawab Mentari singkat.
“Ayo.”
Sebelah tangan Langit menuntun Mentari, sementara tangan lainnya membawa tas berisi barang-barangnya. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil terus bergandengan tangan. Sesekali terdengar tawa kecil, candaan ringan yang membuat senyum keduanya merekah tanpa sadar.
Hingga tiba-tiba..
Bughh!
Seseorang menabrak Mentari, membuat wanita itu hampir terjatuh. Beruntung Langit sigap meraih tubuhnya, menahan agar ia tak roboh ke lantai.
“Kau buta, ya?” hardik Langit marah.
“Maaf, saya tidak sengaja,” balas orang itu sambil mengibas bajunya yang terkena siraman minuman yang ia bawa.
“Kau?” ucap Langit tertahan saat menyadari siapa orang yang baru saja menabrak Mentari.
Bu Desi.
Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya. Seketika ia menutup mulut, terkejut bukan main saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
“Kamu…” Tubuhnya mendadak gemetar hebat. Matanya memerah saat menatap Langit, lalu perlahan beralih pada Mentari yang berdiri di samping pria itu.
“Kalian? Kenapa bisa bersama?” tanyanya terbata-bata.
“Memang kenapa kalau kami bersama?” balas Langit dingin.
“Itu bukan urusanmu.”
“Ayo, Tari.” Langit kembali menarik lengan Mentari dan melangkah pergi, meninggalkan Bu Desi yang masih berdiri kaku di tempatnya.
Bu Desi menatap punggung mereka menjauh. Bukan ketakutan pada Langit yang membuat tubuhnya gemetar, melainkan ingatan lama.Saat Langit membawa bayi Mentari dari rumah sakit.
Jika pria itu ada di sini, berarti anak Abi juga ada di sini…
Aku harus mencari cucuku.
Langkahnya nyaris goyah.
Tapi… kenapa Mentari bisa bersama pria itu?
Jangan-jangan… Mentari sudah sadar kalau anaknya belum meninggal.
Atau,dia sudah bertemu anak itu?
Bu Desi menggelengkan kepala cepat, berusaha menepis segala dugaan yang terus berputar liar di benaknya. Namun kegelisahan itu tak mau pergi justru semakin menguat.
Bu Desi kembali ke ruangan Abi. Pria itu masih terbaring lemah di atas ranjang, dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya. Bunyi monitor jantung terdengar pelan namun konstan satu-satunya tanda bahwa Abi masih bertahan.
Dokter telah mengatakan bahwa saat ini Abi berada dalam kondisi koma.
Bu Desi melangkah mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya yang gemetar menggenggam erat tangan putranya.
“Bi… bangunlah,” suaranya bergetar, nyaris pecah.
“Mama minta maaf. Karena keegoisan Mama, kamu jadi seperti ini.”
Air mata jatuh membasahi punggung tangan Abi.
“Ayo, Nak… kamu harus bangun,” lanjutnya dengan penuh harap.
“Kamu ingin bertemu putrimu, kan?”
Bu Desi menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara yang lebih tegas, seolah ingin menembus alam sadar putranya.
“Mama ngaku salah. Putrimu masih hidup.”
“Makam bayi itu palsu.”
Tubuhnya condong mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan penuh urgensi.
“Tolong cepat bangun, Bi. Mama sudah menemukan putrimu…”
Tangannya semakin erat menggenggam tangan Abi, seakan berharap kejujuran itu cukup kuat untuk menarik putranya kembali ke dunia nyata.
*
Langit menuruni anak tangga sambil membetulkan lengan kemejanya. Seperti biasa, aroma masakan yang menggoda langsung menyambut indra penciumannya, membuat perutnya terasa semakin lapar. Bibirnya tersenyum tipis sebelum ia melangkah cepat menuju dapur.
Di sana, Mentari sedang berkutat dengan penggorengan.
Tiba-tiba, pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Mentari dari belakang.
“Apa yang kamu masak, hm?” ucapnya pelan sambil menghirup aroma rambut Mentari.
Mentari tersentak kaget.
“Aku membuat perkedel jagung,” ucapnya sedikit kaku. “Bisa kamu menjauh sedikit? Aku sesak napas.”
Alih-alih menjauh, senyum Langit justru terangkat semakin tinggi. Pelukannya mengerat. Ia menyingkirkan rambut Mentari ke samping, lalu meniup pelan leher wanita itu dengan usil.
“Lang… aku...”
“Stttt…” Langit menghentikannya.
Ia mematikan kompor, lalu memutar tubuh Mentari hingga kini wanita itu menghadapnya. Jarak mereka tinggal beberapa senti saja. Terlalu dekat cukup untuk membuat Mentari benar-benar kehilangan ruang bernapas.
Jantungnya berdegup kencang, tidak karuan. Perasaan asing namun familiar itu kembali menyeruak sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan.
Jarak wajah mereka semakin menyempit. Napas Langit dan Mentari saling bercampur, hangat, tak teratur. Tatapan Langit turun ke bibir Mentari yang sedikit bergetar seolah ragu, namun tak benar-benar menolak.
Satu langkah kecil lagi.
Satu detik lagi.
Kring—kring—kring!
Suara ponsel Langit berdering keras, memecah suasana seperti petir di siang bolong.
Mentari tersentak. Langit memejamkan mata sejenak, menghela napas berat, jelas menahan kekesalan.
Ia meraih ponsel di saku celananya. Nama yang tertera di layar membuat rahangnya mengeras.
Riko.
Langit mengangkat telepon dengan nada tertahan.
“Apa?” ucapnya singkat.
Di seberang sana, suara Riko terdengar tergesa.Hal itu membuat pria itu terdiam, fokus mendengarkan.
Langit menatap Mentari. Wanita itu masih berdiri di depannya, wajahnya memerah, napasnya belum sepenuhnya kembali normal. Jantungnya masih berdetak kencang,bukti bahwa momen tadi belum sepenuhnya hilang.
“Baiklah,” jawab Langit akhirnya dingin. “Aku ke sana sekarang”
Panggilan terputus.
Keheningan kembali menyelimuti dapur, namun rasanya sudah berbeda. Mentari menunduk, merapikan bajunya, berusaha menenangkan diri.
“Maaf…” ucapnya pelan, entah pada siapa.
Langit menggeleng kecil.
“Bukan salahmu.”
Namun sebelum ia melangkah pergi, Langit berhenti. Tangannya menahan pergelangan Mentari sebentar tidak menarik, hanya menahan.
“Tari,” ucapnya rendah, serius. “Aku pergi sebentar.Kamu tunggu di rumah ya.Ada yang ingin kubicarakan denganmu nanti."
Tatapan mereka bertemu lagi...
Langit lalu melepaskannya dan berjalan keluar rumah meninggalkan Mentari yang berdiri terpaku, mencoba mengatur napas… dan perasaannya.
Langit menatap dokumen dan beberapa lembar foto yang tergeletak di meja kerjanya. Rahangnya mengeras sempurna begitu melihat bukti-bukti yang berhasil Riko kumpulkan.
Kenyataan pahit tentang siapa yang merenggut Sila.
Kebenaran yang akhirnya terungkap tanpa celah.
Dan kesalahpahamannya pada Mentari yang selama ini ia biarkan kini terlihat jelas di hadapannya.
“Bodohnya aku…” gumam Langit frustasi.
“Tak menyelidikinya lebih dulu. Wanita itu menderita bertahun-tahun karena kebodohanku.”
Tangannya mengepal.
Ia ingat betul ekspresi Mentari saat ditangkap polisi. Dijatuhi hukuman penjara selama bertahun-tahun,namun wanita itu tidak melawan, tidak membela diri, bahkan tidak berteriak membela kebenaran. Mentari hanya pasrah, menerima takdir seolah semua perlawanan tak lagi ada artinya.
Ingatan itu menusuk lebih tajam dari apa pun.
“Berikan semuanya pada polisi,” perintah Langit dingin namun tegas.
“Aku ingin mereka menerima hukuman yang setimpal.”
Riko mengangguk hormat.
“Baik, Tuan.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada hati-hati,
“Satu lagi… mengenai Nona Mina...”
Riko tak melanjutkan kalimatnya. Ia menunggu. Menunggu reaksi Langit.
“Mina dan Mentari milikku sekarang,” potong Langit tanpa ragu.
“Tidak ada yang boleh mengganggu itu.”
Ia berdiri, menatap lurus ke depan,keputusan telah bulat.
“Siapkan semua dokumen Mentari,” lanjutnya tegas.
“Aku akan menikahi dia secepatnya.”
Bersambung...
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏