Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Luka yang Tidak Selesai
Beberapa rasa tidak butuh alasan untuk tinggal. Kadang mereka cuma menolak pergi.
...Happy Reading!...
...*****...
Aku melangkah cepat meninggalkan area taman kota yang mulai sepi. Rasa kesal sekaligus kecewa menyelimuti perasaanku.
"Ca, tunggu dulu. Gue mau bicara," ujar Zira yang ternyata mengikutiku dari belakang.
Aku tetap berjalan. Tidak menoleh. Tidak menjawab. Emosiku masih panas. Setelah semua yang terjadi hari ini.
Zira, seperti biasa, tidak bisa diam. Kini dia berdiri di depanku, menghadang langkahku.
Aku menghela napas. Sudah bisa kuduga, dia pasti akan berdebat. Dan aku harus siap meladeni.
"Lo kenapa jadi kayak anak kecil begini?"
"Apa maksud lo, gue kekanakkanakan?" Nadaku meninggi.
"Kenapa harus kabur gitu aja? Kalau bukan karena kekanakkanakan, apa dong?"
"Gue kecewa, Zira."
"Karena gue gak bilang Saka itu donatur di NARA?"
Aku mengangguk. Menunduk. Masih menahan sisa amarah.
"Dan lo juga gak bilang dia bakal datang."
Zira mendesah. "Memangnya kenapa? Lo takut bakal CLBK?"
Aku menatapnya tajam. "Apa maksud lo?"
"Maaf. Bercanda. Lagian lo udah punya tunangan, kan?"
"Terus apa hubungannya punya tunangan sama ketemu Saka?"
"Artinya lo gak bakal balik sama dia. Itu aja."
"Caranya salah. Lo tetap harus bilang."
"Ca, lo lebay banget. Lo takut banget ya ketemu Saka karena urusan kalian belum selesai di masa lalu?"
"Jaga ucapan lo!"
Suaraku naik. Zira tidak mundur.
"Santai. Lo udah punya tunangan. Gak mungkin CLBK."
"Gue udah putus tunangan!" teriakku. Lebih keras dari niat awalku.
Aku sudah menahannya cukup lama. Tapi setiap kata dari Zira terasa seperti menampar bagian hati yang belum sembuh.
Zira membeku. Matanya membulat.
"Lo serius?"
Aku mengangguk. Tanganku mengepal.
Zira terdiam sejenak lalu mengembuskan napas panjang. "Jadi karena ini lo sensitif?"
Aku mengangguk lagi.
"Gue minta maaf. Gue gak bermaksud buat lo marah."
"Iya. Gak apa-apa." Jawabku datar. Tapi nada suaraku tidak bisa berbohong.
"Gue tetap harus bilang. Lo gak seharusnya bersikap dingin gitu ke Saka. Dia teman kita. Harusnya lo hargai. Walaupun... hubungan kalian dulu sepertinya lebih dari sekadar teman."
Aku hanya diam. Tidak semua hal bisa dijelaskan. Tidak semua luka bisa dibagi rata ke orang lain.
"Gue tahu lo suka sama Saka sejak kelas sepuluh," ujar Zira pelan.
"Apa maksud lo?"
"Gue tahu lo nerima tantangan dari gue dan Vey demi album debut EXO. Tapi lo udah punya album itu. Hadiah dari bokap lo, kan?"
Aku mengangguk kecil. Kenangan itu kembali seperti film lama yang diputar ulang.
"Kita ngasih tantangan itu karena kita tahu lo memang suka sama dia. Bahkan sebelum kalian saling kenal."
"Kalian sengaja?"
"Maaf gue baru cerita sekarang. Tapi niat kita gak jahat. Kita cuma mau bantu lo deketin orang yang lo suka."
"Dari mana kalian yakin gue suka Saka?"
"Tatapan lo beda. Lo gak sadar, tapi mata lo gak bisa bohong."
Aku memalingkan wajah. Angin siang mengacak rambutku. Tapi pikiranku jauh lebih berantakan.
"Ca, bahkan setelah lo dewasa, gue gak pernah lihat lo seantusias itu ke cowok lain. Tapi ke Saka... lo beda."
"Itu masa lalu. Jangan menyimpulkan cuma dari tatapan."
"Kalau benar masa lalu, kenapa lo gak bisa sekadar nyapa? Kenapa lo harus menjauh kayak dia orang asing?"
"Gue punya alasan."
"Alasan apa yang seberat itu?"
Aku menghela napas. Dalam. Pelan.
"Lo ingat taruhan itu? Gue deketin Saka cuma buat album yang bahkan udah gue punya. Gue mempermainkan dia. Makanya sekarang gue gak enak hati."
Zira menggeleng. "Gue gak percaya. Gue yakin perasaan lo ke dia itu tulus."
Aku memegang pelipis. Pusing. Hati pun terasa remuk.
"Terserah lo. Itu semua udah berlalu."
"Kalau udah, kenapa lo masih menghindar kayak nyimpen sesuatu?"
"Menurut lo gue nyimpen apa?"
"Rasa itu. Jangan-jangan lo belum benar-benar selesai?"
Aku tidak menjawab. Diamku kali ini terasa menggema.
Zira menatapku lekat. Bukan dengan marah, tapi seperti menunggu pengakuan yang tidak pernah keluar.
"Gue tahu, Ca. Rasa itu masih ada."
"Berhenti ngomongin ini. Gue capek."
"Maaf. Tapi gue tetap yakin... lo belum benar-benar lupa."
Zira melihat jam tangannya. Lalu mundur satu langkah.
"Gue balik ke stand dulu. Lo pulang naik ojol?"
Aku mengangguk.
"Ya udah. Gue cuma mau minta maaf dan jelasin semuanya."
Zira pun pergi.
Aku berdiri sendiri. Pikiranku kembali ke kejadian tadi. Saat dia memperkenalkan Saka sebagai donatur. Sejak dua ribu dua puluh tiga, ternyata Saka sudah terlibat di komunitas. Tapi aku tidak tahu. Karena aku bukan pengurus inti. Karena aku tidak dianggap cukup penting.
Yang menyakitkan bukan karena Saka. Tapi karena aku tidak dianggap cukup layak untuk tahu.
Aku mendongak. Matahari menyengat tajam di atas kepala. Tapi tidak ada yang lebih membakar selain perasaan yang selama ini kupaksa diam.
Aku memejamkan mata. Udara siang menyesap masuk ke paru-paruku, berat seperti beban yang tidak bisa dijelaskan.
Mungkin Zira benar.
Aku terlalu sibuk menolak rasa yang tumbuh dan mengakar di sudut hati, menyisakan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Mungkin luka memang tidak hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk diakui.