Rio seorang master chef yang menyukai seorang wanita penyuka sesama jenis
bagaimana perjuangan Rio akankah berhasil mengejar wanita yang Rio cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayunda nadhifa akmal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
hari itu tampak sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah,aku tak mengenalinya seorang wanita tua dan pria tua turun dari mobil dan menuju pintu rumah.
tok tok tok.....
Rio membukakan pintu untuk mereka.
"maaf mencari siapa"ujar Rio ramah.
"kami mencari Rey"ujar wanita itu.
"mari masuk, silahkan duduk di sana"ujar Rio menunjuk sebuah sofa.
Rey membawa empat cangkir teh hangat untuk di sajikan pada mereka.
"maaf aku tak mengenal kalian"ujar Rey seketika itu.
"kami orang tua Ardi,orang yang telah mendekam di penjara karena terbukti melakukan pelecehan seksual padamu Rey"ujar wanita itu.
Rey tampak kaget mendengarnya,ia tak menyangka bahwa mereka berdua akan sampai ke sini,mereka membuka luka lama Rey.
"apa mau anda"ujar Rio dengan tenang.
"kami berhak atas anak Ardi,mereka cucu kandungku"ujar wanita itu sambil tersenyum.
wajah Rey tampak memucat,tangannya bergetar hebat,ibu duduk di samping Rey mencoba untuk menenangkannya,ibu memberikan air hangat untuk Rey minum.
"secara finansial kami lebih mampu,bahkan kami bisa Menganti uang yang kalian pakai untuk merawat cucu kami, sepuluh kali lipat"ujar wanita itu dengan congkaknya.
"pergi kalian"ujar bapak dengan suara bergetar,wanita itu pun beranjak pergi meninggalkan rumah.
Rio membawa Rey ke kamar,Rio memeluk Rey.
"tenang Rey, siapa pun tak berhak mengambil Rizky dan Rania"ujar Rio.
Rizky dan Rania tampak menggeliat,anak kembar itu tak mengeluarkan tangisannya, mereka berdua tampak asyik mengobrol dengan bahasa mereka sendiri.
POV REY
Aku terus menerus memandang wajah Rizky dan Rania,aku tak sanggup bila harus kehilangan mereka dalam hidupku, walaupun awalnya aku sempat menolak kehadiran mereka dalam rahimku.
Air mataku menetes begitu saja,aku memandangi ke dua anakku, mereka tampak menggeliat, wajah yang tenang dan tersenyum dalam tidurnya.
"sayang, kenapa belum tidur,ini sudah larut malam"ujar Rio sambil menarik tanganku ke pelukannya,ia membawaku ke tempat tidur dan memelukku erat.
Pagi itu aku terbangun dari tidurku,aku begitu terkejut saat dalam boks bayi Rania dan Rizky tak ada,aku begitu panik semenjak kedatangan wanita itu.
nafasku memburu,aku berlari dari kamar.
"Rio"teriakku seketika
Rio menghampiriku begitu paniknya.
"ada apa Rey"ujar Rio melihatku terduduk di lantai,Rio memberiku segelas air hangat.
"mana Rizky dan Rania"ujarku dengan nafas yang tersengal-sengal.
"tenang,anak kita sedang sarapan Rey"ujar Rio mencoba menenangkan.
Rio membawaku ke dapur,tampak ke dua anakku sedang sibuk dengan makanannya,aku bernafas lega.
Ibu menyiapkan sarapan pagi untukku,ibu mertuaku memang baik sekali,aku sepertinya memiliki keluarga yang sempurna.
Aku sibuk dengan makananku, sementara Rio memandikan rania dan Rizky, setelah selesai sarapan aku langsung bergegas menuju kamar membantu Rio memakai pakaian Rizky dan Rania.
Setiap kali mobil asing berhenti di depan rumah,aku selalu begitu ketakutan.
"Rey,jangan takut keluarga ini selalu melindungi mu"ucap Rio mencoba menenangkan diriku
Hari-hari setelah kedatangan wanita itu terasa berbeda bagiku. Rumah yang biasanya terasa aman, kini seperti memiliki bayangan yang terus mengintai. Setiap suara mesin mobil membuat dadaku berdegup kencang, setiap ketukan pintu membuat tanganku gemetar.
Rio menyadarinya.
Ia tak pernah memaksaku untuk “kuat”. Ia hanya hadir—duduk di sampingku, menggenggam tanganku, dan memastikan aku tak sendirian.
Suatu sore, ketika aku sedang mengayun Rizky dan Rania di teras belakang, sebuah mobil hitam kembali berhenti di depan rumah.
Tubuhku menegang.
Aku memeluk kedua anakku lebih erat, jantungku seakan berhenti berdetak.
Rio yang sedang di ruang tamu langsung berdiri. Ia tidak panik, tapi langkahnya tegas. Bapak ikut berdiri di sampingnya.
Namun kali ini, yang turun dari mobil bukan wanita itu.
Seorang pria berseragam rapi melangkah mendekat.
“Selamat sore, Pak. Kami dari kepolisian,” ucapnya sopan.
Dunia seolah berputar. Kakiku melemah. Rio menoleh ke arahku, matanya penuh keyakinan.
“Tenang,” katanya lirih padaku sebelum melangkah maju.
Ternyata orang tua Ardi benar-benar mencoba menempuh jalur hukum. Mereka menuntut hak asuh, mengklaim bahwa aku tidak stabil secara mental untuk membesarkan anak-anak itu.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari apa pun.
Aku… tidak stabil?
Aku yang melahirkan mereka dengan tubuh dan jiwaku yang hancur? Aku yang terbangun setiap malam hanya untuk memastikan mereka bernapas? Aku yang berjuang hidup demi mereka?
Air mataku jatuh tanpa suara.
Namun kali ini, aku tidak sendirian.
Rio mengajakku duduk di ruang tengah. Ibu menggenggam tanganku, hangat dan penuh keyakinan.
“Rey adalah ibu yang luar biasa,” ucap ibu dengan suara tegas. “Kami semua saksi.”
Rio menatap petugas itu dengan tatapan tajam namun tenang.
“Kami punya bukti. Psikolog, dokter, catatan medis. Rey sehat. Dan anak-anak ini aman bersama kami.”
Hari-hari berikutnya dipenuhi pemeriksaan, wawancara, dan kenangan yang harus aku ceritakan ulang—luka yang kembali terbuka.
Ada malam-malam aku menangis dalam diam, tubuhku gemetar, napasku sesak. Trauma itu tidak pernah benar-benar pergi.
Namun setiap kali aku terjatuh, selalu ada tangan yang menarikku kembali.
Rio. Ibu. Bapak. Dan dua pasang mata kecil yang selalu menatapku seolah berkata, “Mama, kami di sini.”
Hingga akhirnya hari itu tiba.
Keputusan pengadilan dibacakan.
Hak asuh penuh jatuh kepadaku dan Rio. Tanpa syarat. Tanpa peluang bagi mereka.
Aku menangis—bukan karena menang, tapi karena akhirnya aku benar-benar merasa aman.
Malam itu, aku memeluk Rizky dan Rania lebih lama dari biasanya.
POV REY
Aku menatap wajah mereka yang terlelap.
Dulu aku mengira kehadiran mereka adalah hukuman terberat dalam hidupku.
Kini aku tahu—mereka adalah alasanku untuk bertahan.
Rio memelukku dari belakang.
“Kamu tidak perlu takut lagi,” bisiknya. “Kamu ibu yang luar biasa, Rey.”
Aku tersenyum di tengah air mata.
Untuk pertama kalinya sejak lama, aku percaya pada masa depan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sendirian.
Rio selalu bisa menenangkan diriku yang selalu gelisah karena ketakutan yang selalu menghantuiku, ketakutan kehilangan kedua anakku.
Entah apa yang terjadi pada ku jika Rio tak ada di sampingku,malam ini aku tertidur dengan nyenyak di pelukan Rio.
Rio tampak tersenyum melihatku,ia mengecup keningku.
"terima kasih Rio,telah menjadi suami dan ayah yang hebat untuk kami"ucapku sambil menatap matanya.
Rio tersenyum melihatku,kami memejamkan mata hingga pagi hari tangisan Rania membangunkan kami.
Aku bergegas menuju boks bayi dan mengendong Rania,ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi.