"Kau akan dibunuh oleh orang yang paling kau cintai."
Chen Huang, si jenius yang berhenti di puncak. Di usia sembilan tahun ia mencapai Dou Zhi Qi Bintang 5, tetapi sejak usia dua belas tahun, bakatnya membeku, dan gelarnya berubah menjadi 'Sampah'.
Ditinggalkan orang tua dan diselimuti cemoohan, ia hanya menemukan kehangatan di tempat Kepala Desa. Setiap hari adalah pertarungan melawan kata-kata meremehkan yang menusuk.
Titik balik datang di ambang keputusasaan, saat mencari obat, ia menemukan Pedang Merah misterius. Senjata kuno dengan aura aneh ini bukan hanya menjanjikan kekuatan, tetapi juga mengancam untuk merobek takdirnya.
Bagian 1: Gerbang Dimensi Harta ~ 26 Chapter
Bagian 2: Aliansi Xuan Timur vs Wilayah Asing ~ ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Rekonsiliasi [ End Bagian 1 ]
Cahaya rembulan merah di langit Dimensi Harta mulai meredup, seolah-olah semesta pun ikut letih menyaksikan pertumpahan darah yang baru saja terjadi.
Di bawah naungan langit yang kian kelam, Chen Huang dan Yun Yuan melangkah dalam keheningan yang canggung. Di tangan mereka, beberapa kantong sutra berhias emas—harta yang direbut dari Xiao Yan—berdenting pelan, memancarkan aura energi yang tertahan.
Shi Wu, wanita muda yang baru saja mereka selamatkan, memutuskan untuk memisahkan diri. Dengan gerakan yang masih sedikit kaku karena luka, ia membungkuk hormat, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemari yang gemetar.
Ia memilih untuk menempuh jalannya sendiri, setitik bayangan yang perlahan melarut dalam kabut dimensi, tak ingin menjadi beban lebih lanjut bagi dua penyelamatnya. Perpisahan itu singkat, sedingin embun pagi, namun meninggalkan rasa syukur yang dalam di mata Shi Wu.
Dalam setiap langkahnya, Chen Huang merenung. Menatap punggung Yun Yuan yang berjalan beberapa langkah di depannya, ia menyadari betapa rapuhnya garis antara kemenangan dan kematian.
Melindungi Yun Yuan saja sudah terasa seperti memikul gunung, dan pertemuan dengan Xiao Yan tadi adalah sebuah pengingat keras. Xiao Yan sejatinya bukan lawan yang mustahil, namun kekuatan instan dari pil sialan itu sempat mengaburkan batas antara keberanian dan kebodohan.
Kesenjangan ranah kultivasi terasa sangat jauh, Dou Zhe Bintang 2 melawan kekuatan buatan setingkat Bintang 7 adalah perjudian nyawa yang mengerikan. Chen Huang menyadari kekurangannya, ia terlalu mengandalkan otot dan kecepatan fisik, membiarkan energi spiritualnya tertidur tanpa teknik yang mumpuni.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa bagai ribuan mil dalam kesunyian, cakrawala mulai membelah. Gerbang Harta berdiri tegak di hadapan mereka, sebuah pusaran energi raksasa yang berputar lambat, memuntahkan cahaya keperakan yang menandakan jalan pulang telah terbuka lebar.
Chen Huang menghentikan langkahnya, matanya melirik pelan ke arah Yun Yuan yang berdiri tepat di hadapan gerbang. Ia berharap mendapatkan sedikit kelembutan atau setidaknya tatapan yang tak sedingin es.
Namun, Yun Yuan tetap terpaku pada cahaya gerbang. Ia membelakangi Chen Huang, postur tubuhnya yang tegak memancarkan aura penolakan yang sangat kuat. Pinggulnya yang ramping tampak kaku, dan bahunya yang halus sedikit menegang.
"Dasar pengintip," ucapnya singkat.
Suara itu begitu jernih namun terasa seperti ribuan jarum yang menusuk tepat ke harga diri Chen Huang.
Merasa harus memperbaiki suasana, Chen Huang memberanikan diri. Ia melangkah maju dengan gerakan yang halus, mencoba menghapus jarak di antara mereka.
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena gugup, ia melingkarkan lengannya, mencoba memeluk Yun Yuan dari belakang—sebuah upaya canggung untuk mencari pengampunan dalam kontak fisik.
Namun, Yun Yuan jauh lebih cepat. Sebelum lengan Chen Huang benar-benar mengunci, Yun Yuan menarik napas tajam, tubuhnya berputar sedikit, dan dengan gerakan yang sangat bertenaga, ia membenturkan bagian belakang kepalanya tepat ke arah wajah Chen Huang.
Brak—!
Suara benturan tulang yang tumpul bergaung. Chen Huang terhuyung mundur, kedua tangannya seketika menangkup hidungnya yang kini berdenyut hebat dan terasa panas. Rasa sakit yang tajam menjalar hingga ke matanya.
"Itai..." Rintihnya pelan, air mata refleks mulai menggenang di sudut matanya.
Yun Yuan membalikkan tubuhnya sepenuhnya. Dari posisi itu, ia tampak luar biasa memikat meski amarah membakar matanya.
Jubahnya yang sedikit kusut justru menonjolkan lekukan tubuhnya yang mempesona, pinggangnya yang kecil bergoyang pelan seiring dengan napasnya yang memburu.
Ia menatap Chen Huang dengan pandangan menghina yang tajam.
"Hmph, kau ingin melakukan hal yang sama untuk menebusnya, sayangnya kali ini tidak akan berhasil."
Setelah melontarkan kalimat pedas itu, Yun Yuan berbalik dengan anggun. Ia hendak meninggalkan Chen Huang.
.
.
.
Cahaya redup dari langit merah yang mulai memudar menyinari jalan setapak yang sunyi. Chen Huang berjalan tertunduk, matanya terpaku pada tumit Yun Yuan yang bergerak ritmis. Di dalam benaknya, sebuah badai pertanyaan berkecamuk, menghantam dinding-dinding kesadarannya dengan keras.
"Bagaimana caranya agar dia memaafkanku..."
Pertanyaan itu berputar-putar tanpa henti, bagaikan pusaran air yang menelan logika. Ia merasa tak berdaya, seorang kultivator yang mampu menumbangkan raksasa dengan kepalan tangan, kini justru gemetar menghadapi diamnya seorang wanita.
Ia merindukan tatapan hangat itu, bukan sorot mata sedingin puncak gunung es yang kini diberikan Yun Yuan padanya. Kata-kata Yun Yuan yang pedas masih terasa seperti sayatan tipis di kulitnya, meninggalkan perih yang tak kasat mata.
Tiba-tiba, sebuah tawa yang jernih dan sedikit menggoda pecah di dalam lautan kesadarannya. Itu adalah Yun Wangshu, sang Dewi Langit, yang tampaknya sangat menikmati penderitaan mental inangnya.
"Pftt... bahkan tidak bisa mengatasi kekasihmu? Benar-benar bodoh, hahaha!" Suaranya menggema, menciptakan riak-riak energi di dalam kepala Chen Huang.
Yue Chan, hanya menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan sutra yang jatuh ke lantai giok.
"Aku tidak berpikir akan sejauh itu."
Chen Huang mengatupkan rahangnya, berbicara dalam batin dengan nada putus asa yang dalam. "Aku mengerti, aku memang sangat kesulitan mengatasi ini. Jadi... kalian punya cara?"
"Humu~ kau harus melakukan apa yang kami suruh, oke?" balas Yun Wangshu dengan nada yang menyimpan rencana tersembunyi.
Kedua dewi itu kemudian mulai berdiskusi, membisikkan saran-saran yang kontradiktif namun penuh intrik.
Yue Chan menekankan pada ketulusan yang tenang, sementara Yun Wangshu menyarankan sentuhan-sentuhan yang mampu menggetarkan naluri.
Setelah menyerap setiap strategi itu, Chen Huang menarik napas panjang, membiarkan udara dimensi yang dingin memenuhi paru-parunya sebelum ia menghembuskannya perlahan untuk memantapkan tekad.
"Oke aku siap!"
Dengan sedikit larian kecil yang memecah kesunyian, ia mulai mengejar jarak yang diciptakan Yun Yuan. Ia berhenti tepat di samping wanita itu, menyesuaikan langkahnya agar seirama.
Di sampingnya, Yun Yuan tetap menatap lurus ke depan, namun Chen Huang bisa melihat bagaimana garis rahangnya menegang dan bagaimana dadanya yang mempesona naik-turun dengan ritme yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
Chen Huang kemudian sedikit memundurkan posisinya, berdiri di belakang punggung Yun Yuan yang ramping.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengangkat kedua tangannya. Jari-jarinya yang sedikit kasar menyentuh bahu Yun Yuan yang terbungkus jubah halus. Ia mulai memberikan pijatan kecil, mencoba menyalurkan ketulusan melalui tekanan ujung jarinya pada otot-otot yang tegang itu.
Yun Yuan tersentak kecil, namun ia tidak menghindar. Ia tetap berjalan, membiarkan tubuhnya bergerak dalam tuntunan pijatan Chen Huang.
"Apa?" Tanyanya dengan nada datar, meski ia tidak menepis tangan pria itu.
Chen Huang terus memijat, merasakan kehangatan tubuh Yun Yuan merambat melalui kain jubah. Suaranya terdengar serak dan penuh keraguan saat ia mencoba membuka percakapan.
"Yu... Yun Yuan, itu..."
Yun Yuan tetap diam, wajahnya dipalingkan ke arah yang berlawanan, seolah-olah pemandangan bebatuan berlumut di kejauhan jauh lebih menarik daripada pria di belakangnya. Meski begitu, pijatan ringan Chen Huang tampak mulai meluluhkan kekakuannya.
"Pikirkan baik-baik sebelum berbicara, kesempatan meminta maaf hanya satu kali," ucap Yun Yuan pelan.
Nadanya masih dingin, namun terselip setitik kehangatan yang samar, seperti sinar matahari yang mencoba menembus kabut tebal.
Chen Huang terdiam sejenak, membiarkan keheningan menyelimuti mereka sebelum akhirnya ia melepaskan kata-kata yang selama ini menyumbat kerongkongannya.
"Eum... pada hari itu, aku tidak bisa menahan diri. Membuatmu kesakitan, bahkan aku mengabaikannya, aku menikmatinya sendirian. Lalu kali ini, aku benar-benar tidak sengaja... tidak tau kenapa, tiba-tiba saja pandanganku mengarah kesana. Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi..."
Pengakuan itu menggantung di udara.
Langkah kaki Yun Yuan melambat, namun ia tetap tidak berbalik. Hening yang panjang terjadi, hanya suara gesekan pakaian mereka yang terdengar di bawah langit merah. Tangan Chen Huang masih berada di bahu Yun Yuan, gemetar sedikit menanti vonis yang akan dijatuhkan.
Tiba-tiba, Yun Yuan menghentikan langkahnya sepenuhnya. Ia berbalik perlahan, sebuah gerakan yang menyebabkan rambut kuning pucatnya berayun indah, helai-helainya berkilau tertimpa cahaya redup.
Mata mereka bertemu, dan kali ini, Chen Huang tidak melihat es, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan membingungkan.
"Aku menikmatinya," ucap Yun Yuan singkat, suaranya nyaris seperti bisikan angin.
Mata Chen Huang membelalak, terkejut oleh pengakuan yang tak terduga itu. Yun Yuan menatapnya lurus, kontur tubuhnya yang indah tampak sedikit melunak dalam pencahayaan temaram itu.
"Salah jika kau mengira aku hanya merasakan sakit, aku menikmatinya setidaknya sedikit."
Usai mengucapkan kalimat yang mampu membakar telinga siapapun yang mendengarnya, Yun Yuan segera berbalik kembali.
Ia melanjutkan langkahnya menuju Gerbang Harta dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi. Ayunan pinggulnya kini terasa lebih ringan, memancarkan aura kemenangan yang menggoda.
Chen Huang berdiri terpaku sesaat, otaknya mencoba memproses makna di balik kata-kata itu.
Ia tidak sepenuhnya mengerti, namun ia bisa merasakan beban berat di dadanya terangkat. Tatapan dingin itu telah lenyap, digantikan oleh secercah kehangatan yang, meski hanya sedikit, cukup untuk memberikan harapan.
Dengan langkah yang kini terasa lebih ringan, ia mengikuti Yun Yuan menuju pusaran cahaya di depan mereka.
Hari terakhir mereka di Dimensi Harta kini diakhiri dengan rahasia yang hanya dimiliki oleh mereka berdua.