Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Insiden kemarin membuat pandangan para siswa tentang Abhinara langsung berubah total. Dari seorang kutu buku yang kalem dan tenang menjadi seorang yang bringas dan kasar. Sebenarnya mereka tahu seberapa sering Abhi di ganggu oleh geng tersebut tapi tidak pernah sampai mendapati dirinya yang balas melawan bahkan memukul.
Tapi kalau di pikir lagi, bukankah dulu Abhinara terlihat begitu mungil dan lemah?
Kenapa sekarang anak itu terlihat lebih Manly dari biasanya? Bahkan auranya benar-benar berubah seolah dingin dan tidak tersentuh. Lebih seperti Abhinara yang sekarang terasa bagai orang lain.
Oh, haruskah mereka menambahkan bahwa Abhinara saat ini terlihat lebih menarik. Bukan berarti dulu tidak, hanya saja sekarang dia lebih tampan dari biasanya. Beberapa siswa perempuan bahkan tertangkap terang-terangan tengah menatapnya tanpa berkedip. Mereka akan menjerit heboh saat tak sengaja berpapasan dengan sosok Abhi hingga aroma maskulinnya menguar.
Tentu saja Ara menyadari semua perubahan itu. Ia sampai kaget mendapati beberapa siswa perempuan yang sedang bergosip tentang Abhinara yang mempesona, seksi, dan lain-lain. Memang benar ia merasakan semua hal berubah tentang Abhi tapi masa iya seberubah itu?
Tanpa sadar Ara terus menatap Abhi/Biyan yang sedang mengeluarkan seragam olahraganya dan akan berganti. Hal itu di sadari oleh Biyan yang sedang melepas kancing seragamnya. Sebelah alisnya naik dengan bingung mendapati Ara yang menatapnya tanpa berkedip.
"Aku tak tahu kau punya hobby seperti ini," kata Biyan santai.
Seolah sadar, Ara langsung mengerjap beberapa kali dengan raut wajah bingung.
"Huh?"
Biyan yang sudah melepas semua kancing seragamnya langsung mendekati Ara dan menunduk hingga seperti mengukung gadis itu.
"Menikmati pemandangan di hadapanmu, gadis mesum?"
"Hah?!" Ara semakin kaget apalagi melihat posisi mereka yang terlihat ambigu.
"Hey, kalian sedang apa? Ayo cepat," panggil Ares yang tengah berdiri di depan pintu kelas sembari bersedekap.
Ara langsung mendorong tubuh Biyan cepat dan berdiri, mendesis sebal pada Biyan yang masih menatapnya jenaka.
"Aku tidak mesum! Menjengkelkan sekali!" desisnya sembari berjalan pergi. Ia bahkan melewati Ares begitu saja. Sementara Biyan hanya tertawa pelan sendiri sembari memakai seragam olahraganya.
"Kenapa lagi, sih? Akhir-akhir ini kau senang sekali menggoda Ara," kata Ares penasaran.
"Karena setiap ekspresi yang ia keluarkan itu lucu sekali. Aku jadi tak tahan untuk tidak menggodanya," jawab Biyan santai. Ia berjalan keluar kelas di ikuti Ares, untung saja keadaan kelas sudah sepi karena memang tinggal mereka berdua saja yang belum keluar. Jika tidak, mungkin Ara akan lebih merasa malu lagi nanti.
Ares hanya terkekeh sembari merangkul pundak Biyan. "Aku tidak tahu kalau kau punya sisi jahil begini, Abhi!"
***
Mereka tiba di gedung yang memang di gunakan untuk melakukan olahraga Indoor. Banyak para siswa yang berada di sana karena ternyata ada dua kelas yang di gabung menjadi satu. Salah satu guru olahraga yang mengajar kelas itu sedang cuti melahirkan, jadinya mereka mengikuti jam olahraga kelas lain.
Mereka di suruh berbaris, lalu melakukan pemanasan sebelum sang guru menyuruh mereka untuk berlari mengitari area ruangan olahraga itu sebanyak 5 kali putaran. Meski suara keluhan mereka terdengar, tapi mereka tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Satu persatu berlari dengan berjejer rapi mengikuti barisan.
Gedung tersebut lumayan besar, jadi baru dua putaran saja hampir setengah lebih dari siswa tersebut yang sudah kelelahan. Mereka sampai jatuh terduduk dengan napas terengah-engah. Sementara beberapa masih bertahan hingga putaran kelima termasuk Biyan, Ares, juga Ara. Meski kenyataannya Ares dan Ara langsung jatuh terlentang ketika selesai berlari dengan napas tidak stabil. Keringat membasahi tubuh keduanya begitu banyak. Sedangkan Biyan, terlihat masih sanggup berlari beberapa putaran lagi. Ia keringat juga tapi tidak terlihat kelelahan apalagi kesulitan bernapas. Napasnya masih cukup stabil dan ia masih dengan posisi berdiri, menatap kedua temannya yang seperti akan pingsan.
"Wah! Gila! Napasku terasa akan habis!" gerutu Ara.
"Kau benar. Kakiku berasa akan lepas," Ares menimpali.
Kekehan Biyan terdengar dan membuat keduanya langsung menatapnya sembari bangun terduduk.
"Kau tidak lelah?" tanya Ara.
Biyan menggeleng. "Tidak terlalu."
"Padahal biasanya kau akan tergeletak duluan saat di putaran pertama," ucap Ares takjub.
Wajar saja, Abhinara bukan penggemar kegiatan luar ruangan seperti dirinya. Makanya fisik anak itu lemah sekali, sementara Biyan sangat senang berolahraga. Seluruh waktunya ia habiskan dengan work out atau bermain basket bersama teman-temannya. Jadi lari 5 putaran begini takkan membuatnya lelah sama sekali, justru ini terasa seperti pemanasan baginya.
"Kau tahu, aku senang dengan perubahanmu sekaligus aku iri sekali! Aku harap aku juga memiliki ketahanan fisik sepertimu, Abhi~" Area terdengar seperti merengek dan itu membuat Ara meliriknya geli.
"Abhinara, ayo bermain basket! Kami butuh seorang lagi!" panggil suara lain sembari melambai padanya. Biyan menoleh dengan sebelah alis naik, ia tahu Adiknya tak bisa bermain Basket. Kenapa mereka mengajaknya?
"Kalian hanya ingin menjahilinya saja! Berhenti mengganggu, Abhi!" Ara berteriak kesal.
Mereka malah tertawa. "Ayolah, Ara~ apa kami seburuk itu dimatamu? Kami hanya ingin mengajak Tuan Putri bermain saja."
"Hah! Seolah aku tak tahu! Kalian akan sengaja membiarkan Abhi mengejar bola hingga lelah dan tidak memberinya kesempatan sama sekali! Kalian hanya ingin mengerjainya saja!"
Oh?
Jadi mereka sering melakukan itu pada adiknya?
Berani sekali mempermainkan Abhinara seperti itu. Apa mereka sepuas itu melihat sosoknya yang kewalahan setengah mati mengejar bola?
Sialan! Benar-benar sialan!
"Ayo bermain," ucap Biyan tiba-tiba. Membuat Ara dan Ares langsung menoleh ke arahnya cepat.
"Tuh! Abhi saja mau, kok! Kenapa kau yang tidak terima?"
Ara mendesis. "Abhi! Mereka hanya akan mengerjaimu saja!"
"Ara benar! Kau tak harus menerima ajakan itu!" sambung Ares.
Biyan tersenyum tipis. "Nah, tak apa. Aku bisa mengatasi ini," katanya lalu berjalan ke arah mereka dengan santai. Sementara Ara dan Ares hanya bisa menghela napas berat saja.
Beberapa saat kemudian,
Pertandingan sudah berlangsung selama 10 menit, dan selama itu pula Biyan yang menguasai bolanya. Ia dengan lincah berlari bahkan tidak membiarkan satu pun dari mereka merebut bolanya. Bukan hanya itu, ia bahkan tidak memberikan teman se-tim nya kesempatan sama sekali. Lalu ketika mendekati keranjang, Biyan melompat hingga bola memasuki ring dengan mulus tanpa hambatan.
Ares dan Ara sampai melongo.
Sejak kapan Abhinara bisa bermain basket?!
"Ara, aku hanya ingin memastikan saja tapi kau dan aku melihat hal yang sama, kan?" tanya Ares ragu.
"Aku juga melihat apa yang kau lihat Ares," balas Ara kaku.
Hingga ke menit 20, Biyan sudah mencetak skor yang ke 30-0 tanpa ada perlawanan berarti dari tim lawan. Ia menguasai bola sendirian tanpa memberikan siapa pun kesempatan. Permainan Biyan yang lincah dan bagus menarik perhatian beberapa siswa perempuan di sana. Tanpa sadar mereka bersorak seolah mendukung dan akan menjerit saat Biyan berhasil mencetak skor.
"Woah! Abhinara kau keren sekali!" Ares berteriak heboh. Sebagai salah satu anggota inti tim Basket sekolah, tentu saja Ares terpesona dengan cara bermain temannya itu. Ia terlihat tenang tapi seperti hewan liar yang tidak terkendali.
Benar-benar bakat luar biasa.
"Hey! Abhinara! Kenapa membawa bola sendirian?! Harusnya kau mengoper pada kami juga!" protes teman yang setim dengannya.
"Benar! Aku tak menyangka kau egois sekali ingin menguasai bola sendirian!"
Biyan mendengus malas. "Kalian sering melakukannya dulu dan aku tidak protes. Kenapa sekarang tidak terima?"
Mereka terkejut dan saling melirik satu sama lain, dulu memang mereka sengaja melakukannya hanya untuk mempermainkan Abhinara saja. Karena menyenangkan melihat anak itu kewalahan. Tapi sekarang mereka seperti terkena senjata mereka sendiri.
Salah satu dari mereka maju dengan kesal. "Apa maksudmu?! Harusnya kau bersyukur karena kami masih mau mengajakmu bermain! Apa kau pikir ada yang mau melakukannya kalau bukan kami?! Dasar tidak tahu terima kasih! Ibumu tidak pernah mengajarkan hal mudah begitu, hah?!"
Huh?
Kenapa ibunya jadi di bawa-bawa?
Raut wajah Biyan langsung berubah drastis. "Hey, jaga mulutmu. Jangan membawa ibuku dalam hal ini."
Mereka malah tertawa bersamaan kemudian semakin mendekati Biyan hingga berjarak hanya dua langkah saja.
"Hya, Kenapa tidak terima? Ibumu pasti tidak berpendidikan hingga gagal mendidikmu begini? Aku yakin sekali kalau Ibumu itu hanya jalang— ARGH!"
Ucapannya terhenti saat Biyan dengan cepat mencengkram lehernya kuat lalu merematnya tanpa ampun. Biyan takkan perduli jika mereka menghinanya habis-habisan. Tapi ia tidak terima jika ibu yang sangat ia hormati di hina dan di rendahkan seperti itu. Amarahnya benar-benar memuncak hingga ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Semua siswa di tempat itu terkejut. Mereka sampai ketakutan dan tak ada yang berani menghentikannya. Bahkan meski siswa yang di cengkramannya hampir kehabisan napas dengan wajah membiru, Biyan tidak terlihat akan melepaskannya.
"Abhinara! Hentikan! Kau akan membunuhnya!" Ara berteriak panik sembari berusaha menarik tangan Abhi agar melepaskan. Tapi ia bahkan tidak bergerak sama sekali.
"Abhi! Aku mohon!" Tubuh Ara gemetar ketakutan tapi ia tetap berusaha menghentikan Biyan. Syukurnya Biyan langsung sadar saat merasakan tangan Ara yang bergetar ketakutan saat menyentuhnya. Maka ia langsung melepas cengkramannya hingga tubuh siswa itu terjatuh dilantai sambil terbatuk-batuk.
"Katakan hal buruk tentang ibuku lagi maka lehermu akan langsung aku patahkan," geram Biyan tajam. Membuat para siswa itu ketakutan dan langsung pergi sembari membawa teman mereka tadi dengan cepat.
Suasana sempat hening sejenak sebelum Biyan melirik Ara dan Ares yang terdiam. Bisa ia lihat wajah pucat Ara, bahkan Ares tak bisa menyembunyikan raut takutnya meski ia berusaha terlihat biasa saja.
"Maaf, aku hilang kendali," kata Biyan.
Ara menggeleng cepat, ia menggenggam jemari Biyan kuat dan tersenyum meski kaku. "Bukan salahmu. Mereka yang lebih dulu melewati batas."
"Maksudku, aku minta maaf membuatmu ketakutan," koreksinya lalu menatap Ares. "Kau juga."
Ares terkejut. "A-Aku tidak takut! Sembarangan!" elaknya.
Biyan tertawa pelan. "Wajahmu terlihat pucat, Ares."
"Itu karena tadi aku lelah berlari bukan karena takut!"
"Baiklah, baiklah. Ayo kembali ke kelas," ajak Biyan sembari menarik tangan Ara yang masih terdiam mendengar ucapan Biyan barusan.
Dan sialnya, Jantungnya malah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!