Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Sementara itu di kantor polisi Yasmine sedang memberikan keterangan terkait kecelakaan yang menimpa khaulah. Suara sepatu mengalihkan perhatian semuanya.
"Lepasin gue! Gue gak salah!" Berontak nya. Mencoba melepaskan diri namun nihil.
"Diam!" Tegas salah satu polisi itu.
Tatapan tajamnya menusuk mata wanita dihadapannya. Rahangnya yang tegas semakin mengeras. Wanita itu terdiam, tidak berani menatap pria dihadapannya.
"Sial, dia tahu gue pelakunya! Aaakhh ini gak adil buat gue!"
"Al, dia siapa?" Tanya Yasmine yang baru saja selesai dimintai keterangan.
"Mari mba ikut kami, mohon untuk tetap koperatif." Titah polwan yang memegang tangan pelaku tersebut. Kemudian para polisi membawa pelaku ke dalam sel untuk dimintai keterangan.
"Saya gak salah pak! Ada orang lain yang menyuruh saya!" Ujarnya.
"Iyah, dan orang itu sebentar lagi akan sampai."
Dan benar saja suara langkah kaki kembali terdengar di ruangan sunyi itu. Betapa terkejutnya Yasmine melihat siapa yang sudah datang dengan tangan yang di berogol.
"Ayah?" Ucapnya, ia semakin bingung sebenarnya ada masalah apa ayahnya bisa ikut terseret dalam kasus ini.
"Yasmine... Tolongin ayah nak." Mohon nya dengan sungguh-sungguh. Yasmine hendak menghampiri ayahnya namun langkahnya di cegah oleh Fatih.
"Tetap diam, jangan terpancing dengan topeng yang dia pakai."
"Ini ada apa sih al? Kenapa ayah bisa ada disini juga? Dan tadi.., wanita itu siapa? Kamu jangan buat aku bingung dong al."
"Biar pak polisi saja yang menjelaskan, silahkan pak."
"Terimakasih pak al, karena aksi Perencanaan pembunuhan yang dilakukan oleh saudari Aurora Wigan Tara dan saudara Yuan Gavriel dikenai Pasal 340 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) terkait Pasal 53 KUHP tentang Percobaan pembunuhan. Dan Pasal 340 jo Pasal 53 KUHP tentang Perencanaan Pembunuhan. Kepada saudari Ummu Salma Hayek Khaulah Alie Zafeer, yang kini sedang dirawat di rumah sakit. Setelah di tabrak oleh saudari Aurora pada jam 16:30 WIB. Demikian penjelasan dari saya untuk penjatuhan hukuman akan dilakukan diruang sidang bersama para hakim."
"Ayah? Ayah tega lakuin itu? Yasmine benar-benar gak habis pikir dengan isi kepala ayah!" Setelah mengatakan itu Yasmine pergi dari sana. Keluar kantor polisi dengan kenyataan pahit yang ia bawa. Entah ia akan kemana yang pasti ia tidak sanggup untuk melihat wajah ayahnya. Fatih mengejar Yasmine namun langkahnya kurang cepat, membuat ia kehilangan jejak adiknya.
"Yasmine kamu ke mana? Jangan buat saya khawatir." Handphone nya bergetar menandakan ada seseorang yang menelpon. "Iyah uma, gimana istriku?"
"Alhamdulillah ya Allah, Iyah uma saya balik sekarang."
Yasmine terus berjalan menyusuri kota membawa rasa sakit yang ia punya. Sedangkan Fatih menambah kecepatan mobilnya, ia ingin cepat segera sampai ke rumah sakit.
"Tunggu saya khaulah..., sebentar lagi, sebentar lagi."
"Al, kamu darimana?" Tanya Hafsah saat Fatih sudah sampai.
"Khaulah mana uma?" Tanya khawatir. "Dia baik-baik saja kan?"
"Iyah..., Alhamdulillah dokter sudah mengobati semua luka yang ada di tubuh Salma."
"Saya mau ketemu istri saya uma." Hafsah memeluk Fatih. "Iyah boleh, tapi tunggu sebentar yah? Ada fatemah di dalam." beritahu nya setelah menguraikan pelukannya.
"Yasmine mana?" tanya Hafsah saat tidak melihat kehadiran Yasmine bersama Fatih.
"Yasmine kabur uma, entah pergi ke mana." jujur Fatih.
"Di luar hujan Al, di mana Yasmine sekarang."
"Uma tenang yah..., saya coba hubungi Yasmine yah?" Hafsah mengangguk. Kemudian Fatih memilih keluar dari ruang rawat untuk menghubungi Yasmine.
Beberapa saat Yasmine menjawab teleponnya.
"Kamu di mana Yasmine?"
"Di toko, lagi neduh kamu gausah khawatir. Banyak orang kok di sini." bohongnya. sebenarnya ia sedang di taman kota, duduk sendirian di bawah guyuran hujan."
"Mau saya jemput?"
"Gausah, kamu temenin Salma aja, nanti dia bangun gak ada siapa-siapa gimana? Udah yah aku tutup. Assalamu'alaikum."
Malam sudah larut, rasa kantuk tidak bisa ia tahan lagi. Mata nya perlahan mulai menutup membawanya ke alam mimpi. Hari ini ia merasa berat, namun satu beban sudah terselesaikan membuatnya sedikit ringan. Tidak hanya ia yang merasakan beratnya hari ini namun kedua orang paruh baya yang kini menatap kosong rumahnya yang telah hangus.
"Mas, Zahra telepon."
"Jawab saja sayang."
Fatemah mengangguk.
"وعليكم السلام، ما الأمر يا زهرة؟"
"لقد رأينا الأخبار على وسائل التواصل الاجتماعي تفيد بأن منزلك قد احترق، أليس كذلك؟"
Alie membenarkan berita tersebut.
"نعم يا زهرة، منزل أبانغ يحترق."
"إنا لله، كيف حالك أنت وعائلتك؟ هل أنتم بخير؟"
Alie tersenyum, sebenarnya ia tidak ingin membuat keluarganya di sana khawatir.
الحمد لله، كلنا بخير. الله يحمينا. لا تقلقوا، لا تخبروا أبويا."
"إذا احتجتَ أي شيء، فأخبرني، لا تتردد في إخباري. لن أعدك بعدم إخبار أبويا. آسف يا أخي."