Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Keesokan harinya, pukul tujuh pagi, suasana di kamar utama sudah ramai.
Hayu sudah bangkit lebih dulu dan menyiapkan keperluan Rizal.
Hayu sudah menyiapkan jas untuk suaminya yang akan berangkat ke kantor.
Jas berwarna abu-abu gelap tersemat rapi di gantungan di samping lemari. Hayu memilihkan kemeja dan dasi yang serasi.
Rizal keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan celana bahan dan t-shirt putih.
Wajahnya terlihat sedikit kuyu karena morning sickness simpatik yang menyerang sejak subuh.
Hayu menghampirinya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
“Masih mual?” tanya Hayu lembut, meletakkan tangannya di kening Rizal.
Rizal menganggukkan kepalanya lesu.
“Sedikit, Sayang. Bau kopi yang kamu buat tadi pagi rasanya seperti bau bangkai di hidungku. Aku sudah pakai masker, tapi sepertinya aku butuh bantuan ekstra.”
Hayu tersenyum penuh kasih. Ia menarik Rizal untuk duduk di tepi ranjang.
Hayu mengambil minyak kayu putih dari nakas, membuka tutupnya, dan mulai menggosok ke seluruh tubuh Rizal—di perut, dada, dan sedikit di area leher—seperti yang biasa dilakukan ibu pada bayinya yang sedang kembung.
Aroma hangat minyak kayu putih segera memenuhi ruangan.
“Aku seperti bayi,” ucap Rizal pasrah, tetapi nada suaranya lembut, menikmati perhatian istrinya.
“Calon Ayah kok bau minyak kayu putih.”
Hayu tertawa kecil sambil memakaikan pakaian suaminya satu per satu, mulai dari kemeja, dasi, hingga jas.
Ia merapikan lipatan kerah dan memastikan dasi Rizal terpasang sempurna.
Rizal hanya diam, menikmati pelayanan dari sang istri.
Setelah selesai dengan Rizal, Hayu berbalik.
Hayu sendiri sudah berpakaian rapi—mengenakan dress midi elegan dengan blazer, dan riasan tipis—untuk menemani suaminya bekerja. Ia tampak cantik dan profesional, siap mendampingi Direktur Firdaus.
Rizal menatap Hayu yang kini terlihat jauh lebih sehat dan berseri.
“Kamu cantik sekali, Sayang. Rasanya aku ingin membatalkan semua rapat dan membawa kamu kembali ke ranjang,” goda Rizal, meskipun ia masih berbau minyak kayu putih.
“Tidak bisa, Mas. Sekarang fokus ngantor,” balas Hayu, tertawa. “Ayo kita berangkat. Biar si kecil di perut kita ikut melihat bagaimana Ayahnya bekerja.”
Mereka turun ke lantai bawah dan langsung menuju mobil yang sudah menunggu.
Rizal duduk di kursi belakang, sementara Hayu duduk di sebelahnya.
Karena Rizal masih belum bisa mentolerir bau makanan tertentu, terutama aroma yang kuat, Hayu sudah menyiapkan sarapan yang sangat netral dan aman dari rumah: bubur tawar yang sudah dicampur sedikit kaldu ayam tanpa bumbu yang menyengat.
Saat mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah, di dalam mobil Hayu menyuapi suaminya dengan bubur itu perlahan-lahan.
“Pelan-pelan, Mas. Jangan sampai kamu mual lagi di jalan,” bisik Hayu, menyendokkan bubur ke mulut Rizal.
Rizal menerima suapan itu dengan patuh. “Aku merasa seperti anak TK yang diantar ke sekolah, Sayang. Tapi terima kasih, ini yang paling bisa diterima perutku pagi ini.”
Setelah hampir setengah mangkuk bubur habis, barulah Rizal merasa perutnya sedikit tenang.
Ia memejamkan mata sejenak. Namun, saat mobil melewati sebuah persimpangan, hidungnya menangkap aroma yang sangat khas dan menggiurkan.
Mata Rizal terbuka lebar. Ia menoleh ke luar jendela, mencari sumber aroma itu.
Tiba-tiba, Rizal mengetuk pembatas kaca antara kursi penumpang dan sopir.
“Pak, nanti mampir ke warung nasi kuning sebentar ya,” pinta Rizal tiba-tiba, suaranya terdengar mendesak seperti orang yang sedang sangat kelaparan.
“Yang di tikungan setelah Bank Mandiri itu. Aku harus punya nasi kuning itu sekarang juga.”
Hayu menatap suaminya dengan heran. Bukankah tadi dia mual? Sekarang dia mendadak ingin nasi kuning? Ngidamnya memang tidak bisa diprediksi.
Sopir, yang sudah terbiasa dengan permintaan mendadak dari Tuannya, terutama sejak Hayu hamil (dan kini Rizal ikut ngidam), segera merespon tanpa banyak bertanya.
Sopir menganggukkan kepalanya melalui kaca spion.
“Baik, Pak. Kita mampir ke sana.”
Hayu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum geli.
"Syukurlah, Mas. Setidaknya kali ini kamu ingin makanan yang berkalori. Tapi jangan sampai habis semua, nanti di kantor kamu langsung mengantuk," goda Hayu.
"Tidak janji," balas Rizal, matanya sudah membayangkan nasi kuning yang gurih.
Sesuai permintaan Rizal, tak lama kemudian sopir menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di depan sebuah warung tenda sederhana yang terkenal dengan nasi kuningnya yang lezat.
Rizal hendak membuka pintu mobil, tetapi Hayu menahannya.
“Mas, jangan. Kamu duduk saja, pakai masker dan minum teh hangatmu. Biar aku yang turun,” ucap Hayu, sudah membuka sabuk pengamannya.
Rizal sempat protes, tetapi melihat wajah Hayu yang meyakinkan, ia akhirnya mengalah.
Hayu lekas membeli nasi kuning tiga bungkus dari warung itu.
Ia sengaja membeli lebih, tidak hanya untuk suaminya yang sedang ngidam, tetapi juga untuk dirinya sendiri, dan untuk sopir setia mereka.
“Pak Bambang,” panggil Hayu kepada sopir.
“Tolong ini diambil satu bungkus ya. Saya belikan untuk Bapak juga. Selamat menikmati.”
Sopir, yang dipanggil Bambang, terkejut dan tersanjung dengan kebaikan Nyonya-nya.
“Terima kasih banyak, Bu Hayu. Wah, rezeki anak saleh ini,” jawabnya sambil menerima bungkusan nasi kuning itu dengan senyum lebar.
Hayu kembali masuk ke mobil dan menyerahkan satu bungkus nasi kuning kepada Rizal.
“Ini, Mas. Nasi kuning ngidammu,” ujar Hayu sambil terkekeh.
“Jangan lupa makannya di dalam mobil, ya. Aku tidak mau kamu diserbu paparazzi hanya karena makan nasi kuning di pinggir jalan.”
Rizal menerima bungkusan itu dengan wajah bahagia.
Aroma nasi kuning yang gurih dan wangi langsung membuatnya lupa akan mualnya.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Rizal, dan tanpa membuang waktu, ia membuka bungkusan itu dan mulai makan dengan lahap, sementara mobil kembali melaju menuju kantor pusat Firdaus Group.
Rizal dan Hayu sama-sama menikmati nasi kuning mereka di dalam mobil. Suasana di dalam mobil menjadi hangat dan dipenuhi bunyi sendok beradu.
Rizal makan dengan sangat lahap, seolah ia belum makan selama berhari-hari, membuat Hayu tersenyum geli.
Mereka menikmati nasi kuning di dalam mobil hingga tandas.
Pak Bambang yang selesai makan nasi kuningnya lebih dulu, segera membersihkan tangannya dan langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor Rizal di pusat kota.
Sesampainya di sana, mobil berhenti tepat di depan pintu masuk lobi megah Firdaus Group.
Rizal dan Hayu turun, disambut dengan hormat oleh beberapa petugas keamanan dan staf yang berjaga.
Mereka berjalan beriringan menuju lift khusus Direktur.
Namun, begitu melangkah melewati pintu putar dan masuk ke lobby, hidung Rizal langsung bereaksi.
Lobi kantor itu, yang biasanya beraroma netral dan elegan, kini terasa sangat menyengat bagi Rizal.
Aroma dari berbagai parfum mahal yang digunakan oleh para staf yang baru tiba pagi itu, bercampur dengan aroma pewangi ruangan, terasa menusuk.
Rizal langsung berhenti mendadak. Rizal menutup hidung saat mencium aroma parfum yang menyerang indra penciumannya yang kini menjadi super sensitif karena sindrom kehamilan simpatik.
“Aduh! Bau apa ini? Terlalu menyengat!” keluh Rizal, wajahnya kembali pucat.
Hayu segera memegang lengan suaminya.
“Sabar, Mas. Ini hanya parfum. Jangan sampai kamu mual lagi.”
Rizal menghela napas, menahan diri untuk tidak lari ke toilet. Ia segera mengeluarkan ponselnya begitu mereka berada di dalam lift.
Rizal menghubungi Riska, yang sudah menunggu di lantai eksekutif.
“Riska, dengarkan baik-baik. Ini instruksi mendesak,” perintah Rizal dengan nada suara yang serius.
“Tolong sebarkan memo ke seluruh staf dan karyawan di kantor pusat, segera.”
Riska: “Ada apa, Pak? Ada masalah keamanan?”
Bukan. Mulai hari ini, aku melarang semua orang—semua orang, Riska—untuk memakai parfum, cologne, atau segala jenis pewangi badan yang menyengat saat bekerja.
Rizal memanggil Riska dan meminta mereka untuk tidak memakai parfum saat bekerja selama 9 bulan ke depan.”
“Tidak memakai parfum, Pak? Semua? Termasuk pewangi ruangan?”
“Ya! Semua! Cukup pakai deodoran yang netral. Tidak boleh ada bau menyengat. Bilang ke mereka, ini adalah aturan baru demi kenyamanan lingkungan kerja. Siapa pun yang melanggar, suruh pulang.”
Riska terdengar bingung, tetapi langsung menjawab,
“Baik, Pak Rizal. Saya akan segera laksanakan.”
Setelah menutup telepon, Rizal menarik napas dalam-dalam. Ia menatap Hayu.
“Aku tidak peduli. Aku tidak mau mual lagi di kantorku sendiri,” kata Rizal, setengah mengeluh.
Hayu hanya bisa tersenyum simpul.
Ia tahu, dalam sembilan bulan ke depan, bukan hanya Hayu yang akan merombak gaya hidupnya, tetapi seluruh kantor Firdaus Group juga.
Rizal dan Hayu melangkah keluar dari lift di lantai eksekutif, ruangan yang lebih tenang dan steril dari aroma parfum.
Mereka berjalan menuju ruang kerja pribadi Rizal.
Saat mereka berdua masuk, Hayu menatap suaminya dengan perasaan bersalah.
Ia mendekati Rizal, memeluknya di balik jasnya yang berbau minyak kayu putih.
“Mas, aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini,” bisik Hayu.
“Aku membuatmu mual, ngidam yang aneh-aneh, dan sekarang kamu melarang semua orang pakai parfum di kantor. Aku benar-benar minta maaf.”
Rizal membalas pelukan Hayu, mengusap punggung istrinya dengan lembut.
“Ssshh... Jangan bicara seperti itu, Sayang,” ujar Rizal. Ia menjauhkan Hayu sedikit, menatap mata istrinya dengan penuh cinta.
“Ini bukan salahmu. Ini adalah tanda cinta yang lucu dari Tuhan." Rizal tersenyum nakal.
“Ini juga karena aku. Kalau tidak, bagaimana bisa kamu hamil?” goda Rizal.
“Aku adalah Ayah paling berempati di Firdaus Group. Anggap saja ini adalah bonding time kita dengan calon anak. Dan soal parfum itu, jangan khawatir. Kesehatan dan kenyamanan calon bayi kita jauh lebih penting daripada bau cologne mahal para staf.”
Rizal menarik Hayu lebih dekat dan mencium keningnya.
“Lagipula, aku suka bau minyak kayu putih di jas-ku sekarang. Itu membuatku teringat bahwa aku punya kamu dan calon anak kita. Sekarang, ayo, Sayang. Kamu duduk di sofa itu, dan aku akan mulai rapat. Jangan pernah minta maaf karena sudah memberiku kebahagiaan sebesar ini.”