NovelToon NovelToon
Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:453.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ariz Kopi

Siapa yang tahu tentang jodoh kita, karena tugas kita hanya berihtiar menemukanya..

Asam di gunung, garam di laut dan pada ahirnya bertemu jua di belanga.
Tak ubahnya seperti mereka berdua yang sama sama menolak untuk di jodohkan, tapi saling jatuh cinta tanpa tahu bahwa mereka saling lari dari perjodohan yang di buat oleh kedua orang tuanya. Juwahir, gadis cantik yang di jodohkan dengan Gus Ali, adalah seorang Hafidzul Qur'an, dia yang mewarnai hari hari di masa kecil Gus Ali dan menyisakan beberapa kenangan yang kurang mengenakkan.

Ipda Nuril, seorang Polisi Wanita yang sangat manis dengan seragam dinasnya juga Jilbab rapi yang selalu membungkus kepalanya.

Kemanakah hati Gus Ali akan berlabuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariz Kopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

@maulana_sar2727

Happy Reading...

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, di salah satu sisi meja belajarnya, tampak Nuril sedang fokus dengan buku di depannya, juga sesekali meremas jilbab di kepalanya dengan kasar. Tertekan, sepertinya itu yang tengah di rasakan oleh Nuril, karena sedari pulang dari kegiatan di Panti Jompo tadi, Nuril bukannya malah bahagia seperti biasanya, justru malah uring uringan tidak jelas.

Jelas, bukan tanpa sebab. Dan itu semua karena usahanya untuk menarik simpati dari Ustadz Salman, malah rancau tidak jelas arahnya, lantaran terungkapnya masa lalu Nuril yang konyol dan berhasil membuat dirinya tidak bisa berkutik di hadapan orang yang disukai, saat Gus Malik membongkar sikapnya selama menimba Ilmu di Pesantren Al-Hikmah.

Andai Nuril, bisa kembali ke masa lalu dan mengulanginya kembali, jelas Nuril akan kembali dimana dirinya akan tetap menjadi gadis yang penurut seperti waktu masih kecil. Dan jika mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas sikap bar barnya waktu remaja, jelas itu adalah sepenuhnya tanggung jawab si kampret sarungan.

"Ahhh, kenapa mesti begini." Ucap Nuril kembali meremas jilbabnya, bersamaan dengan ponsel di meja belajarnya yang tengah berderit.

"Hemm.." Jawab Nuril, begitu Nuril menggeser tombol hijau.

"......"

"Iya, Assalamu'alaikum." Ucap Nuril dengan nada sewot.

"......"

"Apa coba, cuma ketuker, Pa. Bukan siapa siapa." Jawab Nuril lagi. "Papa lagi dimana.?"

"....."

"Oh, ya sudah teruskan. Anak papa yang cantik juga manis ini mau tidur siang. Assalamu'alaikum." Kata Nuril, dan langsung memutus panggilannya begitu jawaban dari sebrang tidak mau berhenti.

Nuril beranjak menuju ke tempat tidurnya, tidak berapa lama Nuril sudah membaringkan dirinya di tempat tidur sembari tangannya berselancar di layar pipihnya masuk ke sosial media yang di milikinya. Setelah cukup lama melihat lihat, jari lentik Nuril sudah mengetik beberapa kalimat yang sangat jauh dari biasanya Nuril posting.

*Mencintai secara diam diam itu sungguh suatu yang membahagiakan.

Status Bucin.

@maydina862*.

Nuril langsung meletakan ponselnya begitu selesai memposting tulisan tersebut dan kemudian segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Dan tidak berapa lama sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan berseri.

Dendangan lagu lagu cinta dari salah satu band papan atas keluar dari bibir tipis Nuril, sembari dirinya mengeringkan rambut kritingnya. Dan kemudian segera membuat dirinya nyaman dengan rutinitas yang selalu membuatnya lupa, dan bahagia saat sudah bersimpuh dengan balutan mukena juga Al-Qur'an kecil yang sudah menjadi temannya sedari dirinya masih belajar di Jogja.

Cukup lama Nuril bercinta dengan dirinya, hingga kumandang Adzan Mahrib bersahut sahutan di perkampungan di belakang Asrama Polwan tersebut, dan berbarengan dengan itu masuklah teman sekamar Nuril yang baru saja menyelesaikan tugas ahir pekannya.

"Cari nasi goreng yuk. Ri." Ucap teman Nuril begitu melihat Nuril sudah melepas mukenanya sehabis shalat Isya'.

"Hemm, boleh juga." Ucap Nuril dengan langsung menggunakan jilbab instannya.

Tidak berapa lama, mereka sudah keluar dari Asrama dan menyusuri jalanan rame di sekitar Asrama dengan mengobrol ringan. Langkah keduanya berhenti tepat di stan penjual Nasi Goreng yang hampir selama sebulan ini selalu menjadi langanan para penghuni Asrama Polwan tersebut.

"Nasi Goreng kayak biasanya Bang, dua porsi yah." Ucap Nuril sebelum memilih tempat duduk di lesehan favoritnya.

"Sekali kali makan di restoran ternama atau Caffe yang lumayan nyentrik, kayaknya lumayan instagram-able." Ucap teman Nuril begitu mendudukan dirinya di samping Nuril.

"Makan bukannya untuk kenyang, bukan makan status kan." Jawab Nuril sekenanya saja.

"Harusnya gitu, tapi makan status juga perlu." Cengiran teman Nuril terlihat sangat berharap. "Tapi, apalah dayaku. Gaji Polisi itu tidak seberapa. Maunya sih ada yang ngajakin plus di bayarin." Kembali teman Nuril berkata dengan nada canda.

Nuril hanya menggelengkan kepalanya, lantas berfokus pada ponsel di tangannya, melihat foto foto yang di kirimkan oleh Kakak satu satunya. Papa, Mama, serta kedua keponakannya yang tengah bersanda gurau di rumah yang dulu menjadi kediaman mereka saat Nuril masih kecil, sebelum ahirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Jogja.

"Oh iya, gimana tadi ketemuannya sama Ustadz Salman." Seketika Nuril langsung tersedak oleh salivanya saat teman Nuril menanyakan hal memalukan yang terjadi tadi siang.

Nuril menggosok gosok hidung bangirnya, untuk mengurangi rasa malu yang tiba tiba kembali menghinggapinya. "Ya, biasa saja. Cuma mengembalikan Ponsel ya sudah gitu aja."

"Sudah ketebak sih. Kelihatan dari muka Ustadz Salman. Dari dua tahun lalu aku perhatikan, sikapnya gitu gitu saja. Makasih Mas." Ucap teman Nuril, sembari menggeser Jeruk anget yang baru saja di taruh oleh pelayan ke arah Nuril.

Nuril, hanya diam. Namun, jauh di dasar hatinya dia berusaha untuk menyelami apa yang di katakan oleh teman sekamarnya itu, yang jauh lebih dulu tau tentang Ustadz Salman. Dan bagi Nuril, sikap Ustadz Salman cukup benar sebagai orang yang faham tentang Ilmu agama.

"Kamu tau, Ri. Bripka Rita sedari pertama Ustadz Salman datang, sudah tebar tebar panah Asmara. Tapi, sama sekali tidak di gubris sama Ustadz Salman, justru Ustadz Salman malah deket sama Iptu Jonathan." Tutur teman Nuril.

"Ya terus, hubungannya sama aku apa.?" Kata Nuril dengan nada cuek, sembari menyeruput Jeruk anget yang ada di depannya. Padahal aslinya, dada Nuril rasanya mau meledak hanya dengan mengingat senyum tipis Ustadz Salman yang tersunging tadi siang sebelum mereka berpisah di depan Panti Jompo.

"Setidaknya kamu punya kesempatan untuk mengejarnya."

"Uhuk, uhuk, uhuk." Kali ini Nuril benar benar tersedak oleh minuman yang baru saja masum di tenggorokannya hingga terbatuk batuk hebat, berbarengan dengan Poselnya yang berdering dan menampakan panggilan Vidio.

Setelah berhasil meredakan batuknya, Nuril segera meraih ponselnya yang kembali berdering dan segera menggeser tombol hijaunya, dan jika itu tidak segera di lakukannya nama Selingkuhan yang tertera disana pasti akan ngomel ngomel panjang sekali.

"Assalamu'alaikum." Ucap Nuril dengan acuh tak acuh, namun berubah bersemangat saat yang terlihat di layar bahwa keponakan lucunya yang sedang mengahap di layarnya.

"Alam ikum alam, Te Uwi." Jawab Keponakan Nuril dengan nada cedalnya.

"Belum tidur, sudah malam ini." Kata Nuril sambil melirik jam di pergelangan tangannya dan menunjukan pukul 20.12 wib. Itu artinya di tempat tinggal Kakak Nuril sudah pukul 21.12 wita.

"Ayum atuk, au ain." Jawab Ponakan Nuril dengan menunjukan expresi lucunya. "Te Uwi, gi pa, Ura nanen, uwang apan.?" Lanjut poanakan Nuril mengikuti bisikan orang yang berada di sampingnya.

"Males ketemu sama pesek Nura, pasti nanti minta gendong." Jawab Nuril dengan nada datar.

"Ama, Te Uwi akal." Langsung tangis ponakan Nuril pecah mendengar olokan pesek yang di tujukan kepadanya.

"Wiii..." Sebuah suara langsung muncul begitupun dengan gambar yang berada di layarnya yang juga berubah, menampakan gambar Kakak Nuril yang sedang tiduran bersama dengan wanita paruh baya, yang tak lain adalah Mama meraka.

"Lagi ngapain, kayak di warung kaki lima.?" Ucap Mama Nuril.

Nuril hanya cegar cengir, dan melempar senyum ke arah temannya yang sudah mulai kepo dengan pembicaraan Nuril yang belum juga berahir. "Yang penting rasanya kayak bintnag lima." Jawab Nuril sekenanya.

"Kamu itu, Wi. Kayak miskin saja." Ucap Kakak Nuril. "Nasi goreng, malam malam gini. Kamu itu masih perawan, malam makan nasi goreng." Lanjut Kakak Nuril begitu melihat pesanan Nuril di letakkan di meja.

"Apa hubungannya sama perawan, makan ya makan aja. Lagian aku enggak bakal bisa gemum kayak Kak Nana." Balas Nuril.

"Aku dulu juga ramping kayak kamu."

"Halah, dari dulu Kak Nana sudah gemuk. Udah ah, mau makan dulu, nanti ujung ujungnya juga berdebat soal makanan." Potong Nuril dengan cepat.

"Kali ini tidak." Sahut Mamanya Nuril, dan dengan cepat layar sudah di isi penuh oleh gambar Mama Nuril. "Dua bulan lagi, Fikri mau nikah, kamu harus pulang."

"Teragntung dapat cuti apa enggak, Ma. Mama tau sendiri tugas Nuril gimana. Lagian ini jug."

"Mama enggak mau tau. Pokoknya kamu harus pulang, biar bisa kumpul bareng keluarga." Tegas Mama Nuril.

"Ya, enggak bisa gitu dong, Ma. Aku kan punya tanggung jawab."

"Tanggung jawab kamu yang lebih penting itu, nurut sama orang tua."

"Ya, dua duanya penting, Ma."

"Mama enggak mau tau. Dan tidak mau tau alasan kamu di komandan kamu gimana. Pokonya di acara nikahannya Fikri kamu harus pulang. Titik tidak ada Koma."

"Maksa bener. Pasti ada udang di balik bakwan." Jawab Nuril dengan nada santai, dan itu biasanya akan berhasil karena Mamanya akan langsung mematikan panggilannya sepihak begitu saja.

"Itu kamu sadar. Jadi, jangan buat Mama sama Papa kecewa." Jawab Mamanya Nuril.

"Please deh, Ma. Jadi hilang selera makan ku." Kata Nuril dengan langsung menaruh sendok yang sudah di pegangnya, hingga menbuat teman Nuril yang duduk di sanpingnya merasa heran dan memperhatikan raut Nuril yang langsung berubah kesal.

"Itu yang terbaik untuk kamu. Dia sudah banyak berubah, dan Mama akan tenang jika kamu bersama dengan dia."

"Aku kan sudah pernah bilang sama Mama, sama Papa. Dalam jarak dua tahun ini, aku belum bisa mengabulkan keinginan kalian. Lau harua menyelesaikan tugas ku."

"Mama, enggak nyuruh kamu langsung nikah. Seenggaknya kenalan dulu, ehh, kok kenalan kalian kan sudah kenal dari kecil. Tunangan dulu, nikahnya belakangan setelah kamu menyelesaikan tugas mengabdi selama dua tahun."

"Ahh, males berdebat sama Mama. Assalamu'alaikum." Putus Nuril dan langsung memutuskan panggilannya begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Mamanya.

Nuril langsung melahap Nasi goreng di depannya tanpa sepatah katapun, bahkan Nuril juga tidak menikmati rasa dari Nasi goreng di depannya, bagi Nuril dia hanya punya misi untuk menghabiskannya agar tidak mubazir.

Teman Nuril, hanya terus memperhatikan wajah Nuril yang berubah Jutek tanpa mau bertanya kepada Nuril, karena itu merupakan masalah pribadi, dan teman Nuril sangat menghormati hal itu, karena Nuril sendiri tipikal orang yang tidak ingin memkasa temannya harus bercerita segala hal kepadanya.

"Perjodohan itu, masih wajar enggak sih di zaman kayak gini." Ucap Nuril begitu mereka berjalan beriringan untuk kembali ke Asrama. Dan itu terdengar seperti keluhan, bukan sepeti pertanyaan bagi temannya.

"Ya, tergantung dari sisi pandang sebelah mana, Ri." Nuril langsung berhenti di dan memandang lekat temannya yang juag spontan ikut berhenti. "Maksud ku. Orang tua jelas menginginkan yang terbaik bagi anak anaknya, dan dari yang aku tangkap dari percakapanmu dan Mamamu, dari keyakinannya memilih seseorang untuk mu, jelas itu di pilih dari yang terbaik dari yang baik. Ri." Lanjut teman Nuril.

Nuril mendengus kesal, kemudian kembalu berjalan. "Terbaik dari yang baik, seperti musuh bebuyutan dimasa kecil." Ucap Nuril sambil lalu dan berajalan dengan cepat meninggalkan temannya, dan berlahan jalan Nuril berubah menjadi larian kecil hingga dan untuk sepersekian detik sudah berlari kencang.

Teman Nuril, hanya bisa menggelang menyaksikan Nuril yang tengah berusaha untuk menyalurkan emosinya dengan cara berlari. hingga jarak satu kilo meterpun, hanya membutuhkan waktu kurang dari 4 menit.

Dan saat teman Nuril tiba di kamar mereka, sudah mendapati Nuril yang baru keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian dengan baju tidur longgarnya. Nuril hanya memang sekilas temannya yang langsung masuk ke kamar mandi, dan dengan cepat Nuril sudah meraih ponselnya kembali, lantaran ramainya notif dari IGnya, dan komentar itu karena postingnya selepas asar tadi.

Dan Nuril hanya terus cekikikan membaca komentar komentar tersebut, sembari sesekali jarinya membalas komentar yang di rasa lucu oleh Nuril, dan ada salah satu akun yang sudah setahun ini saling mengikuti. Nuril juga menaruh respeck atas unggahan unggahannya yang membahas pengetahuan agama dengan membungkusnya secara apik serta kata kata yang tidak menggurui.

Dan Nuril sudah sering sekali berkomentar disana, meski awalnya tidak di balasnya. Namun, Nuril tidak pernah ambil pusing akan hal itu, karena mereka hanya tau lewat sosial media saja. Dan sudah hampir enam bulan ini, mereka aktif berbalas komentar. @maulana_sar2727.

Bahkan kali ini @maulana_sar2727 juga mengomentari unggahan Nuril sore tadi, hingga membuat Nuril tersenyum geli, karena tidak menyangka bahwa seseorang yang di anggap Nuril cukup serius juga mau mengomentari unggahan Nuril.

@mualana_sar2727. Seperti diam diam mencintai seseorang dan melangintkan namanya di sepertiga malam.

Nuril kembali mengulangi kata kata itu berulang ulang, kemudian sibuk mencari jawaban atas komentar yang menurut Nuril cukup menarik ini.

@maydina862. @mualana_sar2727. Atau diam diam kita tahu, ada seseorang yang mencintai kita secara diam diam.

Balas Nuril, dalam kolom kementar di unggahannya, dan kemudian beralih lagi ke komentar yang lain, juga membalasnya dengan cekikikan tidak jelas hingga teman Nuril keluar dari kamar mandi, dan menyapanya serta menyakan akan suasa hatinya yang dengan cepat sudah kembali membaik.

"Sudah biasa hal seperti itu aku alami, Ken." Jawab Nuril santai dan kemudian langsung berteriak girang karena komentarnya kembali di jawab olah akun @maulana_sar2727.

@maulana_sar27272, @maydina862. Ada yang lebih diam diam membahagiakan, ketika diam diam orang yang kita cintai juga mencintai kita secara diam diam. Dan diam diam melangitkan nama kita di tengadahan tangannya, dengan langsung merayu pada pemilik cinta.

Nuril benar benar kehilangan kata katanya, dan hanya terus mengulangi kata kata dalam komentar itu, bahkan sampai teman seakamarnya menayainya hingga Nuril lupa untuk mebuat kata kata balasan untuk komentar tersebut, karena terus membahas tentang kata kata penuh makna yang di tulis oleh @maulana_sar2727.

Bersambung.

####

Seperti diam diam kalian juga saling berbalas komentar.

Kok saiya merasa jadi Nuril yah..🤣🤣🤣🤣

Like, Coment dan Votenya di tunggu, siapa tau nanti Komentnya di balas sama @maydina862 atau sama @maulana_sar2727.

Love Love Love...

💖💖💖💖💖💖

By: Ariz kopi

@maydina862

1
M
lamaaaaaa sekali gak di up kak aurhor?. sy selalu menunggu. tolong buatin seson 2 ny kak author. cerita anak gus ali dan juju./Smile/
mak,, ini kapan update nya lagi mak othor??!
Leni Ani
ya aku aja yg baca juga pusing mak😆😆😅😅😅😅
Mmh Liya
Alhamdulillah, bersyukur banget ada lanjutannya, mksh Mak
h-a-z-z
seminggu baru nyadar karena ada update an baru......
kangennya ampe meluber luber kayak air kali ciliwung ato air bengawan solo..... akhirnya keee lauuuuuttt.... eeehh akhirnya update.... 😍😍😍😍😍😍😍😍😍🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
lope sekebon korma di Arab
lope lope domba se Jerman
lope kangguru se Australia.....
😘😘😘😘😘😘💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
yusa
beli daster di toko bakso??? udah ganti sekarang klu jualan daster di toko bakso 🤔🤔🤯
rika widiawati
bikin gemes aja tingkahy,,,lagi hamil x ya senengy bikin mas ai bingung trs mas ai yg ngerasain ngidamy...
Elizabeth Zulfa
keknya Nuril lagi hamil ya... trus dedeknya g mau deket2 ma abinya soalnya hidung lagi sensitif 😁😁
Ririe Handay
laporan ma bunda ikah mas ai biar ikut dicarikan solusinya.....


terimakasih Mak Mae update nya setelah sekian windu🤭🤭✌️✌️
Ririe Handay
tanda2 nih
Ismi Yati
ojo suwe2 yo maaakk
M
alhamdulillah... setelah sekian lama menunggu akhirnya di up lagi. juju Hamil.
Asti Astiani
sampe lupa alurnya kak
Rhiedha Nasrowi
Masya Allah gak nyangka kalo ada update lagi, , makasih ya Mak😘😘😘😘dan ditunggu selanjutnya 🥰🥰🥰
Azizah
maturnuwun bobchap nya Mak 🙏😘
Azizah
wah.... pasti tanda2 itu😍
bieb
👍👍
M
ini emang Uda tamat / ada exstra partnya anak mereka (nuril hamil kayaknya).?
EMAH FARID
serunya bkin penasaran dag dig dug ser 😁😁
JandaQueen
harusnya 4 dong... gus ali, juju, nuril dan mak author, si biang kerok yg muter2in jodoh mu bang ustadz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!