Isabella, seorang wanita yang dihadapkan pada perceraian mendalam dengan suaminya—Justin, merasakan pukulan takdir yang lebih kuat saat perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Sementara itu, menghilangnya Mama, Papa, dan Kakaknya secara tiba-tiba membuat Isabella terjebak dalam kebingungan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, Isabella kembali ke negaranya dengan harapan baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan suaminya—Justin. Pertemuan ini memicu pertanyaan sulit: Akankah mereka berdua mampu melihat melampaui masa lalu mereka yang penuh dengan perasaan yang tidak selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Perhatian semuanya!
Dari bab 24 sampai bab 40 disarankan untuk tidak mendengarkan audiobook-nya. Sebab saat proses perekaman, pada bab-bab ini sedang saya revisi. Jadi akan banyak narasi serta percakapan yang berbeda dengan yang ada didalam audiobook. Tapi untuk bab 41 sampai seterusnya itu tetap akan sama, kalian bisa lanjut mendengarkan audiobook-nya setelah bagian itu. Mohon pengertiannya sobat semua, enjoy reading!
.
.
.
.
.
Isabella berdiri tegap di depan meja resepsionis, ia memberikan senyuman tipis pada wanita yang ada di sana. Pandangan mata Isabella yang percaya diri membuat wanita itu tersenyum canggung.
Apa lagi urusannya wanita ini dengan ku? Heh, menyusahkan saja!
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sambil menahan senyuman. Entah kenapa saat melihat pakaian Isabella langsung membuat ia memandang rendah begitu saja.
Mungkin, apa yang orang lain lihat akan menjadi penilaian mereka terhadap suatu hal. Sudah sangat sering hal seperti itu terjadi di kalangan masyarakat, bahkan wanita yang ada dihadapannya pun melakukan hal yang sama.
"Aku ingin menanyakan beberapa hal."
"Silahkan ..."
"Kemarin aku lupa bertanya tentang pekerjaan yang harus kulakukan hari ini atau penjelasan tentang bagian tempat ku bekerja. Dan, sepertinya Sekertaris Zay kemarin juga tidak membahasnya saat pertemuan. Apa kau mengetahui sesuatu atau mungkin Sekertaris Zay meninggalkan sebuah pesan?"
Wanita itu meletakkan tangannya di dagu seperti sedang mengingat-ingat waktu lampau. "Sepertinya tidak ada ..." gumamnya masih berusaha mengingat.
"Benarkah? Lantas apa yang harus kulakukan hari ini?" Kini Isabella malah jadi kebingungan. Dia tak tahu harus melakukan apa karena belum mendapatkan perintah.
Ada-ada saja perbuatan wanita ini! Membuat pekerjaan ku bertambah saja, huh! Untung suasana hatiku sedang baik.
Dengan malas wanita itu menyambungkan teleponnya, Isabella tak tahu siapa yang dihubungi olehnya, namun sepertinya itu ada keterkaitannya dengan permasalahan yang baru saja ia sampaikan.
"Begini--" Wanita itu mulai menyampaikan keluhan Isabella.
"Hmm ... baiklah, terima kasih."
Panggil itu terputus.
"Aku baru saja bertanya dengan para staff sekertaris, dia mengatakan bahwa sekertaris Zay sedang tidak ada ditempat dan tidak meninggalkan pesan apapun," kata wanita Itu menjelaskan. Bukannya mendapatkan jawaban Isabella malah bertambah bingung.
Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Sekretaris Zay?! Apa dia sedang mempermainkan ku? Kemarin menyuruhku datang, tapi sekarang dia malah pergi?
Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin kembali begitu saja tanpa melakukan apapun. Kontrak sudah ku tanda tangani, kemarin aku juga sudah mencoba bertanya pada HRD tapi mereka bilang tak tahu menahu. Apakah itu mungkin?
Isabella berfikir sejenak dan menemukan sebuah ide, dia beranjak dari tempat itu dan pergi menuju salah satu divisi yang tak jauh dari dirinya saat ini.
"Aku memperkenalkan diriku saja kepada mereka, dengan begitu setidaknya aku memiliki sesuatu untuk dilakukan," gumam Isabella.
Dia berdiri di tengah meja-meja karyawan divisi yang tak diketahuinya, dia memperhatikan sekitarnya dan agak sedikit canggung karena tidak ada yang memperhatikan kedatangannya.
Mereka semua sibuk pada pekerjaan masing-masing dan fokus pada layar monitor, bahkan saat Isabella berpura-pura batuk pun tak ada yang merespon atau menoleh sama sekali.
Semua orang sangat fokus pada pekerjaan mereka, Isabella malah bertambah canggung karena dia terlihat seperti sedang mengganggu para karyawan lainnya dalam bekerja.
Dia menarik nafas dalam-dalam bersiap untuk mendapatkan perhatian oleh para karyawan lainnya, semoga saja itu berjalan dengan lancar dan tidak membuat karyawan lainnya terganggu.
"Maaf semuanya... boleh saya meminta waktu kalian sebentar?" Suara Isabella menginterupsi seluruh Divisi itu, mereka semua menghentikan pekerjaan mereka dan fokus dengan apa yang akan di sampaikan oleh Isabella.
"Aku adalah karyawan baru di sini, kedepannya mungkin kita akan menjadi rekan kerjanya. Mohon bantuannya semua!!" kata Isabella sambil menundukkan kepala.
-
-
-
-
-
***
BERSAMBUNG...................
kalau author berani melakukan itu, aku benar salut pada author
adek g da ahlak lah..
dan knpa justin punya feeling semacam itu ya??