Emma tak pernah menyangka akan mengalami transmigrasi dan terjebak dalam tubuh istri yang tak diinginkan. Pernikahannya dengan Sergey hanya berlandaskan bisnis, hubungan mereka terasa dingin dan hampa.
Tak ingin terus terpuruk, Emma memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa berharap pada suaminya. Namun, saat ia mulai bersinar dan menarik perhatian banyak orang, Sergey justru mulai terusik.
Apakah Emma akan memilih bertahan atau melangkah pergi dari pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Eleanor duduk di kursi kebesarannya setelah rapat di adakan, saat itulah ia mendapat pesan di ponselnya.
[Unknown.
Nona, ada orang yang mencari Anda.]
Eleanor menatap pesan itu dengan kening berkerut. Ponselnya masih tergenggam di tangannya, tetapi ia tidak segera membalas.
[Unknown?]
Nomor tak dikenal yang mengiriminya pesan itu menyalakan kewaspadaan dalam dirinya. Ia tahu jelas siapa orang itu, ia adalah mata-mata yang ia selipkan di bar.
Layar ponselnya kembali menyala.
[Unknown.
Dia bilang namanya Sergey. Katanya dia ada keperluan yang ingin di bicarakan dengan Anda.]
Jantung Eleanor berhenti sejenak.
Sergey?
Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat, seolah benda itu bisa menjelaskan kenapa suaminya tiba-tiba muncul dan mencari sosoknya yang berbeda?
Apa yang ia inginkan?
Jari-jarinya melayang di atas layar sebelum akhirnya ia mengetik balasan.
[Di mana dia?]
[Unknown.
Sudah pergi, saya memintanya meninggalkan kartu nama.]
Setelah melihat pesan itu, Eleanor tidak membalas lagi. Ia justru penasaran mengapa Sergey mencari Queen of the Fight, sedangkan mereka sama sekali belum pernah berurusan.
Rasa penasaran yang membumbung tinggi membuatnya langsung membuka laptop, ia mulai meretas data diri milik Sergey.
Eleanor mengetik dengan kecepatan tinggi, matanya terpaku pada layar laptopnya. Jaringan keamanan perusahaan Sergey bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan, tetapi ini bukan pertama kalinya ia menyusup ke sistem seseorang.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya ia mendapatkan akses ke file pribadi Sergey. Matanya menyipit saat membaca informasi yang tertera.
Eleanor bersandar di kursinya, otaknya bekerja cepat. Sergey tidak mencari Eleanor Rosenthal, pengusaha hotel dan properti mewah.
Dia mencari Queen of the Fight, identitas yang selama ini ia sembunyikan dari dunia luar.
Jari-jarinya bergerak lincah, mengakses lebih dalam, mencari tahu lebih banyak tentang gerak-gerik Sergey beberapa bulan terakhir.
Transaksi ilegal dengan kartel senjata di Eropa Timur.
Pertemuan rahasia dengan beberapa pemimpin organisasi bawah tanah.
Catatan transfer dalam jumlah besar ke rekening yang sulit dilacak. Lalu sesuatu membuatnya membeku.
Sergey Ivanov adalah pemimpin The Black Revenants, musuh bebuyutan Emma di kehidupannya yang dulu.
Darah Eleanor terasa membeku di nadinya. Itu mustahil… bukan?
Emma. Nama yang sudah lama ia kubur. Nama yang dulu ia gunakan sebelum akhirnya bangkit kembali sebagai Eleanor Rosenthal.
Emma, yang pernah berjuang mati-matian melawan Sergey dan mafianya. Emma, yang dulu kehilangan segalanya karena mereka.
Dan, orang yang mengkhianati dirinya. Eleanor menggeleng pelan, ia menertawakan takdirnya sendiri.
"Sial, apa ini hanya kebetulan?" Eleanor terkekeh miris. "Jadi, selama ini aku hidup satu atap dengan musuhku sendiri? haha... konyol sekali."
Eleanor menyandarkan kepalanya ke kursi, jantungnya berdetak keras. Amarah dan kekecewaan menyatu menjadi satu dalam dirinya.
***
Lampu di kediaman rumah Eleanor sudah menyala ketika mobil Eleanor tiba di pekarangan rumahnya, ia melihat mobil Sergey sudah terparkir di halaman rumahnya dan ada mobil lain yang baru ia lihat.
Ia mematikan mesin mobil dan tetap duduk sejenak, menatap kendaraan asing itu dengan waspada. Siapa yang datang berkunjung malam-malam begini?
Sergey jarang membawa tamu ke rumahnya, apalagi tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
Dengan napas pelan, Eleanor akhirnya keluar dari mobil. Sepatu haknya beradu dengan kerikil saat ia melangkah menuju pintu depan.
Begitu ia mendekat, suara bentakan terdengar dari dalam rumah. Suara laki-laki, bukan hanya Sergey.
Eleanor mendorong pintu masuk dan segera disambut oleh ketegangan yang memenuhi ruang tamu.
Sergey berdiri dengan ekspresi murka, tangannya terangkat seolah siap mendorong pria yang berdiri di depannya, seseorang yang belum pernah Eleanor lihat sebelumnya, tetapi kemiripan mereka terlalu mencolok untuk diabaikan.
"Nikolai, aku sudah bilang kamu tidak diterima di sini!" suara Sergey terdengar tajam.
Pria bernama Nikolai itu berdiri tegak, rahangnya mengeras. Matanya menyala dengan kemarahan yang sama besarnya.
"Aku tidak peduli, Kak! aku hanya ingin bicara, tapi kamu selalu memilih jalan kekerasan!"
Eleanor mengerjap, kaget melihat Sergey yang biasanya tenang kini tampak begitu kasar.
Tanpa berpikir panjang, ia maju selangkah. "Apa yang sedang terjadi di sini?"
Sergey menoleh cepat ke arahnya, napasnya memburu. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Eleanor. Ini urusan keluargaku."
Nikolai mendengus sinis. "Urusan keluarga, katanya. Lucu sekali, mengingat kamu sudah bertahun-tahun memperlakukanku seolah aku bukan siapa-siapa."
Eleanor menatap Nikolai lebih saksama. Ada luka di sudut bibirnya, seakan ia baru saja menerima pukulan. Sergey tidak mungkin... bukan?
"Sergey," suara Eleanor terdengar lebih tenang, tetapi penuh ketegasan. "Apa pun masalahnya, kamu tidak bisa menyelesaikannya dengan kekerasan."
Sergey menyapu rambutnya ke belakang dengan kasar. "Orang ini sudah cukup membuat masalah di hidupku."
Nikolai menatap Eleanor, lalu kembali menatap Sergey. "Aku tidak akan pergi sampai kamu mendengar apa yang ingin kukatakan."
Hening sejenak, atmosfer tegang masih menggantung di udara. Eleanor bisa merasakan bahwa ini bukan hanya pertengkaran biasa.
"Pergi dari sini sialan! aku tid-"
Sergey langsung terdiam saat tangan istrinya tiba-tiba menutup mulutnya, tatapan Eleanor sangat tajam hingga membuat Sergey bergidik ngeri.
"Duduk!" perintah Eleanor tak terbantahkan.
Sergey dan Nikolai langsung menurut, mereka duduk saling berhadapan sambil menunduk tanpa berani menatap Eleanor.
Sedangkan, Eleanor duduk di sofa single. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Katakan, ada permasalahan apa di antara kalian berdua?" tanya Eleanor.
Namun, di antara mereka berdua tidak ada satu pun yang menjawab. Eleanor menghela napas kasar lalu kembali bertanya, "Nikolai, jawab pertanyaanku!"
"Se-sebenarnya... Kakak ipar, aku..."
"Aku tidak suka bertele-tele, jelaskan secara singkatnya saja." Potong Eleanor tidak sabar.
Nikolai menelan ludahnya dengan kasar, ia mendongak memberanikan diri menatap wajah Eleanor.
"Aku... dulu aku sempat membuat Kak Sergey kecewa, Kak."
Nikolai menelan ludah, tangannya mengepal di atas lutut. Matanya menatap Eleanor sejenak sebelum ia mengalihkan pandangannya ke Sergey yang masih menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku… aku merebut kekasih Kak Sergey," ucapnya akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan.
Eleanor menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
Nikolai menegakkan bahunya, berusaha menahan rasa malu dan bersalah yang menyesakkan dadanya. "Aku tidak hanya merebutnya… aku tidur dengannya."
Hening.
Eleanor bisa merasakan energi di ruangan itu berubah drastis. Napas Sergey terdengar semakin berat, matanya menyala penuh kemarahan.
"Kamu bilang apa?" suara Sergey bergetar, rahangnya mengatup erat.
Nikolai menghela napas panjang, seakan berusaha mengumpulkan keberanian untuk terus berbicara.
"Aku iri padamu, Kak. Sejak kecil, aku selalu merasa kamu punya segalanya. Kamu anak pertama yang selalu dibanggakan. Kamu pintar, kuat, sukses. Semua orang melihatmu dengan penuh kekaguman."
Sergey mengepalkan tangannya di atas lututnya, otot-ototnya menegang.
"Aku lelah selalu dibandingkan denganmu," lanjut Nikolai, suaranya semakin lirih. "Jadi ketika aku melihat kamu memiliki seseorang yang mencintaimu… aku ingin merusaknya. Aku ingin melihat bagaimana rasanya jika aku yang menang, jika aku yang merebut sesuatu darimu. Aku mendekatinya, merayunya… sampai akhirnya dia memilihku."
Sergey tiba-tiba berdiri, wajahnya merah padam. "Bajingan!"
Namun sebelum ia bisa bergerak lebih jauh, Eleanor sudah lebih dulu bangkit dan meletakkan satu tangan di dadanya, menghentikan pergerakan Sergey. Tatapannya begitu dingin, menusuk hingga ke tulang.
"Duduk, Sergey! pembicaraan ini belum selesai," ucapnya dengan nada rendah, tapi penuh perintah.
thor 😄😄😄😄😄😄