"Kata orang, cinta itu berawal dari mata, kemudian turun ke hati. Namun, itu tidak berlaku bagi kami. Cinta kami bermula dari getaran yang timbul di dalam hati, sementara mata hanyalah buktinya."- Yuri
Yuanri Agatha, atau yang biasa disapa dengan sebutan Yuri, adalah seorang perempuan dengan paras cantik serta bentuk tubuh yang sempurna. Meski begitu kisah hidupnya tidak seindah penampilan fisiknya.
Ada satu masa dimana perempuan itu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan hinaan warga sekitar, yang terus melabelnya sebagai wanita penggoda. Padahal, kenyataannya adalah bahwa Yuri selalu menjaga kehormatannya.
Keputusan mengakhiri hidup itu ia urungkan saat melihat seorang laki-laki terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah karang, yang lokasinya tidak jauh dari tempat, yang sudah ia rencanakan untuk mengakhiri hidup.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Segera favoritkan kisah ini dan nantikan kelanjutan kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil Jarak
Malam itu, Yuri tidur sendiri di dalam kamarnya. Rosalie tidak masuk ke kamar Yuri. Nampaknya, baik Bram maupun Rosalie masih membutuhkan waktu untuk melepas rindu.
Berbaring sendiri di dalam kamar membuat Yuri memiliki banyak kesempatan untuk merenung. Ya, gadis itu sudah memikirkan banyak hal, setelah sempat mendengarkan percakapan antara Rosalie dan Bram dari balik pintu. Pada akhirnya gadis itu tiba pada satu kesimpulan bahwa ia harus menjaga jaraknya dengan Bram.
Rosalie cemburu. Yuri menyadari hal itu. Sebenarnya, hal yang membuat Rosalie cemburu bukan disebabkan oleh kedekatan Yuri dan Bram, melainkan karena perempuan itu tidak bisa memahami dan melayani Bram, sebaik Yuri memahami dan melayani laki-laki itu. Mengambil jarak dan memberi waktu kepada Rosalie untuk belajar mendampingi Bram adalah solusi yang terbaik.
Pagi ini, Yuri bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, Yuri pun bergegas pergi ke dapur untuk memasak makanan bagi mereka bertiga. Ia menyiapkan semuanya dengan sangat cepat, sambil berharap bahwa semua akan selesai tepat pada waktunya, yaitu sebelum sepasang kekasih itu terbangun dari tidurnya.
Setelah selesai, Yuri menuliskan sebuah catatan tentang apa saja kebiasaan Bram selama ini dan menaruhnya di meja makan agar Rosalie bisa membaca dan melakukannya. Yuri juga meninggalkan ATM milik Bram berikut PINnya di atas meja. Sepertinya gadis itu benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk tidak terlalu mengurusi keperluan Bram lagi.
Hari ini sebenarnya adalah hari di mana Yuri biasa pergi untuk menjual lukisannya ke kota. Pada hari-hari seperti ini, Bram biasanya akan menemani gadis itu menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan menggunakan transportasi umum ke kota, sembari melepas kejenuhan karena terlalu banyak berada di dalam rumah. Kini, setelah kehadiran Rosalie di antara mereka, Yuri tentu tidak bisa mengharapkan Bram mendampinginya lagi. Gadis itu pun memilih untuk bepergian seorang diri.
----------------------
"Dimana Yuri? Kenapa dia tidak ikut makan bersama kita?" Bram menanyakan keberadaan Yuri kepada Rosalie, saat mereka sedang berada di ruang makan.
"Pergi ke kota untuk menjual lukisan. Nona Yuri meninggalkan pesan untukku di atas meja makan ini," balas Rosalie sambil menyiapkan sepiring nasi berikut lauk serta sayurnya untuk disantap oleh laki-laki itu.
"Pagi-pagi begini?" Bram mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Yuri berangkat pada jam-jam seperti ini.
"Sepertinya begitu, buktinya dia tidak ada di dalam rumah. Sudah, sebaiknya sekarang kita fokus menyantap makanan yang sudah disiapkan olehnya," ucap Rosalie berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Rosalie sudah duduk tepat di samping Bram. Gadis itu sedang bersiap-siap untuk menyuapi kekasihnya. Namun, seperti biasa, laki-laki itu tidak ingin dibantu. Baginya, terlalu sering merepotkan orang akan membuat dirinya semakin terlihat lemah. Dan Bram tidak suka terlihat lemah, apalagi di depan gadis itu.
"Kenapa tidak menggunakan mangkok?" Selama ini Bram tidak pernah makan dengan menggunakan piring.
"Aku sedikit risih melihat Mas makan dengan menggunakan mangkok. Aku bisa memahaminya jika ini makanan berkuah, tapi untuk makanan yang kering seperti ini aku rasa itu sangat aneh." Rosalie mulai mengkritisi cara Yuri memperlakukan Bram selama ini.
"Tapi sayang, aku sudah terbiasa makan dengan menggunakan mangkok, karena..." Bram menjeda ucapannya, karena Rosalie langsung memotong.
"Hanya Anj*ng peliharaanku di rumah yang makan dengan menggunakan mangkok untuk jenis menu seperti ini." Rosalie seketika marah karena Bram tidak sepaham dengannya.
"Hei-hei, kamu marah?" Bram menyentuh tangan kekasihnya. Sementara, Rosalie hanya menangis.
"Aku tidak bisa makan dengan piring karena pasti akan sangat berantakan. Itu sebabnya Yuri menggunakan mangkok agar makananya tidak jatuh ke atas meja." Bram mencoba menjelaskan kondisinya pelan-pelan kepada gadis yang merajuk itu.
"Tapi, aku bukan Yuri. Aku sudah terbiasa dengan aturan-aturan makan yang baku. Aku terbiasa menggunakan peralatan makan sesuai dengan fungsinya masing-masing," jawab Rosalie dengan emosi.
"Baiklah! Sudah jangan marah lagi. Aku akan makan dengan piring. Hmm?" Bram menuruti perkataan kekasihnya. Meski kesulitan, akhirnya ia bisa menghabiskan makanan itu dengan susah payah dan dalam kondisi meja makan yang berantakan.
--------------------
*Tiga Minggu Kemudian*
Hari demi hari berlalu. Tidak terasa hari dimana operasi mata itu akan dilaksanakan sudah semakin dekat. Satu minggu lagi dan kehidupan Yuri akan kembali seperti dulu. Sebuah kehidupan tanpa Bram.
Sejak awal, Bram sudah menjelaskan kepada Rosalie bahwa ia tidak bisa meninggalkan rumah Yuri, sebelum penglihatannya pulih kembali. Bagaimana pun juga warga menganggap Yuri adalah istrinya. Ia harus membuat skenario yang jelas, sebelum pergi dari desa itu. Jika ia tidak melakukannya dengan baik, maka Yuri bisa menjadi korban amukan warga, yang merasa dibohongi.
Sejak percakapan Bram dan Rosalie malam itu, Yuri benar-benar menghindari Bram. Ia berusaha menutup mata dan telinganya. Ia membiarkan Rosalie mendampingi laki-laki itu, meskipun banyak insiden yang terjadi setelahnya.
Beberapa kali Bram hampir terjatuh karena Rosalie mengubah posisi kamar laki-laki itu, meja makan selalu berantakan karena Bram makan menggunakan piring, dan masih banyak kekacauan lain yang terjadi. Sebenarnya Yuri cukup sulit menahan diri saat melihat kekacauan itu, namun ia teringat kembali akan kecemburuan Rosalie padanya. Gadis itu tidak mau menjadi penyebab pertengkaran mereka.
Selama tiga minggu ini, Yuri jarang berada di rumah. Gadis itu hanya berada di rumah untuk menyiapkan makan, bersih-bersih, dan tidur. Selebihnya, ia akan berada di luar.
Bram sempat menanyakan keberadaan Yuri pada Rosalie, karena mereka jarang bertemu. Rosalie menjawab sesuai dengan alasan yang disampaikan Yuri padanya. Yuri sudah mengganti spot melukisnya di pantai karena membutuhkan suasana baru.
Awalnya Bram percaya dengan alasan itu, tetapi lambat laun laki-laki itu juga mulai curiga. Gadis itu mungkin tidak ingin mengganggu aktivitas Bram dan Rosalie dengan keberadaannya. Jika waktunya memungkinkan, Bram sudah merencanakan untuk menanyakan hal itu kepada Yuri.
---------------------
"Terima kasih kak Radit. Kakak tidak ingin mampir dulu?" Yuri mengucapkan terima kasih saat gadis itu baru saja turun dari mobil dokter muda, yang merupakan kawan Bram.
Sudah beberapa kali, Yuri dan Radit tidak sengaja berpapasan di jalan. Radit menghampiri Yuri yang kelihatan kerepotan membawa alat-alat melukisnya sambil berdiri di tepi jalan untuk menunggu kendaraan umum lewat.
Laki-laki itu tentu sudah bisa menebak alasan dibalik semua kerepotan yang dipilih oleh Yuri akhir-akhir ini. Itu sebabnya, demi meringankan beban gadis itu, Radit sering melewati jalan di mana Yuri biasa menunggu kendaraan umum pada waktu yang sama, supaya ia bisa mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Namun, hal itu hanya bisa dilakukan ketika Radit sedang tidak bertugas di Rumah Sakit.
Demi melancarkan bantuannya, Radit terpaksa berbohong kepada Yuri. Laki-laki itu beralasan bahwa ia sedang mendapat tugas pengabdian masyarakat di desa sebelah. Itu sebabnya Yuri mau menerima tumpangan Radit tanpa curiga.
"Sampaikan saja salamku pada Bram dan Rosalie," balas Radit sebelum kemudian memacu mobilnya meninggalkan rumah gadis itu.
Yuri masih berdiri menatap kepergian Radit. Setelah mobil itu menghilang, barulah ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
---------‐‐-------
"Dari mana?" Suara bariton yang sudah lama tidak terdengar di telinga Yuri menggema di seisi ruangan saat gadis itu baru saja membuka pintu rumahnya.
"Mas Bram?" Yuri terkejut saat melihat sosok itu. Laki-laki yang sangat dirindukannya.
" Dari mana tadi dan siapa yang mengantarmu?" Bram melanjutkan pertanyaannya.
-----------------
Selamat membaca! Mohon maaf seharusnya kemarin double up, tapi karena saya kelelahan jadi double up-nya diganti hari ini ya. Terima kasih atas permaklumannya.