NovelToon NovelToon
Lingsir Wengi

Lingsir Wengi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Supernatural / Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Laila Al Hasany

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....

Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.

Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Bau busuk semakin menyengat, aku mencari ke segala arah. Apa ada bangkai tikus atau binatang yang terjatuh di kamar ini? Aku menutup hidungku, dan duduk di ranjangku. Aku merasa, seperti ada orang yang duduk di sampingku, ketika menengok, tidak ada siapapun di situ. Itu jelas bukan Nyai Sekar. Kepalaku mulai berdenyut-denyut, kurebahkan badanku. Aku terkesiap ketika menatap langit-langit, ada sesuatu atau seseorang menempel di sana. Apa? Apa itu?

Aku memicingkan mata, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Seorang wanita bergelantungan di langit-langit, rambutnya acak-acakan, pakaian lusuh yang compang-camping. Wajahnya seperti hancur, dan tidak ada mata di sana! Hanya rongga yang kopong, menyeringai dengan mulut seperti hampir sobek. Aku seperti terpaku, dan sosok itu mulai bergerak seperti akan menubruk tubuhku. Aku terpekik, tapi tidak ada suara yang keluar! Bau busuk kian menyengat. Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati, pasrah.

Tiba-tiba seperti ada cahaya menyelimutiku, bau harum mawar mulai semerbak. Aku membuka mata, kulihat Nyai Sekar berdiri di tepi ranjangku, ia mengayunkan tangannya, menghalau makhluk seram yang tadi bergelantungan di langit-langit. Dengan jentikkan jari, jendela kamarku terbuka, dan dengan ilmunya, Nyai Sekar melempar makhluk itu keluar, ada bunyi bedebum keras di luar sana diiringi jeritan.

Nyai Sekar duduk di tepi ranjang, mengelus pipiku dengan lembut. Aku mulai bisa bergerak. Seketika aku bangkit, memeluk Nyai Sekar, aku masih gemetaran. Nyai Sekar menepuk punggungku, lembut.

"Tidak apa-apa nduk, sudah tidak apa-apa. Maaf, aku datang terlambat."

Aku mulai merasa aman dan nyaman.

"Terimakasih, Nyai."

Aku melepas pelukanku, dan melihat wajah Nyai Sekar menatapku khawatir.

"Aku tidak menyangka, Dursatya bisa mengirim anak buahnya kesini. Aku kira pagar gaib masih rapat dan berfungsi, tapi kenapa makhluk itu bisa masuk dan mengganggumu di sini, Nduk?"

Aku menggeleng karena ketidaktahuanku. Kemudian, aku teringat bros Mawar yang kubeli di pasar tadi. Aku meraih tasku, mengambil bros dan mengulurkannya ke Nyai Sekar.

"Nyai Sekar sudah memiliki istana, perhiasan, dan masih banyak lagi, ini gak seberapa dibanding apa yang Nyai miliki, tapi aku ingin memberi sesuatu buat Nyai, mohon diterima ya, Nyai."

Kulihat Nyai Sekar seperti terkejut, tetapi tatapan khawatirnya berubah menjadi tatapan hangat. Nyai Sekar tersenyum.

"Cantik Nduk, cantik sekali. Terima kasih. Aku akan memakainya."

Nyai Sekar mengelus brosnya dengan sayang, seakan-akan itu adalah makhluk hidup yang rapuh, hingga Nyai Sekar tidak mau menyakitinya. Melihat reaksi Nyai Sekar, aku merasa terharu. Aku seperti mendapatkan seorang kakak perempuan yang siap menjagaku, membelaku, dan melindungiku. Sebagai seorang putri tunggal, tentu aku terkadang merasa kesepian. Aku juga tak jarang merasa iri dengan cerita Thalia dan adiknya yang bertengkar karena masalah sepele, dan berbaikan karena masalah sepele pula.

Nyai Sekar menatapku balik. Kulihat bros sudah terpasang di kebayanya.

"Ada apa, Nduk?"

"Eh oh, itu ... gak apa-apa kok, Nyai."

Nyai Sekar tersenyum.

"Ya sudah, malam semakin larut. Kamu tidur ya, Nduk! Aku akan di sini sampai kamu terlelap."

Nyai Sekar meraih tanganku. Menepuk punggung tanganku dan mulai bersenandung, kidung yang biasa ditembangkan Simbah putri untuk menidurkanku di waktu kecil. Meski suara Nyai Sekar berbeda dengan Simbah putri, tapi hatiku terasa hangat. Nyaman. Perlahan kantuk mulai menyerangku.

*******

Aku berjalan ke dalam hutan yang lembab dan gelap. Banyak suara-suara aneh di sekitarku. Aku seperti tiba di tengah-tengah hutan. Ada sebuah singgasana di sana. Secepat kilat , tiba-tiba datang berbagai makhluk aneh mengelilingi singgasana, termasuk makhluk yang kulihat bergelantungan di langit-langit kamarku. Mereka semua berekspresi sama, menyeringai. Aku bergidik. Seketika bayangan hitam melesat cepat menuju singgasana.

Bayangan itu duduk di singgasana, menyeringai dan berdiri.

"Aku akan membinasakanmu! Agar aku bisa menguasai kerajaan yang aku impikan. Hahahaha!" Iaa mulai tertawa terbahak-bahak diikuti makhluk-makhluk di sekitarnya.

Aku melihat cermat ke arah sosok itu, sosok yang sama dengan yang menyerangku dulu. Dursatya kah?

Aku berlari dan terus berlari menjauh. Tidak mempedulikan apapun. Terjatuh, dan bangkit lagi. Aku terperosok ke dalam lubang!

"Aaa ..." teriakku.

Aku terbangun, melongo. Memandang sekitar, "Ini ... masih di kamarku," gumamku. Sukurlah. Ternyata hanya mimpi! Kulirik jam di dinding, masih dengan perasaan tegang. Aku bahkan hampir terlonjak ketika mendengar suara adzan subuh dari surau. Aku mengusap wajahku, frustasi, lalu bangun, menuju ke kamar mandi, untuk berwudhu. Seperti biasa, kulihat simbok sudah mendahuluiku, kami berpapasan di depan kamar mandi. Seperti biasa pula, simbok tersenyum.

Setelah menuntaskan semua rutinitas pagi ku. Aku membuka jendela kamar. Hari masih gelap. Angin dingin mulai masuk. Teringat kejadian tadi malam, waktu Nyai Sekar melempar makhluk itu dari jendela ke luar. Aku bergidik, dan menutupnya. Kuputuskan untuk membuat teh manis saja pagi ini, sekedar menghangatkan suasana.

Bersambung ....

1
Nur Bahagia
Ripin 🤣
Nur Bahagia
jangan2 Sada jadi jin pendamping nya Garvi 🤩
Nur Bahagia
kubah gaib warna perak🤔
Nur Bahagia
siapa nih? 🤔
Nur Bahagia
kannn bener murni sama Rian.. 🤩
Nur Bahagia
ai mbok ga diajak kah? 🤔🥺
Nur Bahagia
sama Rian aja.. yg ketua karang taruna itu 🤗
Nur Bahagia
bisaa aja thaliaa 🤣
Nur Bahagia
Alhamdulillah pak samijan yg terpilih jadi kades nya 🤩
Nur Bahagia
wahh Pin.. Aripiinn... awakmu di senengi wong kutho ki lhoo.. wehhh bejomu lee 😅
Nur Bahagia
🥰
Nur Bahagia
🤩
Nur Bahagia
😍
Nur Bahagia
Alhamdulillah si mbok baik2 aja.. diantara semua tokoh yg ada di novel ini, cuma si mbok idolaku 🔥🥰
Nur Bahagia
ehhh begini doang
Nur Bahagia
malah ngomongin mau nikah.. iki piyee thoo.. mikir selamat aja duluu.. si mbok gimana ini si mbookkk 😭
Nur Bahagia
heettt malah ngobrol.. buruan tuh tolongin mbok Minten 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ini lagi si kenanga.. suruh jagain 24 jam, malah ngendon aja di dalam kotak.. duhh 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ya elaaahhh Thor aku kecewaaa.. kenapa harus mbok Minten 😭
Nur Bahagia
yesss akhirnya terbongkar semua kebusukan mu Senen 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!