Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Status
Bunyi alarm di ponsel membangunkan David yang masih tertidur lelap. Rasanya baru beberapa jam David tertidur, semalam entah hingga jam berapa mengerjakan laporan akhir bulan. Kepalanya terasa begitu sakit dan matanya pun perih akibat kurang tidur, namun David harus segera bangun jika tidak dia akan terlambat berangkat ke kantor.
Sudah biasa bagi David melihat kondisi Arimbi yang masih lelap tertidur saat dia sudah terbangun. Akibatnya David seringkali melewatkan sarapan karena Arimbi yang tak terbiasa memasak di pagi hari.
“Arimbi… bangun Imbi. Arimbi, bangun sekarang atau Mas siram dengan air!!” tegas David sambil menggoyang-goyangkan tubuh Arimbi agar segera bangun.
“Apa sih Mas, Imbi masih ngantuk, jangan gangguin Imbi tidur,” jawab Arimbi dengan suara yang serak.
Tak peduli dengan David, dia melanjutkan tidurnya.
Bukan tanpa alasan David membangunkan Arimbi. Melihat istrinya tak menggubris ucapannya, David semakin kesal.
“BANGUN ARIMBI!! DASAR ISTRI PEMALAS. JIKA TIDAK BANGUN, AKAN AKU CERAIKAN KAMU DETIK INI JUGA!!” teriak David dengan kedua matanya yang memerah.
Dengan rasa malas, Arimbi terbangun.
“Apa sih Mas, ancaman kamu itu ga lucu ya,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kemeja yang kemarin Mas berikan mana?? Hari ini mau aku pake buat rapat internal,” tanya David yang sudah meredam emosinya, dia tidak boleh bersikap kasar dengan wanita hamil.
“Kemeja?? Arimbi belum sempat mencucinya Mas. Kan masih ada kemeja yang lain, pakai saja itu,” sahut Arimbi tanpa rasa bersalah.
Mendengar jawaban Arimbi yang seperti itu, David hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya. Semenjak menikah dengan Arimbi, segala kebutuhannya diurus sendiri.
“Kamu lihat dengan mata kepalamu, Imbi!! Apa masih ada kemeja kerja di lemari sana hah!! Semuanya tertumpuk di dekat mesin cuci, belum satupun yang kamu cuci.”
“Aku kan juga kerja, Mas. Apalagi kondisi hamil seperti ini, belum sempat Imbi mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Harusnya kamu bisa mengerti kondisi Imbi, Mas,” balasnya dengan wajah yang sendu.
“Tapi itu kan sudah tanggung jawab kamu sebagai istri Imbi. Lalu apa gunanya Mas menikahi kamu jika semuanya Mas siapkan sendiri hah. Ternyata kamu tidak lebih baik dari Yuri!!” sahut David dengan telak membuat hati Imbi tersentil.
“Jangan bandingkan Imbi dengan mantan istrimu, Mas. Setidaknya Imbi bisa memberikan apa yang diinginkan oleh Ibu. Yuri hanya wanita mandul yang tidak berguna!!!! seru Arimbi yang berbalik menjadi kesal.
Plakkk
“Jangan pernah menghina Yuri karena Yuri lebih segala-galanya dari kamu, Arimbi. Dan ingat, ibu yang mau anak ini. Bukan Mas!!”
Arimbi tergugu, tak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dan dia masih terdiam di tempatnya. Sedangkan David mengambil salah kaos dari dalam lemari kemudian pergi dengan membanting pintu kamarnya. Perlahan air mata Arimbi menetes begitu saja, pernikahan yang dia impikan tak seindah yang dibayangkan. Meskipun sudah mendapatkan apa yang dia inginkan sejak lama, namun tak mudah merebut hati David yang terukir nama Yuri sejak lama.
“Wanita sialan, harusnya aku menyingkirkan kamu sejak lama!!”
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Tiga bulan berlalu…..
Yuri tertegun sambil memegang sebuah benda berwarna hijau yang tak lain adalah buku nikah miliknya yang beberapa menit lalu sah dia miliki. Semuanya serba kilat, cepat dan ekspres, padahal baru kemarin pagi Ziyan meminta dokumen seperti KTP, kartu keluarga dan surat cerai miliknya. Dan pagi ini saat dirinya tengah mendesain, Gio mengirimkan sebuah pesan untuk segera pergi ke KUA yang letaknya tak jauh dari perusahaan.
Bukan perihal pernikahan yang hanya terjadi di kantor KUA atau pernikahan tanpa resepsi besar. Tapi semua keterkejutan ini membuatnya seolah berada di alam mimpi. Pasalnya selama dua bulan terakhir Gio dan Yuri tak ada pembicaraan soal pernikahan sama sekali. Bahkan Yuri hanya menganggap jika saat itu Gio hanya berupaya untuk menghibur hatinya saat mantan suaminya menikah kembali begitu cepat.
“Pernikahan ini memang terjadi tanpa adanya cinta di antara kita. Tetapi jangan pernah apa yang saya lakukan untuk saat ini hanya permainan. Pernikahan kita sudah sah di mata agama dan negara. Kamu tenang saja, saya akan penuhi semua tanggung jawab saya sebagai seorang suami dan saya harap kamu juga begitu. Untuk resepsi pernikahan, kamu tenang saja. Ziyan sedang mempersiapkan semuanya dan saya harap kamu tak lelah untuk bersabar.”
Ucapan Gio membuatnya segera tersadar dan menatap manik kehitaman itu dengan lekat, tergambar jelas keseriusan dan kejujuran dari matanya.
“Boss tenang saja, saya akan berusaha menjadi seorang istri yang baik meskipun saya pernah gagal dalam berumah tangga. Tolong ingatkan saya jika nanti ada hal yang kurang berkenan.” Dengan serius pula Yuri menanggapi ucapan Gio.
Pandangannya tak putus berusaha memahami ekspresi Gio yang masih saja datar. Meskipun tersimpan rasa dongkol dalam hatinya, Yuri tak bisa mengungkapkan. Bagaimana tidak meski sudah berstatus suami istri tetapi Gio masih saja bersikap dingin dan cuek. Bahkan setelah mengucapkan ijab kabul tak ada kontak fisik yang dilakukannya seperti cium kening dan sebagainya.
Gio menganggukkan kepalanya dan memberikan kode kepada Yuri untuk mengikutinya. PR besar untuk Gio bagaimana memberitahu kabar jika dia sudah menikah kepada keluarga besarnya terutama kepada Ayah dan Ibu tirinya. Sama seperti Yuri, Gio pun beranggapan jika semuanya yang terjadi hari ini adalah mimpi. Bisa-bisanya dia menikah dengan waktu singkat, datang ke KUA untuk ijab kabul dengan penampilan apa adanya. Untung saja uang bisa memperlancar semuanya tanpa ada hambatan yang berarti.
Keduanya hanya dia selama perjalanan, Gio mengantarkan Yuri kembali ke perusahaan karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Jangan bayangkan mereka berdua berbulan madu, sama sekali tidak ada bayangan dalam benak Gio.
Sebelum Yuri keluar dari dalam mobil, Gio mengambil sesuatu dari dompetnya dan mengeluarkan beberapa kartu dan kunci rumah.
“Gunakan ini untuk memenuhi segala kebutuhanmu dari sekarang dan ini kunci kamar jika saya pulang terlambat malam ini. Semua kebutuhanmu sudah disiapkan di rumah jadi cukup bawa barang-barang yang penting,” ucap Gio sambil memberikan kartu dan kunci tersebut kepada Yuri.
Mata Yuri berkedip-kedip berulang kali saat menerima kartu dan kunci kamar tersebut. Bukan hanya satu, tapi tiga kartu sekaligus. Satu buah kartu debit dan dua lainnya adalah kartu kredit dengan warna yang berbeda.
“Saya rasa ini tidak perlu Boss, saya masih memiliki simpanan uang dan saya juga masih bekerja untuk saat ini,” ucap Yuri sambil menyodorkan kembali kartu -kartu tersebut.
Gio mengangkat sebelah alisnya dan memandang wajah istri barunya saat ini, “Kamu sudah menjadi istri saya dan sudah menjadi tanggung jawab saya memberi nafkah untukmu Yuri!!” tegas Gio, tentu sedikit tersinggung dengan penolakan Yuri.
“Gunakan saja saat kamu memerlukannya, yang penting saya sudah memberikannya,” sambung Gio, Yuri pun menganggukkan kepalanya.
Merasa tak ada lagi hal yang perlu dibicarakan, Yuri memutuskan untuk keluar dari mobil Gio. Namun Gio kembali menarik tangannya dan memberikan sebuah kotak yang berisi cincin.
“Meskipun hubungan kita belum terpublikasi, tetapi saya pikir kamu harus memakainya disaat-saat tertentu. Cepat atau lambat hubungan suami istri kita akan diketahui oleh orang-orang di sekitar kita,” ucap Gio, Yuri paham dan mengangguk kepalanya.
Dengan penuh keyakinan, Yuri mengambil cincin tersebut dan memakainya di jari. Kini jari tersebut kembali terisi oleh cincin kawin namun dengan pemilik yang berbeda. Tanpa disadari sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya, Gio yang melihatnya merasa tersentuh.
“Terimakasih Boss, ini langsung saya pakai,” sahut Yuri sambil memperlihatkan jarinya yang telah terpasang cincin pemberian Gio.
“Apalagi Boss!!” seru Yuri tanpa sadar karena lagi-lagi tangannya ditarik oleh Gio saat hendak keluar dari mobilnya.
Gio pun mendekat, membuat tubuh Yuri bersandar pada pintu mobil. Jantungnya berdetak tak karuan bahkan pikirannya membayangkan hal yang tidak-tidak. Kepala Gio semakin mendekat dan Yuri pun memejamkan matanya, Yuri sadar jika Gio saat ini adalah suaminya dan bebas melakukan apa saja.
“Saat kita sedang berdua jangan panggil Boss, cari panggilan yang lain. Dan jangan lupa pakai yang telah saya siapkan di dalam kamar. Ada kotak merah di atas ranjang. Tunggu saja di dalam kamar sampai saya pulang,” bisik Gio tepat di telinga Yuri.
Yuri tertegun dan tersihir perkataan Gio. Rupanya dia telah berpikiran yang buruk kepada suami keduanya. Entah berapa lama Yuri larut dalam lamunan, hingga tanpa sadar tak ada lagi keberadaan Gio di dalam mobilnya. Gio meninggalkan Yuri sendiri di dalam mobil.