SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pedang Mawar yang Membelah Jiwa
Udara di dalam Aula Teleportasi Kota Karang Hijau mendadak menjadi statis. Tekanan energi dari Zhou Tian, sang penguasa kota Tahap Nascent Soul, berbenturan dengan aura hitam pekat milik Lin Xiao. Lantai obsidian di bawah kaki mereka mulai retak dan hancur menjadi debu karena beban gravitasi spiritual yang luar biasa. Para praktisi lain yang tadinya menonton sudah melarikan diri keluar, takut jika mereka akan hancur hanya karena terkena percikan energi dari kedua petarung ini.
"Kau... aura ini..." Zhou Tian menyipitkan matanya, rasa terkejut muncul di balik kemarahannya. "Ini bukan energi spiritual biasa dari praktisi manusia. Energi ini begitu dingin, begitu... purba. Siapa kau sebenarnya, gadis kecil? Tidak mungkin praktisi liar memiliki fondasi sekuat ini."
Lin Xiao tidak menjawab. Ia perlahan mencabut Nightshade dari sarungnya. Bilah pedang hitam itu mengeluarkan suara dengungan yang rendah, seolah-olah ia sedang lapar akan esensi jiwa seorang praktisi kuat. Rambut perak Lin Xiao berkibar meskipun tidak ada angin, dan di belakang punggungnya, bayangan mawar hitam mulai mekar, kelopak-kelopaknya terbuat dari kegelapan yang seakan menelan cahaya di sekitarnya.
"Namaku adalah orang yang akan membawa putramu ke neraka jika kau tidak menyingkir," ucap Lin Xiao, suaranya dingin dan tajam seperti es.
"Sombong!" Zhou Tian meraung. Ia melambaikan tangannya, dan energi hijau di sekitarnya membentuk ribuan duri kayu raksasa yang ujungnya dilapisi racun korosif. "Teknik Rahasia Karang Hijau: Hutan Kematian!"
Ribuan duri itu melesat ke arah Lin Xiao dengan kecepatan yang mampu menembus suara. Lin Xiao tetap berdiri tegak, ia tidak menghindar sedikit pun.
'Seni Nirwana: Tarian Mawar Hitam!'
Lin Xiao mengayunkan pedangnya dalam gerakan melingkar yang anggun. Seketika, ribuan kelopak mawar hitam meledak keluar dari pedangnya, membentuk badai yang berputar cepat di sekelilingnya. Setiap kali duri kayu Zhou Tian menyentuh kelopak mawar tersebut, duri itu tidak hanya patah, tapi hancur menjadi debu karena energinya diserap habis secara instan.
Zhou Tian terbelalak. "Menyerap energi?! Kau memiliki teknik pemakan jiwa?!"
"Bukan hanya menyerap," Lin Xiao tiba-tiba menghilang dan muncul tepat di atas kepala Zhou Tian. "Tapi juga mengembalikannya!"
Lin Xiao menebas turun. Sebuah gelombang energi hitam yang bercampur dengan sisa energi hijau milik Zhou Tian menghantam sang penguasa kota. Zhou Tian terpaksa mengeluarkan perisai jiwanya—sebuah kubah transparan yang merupakan manifestasi dari Nascent Soul-nya.
BOOOOOMM!
Ledakan itu meruntuhkan seluruh atap Aula Teleportasi. Zhou Tian terdorong mundur hingga puluhan meter, kakinya meninggalkan parit dalam di lantai batu. Meskipun perisainya tidak pecah, ia bisa merasakan guncangan hebat pada jiwanya.
Seorang praktisi Inti Emas tingkat puncak secara teori tidak mungkin bisa mengguncang pertahanan seorang Nascent Soul. Namun, Lin Xiao bukan praktisi biasa.
"Kau benar-benar membuatku marah, Gadis Kecil!"
Zhou Tian melepaskan kekuatan penuhnya. Di belakangnya, muncul proyeksi raksasa berbentuk bayi cahaya berwarna hijau—itu adalah penampakan Nascent Soul-nya. Dengan munculnya manifestasi ini, tekanan auranya meningkat sepuluh kali lipat.
"Mati kau dalam kehancuran jiwamu sendiri! Telapak Dewa Karang!"
Tangan raksasa dari cahaya hijau turun dari langit, membawa berat sebuah gunung. Seluruh Kota Karang Hijau berguncang, rakyat di luar kota berlutut karena tekanan yang luar biasa ini.
Lin Xiao merasakan tulang-tulangnya berderak. Inilah kekuatan sejati dari Tahap Nascent Soul; sebuah tingkatan di mana manusia mulai menyentuh esensi keilahian. Namun, di dalam dadanya, Inti Dewa Kegelapan justru berdetak semakin cepat, seolah-olah ia sedang menantang keberadaan Zhou Tian.
‘Jika aku tidak bisa mengalahkan seorang penguasa kota kecil di sini, bagaimana aku bisa menghadapi Sekte Cahaya Suci di Benua Pusat?’ pikir Lin Xiao.
Ia menutup matanya sejenak, memusatkan seluruh sisa energi Jantung Phoenix yang telah menyatu dengan darahnya.
'Teknik Terlarang Nirwana: Pemutus Langit dan Bumi!'
Lin Xiao memegang pedangnya dengan kedua tangan. Seluruh cahaya di dalam kota seolah tersedot masuk ke dalam bilah pedang hitamnya. Dunia mendadak menjadi hitam putih di mata para penonton. Lin Xiao mengayunkan pedangnya sekali, sebuah tebasan vertikal yang sangat tipis dan sunyi.
Garis hitam itu membelah telapak tangan raksasa Zhou Tian menjadi dua. Dan ia tidak berhenti di situ. Garis hitam itu terus melaju, membelah awan di langit dan memotong proyeksi Nascent Soul milik Zhou Tian tepat di tengah.
"Ugh... AH!"
Zhou Tian memuntahkan darah segar yang berwarna keemasan. Proyeksi jiwanya retak. Ia jatuh berlutut, matanya penuh dengan kengerian yang tak terlukiskan. "Pedang itu... pedang itu bisa melukai jiwa?! Siapa... siapa sebenarnya gurumu?!"
Lin Xiao mendarat dengan tenang di depan Zhou Tian yang kini sudah tidak berdaya. Rambut peraknya perlahan kembali menjadi hitam, namun aura dinginnya tetap ada. Ia mengarahkan ujung pedangnya ke leher Zhou Tian.
"Guruku adalah rasa sakit dan pengkhianatan," jawab Lin Xiao. "Sekarang, berikan aku akses ke formasi teleportasi, atau aku akan menghancurkan Inti Jiwamu selamanya. Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang akan membuat kota ini kehilangan penguasanya."
Zhou Tian gemetar. Sebagai praktisi Nascent Soul, ia sangat menghargai nyawanya yang telah ia bangun selama ratusan tahun. Ia menoleh ke arah putranya, Zhou Fan, yang sudah pingsan karena ketakutan.
"Baik... baiklah... ambil saja," ucap Zhou Tian dengan suara parau. Ia mengeluarkan sebuah kunci giok dari saku bajunya dan melemparkannya ke arah Lin Xiao. "Formasi itu sudah siap. Kau bisa pergi ke mana pun kau mau... hanya tolong, jangan hancurkan kotaku."
Lin Xiao mengambil kunci giok itu tanpa ekspresi. Ia berjalan menuju platform teleportasi di tengah reruntuhan aula. Mu Rong dan kakeknya menonton dari kejauhan dengan tatapan seolah-olah mereka sedang melihat seorang dewa yang turun ke bumi.
Sebelum masuk ke dalam formasi, Lin Xiao menoleh ke arah Zhou Tian. "Beritahu semua orang di Benua Pusat. Sang Mawar Hitam telah tiba. Dan aku datang untuk menagih setiap hutang yang belum terbayar."
Lin Xiao mengaktifkan formasi tersebut. Cahaya ungu pekat menelan tubuhnya, dan dalam sekejap, ia menghilang dari Kota Karang Hijau.
Kepergiannya meninggalkan keheningan yang mencekam. Zhou Tian menatap langit yang terbelah akibat tebasan Lin Xiao tadi, menyadari bahwa struktur kekuasaan di Benua Pusat mungkin akan segera berubah selamanya karena kedatangan gadis dari "pinggiran" ini.
Sementara itu, di Kota Awan Putih, di dalam istana mewah milik Sekte Cahaya Suci.
Yun'er duduk di dalam sebuah sangkar emas yang dikelilingi oleh formasi segel cahaya. Ia tampak pucat, namun matanya tetap menunjukkan keberanian. Di depannya, Wei Lan berdiri sambil memainkan sebuah permata merah.
"Jangan menatapku seperti itu, Adik Kecil," ucap Wei Lan dengan nada mengejek. "Kakakmu yang bodoh itu mungkin sedang berjuang melawan perampok di hutan sekarang. Dia tidak akan pernah sampai di sini hidup-hidup."
Yun'er tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Wei Lan merasa tidak nyaman. "Kau tidak mengenal kakakku, Wei Lan. Saat dia sampai di sini, tempat megahmu ini... hanya akan menjadi makam bagimu."
Tiba-tiba, seorang pengawal masuk dengan terburu-buru. "Tuan Muda! Ada laporan dari Kota Karang Hijau! Penguasa Kota Zhou Tian dikalahkan... oleh seorang gadis berambut perak yang menggunakan teknik kegelapan!"
Senyum di wajah Wei Lan membeku. Ia meremas permata di tangannya hingga hancur. "Jadi dia benar-benar datang? Cepat sekali..."
Wei Lan menatap ke arah cakrawala, di mana badai mulai terbentuk. "Baiklah, Lin Xiao. Mari kita lihat seberapa lama mawarmu bisa bertahan di bawah cahayaku."