Gia tidak menyangka jika rekan kerjanya tega menaburkan bubuk beracun ke dalam perlengkapan make up-nya sehingga membuat wajahnya yang cantik berubah menjadi penuh koreng busuk dan menjijikkan. Karena hal itu pula Gia dihina dan dijauhi teman-temannya bahkan sampai dipecat dari pekerjaannya.
Setahun kemudian Gia kembali ke perusahaan itu untuk mengembalikan nama baiknya sekaligus membalas orang yang telah menghancurkan wajahnya.
Bagaimana cara Gia memberikan pembalasan yang setimpal kepada orang-orang yang telah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Realistis
Hari sudah menjelang siang tetapi Gia masih meringkuk di tempat tidurnya. Sekarang hari Minggu jadi Gia ingin menikmatinya dengan bermalas-malasan di dalam kamarnya sebelum besok pagi dia berangkat bekerja dengan statusnya yang baru, sebagai seorang direktur utama. Gia harus siap dengan segala yang akan menantinya di perusahaan.
"Kak, ada yang ingin bertemu kakak," seru Rivani dari balik pintu. Dia tidak berani asal masuk ke kamar Gia lagi setelah Gia memperingatkannya.
Dengan muka bantalnya Gia bangun lalu membuka pintu. Seumur hidupnya dia belum pernah menerima tamu di rumah ini, mungkin hanya Erika, mantan sahabatnya. "Siapa?" tanya Gia sambil membuka pintu, tetapi Rivani sudah tidak ada di sana.
Gia lalu berjalan menuju ruang tamu dan rupanya Rivani sudah berada di sana duduk manis sambil mengamati tamunya tanpa berkedip.
"Arn?! Kamu bilang kamu masih di Irlandia?!" Rupanya Arnold lah tamu yang datang ke rumahnya, jangan ditanya darimana laki-laki itu tahu alamatnya.
"Dari bandara aku langsung kemari. Ayo, temani aku sarapan," ajak Arnold, tetapi lebih terdengar seperti perintah.
"Baiklah, aku bersiap-siap sebentar." Gia hendak kemba ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Kak ... " Belum juga Gia melangkahkan kakinya, Rivani merengek memanggil namanya. Gia menoleh. Dari gelagatnya Gia tahu Rivani ingin dikenalkan kepada Arnold.
"Arn, kenalkan dia adik tiri ku, Rivani," ucap Gia malas.
"Oh ... Hai Rivani, senang bertemu denganmu," ucap Arnold disertai senyum. Rivani terlihat gugup dan salah tingkah sampai tidak bisa berkata-kata. Sementara Gia memutar bola matanya malas lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Ketika Gia sedang bersiap-siap di dalam kamar, dia mendengar suara percakapan dari ruang tamu. Pasti bukan Rivani karena gadis itu sejak tadi tidak bisa bersuara saking terpesonanya melihat Arnold.
Gia buru-buru keluar, pasti itu ibu tirinya. Sumi tidak boleh dibiarkan berlama-lama bicara dengan Arnold, takutnya dia akan mengatakan sesuatu yang memalukan.
"Ah ... Ibu pulang sebentar, ada yang ketinggalan," ujar Sumi tanpa ada yang bertanya. Gia yakin, pasti Sumi melihat Arnold datang dari warungnya lalu berlari pulang untuk melihatnya.
"Nak Arnold, kalau memang hubungannya dengan Gia sudah dekat, langsung diresmikan saja. Tidak usah nunggu lama-lama," kata Sumi. Ini lah yang dikhawatirkan Gia, Sumi mengatakan sesuatu yang memalukan, seperti ini contohnya. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba meminta Arnold meresmikan hubungan.
Arnold tertawa. "Sebenarnya saya juga ingin secepatnya, tetapi Gia belum mau. Tolong bantu saya meyakinkan dia, Nyonya," balasnya sedikit bercanda. Pada dasarnya Arnold memang orang yang supel dan ramah, sangat berbeda dengan adiknya Julian.
"Ah, jangan panggil saya Nyonya, panggil Bu Sumi saja. Iya, pasti saya akan bantu untuk membujuk Gia."
"Kita jadi pergi, atau kamu ingin berbicara saja dengan ibuku?" tanya Gia datar. Dia tidak suka melihat Sumi berusaha sok dekat dengan Arnold.
"Permisi, Bu Sumi. Saya ijin untuk mengajak Gia keluar sebentar," ujar Arnold sopan. Bagaimana pun juga mommy nya selalu mengajarkan untuk bersikap sopan kepada orang tua.
"Ya, silahkan. Lama juga tidak apa-apa," balas Sumi tersenyum lebar. Gia hanya bisa mendengus melihat tingkah Sumi.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka, Arn. Aku tidak mau mereka memanfaatkan kamu," ujar Gia begitu mereka berada di dalam mobil yang sudah melaju.
"Aku tidak masalah mereka memanfaatkan aku, selama aku bisa dekat denganmu. Apalagi sampai meyakinkan kamu agar mau menikah denganku," ujar Arnold dengan santainya.
Merona, itu yang terjadi pada Gia sekarang. Maksud hati ingin memperingatkan Arnold agar tidak dekat-dekat dengan keluarganya, tetapi justru gombalan maut yang dia dapatkan sebagai balasannya.
Seandainya saja hubungan Gia dan Sumi cukup dekat, mungkin Gia akan mengajak Arnold makan di warung makan ibunya yang sederhana. Makan bersama layaknya sebuah keluarga, seperti keluarga Arnold memperlakukannya. Gia yakin Arnold tidak akan menolaknya. Tetapi mengingat bagaimana sikap Sumi kepadanya, Gia pun mengurungkannya.
"Gia, apa kamu tidak ingin tinggal di rumah yang lebih besar? Kamu bisa membawa adik dan ibu tirimu tinggal di rumah lama mommy. Rumah yang dulu kamu tempati. Atau kamu ingin rumah baru, aku bisa membelikannya kalau kamu mau."
Gia hanya bisa geleng-geleng kepala tidak mengerti bagaimana orang kaya menghabiskan uangnya. Tetapi bukan itu masalahnya. Gia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Arnold kalau sebenarnya Gia tidak ingin berurusan lagi dengan ibu dan adik tirinya itu. Gia kembali ke rumah itu juga karena dia ingin membalas mereka, bukan karena Gia menyayangi mereka, apalagi sampai memboyong mereka tinggal di rumah tante Dira. No way!!!
"Tidak Arn, sudah cukup bantuan yang kamu berikan padaku. Dan soal keluargaku, biar aku yang mengurusnya. Kamu jangan terperdaya dengan sikap manis mereka."
Kembali ke rumah Gia,
"Arnold itu sudah tampan dan kaya raya, kenapa Gia tidak mau menikah dengannya?! Apa sih yang ada di otak anak itu?!" Sumi uring-uringan tidak jelas setelah kepergian Gia. "Kita harus memikirkan cara agar Gia mau menikah dengan Arnold, secepatnya. Apa kita jebak saja?"
"Sudahlah, Bu. Kalau kakak tidak mau ya sudah, jangan dipaksa. Kenapa ibu terus memikirkan dia? Kenapa ibu tidak memikirkan aku saja. Kalau kakak tidak mau, suruh saja Arnold menikah denganku. Kalau mau menjebak, jebak saja agar dia menikah denganku jangan dengan Gia!"
Sumi hampir tertawa mendengar kata-kata Rivani. Jika saja Rivani bukan anaknya pasti Sumi sudah menyuruhnya berkaca. "Ibu juga maunya begitu, Van. Kamu dapat suami kaya raya seperti Arnold. Gia itu cantik, tidak pakai acara jebak menjebak pun banyak laki-laki yang bersedia menikahinya, sedangkan kamu? Sudah dijebak pun belum tentu Arnold mau menikahimu!"
"Kenapa ibu bicara seperti itu?! Aku ini anak kandung ibu, dan Gia hanya anak tiri ibu! Apa yang aku miliki nanti jika aku punya suami kaya pasti ibu juga akan memilikinya. Beda dengan Gia, Ibu lihat sendiri bagaimana sikapnya sekarang! Besok kalau dia sudah menikah dengan laki-laki itu belum tentu dia ingat dengan Ibu!!!" teriak Rivani tidak terima lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan Sumi begitu saja.
Sejak dulu Rivani menganggap ibunya selalu membela Gia. Itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa Rivani iri kepada Gia dan nekat menerima ajakan Erika untuk untuk menghancurkan wajahnya.
Padahal sebenarnya Sumi hanya bersikap realistis saja. Dulu Sumi bersikap baik kepada Gia karena Gia sudah bekerja keras dan membiayai seluruh kebutuhan mereka. Sebelum Gia bekerja, Sumi juga sangat jahat kepadanya. Sementara sekarang, Sumi bersikap baik karena Gia dekat dengan Arnold yang kaya raya. Sumi berharap jika nanti Gia benar-benar menikah dengan Arnold, dia dan Rivani akan kecipratan kekayaannya. Itu mungkin saja terjadi kalau Sumi terus bersikap baik kepada Gia ataupun Arnold.
Rivani mengunci kamarnya. Dia merasa sangat kesal karena ibunya tidak sepemikiran dengannya.
"Gia!!! Gia!!! Gia!!! Selalu Gia!!! Aku tidak akan diam saja!!!" geram Rivani dalam kamarnya
Direktur biasanya atasannya manager bukan?
Dulu waktu aku bekerja gitu siy..
Direktur Pemasaran membawahi bbrp manager.
🙏🏼🙏🏼
sukses utk karya2 selanjut nya tor...