“Laki-laki mana yang mau menikahi wanita mandul?” sinis ibu Mimi, selaku ibu mertua Alina.
Dituduh mandul lantaran tak kunjung hamil setelah lima tahun pernikahan. Kemudian dipoligami, tapi berakhir dicerai karena menolak menjadi pembantu untuk sang madu yang lagi-lagi hamil. Alina Princesela Kalandra, merasakan semua itu. Namun setelah resmi menjadi janda, Alina yang sempat terjebak ‘cinta satu malam’ dengan Dharen sang bos, justru dinyatakan hamil!
Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa wanita tangguh yang dianggap hina oleh mantan suami, mantan ibu mertua, bahkan pihak dari madunya hanya karena Alina orang kampung sekaligus dianggap mandul, justru hamil? Parahnya, Alina terancam menjadi nyonya besar. Sementara Dharen yang berasal dari keluarga kaya raya, merupakan bos Yusuf—mantan suami Alina.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 : Undangan Pernikahan
“Sus, barusan aku kepo ke kakakku. Kata kakek, kalau kita kondangan ke undangan tadi itu yang hari Sabtu, kita bakalan ketemu suami sama mertuamu.”
Apa yang Dharen kabarkan barusan melalui sambungan telepon, membuat Alina lemas. Alina refleks menjatuhkan ponselnya begitu saja. Alina hilang arah tak ubahnya orang linglung. Namun, fokus Alina dengan sendirinya mencari undangan yang dimaksud. Undangan yang masih di tas bahu Alina dan biasa Alina pakai untuk bekerja. Undangan yang juga masih kelihatan karena tas kerja Alina terlalu penuh.
Tanpa harus melangkah mendekati meja nakas sebelah tempat tidur tas berada, Alina berhasil meraih undangan yang dimaksud. Dengan kedua tangan gemetaran, tubuh tak ubahnya dipanggang, juga dada yang bergemuruh hebat, Alina membulatkan tekad.
Benar, nama mempelai di undangan memang nama Yusuf, suami Alina. Nama yang bersanding dengan nama calon madu Alina.
“Kalian penjah.at! Bedeb.ah! Tunggu kesuksesan sekaligus kebahagiaanku sebagai balasan yang pantas untuk kalian!”
“Ya Allah, ... Ya Allah biarkan kali ini saja hamba menangis! Ya Allah rasanya sakit banget kayak ditusu.k-tus.k dari belakang. Meski aku sudah tahu ini akan terjadi, cara mereka beneran enggak manusiawiiiiii!”
Setelah sampai terduduk di lantai, Alina meraung-raung. Kedua tangannya mengelap erat di pangkuan. Andai Yusuf, ibu Mimi, atau Rita ada di hadapannya, tentu Alina sudah menggunakan kedua tangannya untuk menin.ju ketiga manusia bi.adab itu.
“Apa yang kalian lakukan bukan hanya jahat. Apa yang kalian lakukan sudah tergolong biada.b! Namun, aku tidak akan menghalangi kebersamaan kalian. Aku justru akan membuat kalian bersatu, agar kalian sama-sama mend.erita. Agar kalian merasakan nerak.a sebelum kematian!”
Alina melepaskan semua rasa sakitnya melalui tangis. Namun Alina berjanji, besok saat menghadiri pernikahan suaminya sendiri, ia akan tampil sangat cantik. Alina akan bahagia dan membuat manusia biad.ab di sana menyesal seumur hidup.
Beberapa kali, ponsel kentang Alina bunyi. Itu merupakan dering telepon masuk dari Dharen. Ponsel Alina sampai sekarat karena terlalu sering ditelepon Dharen. Namun, Alina tidak berniat menjawab telepon Dharen. Alina mengabaikan pemuda yang di beberapa kesempatan, kerap Alina minta untuk menikahinya.
“Har.am hukumnya sedih-sedih apalagi terpuruk buat mereka. Bangun, Na! Mandi, perawatan, siap-siap buat besok sore kondangan ke pernikahan kudanil!”
Alina bahkan meninggalkan ponselnya begitu saja di lantai. Alina memutuskan mandi dan melakukan serangkaian perawatan kecantikan di dalam kamar mandi.
Sekitar dua jam kemudian, seseorang menggedor pintu dengan sangat tak sabar. Gedoran khas orang marah. Alina yang tengah mengeringkan rambutnya sambil duduk di pinggir tempat tidur, jadi terusik.
“Siapa? Padahal harusnya mas Yusuf dan ibu Mimi enggak tahu aku di sini. Kecuali, ... kecuali jika mereka mengikutiku secara diam-diam.” Alina memilih merampungkan kesibukannya. Bahkan meski dari luar, pintu kamarnya terus digedor.
“Lagi mode berusaha menikmati hidup, meski sebenarnya memang sedang enggak ada yang bisa dinikmati,” lirih Alina benar-benar malas.
“Brag! .... Bragggg!”
Namun, pintu tak lagi hanya digedor. Melainkan sampai didobrak.
“Cari gara-gara tuh orang! Enggak tahu kalau aku lagi marah, jiwa ibu-ibuku bisa bikin aku mirip Mahakalee! Jan.cuk, emang!” kesal Alin.
Setelah buru-buru mematikan hair dryer-nya, Alina segera membuka pintunya. Namun, Alina melakukannya dengan trik. Hingga siapa pun di luar sana yang sudah menggedor kemudian berusaha mendobrak pintunya, akan kebablasan masuk kamarnya.
“Eeeeeh!?” keluh seorang pria selaku pelaku di balik pintu kamar yang Alina tempati.
Alina yang mengenali pria bertubuh tinggi itu justru Dharen, buru-buru menarik sebelah tangan Dharen. Pemuda itu nyaris terban.ting. Bisa kiamat dunia Alina andai Dharen benar-benar terbant.ing.
“Jangan, ... jangan sampai terluka. Yang ada aku bisa dipinalti sama dia!” batin Alina yang mengerahkan kekuatan ibu-ibu dalam dirinya untuk merengkuh Dharen.
Meski pada akhirnya tubuh Alina berakhir menghanta.m tembok di belakangnya kemudian dipepet Dharen. Alina merasa jauh lebih lega ketimbang Dharen sampai lecet atau setidaknya terkilir.
“Wangi banget, ya? Si Sus kalau sedang mode begini memang wanita tulen. Asli, aku makin penasaran sama madunya. Masa enggak lebih baik dari Sus. Tuh suami idi.ot apa memang kesurupan?” batin Dharen sengaja membenamkan wajahnya ke kepala Alina. “Ya Allah, rezeki nomplok. Marahnya di—paus dulu!” batinnya.
Beberapa saat kemudian, Alina agak mendorong Dharen. Alina melepaskan diri dari dekapan Dharen. “Si embrio kayaknya lagi kurang waras deh,” batin Alina yang kemudian menatap heran wajah Dharen.
Selain jadi celingusan khas orang gugup, pipi Dharen juga jadi bersemu. Padahal harusnya jika Dharen marah layaknya gedoran yang dilakukan. Yang mana Dharen juga sampai berusaha mendobrak pintu kamar Alina. Harusnya wajah Dharen merah padam, bukan merah merona.
Namun, Dharen yang sadar sudah dicurigai oleh Alina, buru-buru mendorongkan sebuah kantong berisi kotak, di tangan kanannya.
“Gedeg aku, telepon kamu saja susah banget! Memangnya kamu belum ganti hape? Kamu bilang mau beli hape baru, biar hapemu enggak kentang?!” marah Dharen sudah dalam mode kembali marah. Setelah kecantikan Alina membuatnya khilaf dan diam-diam memanfaatkannya.
“Ini, ... potong gaji?” tanya Alina berangsur meraih kantong yang Dharen hanta.mkan ke wajahnya. Kantong yang ia yakini berisi ponsel baru.
“Ya iya ... masa iya aku potong leher kamu. Yang ada aku berurusan dengan polisi!” balas Dharen mengomel.
Alina yang sudah terbiasa dengan mulut keji tak manusiawi Dharen, menganggap balasan barusan sebagai angin lalu.
Ketika Alina membuka kantong bahan pembungkusnya, Dharen berkata, “Ponselmu enggak boleh lebih bagus dari punyaku!” Ia juga sengaja memamerkan ponsel barunya.
“Bos beli ponsel lagi? Boros banget. Kalau jadi suamiku, sudah aku suruh tidur di luar!” Kali ini Alina tak segan mengonel.
Namun Dharen yang paling anti ada yang lebih darinya berkata, “Kalau kamu sampai nyuruh aku tidur di luar, aku bakalan tidur sana tetangga!”
Untuk kali ini, Alina tidak bisa untuk tidak tertawa. Tawa yang benar-benar pecah diakhiri dengan Alina yang sampai bilang amit-amit.
Dari yang Dharen amati, semuanya tampak baik-baik saja. Namun selain mata Alina yang memang sangat merah sekaligus sembab, ponsel kentang Alina juga ada di lantai.
“Suami kamu, ke sini?” tanya Dharen kepo ketika Alina memintanya menunggu di luar kamar. Sedekat apa pun hubungan mereka, juga kenyataan Dharen yang merupakan bos Alina, Alina selalu membatasi hubungan mereka.
Disinggung sang suami, Alina jadi ingat undangan pernikahan Yusuf dan Rita. Undangan yang ternyata akan menjadi agenda mereka.
“Besok juga aku akan bikin hiburan tak terlupakan di pernikahan kalian!” batin Alina.
𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩, 𝙠𝙧𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 .𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙛𝙞𝙧𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙖𝙙𝙯𝙞𝙢.
𝙩𝙮𝙥𝙤 𝙩𝙝𝙤𝙧 𝘾𝙚𝙤 𝙙𝙖𝙧𝙧𝙚𝙣 𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙥𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙨𝙚𝙠𝙚𝙧𝙩𝙖𝙧𝙞𝙨.🤔
beautiful story'
mang beda karakter perempuan nya Thor sama novel lain
tapi jujur aku suka
jadi perempuan jangan lah mau terus di sepelekan
ngutip kata katamu Thor
sebenarnya kita yg bisa mengubah jalan cerita kita secepatnya
jgn lah egois mengatas namakan semuanya akan baik-baik saja..
buulsyit
ga akan itu terjadi
ayoooo.... semangat buat othor nya menciptakan karakter wanita lainnya
dan semangat buat para readers juga buat bantu ngehujat🤣🤣
jadi outo ngakak...dasar Darren
tenang aja masih banyak yg menanti
othor paling keren lah..pokoke
padahal di awal pembukaan cerita udah dijelasin
hayoooo ..para readers
jangan lupa yaaa☺️🤣🤣
anggep aja ujian mau naik kelas
mana bener lagi
aku selalu suka deh kata kaya dia