NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus

Suasana di dalam kamar rawat itu mendadak terasa begitu sakral. Seolah-olah waktu berhenti berputar hanya untuk memberikan ruang bagi dua jiwa yang selama ini berteman dengan tanda tanya. Arlan masih menggenggam tangan Hana, sementara sapu tangan biru itu berada di tengah-tengah mereka, menjadi saksi bisu kembalinya ingatan yang sempat terkubur.

Arlan menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa syukur, kagum, sekaligus penyesalan yang mendalam.

"Sepuluh tahun, Hana... Sepuluh tahun saya menyimpan kain ini," suara Arlan rendah, bergetar karena emosi.

"Saya mencari kamu ke setiap sudut kota, ke setiap sekolah yang sekiranya punya seragam seperti yang kamu pakai hari itu. Tapi dunia terlalu luas, dan saya kehilangan jejak. Sampai akhirnya, saya bertemu dengan Inggit."

Arlan menjeda kalimatnya, menarik napas panjang untuk menata hatinya.

"Saya mencintai Inggit dengan tulus. Dia adalah wanita yang luar biasa. Bahkan, Inggit tahu tentang sapu tangan ini. Saya menceritakan segalanya padanya, tentang gadis kecil yang menyelamatkan nyawa saya. Inggit tidak marah, dia justru ikut mendoakan agar suatu hari saya bisa mengucapkan terima kasih secara langsung pada pemiliknya."

Hana mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Inggit, sahabat yang sudah ia anggap kakak sendiri, ternyata sudah memegang rahasia ini lebih dulu.

"Lalu... hari itu tiba," lanjut Arlan, senyum tipis muncul di bibirnya.

"Hari pertama saya masuk ke kelas sebagai dosen di kelas kamu, dan saya melihat kamu duduk di sana. Saya terpaku, Hana. Sorot mata itu... sorot mata yang sama dengan gadis di gang itu. Saya ingin berteriak, ingin menanyakan apakah itu benar kamu, tapi saya sadar posisi saya. Saya sudah memiliki Inggit, dan kamu adalah mahasiswi saya."

Arlan mengusap punggung tangan Hana dengan ibu jarinya.

"Saya memilih diam. Cukup melihatmu dari jauh, memastikan kamu baik-baik saja, itu sudah cukup bagi saya. Tapi takdir punya cara yang lebih gila. Kamu ternyata bersahabat dengan Inggit, lewat bisnis yang kalian jalani. Kamu menjadi rumah yang tidak ditemukan Inggit dari saudara-saudaranya sendiri. Melihat caramu merawat Inggit saat dia sakit, kekaguman saya padamu berubah menjadi rasa hormat yang luar biasa. Kamu adalah sosok paling baik yang pernah saya temui."

Hana terisak pelan. Ia teringat betapa seringnya ia merasa Arlan menatapnya dengan cara yang aneh saat ia berkunjung ke rumah Inggit dulu. Ternyata, itu adalah tatapan penuh kerinduan dan terima kasih yang tertahan.

"Lalu Inggit pergi... dan dia meninggalkan wasiat itu," Arlan menunduk, bahunya sedikit bergetar.

Dunia saya hancur saat kehilangan Inggit, tapi di saat yang sama, jantung saya seolah ditarik kembali ke masa lalu, dan saat dia memintamu menikah dengan saya. Saya sangat bahagia diberikan kesempatan untuk menjagamu, tapi saya juga hancur melihatmu merasa tertekan dengan wasiat itu. Itulah alasan kenapa saya diam selama ini, Hana. Saya takut jika saya jujur, kamu akan merasa semakin terbebani."

Hana menatap Arlan dengan perasaan sendu. Ia baru menyadari bahwa selama ini, suaminya memikul beban pikiran yang jauh lebih rumit dan berat darinya. Arlan berperang dengan rasa setianya pada Inggit sekaligus rasa cintanya yang mulai tumbuh kembali pada "malaikat kecilnya".

Dengan sisa tenaganya, Hana menggerakkan tangannya yang lemas. Ia menyentuh pipi Arlan yang terasa sedikit kasar karena helai-helai kumis tipis yang tak sempat dicukur. Hana berusaha tersenyum meski wajahnya masih sangat pucat.

"Ternyata kamu orang itu, Mas..." lirih Hana.

"Aku juga... aku juga sempat mencari tahu tentang keadaan pemuda itu setelah insiden perampokan itu."

Arlan tersentak. Kepalanya terangkat, menatap Hana dengan wajah penuh keterkejutan.

"Kamu... mencari saya?"

Hana mengangguk pelan.

"Beberapa hari setelah kejadian, aku kembali ke rumah sakit itu karena merasa penasaran apakah lukamu sudah sembuh. Aku bahkan membawa bekal makanan yang dimasak Mama. Tapi suster bilang, pasien atas nama Arlan sudah dipindahkan oleh keluarganya. Aku tidak diberi tahu ke mana. Sejak saat itu, aku menganggap kita hanyalah dua orang asing yang berpapasan secara tidak sengaja. Aku tidak pernah menyangka... kalau orang itu sekarang ada di depan mataku, menjadi suamiku."

Arlan memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke pipinya. Rasa haru yang membuncah membuatnya tak sanggup berkata-kata. Ternyata, benang merah itu memang tidak pernah putus, mereka berdua saling mencari, saling menunggu, dan akhirnya dipertemukan kembali oleh wasiat wanita yang mereka berdua cintai.

"Terima kasih sudah tidak menyerah mencari saya, Mas," bisik Hana.

Arlan menarik Hana ke dalam pelukannya lagi, kali ini lebih erat, seolah ingin menyatukan kembali kepingan-kepingan takdir yang sempat tercerai-berai. Di dalam ruangan itu, aroma obat-obatan berganti dengan aroma harapan yang baru tumbuh.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!