“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 7
“Maafin Nad-nad pagi tadi, ya, Ndut. Kamu pasti kaget liat Nad-Nad ngamuk begitu,” gumam Nadya.
Sudah sedari siang gadis manis itu mengucapkan kata yang sama pada bayi mungil yang belum mengerti apa-apa, seolah takut Adam menjadi trauma dan tidak mau menyusu lagi dengannya.
Mata bulat Adam mengerjap pelan, senyum polosnya mengembang hingga asi yang baru di hisapnya menetes di sudut bibirnya yang merah muda.
“Ketawa kamu,” celetuk Nadya saat netranya menangkap ekspresi menggemaskan Adam.
“Nen yang banyak, biar kenyang perutmu terus tidur pulas, Nad-nad juga mau tidur, pusing betul kepala Nad-nad gara-gara nangis tadi.” lanjut Nadya sambil mengganti cocomelon yang dihisap Adam.
Bayi mungil itu sontak merengek saat cocomelon di mulutnya di cabut paksa, namun kembali tenang begitu cocomelon satunya masuk ke mulutnya.
“Sabar, Ndut, ganti yang masih penuh isinya biar makin gendut ini perut kamu.” Nadya masih saja berlanjut bergumam seolah Adam paham apa yang dia katakan.
Ia kemudian menghela napas dalam, menatap lekat wajah Adam yang mulai terlelap.
“Kamu tau nggak, Ndut. Dulu sebelum ketemu kamu, tiap hari saya harus pumping ini tetek, sampek stres. Heran juga, kaya mana bisa ini tetek ngeluarin asi, apa karena mau ditakdirkan ketemu kamu, ya, Ndut.” Senyum hangat tergaris tipis di wajah Nadya, ia lalu mengambil tangan Adam, menciumnya dengan penuh kasih, seraya melanjutkan ocehannya.
“Tapi, Nad-nad bersyukur tau ketemu kamu, Nad-nad jadi lupa sama masalah hidup, meskipun di sini nambah masalah juga. Untung ada kamu, Ndut, kalo nggak … kalo nggak, ya, nggak mungkin pula saya nyampe di pedalaman begini,” pungkas Nadya, mengakhiri celotehannya sendiri dengan tawa kecil.
Ia lalu menyimpan cocomelonnya yang sudah terlepas dari mulut kecil Adam, menatap sejenak anak susunya yang sudah tertidur pulas, sebelum memberi kecupan di pipinya yang tembem.
Sementara itu di balik pintu, Rizal mendengarkan dengan raut yang sulit diartikan. Ada rasa kagum yang tergaris, namun terselip juga rasa penasaran tentang latar belakang Nadya.
Sejak kejadian di rumah sakit, ia memang tak lagi menanyakan perihal masalah yang sedang dihadapi Nadya. Memilih berlaku profesional sesuai dengan yang dikatakan gadis itu. Termasuk tentang uang perjanjian yang tak kunjung mau Nadya terima tiap kali ia ingin memberikannya.
Rizal mengusap wajahnya kasar, menghela napas ringan—berusaha menghilangkan rasa penasaran di hatinya. Ia lalu mengetuk pintu kamar, menunggu sejenak sampai suara Nadya terdengar mempersilahkan masuk.
Senyum hangat tersungging di wajah tampan laki-laki itu begitu masuk kamar, ia lalu bertanya dengan suara pelan.
“Sudah dari tadi Adam tidurnya?”
“Barusan,” jawab Nadya singkat.
“Rewel tidak hari ini? Abang tadi berangkat sebelum subuh jadi tidak pamit Adam,” ucap Rizal sambil masuk ke kelambu untuk mencium sang putra.
Nadya menggigit bibir bawahnya, ada keraguan dalam nada bicaranya. “Nggak, cuma itu …,”
“Abang sudah dengar, Ibu barusan cerita. Kamu yang sabar, ya? Besok Abang coba bicara sama neneknya Adam.” sela Rizal. “Kita makan bakso, yok, Abang tadi sebelum pulang mampir beli bakso, itu lagi di panasin sama Ibu,” ajak Rizal kemudian seraya berjalan keluar kamar.
Nadya tak menjawab, hanya mengikuti di belakang Rizal.
Di dapur, wangi gurih kuah bakso menguar, berpadu senyum hangat Bu Harmi yang sedang menyiapkan mangkuk. Tangan wanita paruh baya itu begitu cekatan menuangkan kuah dan beberapa pentol bakso.
“Biar Nadya bantu, Bu?” tawar Nadya saat melihat Bu Harmi kerepotan membawa dua mangkuk bakso.
“Ndak usah, sudah sana kamu duduk saja di meja, biar Ibu yang siapkan.” Tolak Bu Harmi, lembut.
Nadya kembali diam dan menuruti perintah Bu Harmi untuk duduk di meja makan, bergabung bersama Rizal yang sudah lebih dulu duduk dengan beberapa bungkus kerupuk di depannya.
Ada rasa sungkan di hati gadis manis itu saat melihat Bu Harmi begitu telaten melayaninya dan Rizal, namun jauh dari semua itu ada sebuah rasa yang menghantam telak dinding hatinya. Kehangatan keluarga.
Embun menggantung di dedaunan, angin lembah bertiup pelan membawa aroma bunga kopi dan lada yang saling bertubrukan. Traktor-traktor meraung keras di garasi-garasi, melaju pelan menuju perkebunan sawit yang berada di ujung desa, meninggalkan asap tebal dan debu jalanan.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Bu Sartini datang dengan membawa amarah yang sudah jelas tujuannya. Nadya. Wanita beralis lancip itu sudah bersiap menyemprot Nadya saat melihat gadis itu duduk santai di teras rumah sambil memangku Adam. Namun, amarah tidak jelas itu harus ia tahan saat melihat Rizal keluar dari dalam rumah dengan pakaian santai.
“Kamu nggak ke areal, Zal?” tanya Bu Sar begitu sampai dan memarkirkan motornya.
“Tidak, Mah,” jawab Rizal singkat, lalu mengambil Adam dari pangkuan Nadya seraya berujar pelan. “Kamu siapkan air untuk mandi Adam.”
Nadya mengangguk samar, kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Bu Sar, bahkan melirik pun tidak.
Melihat wajah masam Nadya, bibir tipis Bu Sar berdecih sinis, sorot matanya menjurus pada langkah Nadya yang perlahan meninggalkan teras rumah.
“Cih, pembantumu itu makin hari makin sok sekali, Zal. Gitu kok kamu masih mau mempekerjakannya,” sungut wanita itu.
“Nadya bukan pembantu, Mah, harus berapa kali Rizal ngasih tau kalian?” sahut Rizal.
“Halah, mau ibu susu kek, babysitter kek, pengasuh, tetep aja dia pembantu yang makan dari uang kita. Kamu kenapa sih, Zal, sampe segitunya membela perempuan nggak jelas itu. Dia itu nggak baik, Zal, nggak punya sopan santun, sombong, sok berkuasa mentang-mentang bisa netekin Adam.” Oceh Bu Sar, sudut matanya menatap sinis ke arah Nadya yang kembali ke teras untuk mengambil Adam.
“Kalo ada kamu aja sok baik, sok perhatian, kalo nggak ada udah kaya Nyonya. Dasar tukang cari muka!” cibir wanita beralis lancip itu.
Nadya memilih tetap diam, meski dalam hatinya ia ingin menempeleng mulut wanita paruh baya itu.
“Heh! Nadya, kamu mendadak bisu, atau lagi cari muka di depan mantu saya. Kemarin aja kamu lempar saya pake botol pas nggak ada Rizal, kenapa sekarang diem aja? Biar dianggap perempuan baik, penyabar? Bener-bener munafik kamu!” hardik Bu Sar yang semakin naik pitam.
Nadya menatap tajam ke arah Bu Sar, raut wajahnya serius, tapi ada senyum remeh yang terselip di dalamnya. Ia kemudian berlalu begitu saja, membawa serta Adam di gendongannya.
Merasa dipermainkan oleh sikap Nadya membuat Bu Sar semakin tersulut emosi. Jarinya mengacung tajam ke arah Nadya sedang satu lagi bertopang di pinggang.
“Dasar pembant—”
“Mah, sudah!” sergah Rizal, cepat. “Mamah kenapa sih segitu bencinya sama Nadya? Apa salah Nadya?!” tanyanya, akhirnya.
Bu Sar berbalik badan, menatap ke arah sang menantu yang berdiri di belakangnya. “Dia itu munafik, Zal. Kamu itu terlalu percaya sama dia cuma gara-gara dia punya asi buat Adam, jadi dia seenaknya aja sama kita!”
Rizal menghela napas lelah, satu tangannya mengusap wajah kasar. “Seenaknya yang kaya gimana, sih Mah? Nadya bagus kok kerjanya, telaten juga ngurusi Adam, nggak cuma ngasih susu tapi semua keperluan Adam dia yang urus sendiri. Apalagi yang salah?”
“Ini lah kamu, Zal. Mudah percaya sama orang. Cuma di kasih tunjuk begitu sudah langsung luluh. Kalau cuma ngurus Adam, Dewi juga bisa, malah dia bisa bantu ngurus keperluan kamu. Waktu ada Sukma dulu Dewi biasa bantu kan?” sahut Bu Sar dengan raut wajah yang masih menahan amarah.
Rizal memejamkan mata sejenak, menghirup udara sebanyak-banyaknya—menahan amarah yang sudah menggantung di udara. Sejak kepergian Sukma istri tercintanya, mertuanya itu memang terang-terangan memintanya untuk menikahi Dewi adik Sukma alias turun ranjang.
“Mamah, masih berpikir Rizal mau turun ranjang?” tanya laki-laki itu tanpa basa-basi.
“Kalau memang bisa kenapa tidak. Daripada kamu digoda perempuan nggak jelas kayak si Nadya itu, mending sama Dewi yang sudah jelas bibit bobotnya. Bisa lebih sayang juga sama Adam karena ada darah Sukma, dan yang paling jelas, Dewi anak baik-baik nggak kayak pembantumu itu,” sahut Bu Sar, matanya melirik ke kanan dan kiri seolah memastikan Nadya mendengar ucapannya.
“Memangnya Nadya kayak apa?”
Bersambung
Semangat 🔥