NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Standar Sembilan Belas

Aroma tanah basah sisa hujan sore hari di Blitar biasanya menjadi kawan akrab bagi Dimas untuk mencari inspirasi tulisan. Namun, senja itu, bau tanah tersebut kalah telak oleh aroma rokok kretek milik ayahnya yang membumbung di teras rumah. Suasana terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah mendung tidak hanya menggantung di langit, tapi juga di ruang tamu keluarga besar mereka.

Dimas baru saja meletakkan tas laptopnya ketika sang ayah, Pak Subroto, berdeham keras. Sebuah sinyal universal di rumah ini bahwa ada perkara serius yang harus diselesaikan di meja kayu jati peninggalan kakek.

"Dimas, lungguh dhisik. Bapak mau bicara," suara itu berat, tidak menerima bantahan.

Dimas menghela napas, menyampirkan jaketnya, lalu duduk dengan takzim. Ia melirik ibunya yang keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat dan singkong goreng. Tatapan ibunya penuh rasa bersalah, sebuah kode bahwa badai akan segera datang.

"Kamu sudah dua puluh tiga, Dim," buka Pak Subroto tanpa basa-basi. "Coba lihat Nak Aris, anaknya Pak RT. Masih sembilan belas tahun sudah gendong anak. Lha kamu? Masih sibuk ngetik di depan layar sama ngurusin kopi-kopi itu. Kamu mau nunggu umur berapa lagi? Mau jadi bujang lapuk?"

Dimas mencoba tersenyum tenang, meski hatinya mulai gerah. "Pak, usia dua puluh tiga itu masih muda. Bisnis kafe di Surabaya lagi berkembang, tulisan Dimas juga baru mulai dilirik penerbit besar. Dimas ingin mapan dulu biar nanti istrinya nggak susah."

"Mapan itu relatif, Dim!" Pak Subroto memotong cepat, suaranya naik satu oktav. "Bapak dulu nikah sama Ibu cuma modal sawah sepetak sama doa. Nyatanya kamu lahir selamat, sekolah sampai tinggi. Di lingkungan kita ini, kalau lulus SMA belum nikah itu wajar, tapi kalau sudah lulus kuliah dua tahun belum punya calon, itu jadi omongan orang. Bapak malu kalau ditanya orang di masjid, 'Anakmu kok belum laku, Pak Broto?'"

Dimas menunduk, memutar gelas tehnya yang masih panas. Inilah ego yang selalu ia hadapi setiap kali pulang ke Blitar. Standar kebahagiaan di sini diukur dari kecepatan reproduksi dan status pernikahan, bukan dari seberapa jauh seseorang mengejar mimpinya.

"Tapi Pak, Dimas kan di Surabaya. Di sana orang umur tiga puluh baru nikah itu biasa—"

"Iki dudu Surabaya, Dim! Iki Blitar!" seru Pak Broto. "Tetangga kita, Mbak Arum, itu lho. Nikah umur sembilan belas, sekarang anaknya sudah mau masuk PAUD. Ibumu ini juga sudah kepingin nimang cucu. Kamu jangan egois sama cita-citamu terus."

Ibu Dimas mendekat, mengusap bahu putranya dengan lembut. "Dim, ada anaknya teman Ibu di Kediri. Masih kuliah, tapi anaknya penurut, pinter ngaji juga. Namanya Dinara. Kalau kamu setuju, minggu depan kita ke sana. Ibu cuma mau kamu ada yang ngurus di Surabaya nanti."

Dimas menatap ibunya. Ada gurat kelelahan dan harapan yang sangat besar di mata wanita yang telah melahirkannya itu. Di dalam hatinya, Dimas memberontak. Ia ingin berkata bahwa pernikahan bukan sekadar memindahkan tanggung jawab "mengurus diri" dari ibu ke istri. Pernikahan adalah janji suci yang butuh kesiapan mental, bukan sekadar pelarian dari rasa malu pada tetangga.

Namun, sebagai anak yang dididik dengan nilai-nilai kepatuhan agama yang kental, Dimas tahu batas. Ia teringat salah satu ayat tentang berbakti kepada orang tua. Apakah menolak keinginan mereka demi idealisme pribadi adalah bentuk kedurhakaan?

"Dinara masih kuliah, Bu?" tanya Dimas pelan.

"Iya, semester lima. Dia juga nggak keberatan kalau harus kuliah sambil nikah. Orangnya sabar, lho," sahut Ibu dengan nada riang yang dipaksakan.

Dimas terdiam cukup lama. Ia membayangkan hidupnya yang tenang di apartemen kecilnya di Surabaya akan segera berubah. Tidak ada lagi malam-malam panjang menulis naskah hingga fajar tanpa interupsi. Tidak ada lagi kebebasan penuh mengelola kafe hingga larut malam. Ia harus membagi dunianya dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.

"Nggih pun, Pak, Bu," ucap Dimas akhirnya, suaranya terdengar pasrah. "Kalau memang itu yang membuat Bapak sama Ibu senang, Dimas manut. Tapi Dimas minta satu hal; jangan paksa dia berhenti kuliah. Dimas mau dia tetap menyelesaikan apa yang sudah dia mulai."

Pak Subroto tampak bernapas lega. Ketegangan di wajahnya luruh seketika, digantikan senyum kemenangan. "Nah, gitu lho. Itu baru anak Bapak. Soal kuliah, ya terserah kalian nanti. Yang penting sah dulu, biar nggak jadi fitnah dan beban pikiran Bapak."

Malam itu, setelah shalat Isya, Dimas berdiri di balkon kamarnya di lantai dua. Ia menatap bintang-bintang yang tampak lebih jelas di langit Blitar dibandingkan di Surabaya yang penuh polusi cahaya. Ia mengambil ponselnya, membuka catatan digital tempat ia biasa menulis draf novel.

Ia menghapus satu paragraf tentang kebebasan, lalu mengetik satu baris baru:

“Ternyata, bab paling sulit dalam hidup bukanlah menulis akhir dari sebuah cerita, melainkan menyetujui awal dari sebuah cerita yang dituliskan orang lain untukmu.”

Ia teringat nama itu. Dinara. Ia penasaran, apakah gadis itu juga sedang menatap langit yang sama dengan perasaan sesak yang serupa? Ataukah dia memang benar-benar "penurut" seperti kata ibunya?

Satu hal yang Dimas tahu pasti, ia tidak ingin menjadi suami yang otoriter seperti ayahnya. Jika pernikahan ini adalah sebuah keterpaksaan karena standar "Sembilan Belas" yang kolot itu, maka ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadikannya keterpaksaan yang paling membahagiakan bagi Dinara.

"Dek Dinara..." gumam Dimas pelan, mencoba membiasakan lidahnya menyebut nama itu. "Maaf ya, kamu harus terjebak dengan pria yang bahkan belum tahu apa warna favoritmu ini."

Dimas masuk kembali ke kamarnya, menutup jendela rapat-rapat. Di Surabaya, ia dikenal sebagai pemilik kafe yang humoris dan penulis yang kritis. Namun di Blitar, malam itu, ia hanyalah seorang anak yang baru saja menyerahkan kemudinya kepada ego orang tua, demi sebuah label bernama 'bakti'.

Seminggu kemudian, perjalanan menuju Kediri dilakukan. Sepanjang jalan, Pak Subroto tidak berhenti membicarakan betapa bangganya dia karena sebentar lagi akan melampaui tetangganya yang belum juga menikahkan anaknya. Sementara Dimas hanya menatap keluar jendela mobil, melihat sawah-sawah yang berlarian, merasa seolah-olah masa mudanya ikut tertinggal di belakang sana.

Ia tidak tahu bahwa di sebuah rumah sederhana di sudut kota Kediri, seorang gadis sedang meremas ujung almamaternya, menangis dalam diam di depan cermin, mempertanyakan mengapa indeks prestasi kumulatifnya yang tinggi tidak bisa menyelamatkannya dari sebuah perjodohan.

Prolog kecanggungan itu telah dimulai. Dan bagi Dimas, standar sembilan belas tahun itu bukan lagi sekadar angka, melainkan jeruji tak kasat mata yang harus ia ubah menjadi sebuah rumah tangga yang sakinah, bagaimanapun caranya.

"Dim, kok melamun? Ayo turun, sudah sampai," tegur Ibunya.

Dimas membetulkan kerah kemeja batiknya. Ia mengembuskan napas panjang, berdzikir pendek untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena ketidakpastian.

"Nggih, Bu. Bismillah."

Langkah kaki Dimas di atas ubin rumah keluarga Dinara menandai berakhirnya masa bujangnya yang ia cintai, dan dimulainya sebuah pengabdian yang ia sendiri belum tahu ujungnya. Ia hanya berharap, Tuhan tidak sedang bercanda dengan takdirnya kali ini.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!