PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebak-Tebakan
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Belum hilang kepeningan Sam melihat Dipa yang nampak semangat menjadi rivalnya. Dia kembali dibuat pusing melihat kedatangan Firhan dan Gilang. Entah apalagi yang akan dilakukan dua orang itu.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Sam pada Firhan.
“Mau ngajak Aiz makan siang,” jawab Firhan sambi melemparkan senyumnya. Aiza hanya menepuk keningnya saja. Kenapa tiba-tiba banyak kumbang yang mengajaknya makan siang.
“Lo juga?” Sam melihat pada adiknya.
“Eh kaga, bang. Gue ke sini cuma mau nganterin makanan buatan mommy. Tadi bang Firhan ke rumah dulu, sekalian aja gue nebeng ke sini. Ada apaan sih?” tanya Gilang pura-pura tidak mengerti.
Padahal dirinya dan Firhan yang sudah merencanakan ini semua atas petunjuk sang kakek. Saat tahu Sam berencana mengajak Aiza makan siang, Firhan langsung disuruh mengajak makan siang gadis itu di saat bersamaan. Gilang juga diminta menjadi kompor untuk menghasut Dipa agar mau mengajak Aiza makan siang dan usahanya membuahkan hasil. Di sinilah mereka bertiga sekarang.
“Aduh.. kalian kenapa kompak banget sih ngajakin aku makan siang. Ya udahlah, kita makan siang bareng aja biar adil,” seru Aiza.
“Aku setuju. Ayo Aiz, ikut mobilku aja,” ajak Firhan.
“Eh ngga bisa. Aiz pergi sama gue. Kan gue yang pertama datang,” cegah Dipa.
“Mana ada! Aiza pergi sama gue,” sewot Sam.
“Haiissshh.. pada ribut semua. Biar adil gambreng aja,” usul Gilang. kepala Aiza mengangguk setuju.
Mau tidak mau, ketiga pria itu akhirnya mengikuti saran si ulat sagu alias Gilang untuk melakukan gambreng. Tanpa mereka tahu, dari dalam rumah, Zidan dan Ghazi mengintip apa yang dilakukan para pria itu. Zidan hanya menggelengkan kepalanya. Masalah ini terjadi pasti karena ulah ayah dan papa mertuanya yang mencoba menjodohkan anaknya dengan cucu keluarga Hikmat.
“Astaga pesona si Aiz, sampe segitunya,” ceplos Ghazi pelan.
“Semua gara-gara kakek sama opa kamu.”
“Menurut ayah, siapa yang cocok jadi calonnya Aiz?”
“Kalau Firhan terlalu kalem, mana bisa dia kendaliin adek kamu nantinya. Dipa sama somplaknya kaya Aiz, bisa hancur dunia persilatan kalau mereka bersatu. Yang paling cocok itu Sam. Tapi ayah ngga tahu, hatinya Aiz nyantol kemana?”
“Diarahkan aja yah, tapi pelan-pelan arahinnya, biar tuh anak ngga sadar.”
“Hem.. ide kamu boleh juga. Patut dicoba.”
“Ayo cepetan gambreng!”
Suara Gilang menghentikan perbincangan antara Zidan dengan Ghazi. Pandangan keduanya kembali teralih pada tiga pria yang tengah bersiap untuk gambreng. Gilang sebagai wasit segera memberikan aba-aba.
“Hompimah alaium gambreng!”
Kompak ketiga pria itu menggerakkan tangannya dan berhenti setelah mendengar aba-aba Gilang. Dipa dan Firhan menunjukkan punggung tangan, sementara Sam menunjukkan telapak tangan. Pria itu menyunggingkan senyuman penuh kemenangan. Dipa hanya mendengus saja.
“Ayo, neng,” ajak Sam ke mobilnya.
“Wait, jangan main asal kabur aja. Gue ikut mobil abang. Kalau dua orang yang bukan mahram berduaan, yang ketiganya setan. Makanya buat ngusir setan, gue rela jadi menyannya.”
“Kalau kamu jadi menyan, malah manggil setan tambah banyak dong,” timpal Aiza sambil terkikik.
“Dia bukan menyan, tapi apel jin,” seru Sam sambil masuk ke dalam mobilnya.
“Sama aja, bang!”
Gilang segera masuk ke dalam mobil. Pria itu mengambil duduk di samping kemudi. Mata Sam melotot sambil melihat pada adiknya. Dengan isyarat kepalanya dia meminta Gilang pindah ke belakang, tapi pria itu malah menggelengkan kepalanya. Aiza masuk ke kursi belakang, lalu mendudukkan diri di sana. Mau tidak mau Sam menjalankan kendaraannya.
Sementara itu, Dipa yang kalah hompipah masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dia tidak mau pergi bersama Firhan. Mobilnya segera melaju menyusul kendaraan Sam yang lebih dulu pergi. Di belakangnya Firhan menyusul.
🍄🍄🍄
Tiga buah mobil yang dikendarai Sam, Dipa dan Firhan berhenti di depan rumah makan sederhana. Alih-alih membawa ketiga pria yang mengajaknya makan siang ke café atau restoran mahal, Aiza malah membawa mereka ke tempat makan sederhana. Bangunan rumah makan sederhana itu terbuat dari kayu. Ketika mereka masuk, hanya ada meja bentuk lesehan saja. Aiza mengajak semuanya menuju meja yang paling besar dan letaknya paling sudut.
Seorang pelayan yang juga anak dari pemilik kedai datang dengan membawa buku menu di tangannya. Dia menyerahkan buku menu pada Aiza sambil melemparkan senyum. Aiza adalah salah satu pelanggan tetap rumah makan ini.
“Kalian ngga apa-apa kan aku ajak makan siang di sini? Biar sederhana, tapi rasa masakannya ajib loh.”
“Ngga apa-apa. Makan di mana aja asal sama neng, rasanya pasti enak.”
“HOEK,” Firhan.
“Aduh kuping gue gatel,” ujar Dipa sambil mengorek lubang telinganya.
“Astaga abang gue udah kena virus bucin.”
Tanpa mempedulikan ucapan ketiganya, Sam melihat-lihat menu di tangannya. Dia bertanya pada Aiza, menu apa yang enak di rumah makan ini.
“Enaknya makan sama apa, neng?” tanya Sam.
“Nasi tutug oncomnya enak di sini. Aa mau coba?”
“Boleh.”
“Kalian mau apa?” Aiza melihat pada yang lain.
“Samain aja.”
“Teh.. aku pesan nasi tutug oncom satu boboko ukuran sedang, tempe goreng, telor dadar, ayam goreng, cumi asin pedas, sambal, lalap dan sayur asemnya satu mangkok aja.”
“Siap, neng. Minumnya apa?”
“Teh hangat tawar aja.”
Kepala wanita itu mengangguk. Dia segera menuju bagian dalam yang dijadikan dapur untuk menyiapkan pesanan. Sambil menunggu pesanan, Dipa mengajak Aiza bermain tebakan. Tentu saja tebakan yang diberikan Dipa, ada maksud terselubung di baliknya.
“Aiz.. aku punya tebakan. Kalau kamu ngga bisa jawab, kamu harus mau nonton sama aku.”
“Modus,” seru Sam.
“Bodo. Namanya juga usaha. Gimana? Mau ngga?”
“Boleh.”
“Oke.. kalian berdua jadi saksinya. Kalau Aiz ngga bisa jawab, dia bakalan nonton bareng gue. Ini permainan fair ya,” Dipa melihat pada Gilang dan Firhan yang hanya diangguki keduanya.
“Apa persamaan jemuran dengan telepon?” tanya Dipa.
“Kalau sudah kring, baru bisa diangkat.”
“Hahaha… jayus banget lo,” seru Sam. Dia senang karena Aiza berhasil menjawab tebakan Dipa.
“Apa bedanya Meggi Z dengan tukang sayur?”
“Kalau Meggi Z, teganya-teganya. Kalau tukang sayur, togenya-togenya.”
Kembali Dipa harus gigit jari karena Aiza berhasil menjawab tebakannya. Tapi pria itu tidak menyerah.
“Jus apa yang turun dari langit?”
“Jus-tru itu yang aku ngga tahu, hahaha..”
“Kota apa yang banyak bapak-bapaknya?”
“Purwodaddy, hahaha…”
Dipa menepuk keningnya, ternyata Aiza tidak mudah dikalahkan dalam permainan tebak-tebakan ini. Sam tentu saja senang melihat keberhasilan gadis yang dicintainya ini. karakter Aiza hampir sama dengan Dipa, jadi tidak aneh kalau gadis itu bisa menjawab semua tebakannya.
“Udah ngaku kalah aja,” ujar Sam.
“Pertanyaan terakhir. Kalau Aiz ngga bisa jawab, dia nonton sama gue.”
“Oke..”
“Tiga kali tambah sama dengan?”
Untuk sesaat Aiza berpikir mencoba mencari jawaban yang tepat. Tapi gadis itu belum pernah mendengar tebakan seperti ini. Dia meminta waktu pada Dipa untuk berpikir. Senyum tersungging di wajah Dipa. Pria itu yakin kalau kali ini Aiza tidak bisa menjawab tebakannya.
“Nyerah?”
“Bentar.”
Melihat Aiza yang berada dalam posisi bahaya, Sam merasa perlu untuk membantu. Pria itu berbisik pelan di telinga Aiza. Wajah gadis itu langsung sumringah.
“Pertanyaannya apa tadi?”
“Tiga kali tambah sana dengan?”
“Kenyang.”
“Asem.”
“Hahaha..”
Tawa Sam meledak melihat wajah keki Dipa. Untuk pertanyaan terakhir, Aiza berhasil menjawab tebakannya walau lewat bantuannya.
“Curang, itu jawaban dikasih Sam.”
“Kan lo ngga bilang kalau Aiza ngga boleh dibantuin. Sah-sah aja dong,” balas Sam tidak mau kalah.
Baru saja Dipa hendak membalas, pelayan datang membawakan pesanan mereka. Aroma nasi tutug oncom di tambah wangi telur dadar, ayam dan tempe goreng langsung membuat perut mereka meronta minta diisi. Tanpa diminta Aiza langsung mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Sam, membuat pria itu kembali menyunggingkan senyum kemenangan.
🍄🍄🍄
Uluh Eneng langsung ngelayanin aa🤭