Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Setiap tarikan napas membakar tenggorokan Ren seperti serpihan belerang panas.
Rongga dadanya berdenyut perih. Dinding dagingnya mungkin telah dipulihkan oleh siklus pembalikan waktu, namun sistem sarafnya mengingat setiap detik saat taring predator merobek urat lehernya di lorong sebelumnya. Tubuh Ren gemetar pelan, reaksi alami otot-otot yang dipaksa bekerja melampaui ambang batas kewarasan.
Ia membungkuk di tepi ceruk batu basah. Genangan air kelam memantulkan wajahnya di bawah pendar redup lumut fosfor.
Kulitnya pucat kelabu, berlumur daki dan debu batu kapur. Dua lingkaran gelap menggantung tebal di bawah kelopak matanya, sementara kerak darah kering masih menempel di sela cuping hidung. Jejak pendarahan akibat pecahnya pembuluh kapiler otak saat kesadarannya ditarik paksa tiga puluh detik ke masa lalu.
Ren menciduk air dengan telapak tangan, membasuh wajahnya yang kebas.
Rasa dingin menusuk kulit pipinya, menyengat kesadaran yang hampir tergelincir ke dalam delirium. Ia mengusap kasar sisa darah di bibir bawahnya, menatap lurus ke dalam pantulan matanya sendiri.
Tidak ada lagi tatapan kosong prajurit jelata yang menunggu giliran mati di barisan martir. Di balik pupilnya yang melebar, terpancar kewaspadaan tajam milik binatang buruan yang telah belajar cara mencabik balik pemburunya.
Dua puluh empat kali.
Itu jumlah kematian yang tercatat di dalam memorinya sejak melangkah masuk ke pintu gerbang Lantai 10. Sebagian besar prajurit rekrutan baru kehilangan akal sehat setelah melihat perut rekannya terburai sekali saja di hadapan monster zirah. Ren harus merasakan dagingnya sendiri terkoyak, lehernya patah, dan paru-parunya terendam darah berkali-kali.
Kematian tidak membuatnya kebal terhadap rasa sakit. Kematian hanya membiasakannya untuk terus berpikir jernih di tengah siksaan tersebut.
Ren duduk bersandar pada dinding karang yang dingin, meluruskan kedua kakinya yang kram.
Ia meraba saku jubah perangnya yang robek. Jari-jarinya mengeluarkan potongan taring hitam berukuran tiga puluh sentimeter yang ia penggal dari bangkai pemangsa bertungkai banyak di lorong tadi, bersama gagang belati besinya yang telah patah setengah.
Taring itu melengkung kaku, berujung runcing dengan gerigi rapat di sepanjang bilah dalamnya. Material cangkangnya luar biasa padat. Jauh lebih liat dibanding besi tempa murah yang dibagikan gudang logistik kekaisaran untuk para prajurit garda depan.
Ren mengambil sebongkah batu asah kasar dari dasar lantai gua.
Sreeek... sreeek...
Bunyi gesekan logam dan taring purba mendesing pelan di dalam keheningan gua. Ren mengasah tepi gerigi taring tersebut dengan gerakan teratur, membuang sisa lendir asam yang telah mengering menjadi kerak putih. Ujung runcing taring itu mulai berkilat gelap di bawah pendar lumut, memantulkan ketajaman yang mematikan.
Setelah ujungnya cukup tajam untuk menembus lempeng kitin, Ren merobek selembar kain tebal dari lapisan dalam jubahnya.
Ia mengambil serabut tanaman rambat liar yang menjuntai di celah tebing, lalu melilitkan pangkal taring monster ke patahan gagang besi belatinya. Jari-jarinya yang kapalan menarik simpul serabut itu sekuat tenaga.
Kain tebal disilangkan berulang kali, mengunci bilah taring agar tidak goyang saat menghantam target keras. Ren mengoleskan getah pohon damar gua yang lengket di sela-sela anyaman sebagai perekat alami.
Sebuah belati taring darurat kini tergenggam erat di telapak tangannya.
Ren mengangkat senjata barunya ke udara, menimbangnya beberapa kali. Titik beratnya jatuh tepat dua jari di atas pelindung gagang. Senjata yang kasar, tanpa ukiran lambang keluarga bangsawan seperti rapier milik Julius von Ravensburg, namun cukup kokoh untuk merobek trakea predator bawah tanah dalam pertarungan jarak dekat.
Ia menyarungkan belati itu ke sabuk kulitnya, lalu membuka kantung kain kecil di pinggang kirinya.
Dua butir kristal inti monster seukuran kelereng bergulir ke telapak tangannya. Warnanya ungu kehitaman, memancarkan hawa dingin yang menusuk ujung saraf jarinya.
Bagi para pedagang di distrik pasar bawah tanah ibukota, kristal mentah seperti ini harus disuling melalui proses alkimia rumit sebelum aman diserap tubuh manusia. Menyerap kristal mentah secara langsung di dalam jurang berbahaya ibarat menelan pecahan kaca yang dibakar api.
Namun Ren tidak punya kemewahan ramuan pemulih bangsawan. Tubuhnya butuh pasokan energi instan untuk memacu kerja jantung yang melemah.
Ren meletakkan salah satu kristal di tengah telapak tangan kanannya.
Ia mengatupkan jemarinya rapat-rapat, lalu menekan kristal tersebut menggunakan kekuatan otot ibu jarinya hingga cangkang mineralnya retak.
Kreeek.
Serpihan kristal hancur menjadi bubuk berpendar ungu. Hawa dingin yang tajam langsung merembes menembus pori-pori kulitnya, menyengat pembuluh darah di pergelangan tangannya seperti sengatan ratusan semut api.
Ren menggigit bibir dalamnya, menahan erangan yang hendak lolos dari kerongkongan.
Energi liar itu mengalir deras menyusuri lengan kanannya, mendobrak jalur mana yang tersumbat dan membakar serabut otot yang kelelahan. Denyut jantungnya berdegup kencang secara mendadak. Udara segar seolah ditiupkan paksa ke dalam alveolus paru-parunya yang sesak.
Rasa pening di kepalanya mereda perlahan. Kehangatan aneh menjalar hingga ke ujung jari kakinya, mengembalikan kekuatan yang sempat terkuras habis akibat pertempuran di lorong sempit.
Ren bangkit berdiri, menepis debu kristal yang tersisa di celananya.
Ia melangkah mendekati mulut ceruk, menempelkan telinganya ke permukaan dinding batu kapur yang lembap. Menara Lantai 10.5 bukan sekadar labirin batu mati; getaran udara dan suara di tempat ini merambat melalui celah stalaktit dengan sangat jelas jika seseorang tahu cara mendengarkannya.
Di antara desau angin busuk yang berhembus dari arah rawa, sebuah pola ketukan samar tertangkap oleh pendengarannya.
Tuk. Tuk. Tuk.
Tiga ketukan pendek pada pelat logam tebal.
Jeda dua detik.
Klang. Klang.
Dua dentang berat yang bergaung rendah di lorong bawah.
Ren menegakkan tubuhnya. Pupil matanya menyipit ke arah kelokan terowongan barat daya.
Itu kode peninggalan resimen infanteri tua kekaisaran. Tiga ketukan perisai untuk mengabarkan posisi pertahanan, diikuti dua pukulan gagang tombak sebagai tanda bahwa regu sedang terdesak dan membutuhkan bantuan pengalihan.
Hanya veteran perang perbatasan seperti Paman Vargas yang masih menggunakan sinyal kuno tersebut di era ekspedisi menara modern.
"Mereka selamat dari kejatuhan," gumam Ren lirih pada dirinya sendiri.
Ren memeriksa kuncian sarung belatinya, lalu melangkah keluar dari ceruk persembunyian. Kakinya menapak tanpa suara di atas lapisan lumut tebal, menyusuri koridor terowongan yang mengarah ke cekungan rawa beracun.
Semakin jauh ia melangkah, bau gas metana dan belerang semakin pekat menyesakkan rongga hidung. Kabut ungu pucat merayap setinggi lutut, menutupi kubangan lumpur hisap yang sesekali melepaskan gelembung udara mendidih.
Ren membatasi tarikan napasnya, bernapas pendek melalui hidung yang ditutupi kain basah untuk menyaring racun rawa.
Setelah melewati patahan pilar batu kelima, pemandangan terbuka terhampar di depannya.
Sebuah danau lumpur rawa yang luas membentang di dasar gua raksasa. Di tengah-tengah kubangan asam tersebut, terdapat gundukan karang cadas setinggi tiga meter yang tampak seperti pulau karang terisolasi.
Di atas gundukan batu itu, tiga sosok manusia sedang terkepung rapat.
Paman Vargas berdiri di bibir karang dengan perisai menara besinya yang kini penuh bekas cakar dalam. Tangan kanannya memegang tombak pendek bergagang kayu yang ujung matanya telah sumbing. Napas pria tua itu terdengar berat dan memburu dari jarak puluhan meter, pelindung dadanya berlumuran lumpur hijau berbusa.
Di belakangnya, Shizuka berlutut di atas batu karang, menekan perban kasar ke pergelangan kaki kiri Riku. Gadis tabib itu tampak pucat pasi, botol-botol ramuan di tas selempangnya sudah kosong tak bersisa.
Riku meringis menahan sakit, busur pendeknya tergeletak di samping paha dengan tali busur yang kendur.
"Paman, perisaimu tidak akan tahan benturan berikutnya!" seru Riku dengan suara tercekat menahan perih.
"Tutup mulutmu dan hemat tenagamu, Bocah!" bentak Vargas tanpa menolehkan kepala. "Selama lenganku masih bisa menopang pelat besi ini, binatang-binatang itu harus mematahkan tulangku dulu sebelum menyentuh kalian!"
Di permukaan lumpur yang mengelilingi pulau karang, gelombang air rawa mulai bergolak ganas.
Enam pasang mata merah darah perlahan menyembul dari balik kabut ungu pekat. Makhluk pemangsa bertungkai panjang—penghuni asli rawa Lantai 10.5—mulai merayap naik ke lereng karang dengan cakar-cakar kitin yang mencengkeram celah batu.
Lendir asam menetes dari rahang mereka, mendesis saat menyentuh permukaan air lumpur.
Vargas mengangkat tombaknya, mengambil posisi kuda-kuda rendah dengan lutut yang bergetar menahan beban tubuhnya sendiri. Pria tua itu tahu bahwa mereka tidak memiliki jalur mundur. Satu-satunya jalan keluar adalah jembatan batu runtuh yang kini terendam lumpur hisap di sisi timur.
Ren memperhatikan formasi monster-monster itu dari atas tebing bayang-bayang.
Dua ekor di sisi kiri bergerak perlahan untuk mengunci perisai Vargas, sementara empat ekor lainnya menyebar ke sisi kanan karang tempat Shizuka dan Riku berada tanpa perlindungan memadai.
Jika Vargas menggeser perisainya ke kanan, monster di sisi kiri akan langsung menerkam lehernya dari titik buta.
Situasi kematian mutlak bagi regu yang kelelahan.
Ren merendahkan tubuhnya di balik tonjolan batu hitam. Tangannya mencengkeram gagang belati taring barunya hingga urat di pergelangan tangannya mengeras.
Di dalam dadanya, rasa sakit akibat kematian-kematian lampau masih berdenyut perih. Namun detak jantungnya kini berada dalam ritme yang teratur dan dingin.
Ia tidak melompat secara membabi buta ke dalam kubangan rawa. Matanya menelusuri retakan tebing karang di atas kawanan pemangsa, mencari pijakan terdekat yang bisa mengantarkan serangannya langsung ke titik tumpu musuh.
Perburuan baru saja dimulai. Dan kali ini, Ren tidak berniat membiarkan rekan-rekannya mati sia-sia di dasar rawa terkutuk ini.