Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : DINAS KE SIDOARJO
Bintang sengaja mengambil dinas itu.Cabang Sidoarjo sedang audit. Harusnya yang berangkat Angkasa sebagai Dirut, atau minimal Manager Keuangan. Tapi Bintang mengajukan diri.
"Bu Bintang yakin? Dua hari loh di sana. Biasanya Pak Angkasa tidak mengizinkan Bu Bintang dinas jauh," tanya Bu Lilis HRD.
"Yakin. Justru karena itu saya harus bisa mandiri, Bu. Masa sekretaris terus di belakang Dirut," jawab Bintang dengan senyum profesional. Padahal dalam hati, ia butuh udara. Butuh jarak dari mobil dingin kemarin.
Sore itu juga, Bintang pamit. Tidak di rumah, tapi lewat chat.Bintang: "Pak Dirut, saya dinas ke Sidoarjo 2 hari untuk audit cabang. Berangkat malam ini. Laporan menyusul." Angkasa membaca chat itu di ruang kerjanya.
Dadanya sesak. Bintang bahkan tidak langsung izin dengannya.
Baru saja Angkasa mau membalas, pintu ruangannya diketuk.
"Permisi Pak Dirut..." Mentari. Anak magang semester akhir yang baru masuk dua minggu. Cantik, wangi, dan terlalu perhatian. Selama Bintang ada, Mentari jaga jarak. Tapi hari ini, Bintang tidak ada.
"Bu Bintang sudah berangkat, Kak Ang? Tadi kuliat dia udah ijin ke Bu Lilis dan kasih tugas atur jadwal Kak Ang lewat Tari," kata Mentari sambil meletakkan kopi di meja Angkasa. Terlalu dekat. Roknya terlalu pendek untuk ukuran kantor. Angkasa mengangguk kaku.
"Iya, dinas."
"Wah, Kak Ang sendirian dong dua hari ini? Pasti sepi ya, Kak. Biasanya kan lengket terus sama Bu Bintang," goda Mentari. Ia sengaja membungkuk sedikit saat menata berkas. Angkasa langsung mengalihkan pandangan.
"Kamu kenapa gitu sih? Kek kucing manja tau gak." Angkasa dan Mentari sudah kenal lama, bahkan dari Mentari masih seragam putih biru. Panggilannya juga beda dari yang lain. 'Kak Ang' itu panggilan so akrabnya pada Angkasa.
"Kucing manja," ulang Mentari senyum.
Genit.
"Tolong panggilkan Pak Satpam. Saya mau pulang," kata Angkasa dingin. Mentari cemberut, tapi tidak menyerah. "Kak Ang, kalau butuh apa-apa malam ini, chat saya aja ya. Saya standby 24 jam kok buat Kak Ang. Jarang-jarang kan kita hang out.
"Tawaran itu tidak ditanggapi Angkasa. Ia berdiri, mengambil kunci mobil dan pergi.
Keesokan harinya di tempat lain, di RSUD.Damar sudah jauh lebih sehat. Pipinya mulai merona, tidak pucat. Selang infusnya juga sudah dicabut. Ia sudah bisa duduk dan main mobil-mobilan.
"Ayah Angkasa mana, Nenek?" tanya Damar pada Bu Ratna yang masih setia menemani Bumi dan Damar.Bu Ratna, Ibu Angkasa, tersenyum sambil mengelus kepala Damar. Sejak tahu Damar adalah anak almarhum Samudra sahabat Surya, Bu Ratna jadi sangat sayang pada Damar.
"Ayah Angkasa kerja, sayang. Nanti Nenek teleponin ya." Bumi yang duduk di samping ranjang tersenyum puas. Sejak ada Bu Ratna yang membantu, semua jadi mudah. Bu Ratna yang membawakan makanan, Bu Ratna yang menjaga Damar kalau Bumi mau ke kantin, Bu Ratna bahkan yang membelikan mainan baru untuk Damar.
"Terima kasih banyak ya, Tante Ratna. Kalau tidak ada Tante, saya tidak tahu gimana," kata Bumi dengan mata berkaca-kaca. Jurus andalannya. Bu Ratna langsung peluk Bumi.
"Sudah, sudah. Kamu itu seperti anak Tante sendiri. Samudra itu sudah seperti anak Tante juga dulu. Sudah kewajiban Tante bantu kamu.
"Bumi melirik Damar dan berbisik ke Bu Ratna, cukup keras agar didengar perawat lewat: "Damar semalam ngigau terus cari Ayah Angkasa, Tante." Bu Ratna langsung ambil HP.
"Ya Allah, kasihan. Tante teleponkan Angkasa sekarang."
Ternyata setelah Bintang pergi ke Sidoarjo, Angkasa malah tidur sendiri di rumah, tidak juga ke Rumah Sakit.
Entah baru merasa lelah atau memang sedang kesal karena menurutnya Bintang tidak mengerti niat baiknya. Memilih menenangkan diri dan merasa rindu pada Bintang yang jarang, hampir tidak pernah pergi dinas keluar kota tanpa dia.
"Mana Ayah, Nek?" tanya Damar lagi.
"Gak tau nih, kok Ayah gak angkat telepon Nenek," jawab Bu Ratna terlihat masih sibuk dengan HP-nya.
Panggilan berikutnya nyasar ke Bintang yang baru sampai di hotel Sidoarjo.
"Bintang..."
"Iya Bu?" Tidak ada halo atau sapaan sopan seperti pada umumnya.
"Angkasa mana sih, kok gak angkat telepon Ibu dari tadi. Damar cari dia, sejak kemarin kok gak ke sini lagi," cerocos Bu Ratna lancar.
"Huh. Damar lagi," monolog Bintang dalam hati.
"Wah... gak tau Bu. Saya lagi dinas luar di Sidoarjo," jujur Bintang.
"Loh... kamu dinas sendiri?" tanyanya.
"Iya..."
"Kamu sengaja dinas luar. Kamu marah sama Angkasa yang peduli sama Damar?" tebaknya asal tapi benar.
"Hah... dinas ku gak ada hubungan dengan Damar Bu." Bantah Bintang.
"Ah... sudahlah. Susah bicara dengan kamu. Dasar keras kepala, jadi istri kok gak pengertian!" bentak Bu Ratna lalu memutuskan sambungan telepon.
Tut... tut... tut... Bintang menarik napas berat.
Tangannya gemetar menahan emosi. Selalu dia yang salah. Selalu dia yang keras kepala. Ia membuka chat Angkasa.
Bintang: "Sa... Telepon Ibu gih." Pendek.
Dingin.
Tapi itu adalah bentuk pedulinya yang terakhir sebelum ia benar-benar tenggelam dalam audit Sidoarjo.
Di Surabaya, Angkasa yang baru bangun tidur siang melihat dua panggilan tak terjawab dari Ibu dan satu chat dari Bintang. Ia tahu, Bintang pergi bukan karena audit. Bintang pergi karena lelah menjadi istri yang harus selalu mengerti.
Bersambung...
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......