NovelToon NovelToon
Danu, Kejarlah Aku

Danu, Kejarlah Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Dokter / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.

Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.

Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.

Bagaimana cerita selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

“Dinda, ini semua rencanamu, ya?!”

Bentakan Danu memecah keheningan begitu kami melangkah melewati ambang pintu. Suaranya berat, bergema di ruang tengah, sarat akan kemarahan yang coba ia tekan dengan rahang mengeras.

Di luar, deru mobil perlahan menghilang. Belinda baru saja dibawa pergi oleh Ghina, meninggalkan kami berdua dalam ketegangan yang mendadak memuncak.

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menstabilkan dadaku yang gemetar sebelum berbalik menatapnya jengah. “Danu... kenapa sih, setiap kali ada masalah yang melibatkan Belinda, kamu selalu langsung nuduh aku? Apa nanti kalau Belinda selingkuh tepat di depan mata kita berdua, kamu juga bakal tetap nyalahin aku?”

Danu membeku seketika. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, ia mulai melangkah mengikis jarak. Bukan dengan teriakan, melainkan dengan intimidasi diam yang justru membuat nyaliku perlahan menciut.

Spontan, kakiku menyurut mundur setiap kali ia mengambil satu langkah maju. Buk! Punggungku membentur tembok dingin. Kain bajuku menempel pada permukaan dinding, dan aku tahu tidak ada lagi ruang bagiku untuk menghindar.

Sebelum aku sempat membuka mulut untuk memprotes, telapak tangan Danu melayang ke atas dan mencengkeram tengkukku. Tidak kasar hingga menyakiti, tetapi cukup erat hingga napasku tersendat di tenggorokan. Tangan satunya terangkat, ibu jarinya menekan pelan sudut bibirku. Sebuah gerakan kontradiktif yang membuat kepala dan jantungku makin liar berputar.

“Aku nggak percaya... ternyata mulutmu bisa selihai ini bicara,” gumamnya serak tepat di depan wajahku. Napasnya hangat, beraroma kopi dan amarah yang belum padam.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku terasa kering. “Aku juga... belajar ini dari kamu.”

Jemari tanganku yang gemetar terangkat, memegang pergelangan tangannya untuk mendorongnya menjauh. Namun, bukannya melepas, Danu justru mengusap bibir bawahku menggunakan ibu jarinya, perlahan, seolah sedang menghafal teksturnya. Sentuhan halus itu seketika meruntuhkan benteng pertahanan yang kubangun seharian ini, membuat seluruh sendiku lemas meski logikaku berteriak untuk menghindar.

Ia memiringkan kepalanya sedikit, makin memangkas jarak hingga napas hangatnya menyapu pipiku yang memanas.

“Kenapa kamu selalu berhasil bikin aku kehilangan kendali...” gumamnya pelan, lebih mirip ratapan pasrah daripada pertanyaan.

Aku bungkam. Mengeluarkan kata dari bibirku rasanya seperti menyerah.

Mataku mengunci manik matanya yang bergejolak. Ada amarah di sana, tetapi juga ada sesuatu yang membuatku kian frustrasi memahami lelaki egois di hadapanku ini.

Sentuhan Danu bergeser membelai rahangku sebelum jemarinya menyelusup ke balik rambut di belakang leherku, menarik kepalaku sedikit mendongak dan mendekat.

Seharusnya aku memukul dadanya. Seharusnya aku menepis tangannya. Namun, untuk beberapa detik yang menyiksa, aku merasa terlalu lelah untuk terus memicu perang melawan perasaan yang selama ini kupaksa kubur dalam-dalam.

Danu menunduk, lalu merapatkan bibirnya ke bibirku. Sesaat, seluruh tubuhku membeku.

Hanya saja, kali ini ia tidak lagi menuntut secara kasar. Ia justru melunakkan kehendaknya, memberiku jeda tipis untuk memilih. Pertahananku pun hancur berkeping-keping. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan membalas ciumannya. Tanganku yang tadinya berniat menolak tanpa sadar meremas kencang kain kemejanya di bagian dada, menariknya agar tak menyisakan celah di antara kami.

Ciuman itu berlangsung singkat, tetapi intens, menumpahkan rindu, amarah, dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu hingga mengacaukan seluruh kesadaran logisku.

Ketika Danu akhirnya menarik kepalanya sedikit menjauh, napasku memburu, tersengal di udara malam yang dingin.

“Aku benci kamu...” bisikku serak, mataku masih terpejam menahan gejolak di dada.

Danu menatapku beberapa detik. Sunggingan senyum tipis, pahit dan penuh kemenangan, terukir di bibirnya. Jemarinya yang hangat perlahan mengusap pipiku yang basah.

“Aku tahu,” bisiknya lembut tepat di telingaku. “Tapi kamu nggak bisa berhenti cinta, kan?”

Kalimat itu bagai petir yang menghantam dadaku hingga terasa remuk seketika.

Danu benar. Aku memang masih mencintainya. Mungkin perasaan itu tidak akan hilang hanya karena aku memutuskan untuk pergi. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kebodohan, aku sadar bahwa mencintai seseorang tidak berarti aku harus terus membiarkan diriku terluka olehnya.

Aku mengangkat kedua telapak tanganku, lalu melayangkan dorongan kuat ke dadanya.

“Kamu salah.”

Senyum di wajah Danu melenyap seketika. Langkahnya terhuyung satu langkah ke belakang.

Aku menatapnya lurus-lurus dengan mata yang terasa panas dan berkaca-kaca. “Aku memang masih mencintaimu, Danu. Tapi bukan berarti aku bakal tetap sudi berdiri di sini dan menunggumu.”

Danu terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Aku capek.”

Dengan gerakan lambat, aku mengusap bibirku sendiri menggunakan punggung tangan, seolah berusaha menyapu bersih sisa kehangatan ciumannya yang masih membekas.

“Kalau kamu mau Belinda, silakan. Pergi ke dia. Aku nggak akan pernah menghalangimu lagi.”

“Dinda...” Danu melangkah maju, tangannya terulur seolah ingin meraihku.

“Aku akan pergi.” Aku mengulang ucapanku saat baru saja hendak berbalik ketika suara Danu kembali terdengar.

“Kalau kamu berani, aku ceraikan kamu, Dinda!”

Langkahku terhenti. Untuk beberapa detik, aku hanya berdiri membelakanginya. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.

"Ceraikan?"

Aku mengerutkan dahi. Apa maksudnya? Apa ini berarti aku benar-benar mendapatkan talak satu?

Perlahan, aku berbalik menatapnya. “Coba sekali lagi katakan?”

Aku sengaja memancingnya. Kalau memang itu yang dia inginkan, aku ingin mendengarnya sekali lagi langsung dari mulutnya.

Namun, bukannya mengulang perkataannya, Danu justru terdiam. Perubahan di wajahnya terlihat jelas. Sorot mata dominannya retak, berganti raut terkejut yang tidak sempat ia sembunyikan.

Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba seperti itu. Tapi kali ini, aku tidak ingin mencari tahu. Aku sudah terlalu lama menunggu Danu menentukan sikap. Kalau akhirnya dia sendiri yang membuka jalan untukku pergi, mungkin inilah kesempatan yang selama ini tidak pernah berani kuambil.

Aku berbalik cepat, lalu melangkah menuju kamar. Aku masuk, membanting pintu, dan memutar kunci dari dalam dengan sekali gerakan tegas.

Brak!

Aku bersandar sepenuhnya pada kayu pintu yang terkunci rapat. Kedua lututku lemas hingga aku meluruh ke lantai. Air mataku akhirnya luruh tanpa bisa kubendung lagi, membasahi pipi.

Namun, kali ini aku tidak menangis dengan harapan Danu akan menggedor pintu dan memohon padaku. Aku menangis karena akhirnya menyadari betapa sulitnya melepaskan seseorang yang masih menghuni seluruh ruang di hatiku.

Kuusap wajahku dengan kedua telapak tangan yang gemetar. Setelah beberapa saat, pandanganku tanpa sengaja jatuh ke sudut ruangan. Sebuah koper besar berdiri di sana.

"Dua hari lagi, Din. Entah mereka setuju atau tidak, karena tugasmu, kamu harus meninggalkan rumah ini."

Aku menatap koper itu cukup lama. Dulu, keputusanku untuk pergi menjadi relawan memang karena Danu. Aku tidak sanggup melihatnya bahagia bersama Belinda. Jadi, aku memilih pergi sejauh mungkin agar tidak perlu menyaksikan semuanya dengan mata kepalaku sendiri.

"Ternyata sekarang aku masih ingin pergi karena alasan yang sama."

Aku mengembuskan napas panjang. "Bedanya, kali ini aku nggak mau pergi cuma karena nggak sanggup melihat mereka. Aku ingin pergi karena aku sudah lelah."

Aku tahu, mungkin perasaanku pada Danu tidak akan hilang hanya karena aku meninggalkan rumah ini. "Mungkin aku masih akan mencintainya. Tapi aku nggak harus terus tinggal di sini hanya karena itu."

Pandangan mataku kembali tertuju pada koper di sudut ruangan. "Kalau memang dua hari lagi aku harus pergi karena tugas, kali ini aku akan benar-benar pergi."

Aku mengusap sisa air mata di pipi. "Bukan untuk melarikan diri dari Danu. Tapi untuk memulai hidupku sendiri."

Tepat saat tekadku sudah bulat, ponselku berdering. Aku mengambilnya dari saku celana. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang membuatku sedikit mengernyit, Mama Sekar.

1
sutiasih kasih
harusnya km brsyukur blm mnyentuh belinda ..... bisa jdi belinda sdh trjangkit pnyakit krna seringnya di celup bnyk laki".....
Mariatul
baper aku Thor. mau nangis iya, mau meledak pun iya. 😁😁
sutiasih kasih
jalang sesungguhnya siapa danu???
sutiasih kasih
double up dunk thor😘😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, udah proses
total 1 replies
sutiasih kasih
10 th.... gmn klo dinda hamil ankmu danu.....
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
sutiasih kasih
pede amat kau danu....
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sutiasih kasih
nungguin upnya thor😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ini lagi ngetik kak, sabar ya. 🤭🙏
total 1 replies
Annisa Lupiyanah
bagus ceritanya
sutiasih kasih
mksutnya.... Dinda sdh pergi dri hidupmu.... yg artinya Dinda jga sdh mnjadi mantan istrimu Danu....
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
sutiasih kasih
lnjut thor...
up bnyak bnyak😘😘
sutiasih kasih
lanjut up thor.... jgn lama"...
sutiasih kasih
kok lm g update...🤔🤔
sutiasih kasih
jgn dunk ghina.... jgn lgi km meminta dinda untuk mnerima danu lgi....
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
sutiasih kasih
lanjut up bnyak" thor...😘😘
sutiasih kasih
danu.... ap yg sdh km ktakn ke dinda....
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
Inarrr Ulfah
si ghina tau klo si belinda punya selingkuh an,, jgn2 selingkuhan si belinda. teman nya gihna🤣danu aja yg bodoh,, nanti klo dinda. pergi ke perbatasan baru nyaho
sutiasih kasih
smoga ada inisiatif dinda untuk merekam duo psangan selingkuh...
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
sutiasih kasih
lnjut... double up thor😘😘
sutiasih kasih
nyatanya cm tmbuh dinda yg bisa mmbuatmu bergairah danu....
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...
sutiasih kasih
nungguin upnya...
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: iya kak, maaf hari ini libur dulu besok seperti biasa jam 6 baru up ya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!