Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta & rasa takut
...#••...
Dia bunuh ibu kandungnya sendiri.
Dia pernah di penjara selama 5 tahun.
Kenapa? Kenapa dia melakukan itu?
Apa ada sesuatu yang terjadi sampai dia melakukan itu?
Apa gue harus… menjauh?
Pikiran-pikiran itu terus bergelut di kepala Jay. Untuk pertama kalinya sejak mengenal perempuan itu, ia benar-benar tidak tahu harus mempercayai apa yang ia rasakan.
Ayolah. Bagaimanapun juga dirinya hanyalah seorang remaja SMA. Jadi wajar bukan, kalau saat ini ia merasa bingung dan sedikit… takut?
“Argh!” Jay menjambak rambutnya sendiri. “Payah! Benar-benar payah! Bisa-bisanya lo ninggalin perempuan yang katanya lo cintai?” makinya pada diri sendiri.
Saat perempuan itu pergi lebih dulu dari restoran, Jay sama sekali tidak mengejarnya. Ia malah kalut dengan pikirannya sendiri.
Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan perempuan itu di tengah jalan? Di malam yang sudah begitu larut?
Apakah itu berarti cintanya pada perempuan itu tidak seluas samudera seperti yang ia katakan?
Jay merebahkan tubuh di atas ranjang, menatap kosong ke langit-langit kamarnya. “Apa gue harus cerita ke Papa?” gumamnya lirih.
Bagaimanapun, ia butuh masukan rasional dari orang dewasa.
Jay bangkit dari rebahannya, berniat mengambil minuman dingin untuk menjernihkan pikirannya.
Setelah mendengar fakta “semengerikan” itu pikirannya benar-benar kalut.
Ia menuruni anak tangga dan langsung menuju dapur yang lampunya sudah mati. Sepertinya Papanya memang sudah tidur.
Jay membuka pintu kulkas, mengambil sebotol minuman isotonik, lalu menutupnya kembali.
“Kenapa belum tidur?”
“Astaga!” Jay berjengkit kaget dan langsung menoleh ke belakang.
Ctak.
Lampu dapur langsung menyala, membuat Jay menyipitkan mata karena cahaya yang tiba-tiba.
“Nyalain lampunya, dong. Kok gelap-gelapan, sih?”
Ayahnya berjalan ke arah meja bar, mengambil gelas dan memasukkan bubuk kopi ke dalamnya. Ia kemudian menoleh ke arah Jay yang sudah duduk termenung di meja makan.
“Hei, kenapa murung gitu?” tanyanya.
Jay tidak langsung menjawab. Ia hanya mengembuskan napas panjang.
Ayahnya berbalik ketika air sudah mendidih, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Setelah mengaduk kopinya, ia membawa gelas itu dan duduk di hadapan Jay.
“Kenapa? Mau cerita?”
“Capek, nggak Pa?” Jay malah bertanya balik
“Enggak. Cerita aja, kenapa?” Ayahnya perlahan menyeruput kopi panas itu.
“Pa?”
“Hm?”
“Aku mau cerita sesuatu. Tapi Papa jangan langsung marah dulu.”
Ayahnya mengerutkan kening. “Cerita tentang apa?”
Jay terdiam cukup lama sebelum akhirnya bersuara.
“Kalau seseorang pernah ngelakuin hal yang buruk banget…” Ia menunduk, jemarinya memainkan botol isotonik yang tergeletak di atas meja. “Terus dia udah dihukum dan benar-benar menyesal… menurut Papa, orang itu masih bisa berubah?”
“Bisa.” Jawaban itu keluar tanpa ragu. “Orang bisa berubah. Tapi menyesal dan berubah bukan berarti apa yang pernah dia lakukan jadi nggak pernah terjadi.”
Jay mengangguk kecil.
“Emangnya siapa?”
“Perempuan yang aku cintai…” Jay menarik napas. “Pernah dipenjara.”
“Di penjara?” Alis pria berstatus duda itu langsung bertaut. “Kenapa?”
“Karena dia membunuh ibunya sendiri.”
Kali ini ayahnya tidak langsung menjawab. Tangan yang tadi memegang gelas kopi berhenti di dekat bibir. Tatapannya tertahan pada Jay beberapa detik sebelum gelas itu perlahan diletakkan kembali di atas meja.
“Dia seumuran kamu?”
Jay menggeleng. “Papa masih inget nggak, sama perempuan di gereja yang lagi nangis, pas hari Kamis sore Papa ngajak aku ke gereja?”
“Enggak tuh. Nggak inget.”
“Ya pokoknya dia perempuan yang aku cintai. Mungkin bisa dibilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia.”
Ayahnya menghela napas panjang. "Dia cerita sendiri?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Tadi, pas di restoran. Pas aku bilang suka sama dia terus… ya gitulah. Dia nolak aku lagi, terus ya dia ngomong gitu.” Jay terdiam sebentar. “Awalnya aku mikir itu mungkin cuma alasan supaya aku ilfeel sama dia. Tapi…”
Ucapannya menggantung. “Tapi kayaknya emang bukan bercanda,” lanjutnya pelan.
Ayahnya menatap Jay cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Papa nggak akan mengambil keputusan buat kamu. Tapi Papa juga nggak akan membiarkan kamu mengambil keputusan besar ketika kamu bahkan belum tahu seluruh ceritanya.” Ayahnya kembali menyeruput kopinya.
“Dan kamu masih mencintainya?”
Jay menunduk. Jemarinya masih menggenggam botol isotonik yang sejak tadi belum diminumnya.
“Aku nggak tahu, Pa.” Ia menarik napas panjang. “Aku masih sayang sama dia. Tapi aku juga takut.”
“Takut sama dia?”
“Bukan cuma sama dia.” Jay menelan ludah. “Aku takut sama apa yang nggak aku tahu tentang dia.”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG