Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 21
"Apa-apaan ini?"
Teani berteriak keras saat melihat beberapa orang mengeluarkan barang-barang miliknya. Teani langsung menghampiri Nania dan menanyakan apa yang tengah terjadi.
"Mama tidak tahu, tiba-tiba orang-orang itu datang dan melemparkan semua barang kita."
Teani nampak geram, dia mengepalkan tangannya dengan begitu erat.
"Berhenti!!!"
Suara Teani menggema ke seluruh rumah. Namun mereka sama sekali tidak peduli dan terus melakukan tugasnya.
"Apa yang kalian lakukan. Hentikan."
Teani mencoba menghentikan tangan salah satu orang-orang itu agar mengehentikan aksinya. namun tubuh Teani dihempaskan begitu saja, hingga terjungkal ke lantai.
"Apa semua ini? kenapa semua barang-barang saya di keluarkan!"
Gani yang baru saja sampai di rumah pun juga ikut terkejut melihat semua barang miliknya yang juga dilemparkan keluar. Bola matanya berputar kesana kemari dan wajahnya nampak pias.
Tak hanya barang-barangnya yang dikeluarkan dari rumah. Sebuah notifikasi tentang kartu kredit yang dibekukan pun membuat Gani semakin bingung.
Setelah semua barang dikeluarkan, Orang-orang itu juga mengambil kunci mobil milik Gani dan Teani dan melemparkan kunci lainnya.
"Mobil yang sekarang kalian pakai adalah mobil milik Nona Rinda. Jadi mobil itu akan kembali pada beliau. Lalu kuni itu, adalah kunci mobil kalian sendiri. Sekarang pergi kalian."
"Tidak, tidak bisa begini. Aku tidak akan meninggalkan rumah ku. Ini rumah ku, bagaimana pun juga ini rumahku!" pekik Teani. Tubuhnya terpaku di depan pintu dan tidak beranjak barang sedikitpun. Tangannya memegang erat tas yang tadi dilemparkan oleh anak buah Rinda. Tubuhnya merapat pada dinding sambil menekuk lututnya.
"Tea ayo kita. Mama masih punya rumah. Ayo kita ke sana dulu."
Nania mendekat ke arah sang putri, menggenggam tangan Teani dan hendak mengajaknya pergi. Tapi Teani menampik tangan Nania dan menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari rumahku," elak Teani dengan cepat. Tubuhnya masih terus bertahan di sana bahkan nyaris tak bergerak.
"Kita harus pergi Tea. Tidak ada gunanya terus bertahan di sini. Kediamanmu tidak akan mengubah apapun Tea. Rinda memang lembut dan penyayang, tapi dia adalah pribadi yang kukuh pada pendirian. Dia tidak akan goyah meski kau berada di luar sini untuk beberapa hari."
Teani mengepalkan tangannya dengan erat mendengar ucapan sang ibu. Rahangnya mengeras karena kemarahan dari hatinya.
"Brengsek Rinda, bisa-bisanya dia memperlakukan kita sepeti ini. Bisa-bisanya dia mengusir kita sepeti tikus?"
"Sudahlah Tea, kita harus pergi dari sini dengan cepat. Beberapa tetangga sudah melihat ke arah kita."
Nania bicara dengan sedikit berbisik. Ekor matanya menatap ke arah orang-orang yang mulai melihat ke dalam pagar rumah. Wajah-wajah itu cukup memperlihatkan bahwa mereka penasaran dengan apa yang terjadi di dalam kediaman Nadisyah.
Teani pada akhirnya beranjak dari duduknya. Dia memunguti satu demi satu barangnya dan memasukkannya ke mobil dibantu dengan Nania.
Cukup membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk mereka membersihkan barang mereka yang berserakan.
"Kita pergi," ucap Teani dengan mata yang terasa lelah. Tubuhnya juga lunglai seolah tak bertulang ketika berjalan memasuki mobil. Ia tak lagi memikirkan tentang Gani, suaminya.
Hanya berdua dengan Nania, Teani meninggalkan rumah itu. Tangannya mencengkeram erat setir kemudi. Rasa percaya dirinya terhadap Gani dan pernikahan sekarang hilang sudah. Teani tak lagi terpikirkan oleh hal itu.
Pengusiran yang dilakukan Rinda adalah bukti nyata bahwa Rinda sama sekali tak menginginkan Gani kembali. Itu sudah hal yang sangat cukup melegakan bagi dirinya.
Sedangkan Gani, bibirnya tersenyum cerah. Kemenangan yang dirasakan mencuat melihat Teani yang pergi begitu saja.
"Sekarang biarkan aku masuk," ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Maaf, apa Anda bilang? Apa mungkin telinga Anda bermasalah, Pak Gani? Anda harus meninggalkan tempat ini, sekarang juga. Apa Anda pikir apa yang kami lakukan kepada Anda tadi hanya sekedar rekayasa belaka? hahaha jangat terlalu percaya diri, Anda pun tak ubahnya dengan mereka berdua tadi. Perlakuan kami kepada kalian itu sama."
degh!
Dada Gani bergemuruh, nafasnya menjadi sedikit cepat.
"Jangan bicara sembarangan! Aku adalah suami Rinda. Dia tidak mungkin mengusirku seperti ini. Jadi, biarkan aku masuk."
Gani bersikukuh, dia berjalan mendekat ke pintu, berusaha menerobos orang-orang itu. Namun tentu saja percuma. Kekuatan Gani jelas tak sebanding dengan mereka.
"Jangan berlagak, cepat minggir! Aku adalah suami Rinda. Dia tidak mungkin mengusir aku. Dia hanya marah, ya dia hanya marah padaku. Rinda sangat mencintaiku, jadi dia tidak melakukan ini padaku."
Gani masih bersikukuh dengan kepercayaan dirinya terkait apa yang dilakukan Rinda ini hanya main-main belaka.
Sikapnya yang demikian membuat orang-orang suruhan Rinda tersenyum bahkan tertawa mengejek.
"Teruslah percaya dengan pemikiranmu," ucap salah satu dari mereka yang tampak seperti ketuanya.
Gani bergegas mengambil ponselnya di saku jaket. Dia menekan nomor ponsel Rinda untuk mengonfirmasi apa yang saat ini terjadi.
Tadi Gani masih sangat tenang. Dia bersikap bahwa pengusiran ini hanyalah untuk Teani. Akan tetapi setelah semua barangnya juga dilemparkan ke luar dan orang-orang itu menertawakannya, Gani pun terlihat kelabakan.
"Halo, Rinda. Rinda, mereka mengusir ku. Kau tidak benar-benar mengeluarkan suami mu ini dari rumah kan? Rinda, kau begitu mencintaiku. Jadi tidak mungkin kamu tega melakukan ini kan? Rinda, jangan diam saja, katakan sesuatu padaku."
"Rinda tidur, dan apa yang dilakukan mereka adalah keputusan Rinda. Jadi jangan bertingkah dan segera pergi dari rumah nona ku."
Mata Gani membulat sempurna mendengar suara dari seberang sana yang bukan milik Rinda. Tangannya mencengkeram erat ponsel yang menempel di telinganya, sampai urat di tangan terlihat mata.
"Kau!!!! beraninya kau menjawab telepon milik Rinda!"
"Why not? Dia nona ku, aku melayaninya sekarang. Dia tengah tidur dan aku tak akan membiarkan seorang pun menganggu waktu tidurnya. Jadi, segera enyah dari kediaman Rinda."
Tuuuuut
Panggilan Gani diputus secara sepihak oleh Jexen. Membuat pria itu kesal bukan main.
"Jexen BRENGSEEEK!!!"
Gani berteriak keras sambil mengusap rambutnya kasar. Sebuah tinjuan pada dinding bukti dari pelampiasan amarah Gani.
"Tidak, Rinda tidak mungkin mengusir ku. Dia sangat mencintaiku. Ya dia hanya marah. Baiklah, aku akan pergi lebih dulu. Setelah itu, baru lah aku akan datang lagi dan membujuknya. Rinda paling suka brownies bukan, dan juga bunga mawar lili of the valey. Aku akan memberikannya nanti sebagai permintaan maaf."
Kini Gani yang memunguti semua barang miliknya dan memasukkannya ke mobil miliknya. Dengan kepala tertunduk, Gani meninggalkan kediaman yang sudah tiga tahun ini dia bernaung di bawahnya.
"Bos, sudah beres."
"Bagus. Tetap berada di sana. Dan jaga dengan baik."
"Siap."
TBC