NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Sisa perjalanan menuju rumah Nessa terasa seperti dihabiskan di dalam sebuah gelembung kedap suara. Deru mesin mobil dan suara rintik hujan yang menabrak kaca seolah teredam oleh detak jantung Naya sendiri yang bergemuruh tak karuan.

Tangan kiri Kafka masih menaut jemari Naya di atas konsol tengah. Genggaman pria itu tidak terlalu erat hingga menyakiti, namun cukup kokoh untuk mengirimkan pesan bahwa ia tidak berniat melepaskannya dalam waktu dekat. Ibu jari Kafka yang sesekali mengusap punggung tangan Naya secara ritmis menciptakan sensasi hangat yang menjalar perlahan dari lengan, merayap naik, dan menetap di dada Naya.

Naya menelan ludah dengan susah payah. Akal sehatnya berteriak bahwa ini salah. Ia baru saja putus beberapa jam yang lalu dari hubungan yang berjalan tiga tahun. Terlebih lagi, pria yang kini menggenggam tangannya dengan begitu posesif adalah adik dari sahabatnya sendiri. Seorang anak laki-laki yang dulu sering ia ejek karena takut kecoa. Namun, aroma cedarwood dan mint yang menguar dari tubuh Kafka, serta kehangatan telapak tangannya, dengan kejam membungkam semua protes di kepala Naya.

Mobil SUV hitam itu akhirnya melambat dan meluncur mulus memasuki garasi rumah Nessa. Begitu mesin dimatikan, keheningan total menyergap. Kafka perlahan melepaskan tautan tangan mereka. Saat jemari besar itu menjauh, Naya mendadak merasakan kekosongan yang aneh di tangannya, seolah suhu di dalam mobil tiba-tiba turun sepuluh derajat.

Naya buru-buru menarik tangannya dan meletakkannya di atas pangkuan, menghindari tatapan Kafka. "M-makasih, Kaf. Maaf udah ngerepotin kamu seharian ini," cicit Naya, suaranya terdengar canggung.

Kafka hanya tersenyum tipis. Ia membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil tanpa banyak bicara. Pria itu berjalan memutar, membuka pintu bagasi, dan dengan mudahnya mengangkat koper besar serta tote bag Naya, seolah benda-benda itu tidak memiliki beban sama sekali. Naya bergegas keluar menyusulnya, membuka pintu penghubung garasi ke dalam rumah.

"Biar aku bawa sendiri aja kopernya ke atas, Kaf. Itu berat," ucap Naya saat mereka berada di ruang tengah, bersiap menaiki tangga.

Kafka menoleh, sebelah alis tebalnya terangkat. "Kak Naya meragukan tenagaku? Setelah melihat apa yang kulakukan pada mantanmu tadi?"

Wajah Naya memanas mendengar sindiran halus itu. Mengingat bagaimana Kafka mencengkeram pergelangan tangan Reno hingga pria brengsek itu meringis kesakitan, Naya tahu betul bahwa fisik Kafka saat ini sama sekali bukan tandingan koper seberat dua puluh kilogram. Naya akhirnya mengalah dan membiarkan Kafka menaiki tangga mendahuluinya.

Punggung lebar Kafka yang dibalut kaus hitam itu tampak begitu tegap. Otot-otot di lengannya menegang saat mengangkat koper, menampilkan urat-urat halus yang mencetak jelas di balik kulit terangnya. Naya buru-buru memalingkan wajah, mengutuk dirinya sendiri karena tiba-tiba memiliki pikiran yang tidak pada tempatnya.

Sesampainya di kamar tamu, Kafka meletakkan koper itu di sudut ruangan, tepat di samping lemari pakaian. Kamar yang ukurannya cukup luas itu mendadak terasa sempit dengan kehadiran Kafka di dalamnya. Jarak antara ujung tempat tidur dan posisi Kafka berdiri hanya terpaut kurang dari satu meter.

"Kalau Kakak butuh bantuan untuk merapikan barang, panggil saja aku," suara berat Kafka memecah keheningan di kamar itu. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Naya yang masih berdiri mematung di ambang pintu.

"Nggak usah, aku bisa beresin sendiri nanti. Kamu... kamu pasti capek banget. Udah jetlag, disuruh jadi bodyguard dadakan pula," Naya memaksakan sebuah senyum, mencoba mencairkan ketegangan yang terasa mencekik lehernya sejak dari dalam mobil tadi.

Kafka melangkah mendekat. Perlahan, satu demi satu langkah, hingga ia berdiri tepat di hadapan Naya. Naya harus mendongak sedikit untuk bisa menatap wajah pria itu.

"Aku tidak pernah merasa lelah jika itu menyangkut dirimu, Kak," ucap Kafka pelan, nadanya begitu serius hingga membuat senyum canggung di wajah Naya memudar. Mata hitam pekat Kafka menelusuri wajah Naya, berhenti sejenak di area mata Naya yang masih sedikit bengkak sehabis menangis.

Naya menahan napas. Ia menduga Kafka akan melakukan sesuatu—mungkin mengusap kepalanya atau menyentuh pipinya. Namun, pria itu sepertinya tahu batasannya. Kafka hanya menarik napas panjang, lalu mundur satu langkah.

"Istirahatlah. Kakak belum makan apa pun sejak pagi selain minum kopi. Nanti saat Kak Nessa pulang, kita makan malam sama-sama," ucap Kafka, mengembalikan nada suaranya menjadi santai dan biasa. Ia kemudian berjalan melewati Naya, meninggalkan aroma maskulinnya yang tertinggal di udara, dan menutup pintu kamar dengan pelan.

Naya menghembuskan napas lega yang sedari tadi ia tahan. Kakinya terasa lemas. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang masih terasa hangat oleh bekas genggaman Kafka.

"Gila. Naya, lo bener-bener udah gila," gumamnya frustrasi pada dirinya sendiri.

Malam harinya, rumah Nessa kembali dipenuhi oleh suara bising yang menjadi ciri khas keluarga itu. Nessa pulang dari kantor membawa tiga kotak besar piza dan beberapa porsi pasta. Sahabatnya itu masuk ke dalam rumah layaknya angin puyuh, langsung menuntut cerita lengkap dari kejadian siang tadi di apartemen Reno.

Mereka bertiga kini duduk melingkar di atas karpet berbulu di ruang TV. Naya mengenakan piyama panjang berbahan katun milik Nessa, sementara Kafka sudah berganti pakaian dengan kaus abu-abu longgar dan celana training hitam.

"Gila! Sumpah, gue pengen banget ada di sana buat ngelihat muka pucatnya si Reno waktu lo ancam, Kaf!" Nessa tertawa terbahak-bahak sambil menggigit potongan pizanya setelah Naya—dengan banyak detail yang disensor—menceritakan garis besar kejadian siang tadi.

"Dia tidak seberani itu untuk melawan, Kak," jawab Kafka santai. Pria itu duduk bersandar di sofa, satu kakinya ditekuk, sementara tangannya memegang segelas air es. Pandangannya sesekali mencuri pandang ke arah Naya yang duduk berhadapan dengannya.

"Baguslah! Biar dia tahu rasa. Berani-beraninya dia nyakitin sahabat gue," omel Nessa dengan mulut penuh. Ia lalu menoleh menatap Naya dengan sorot mata melembut. "Nay, lo tinggal di sini aja selamanya sama gue. Kamar tamu itu kosong melompong. Apartemen lo kan masih direnovasi juga tuh katanya. Daripada lo ngekos, mending di sini. Nanti urusan sarapan sama nyetir, biar Kafka yang urus. Anggap aja dia babu gratisan."

Naya nyaris tersedak minumannya mendengar usulan tak masuk akal Nessa. "Ngawur! Yakali gue jadiin adik lo babu. Kasihan Kafka baru pulang jauh-jauh dari London disuruh ngurusin gue. Gue bisa cari kosan sementara, Nes. Nggak enak udah ngerepotin."

"Ngerepotin apanya sih? Lo tuh udah kayak keluarga gue sendiri," Nessa mendengus sebal. Ia lalu menendang pelan kaki Kafka yang berselonjor. "Kaf, lo nggak keberatan kan kalau Naya tinggal di sini agak lama?"

Sudut bibir Kafka tertarik, membentuk senyum miring yang entah mengapa membuat bulu kuduk Naya meremang. Mata elang pria itu menatap langsung ke dalam manik mata Naya, seolah menembus pertahanannya.

"Sama sekali tidak keberatan," jawab Kafka dengan suara baritonnya yang tenang. "Malah... aku sangat mengharapkannya."

Naya buru-buru menunduk, pura-pura sibuk mengaduk-aduk pasta di piringnya untuk menyembunyikan rona merah yang mendadak menjalar di kedua pipinya. Untung saja Nessa terlalu sibuk mengunyah piza untuk menyadari ketegangan tak kasat mata yang terjalin antara sahabat dan adiknya itu.

Pukul dua dini hari.

Hujan gerimis masih turun membasahi ibu kota. Naya berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasur berukuran queen itu. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Ia tidak bisa tidur. Otaknya terlalu lelah, namun ironisnya enggan beristirahat.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Reno dan wanita itu kembali melintas, menggoreskan kembali luka yang berusaha ia jahit rapat-rapat siang tadi. Namun, yang membuat Naya lebih frustrasi adalah fakta bahwa setiap kali bayangan menyakitkan itu muncul, ingatan tentang jemari Kafka yang menggenggam erat tangannya, serta tatapan protektif pria itu, segera datang menimpanya. Menggantikan rasa perih dengan debaran aneh yang tidak seharusnya ia rasakan.

Naya menghela napas kasar. Ia menyerah. Merasa tenggorokannya kering, ia menyingkap selimut dan beranjak turun dari ranjang. Naya membuka pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Nessa yang kamarnya berada tepat di sebelahnya, lalu berjinjit menuruni anak tangga menuju dapur di lantai satu.

Lampu ruang tengah sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu gantung bercahaya kuning temaram di area island table dapur bersih. Saat Naya melangkah mendekat, langkahnya terhenti.

Ada seseorang di sana.

Kafka duduk di salah satu kursi bar. Pria itu tidak memakai kausnya, hanya mengenakan celana training hitam panjang. Punggung lebarnya yang kokoh dan berotot terekspos jelas di bawah cahaya lampu temaram. Ia memakai kacamata baca berbingkai hitam, wajahnya diterangi oleh cahaya dari layar laptop yang menyala di hadapannya. Jari-jari panjangnya bergerak cepat mengetik sesuatu di atas keyboard.

Pemandangan itu... terlalu memanjakan mata. Kafka terlihat luar biasa dewasa dan matang. Kacamata itu memberikannya aura intelektual yang sangat memikat, berpadu kontras dengan fisik maskulinnya yang memukau.

Seharusnya Naya berbalik dan kembali ke kamarnya, namun tenggorokannya yang luar biasa kering memaksanya melangkah maju. Suara gesekan sandal rumah yang dipakai Naya membuat Kafka seketika menghentikan ketikannya. Pria itu menoleh.

"Tidak bisa tidur?" tanya Kafka, suaranya terdengar serak karena kelelahan, memecah keheningan malam dengan cara yang membuat perut Naya bergejolak. Kafka melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di sebelah laptop.

Naya menelan ludah, membuang pandangannya ke sembarang arah agar tidak menatap dada dan perut six-pack pria itu secara terang-terangan. "Haus. Aku mau ambil air dingin."

Kafka bangkit berdiri dari kursi barnya. Alih-alih membiarkan Naya mengambil air sendiri, pria itu berjalan menuju kulkas. "Air dingin tidak bagus untuk lambungmu di jam segini, apalagi perutmu mungkin masih sensitif setelah mabuk semalam," ucapnya tenang.

Kafka mengambil sekotak susu full cream dan sebuah cangkir keramik. Ia menuangkan susu itu, lalu menghangatkannya di dalam microwave selama satu menit. Setelah itu, ia mencelupkan sekantung teh chamomile ke dalamnya dan menambahkan sedikit madu. Semua gerakan itu dilakukannya dengan cekatan, seolah ia sudah sering merawat orang lain.

Kafka berjalan mendekati Naya yang masih berdiri kaku di dekat meja, menyodorkan cangkir yang mengepulkan asap wangi itu. "Minum ini. Chamomile bisa bantu otot-ototmu lebih rileks supaya gampang tidur."

Naya menerima cangkir itu dengan kedua tangannya yang terasa dingin. "Makasih, Kaf. Maaf ganggu kerjaanmu."

"Tidak mengganggu sama sekali," Kafka kembali duduk di kursi barnya, menyandarkan sikunya di atas meja sambil menatap Naya yang mulai menyesap susu hangat itu secara perlahan.

Naya ikut duduk di kursi bar yang ada di sebelah Kafka, menyisakan jarak aman sekitar satu meter di antara mereka. Suasana malam yang sunyi dan suara rintik hujan di luar membuat interaksi ini terasa sangat intim. Naya merasa perlu memecah kecanggungan ini.

"Kerjaan dari kampusmu di London?" tanya Naya, melirik ke arah layar laptop Kafka yang dipenuhi deretan grafik dan angka.

Kafka menggeleng pelan. "Bukan. Itu draf laporan perusahaan. Papa memintaku untuk mulai mempelajari struktur anak perusahaannya di sini sebelum aku resmi masuk bulan depan."

Naya mengangguk mengerti. Ayah Nessa dan Kafka memang memiliki perusahaan properti yang cukup besar. "Jadi... kamu udah lulus total? Nggak berniat kerja di London atau cari pengalaman di sana dulu?"

Kafka menopang dagunya dengan sebelah tangan. Mata hitamnya menatap Naya dari samping, mengamati profil wajah wanita itu di bawah cahaya remang-remang.

"Rencana awalnya begitu," Kafka menjawab pelan. "Aku sempat ditawari posisi di sebuah firma arsitektur di sana. Tapi aku menolaknya dan memilih pulang."

"Kenapa?" Naya menoleh, menatap Kafka dengan dahi berkerut. "Sayang banget, Kaf. Peluang bagus padahal."

Hening sejenak. Kafka tidak langsung menjawab. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Naya. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi lebih pekat, seolah oksigen di ruangan itu baru saja tersedot habis.

"Karena ada sesuatu yang tertinggal di sini. Sesuatu yang sudah lama ingin kuambil, tapi aku harus menunggu sampai aku cukup dewasa dan pantas untuk memilikinya," suara Kafka mengalun rendah, bergetar, dan dipenuhi oleh intensitas yang membuat dada Naya sesak.

Mata Naya mengerjap pelan. Entah mengapa, cara Kafka menatapnya membuat Naya merasa bahwa sesuatu yang Kafka maksud adalah dirinya. Namun, akal sehat Naya dengan cepat menampik pikiran konyol itu. Tidak mungkin.

"Oh... pacar kamu? Kamu punya seseorang yang nunggu kamu di sini?" tebak Naya, mencoba terdengar biasa saja meskipun ada sedikit, hanya sedikit, rasa tidak nyaman saat mengucapkan kata 'pacar'.

Senyum tipis dan sarat makna terbit di sudut bibir Kafka. Pria itu tiba-tiba menggeser posisinya, mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Naya. Naya secara refleks memundurkan wajahnya, namun kursi bar yang didudukinya tidak memberinya banyak ruang untuk menghindar.

Aroma cedarwood dan kulit yang hangat dari tubuh Kafka langsung menginvasi indera penciuman Naya, memabukkan dan berbahaya.

"Dia bukan pacarku," bisik Kafka. Tangannya perlahan terangkat. Naya menahan napas, tubuhnya membeku.

Jari telunjuk dan ibu jari Kafka yang hangat dan sedikit kasar bergerak mendekati wajah Naya. Naya memejamkan mata secara refleks, jantungnya berdegup gila-gilaan. Namun, alih-alih menyentuh pipinya, Kafka menyelipkan anak rambut Naya yang berantakan, menyelipkannya dengan sangat lembut di belakang telinga Naya.

Saat menarik tangannya mundur, buku-buku jari Kafka menyapu garis rahang Naya secara tidak sengaja—atau mungkin disengaja. Sentuhan seringan bulu itu mengirimkan sengatan listrik bervoltase tinggi tepat ke pusat saraf Naya. Naya membuka matanya, menemukan wajah Kafka berada hanya beberapa inci dari wajahnya.

"Dia belum jadi pacarku," ralat Kafka, suaranya sepelan embusan angin malam. "Karena selama tiga tahun terakhir, aku membiarkan pria lain menjaganya. Tapi pria itu gagal. Jadi sekarang, aku pulang untuk mengambil alih tugas itu."

Naya berhenti bernapas. Mulutnya sedikit terbuka, otaknya berusaha keras mencerna setiap kata yang keluar dari bibir pria di hadapannya ini. Apakah Kafka sedang membicarakan dirinya? Tidak, ini pasti hanya halusinasinya karena kelelahan.

Sebelum Naya bisa menuntut penjelasan, Kafka menarik tubuhnya kembali menjauh. Pria itu berdiri, mengambil cangkir Naya yang sudah kosong, dan meletakkannya di wastafel.

"Tidurlah, Kak Naya. Hari ini sudah cukup berat untukmu," ucap Kafka lembut. Ia berbalik menatap Naya, memberikan senyuman hangat yang tidak memancarkan ancaman sama sekali, sangat berbeda dengan aura mendominasi beberapa detik yang lalu.

Kafka berjalan melewati Naya, menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan Naya sendirian di dapur yang remang-remang. Naya masih duduk mematung di atas kursinya. Telinganya masih menangkap getaran suara Kafka, dan kulit rahangnya masih menyimpan sisa kehangatan dari sentuhan pria itu.

Malam itu, di tengah rintik hujan Jakarta, Naya menyadari satu hal yang mengerikan: ia mungkin berhasil melarikan diri dari masa lalunya yang hancur, namun ia baru saja masuk ke dalam sebuah labirin baru yang jauh lebih berbahaya. Dan Kafka adalah dinding penutup jalan keluarnya.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!