Bagi Raka, menikah dengan Aluna itu bencana, seperti Gempa dengan kekuatan 10 SR. Dan sialnya, dia tidak bisa mengelak karena perjodohan konyol orang tuanya.
Dan, bagi Aluna, menikah dengan Raka adalah ajang balas dendam, karena Raka yang selalu menghukumnya di sekolah.
Tapi ternyata, ada satu hal yang mereka lupa, bahwa waktu bisa merubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Selatan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
truth or dare
Sejak awal aku tuh memang curiga sama si Dugong Jantan dan si Ratu siput yang tiba-tiba ingin nginep di rumah. Dan lebih anehnya lagi si Indra justru keliatan akrab sama si galak Raka. Lihat aja dia sedang ngobrol berdua di lantai dua sambil memainkan tangannya di bawah pagar pembatas. Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan, bahkan pelafalan bibirnya aku tidak bisa menebaknya, padahal kalau Kikis yang sedang ngomong di lantai dua. Dari lantai satu aja itu kedengeran.
"Lun!" Febi memekik kesenangan saat dia menemukan romet Televisi yang di sembunyikan Kikis tadi malam.
Lalu dia menepuk-nepuk sofa depan Tv dan aku segera menghampirinya ikut bergabung.
"Ternyata si Kikis naro remotnya di bawah sofa, nyebelin emang dia itu." Cerocos Febi sambil mulutnya komat kamit, aku hanya terkikis saja menyaksikan ke jengkelan Febi.
"Woy, sini nonton film!" Febi menyahuti Indra dan Raka untuk turun. Lalu mereka tampak mengangguk mengiyakan.
Kakiku ku luruskan di Sofa sehingga saat Febi yang melihatku begini hanya menggelengkan kepala takjub, haha.
"Terus gue duduk di bawah gitu." Kata Febi berdecak kesal. Lalu seperkian detik dia menghempaskan kakiku sampai aku terjun bebas di bawah.
Aku mengaduh kencang, bukan masalah prihal jatuhnya, tapi ini kakiku biru bekas nendang tiang bendera berasa joget-joget berdenyut-denyut.
"Elah lo lebay banget." Ejek Febi, aku menatap dia dengan tatapan sebal, lalu segera melempar mukanya dengan bantal persegi dengan kain berbulu.
"Sialan lo." Omelku, lalu bangkit dan ikut duduk di sebelah Febi.
Dia sudah sangat serius sekali wajahnya, padahal ini film sudah sering sekali kami putar-putar setiap kali kami menginap, anggap saja ini sebagai rutinitas kami, haha.
TRAIN TO BUSAN
itu judul yang tertera di layar Tv, lalu film mulai berjalan.
Saat film sekitar lima menit durasinya, Indra dan Raka ikut bergabung, kali ini Sofa rasanya jadi sedikit sesak sekali karena di tampung orang empat sekaligus.
Ayah sudah membelikan kado ini tahun lalu
Maaf, ayah bingung harus membelikanmu apa, jadi apa yang kamu inginkan?
Busan!
Aku ingin ke Busan, bertemu mama
Ya, nanti yah jika ayah tidak sibuk.
Nggak, ayah selalu tidak menepati janji, aku mau besok kita pergi ke Busan.
"Sudah mulai seru nih." Celetuk Febi, lalu memukul kakiku yang sedang bersila di Sofa. Aku reflek mengaduh, lagi.
Dia ini emang hobi banget nyiksa teman sendiri, mungkin di sekolahnya dia nggak punya teman karena sering mukul temannya.
"Ikut gue." Kata Raka, sambil menarik tanganku.
"Apa sih." Kataku ketus, tapi tetap mengikutinya.
Dia membawaku sampai ke dapur, lalu menyuruhku duduk di kursi.
"Kaki lo biru, kan." Katanya.
Aku yang mendengarnya hanya membuang muka, sambil berkata tidak.
"Gue tahu Luna." Ujarnya lagi, lalu dia mengangkat kakiku dan lihat luka memar kebiruan disana.
"Makanya, jadi orang itu nggak usah nekat!" Omelnya
"Yaelah cuma gini doang kali." Kataku, lalu berdiri dan berjalan ke arah Febi untuk melanjutkan menonton film. Mungkin sudah ada adegan Zombie nya.
"Gara-gara lo sih, gue ketinggalan kan." Omelku pada Raka yang menyusul di belakangku.
"Habis ngapain?" Tanya Indra menyelidik.
"Nggak tahu tuh Raka, nggak jelas." Makiku. Dan dia hanya diam bak nggak punya telinga.
"Kyaaaa.... Gue selalu baper pas adegan ini." Teriak Febi, ini scane terakhir tentara Busan mengatakan ada manusia yang selamat.
Aku juga ikut menangis, entah kenapa selalu berujung nangis padahal sudah tahu endingnya. Tapi dari film ini kita bisa tahu bahwa tidak semua orang tua itu Sempurna, tapi setiap orang tua memiliki cinta yang sempurna.
"Dih Bebeb Luna nangis." Goda Indra sambil cengengesan.
"Sejak kapan lo nangis.hahaha." cibirnya lagi.
Aku hanya memukul bahunya pelan.
...***...
Lagi-lagi aku melihat Indra dan Raka sedang membicarakan sesuatu yang mencurigakan, sesuatu yang selalu ingin aku dengar, sesuatu yang ingin aku ketahui. Entah kenapa firasatku bilang bahwa itu ada hubungannya denganku.
"Lun, kok lo bisa sih bikin nasi gonjleng." Kata Febi saat mencicipi
"Gampang gitu, masa nggak bisa." Ucapku
Febi membawa beberapa piring dan gelas, lalu aku ikut membawakan sepiring ikan salmon dan sepiring sambal balado.
Aku meletakannya di meja kaca panjang yang biasa untuk kami makan.
Febi sedang memanggil Indra dan Raka, lalu ku ambil Nasi gonjleng dan wadah besar berisi es jeruk.
"Waaah... Udah lama banget nggak makan masakan bebeb Luna." Ucap Indra, lalu mengambil secentong nasi dan beberapa sendok sambal.
"Iya, udah lama banget Anjir." Sambung Febi, dia sedang mengambil air mineral di galon sudut ruangan.
"Pasti Raka sering banget yah makan masakan Luna. Dia jago masak kan." Ucap Febi, lagi.
Aku tersenyum meremehkan memandang Raka, sedang yang di pandang hanya menunjukan reaksi masamnya. Hahaha, jangankan mencicipi masakan, wong di kontrakan aku cuma goreng telor, tahu, ayam udah gitu aja terus dan itupun hanya untuk diriku aja.
"Ittadakimasu!" Kataku sambil memasukan makanan di mulutku.
Selesai makan dan mencuci piring berjamaah, kami duduk di karpet bulu di lantai dua, disana hanya ada ruangan kosong dengan beberapa kursi kayu dan meja.
Kami sedang melakukan permainan Truth or dare atas usul Febi.
Botol kecap kami jadikan sebagai alatnya, botol kecap itu di putar sekencang mungkin, lalu memelan dan berhenti tepat di hadapan Febi .
"Truth or dare, Feb?" Tanya Indra.
"Truth." Ujar Febi sambil tersenyum.
"Ngaku, lo suka sama Indra kan." Ujarku.
Febi menatapku horor sambil menggelengkan kepalanya. "Gila aja gue suka sama Dugong Jantan." Ujarnya tidak terima.
"Lo pernah kepecirit di celana nggak?" Tanya Indra.
"Pernah pas sd." Ujar Febi, Jujur.
"Kenapa lo beda sekolah sama Luna dan Indra?" Ini pertanyaan Raka.
Febi tampak berfikir sejenak. "Karena gue sekarang tinggal sama Kakak, dan itu gue harus cari sekolah yang dekat dari rumah kakak gue." Jawab Febi.
"Pas lo kepecirit, lo di ketawain nggak?" Tanya Indra sambil cengengesan.
Febi menggembungkan pipinya, "Kan pertanyaan yang harus di jawab cuma tiga bukan empat" dengusnya.
Kini, botol kecap di putar kembali dan sampailah pada si nyebelin Raka.
"Dare." Ujar Raka tegas.
"Gue tantang lo telpon Sela dan bilang kalau lo benci sama dia." Indra berbicq dengan penuh penekanan seakan-akan itu tidak terdengar seperti permainan.
Raka mengambil ponselnya di saku baju, lalu seperti sedang menekan sesuatu disana.
"Hallo, Raka. Ngapain malem-malen gini nelpon aku?" Itu suara cicitan Sela.
"Gue lagi main T O D, gue mau bilang kalau gue nggak suka sama lo."
Raka segera mematikan teleponnya.
"Gue kan, bilangnya benci. Bukan nggak suka." Protes Indra, lalu si Raka cuma mengedikan bahunya tidak perduli.
"Sekarang gue." Sahut Febi antusias.
Wajahnya mulai menunjukan wajah-wajah misterius. "Lo kan, suami Luna, lo pernah nyium Luna nggak?" Tanyanya to the point.
Raka diam sesaat kemudian menjawabnya "Gue nggak mau jawab karena gue nggak milih Truth." Jawabnya.
Febi mengacak rambutnya frustasi, itu sukses buat aku ketawa kencang, iya cuma aku aja yang lainnya nggak.
"Yaudah gue tantang lo buat cium Luna."
"Heh, apaan itu!" Ujarku dan Indra berbarengan. Masalahnya ya nggak apa-apa sih, aku sudah pernah mencium Raka sekali dan Raka juga pernah menciumku dua kali. Tapi kan!
"Gue nggak mau tahu." Kata Febi acuh, lalu dia menggerakan alisnya naik turun.
"Sial." Umatku.
Raka menghela nafas sesaat, lalu maju beberaoa langkah kedepan ku.
"Nih, cium pipi gue aja." Ujarku tajam, Raka hanya memutar bola matanya bosan.
Aku memalingkan wajahku dari nya.
"Udah belum, lama bang-
Ucapanku berhenti di udara saat bibirnya tepat tertempel di bibirku.
Mata Raka menatapku tajam, lalu melakukan pergerakan lembut di bibirku.
"Kyaaaa....." Febi berteriak, itu membuatku tersadar jika ada dua orang lagi dirumah ini.
Raka segera menjauhkan wajahnya dariku, begitu juga aku. Kita sama-sama memalingkan wajah kami.
"Kalian sweet banget. " Pekik Febi
"Gue berhenti." Kata Indra, lalu berdiri dan memasuki kamar yang di peruntukan untuknya.
"Dih, gitu aja ngambek." Omel Febi.
"Udah malem." Kata Indra dari dalam kamar.
Akhirnya karena kejadian ini, Febi juga jadi memilih tidur, Febi tidur di kamar Kikis, sedangkan Indra tidur di kamar tamu. Dan Raka jelas tidur di kamarku.
"Indra suka sama lo." Gumam Raka saat membaringkan tubuhnya di kasur.
"Indra itu sayang banget sama aku dan Febi, makanya dia kayak gitu sama lo, apalagi lo suka hukum gue di sekolah." Kataku. Lalu ikut berbaring di sampingnya.
Raka merengsek maju memeluk perutku.
"Heh!" Teriakku.
Raka menatap wajahku kesal. "Kan lo tahu gue nggak bisa tidur tanpa meluk." Katanya.
"Lagian lo kenapa nggak bawa boneka jelek itu ke sini sih." Omelku.
"Ya malu sama keluarga lo." Bisiknya.
Aku tertawa melihat ekspresi nya, "oh ternyata lo punya malu juga." Gumamku.
Aku tuh kasian, tapi juga nyaman dalam waktu yang bersamaan. Lalu aku masuk dalam dekapannya, memeluk dada bidang dia dan dia memeluk tubuhku.
"Lun."
"Hmm.."
"Makasih." Gumamnya. Lalu tangan kekarnya mengelus rambutku berkali-kali, dan terakhir mencium keningku lembut.
"Kenapa?"
"Nggak tahu, tapi aku baca kalau suami itu harus selalu mengecup kening istrinya." Gumam Raka, ini kedua kalinya Raka bicara dengan kata. 'aku' itu masih membuatku salah tingkah, padahal cuma kata 'aku' doang. Hahaha.
Aku keluar dari dekapannya, lalu duduk bersandar di dinding. Raka juga melakukan hal yang sama.
"Lo nganggep gue istri lo?" Tanyaku
Raka mengangguk.
"Tapi kan, sial.
Aku memaki mengingat aku dan Raka sudah sangat dekat sekali padahal tujuan aku hanya ingin membuatnya menderita.
"Gue masih enam belas tahun, belum punya ktp, dan gue bingung kenapa gue harus jadi seorang istri, dan kenapa lo seolah-olah jadi seorang suami. Kenapa kita kayak gini." Gumamku.
"Pasti ini buat kamu terbebani yah. Kamu tenang aja. Kita pasti bisa lewatin ini sama-sama, dan aku ingin kenal kamu lebih dekat lagi." Kata dia.
Dia menyeret tubuhku di pelukan nya.
"Mulai sekarang, kita temenan yah, Aluna." Kata Raka.
*CUPLIKAN EPISODE SELANJUTNYA*
"Lun..."
"Luna..."
"Heeeem!"
"Aluna, bangun."
Aku menguap lebar, sambil bergumam tidak jelas.
"Bangun Aluna Ratu Az-Zahra." Raka tampak kesal membangunkanku, terserah.
"Iyaaa." Seruku.
"Bangun atau aku cium." Ancamnya.