sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAMUAN BERACUN DAN PERMINTAAN SANG IBU
Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Kira terbangun dengan perasaan yang tidak menentu. Kata-kata Arlan di taman kemarin masih terngiang jelas: Ibu menentangnya. Sebagai seseorang yang sudah dianggap anak sendiri oleh keluarga Arlan selama sebelas tahun, penolakan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada jika itu datang dari orang asing.
Baru saja Kira hendak menyeduh kopi, ponselnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat jantungnya mencelos.
Ibu Arlan.
Kira menarik napas panjang, menenangkan tangannya yang mendadak dingin. "Halo, Assalamualaikum, Tante."
"Waalaikumsalam, Kira Sayang," suara Bu Rahmi terdengar sangat lembut, seolah ketegangan besar semalam tidak pernah terjadi.
"Kira sibuk tidak siang ini? Tante sedang di Jakarta Selatan, dekat kantor kamu. Mau makan siang bareng?"
Kira terdiam sejenak. Ia tahu ini bukan sekadar makan siang biasa. Ini adalah undangan ke medan perang yang dibungkus dengan keramahan. "Bisa, Tante. Jam satu di tempat biasa?"
"Iya, Sayang. Tante tunggu ya."
Klik. Sambungan terputus. Kira menatap layar ponselnya dengan nanar. Ia tahu ia harus menghadapinya. Ia tidak bisa terus bersembunyi di balik punggung Arlan jika ia ingin hubungan ini benar-benar berhasil.
Restoran Sunda langganan mereka siang itu cukup ramai. Bu Rahmi sudah duduk di pojok ruangan, tampak anggun dengan kerudung sutra dan senyum yang selalu menenangkan. Begitu melihat Kira, beliau berdiri dan memeluk Kira erat—pelukan yang biasanya terasa hangat, namun kali ini terasa seperti sebuah salam perpisahan.
"Duduk, Ra. Tante sudah pesan gurame bakar dan karedok kesukaanmu," ucap Bu Rahmi ramah.
Makan siang dimulai dengan obrolan ringan. Bu Rahmi bertanya tentang pekerjaan Kira, tentang kesehatan ibunya di kampung, hingga gosip-gosip ringan. Namun, Kira bisa merasakan ada sesuatu yang tertahan di balik keramahan itu. Setelah pelayan mengangkat piring kotor dan menyajikan teh hangat, suasana berubah.
Bu Rahmi meletakkan cangkir tehnya, menatap Kira langsung ke matanya. "Kira, Tante sudah kenal kamu sejak kamu masih pakai seragam SMA yang kependekan dan rambut dikuncir dua."
Kira tersenyum getir. "Iya, Tante. Sudah lama sekali."
"Tante sayang sekali sama kamu, Ra. Kamu itu ceria, baik, dan selalu bisa bikin Arlan tertawa. Tante selalu bersyukur Arlan punya sahabat seperti kamu. Karena Arlan itu kaku, dia butuh orang seperti kamu untuk 'mencairkannya'."
Bu Rahmi menjeda, menarik napas panjang.
"Tapi semalam, Arlan bilang sesuatu yang bikin Tante sedih. Dia bilang kalian... pacaran?"
Kira menunduk, meremas jemarinya di bawah meja. "Iya, Tante. Kami baru menyadarinya."
"Sayang sekali," bisik Bu Rahmi, suaranya kini terdengar pilu. "Kenapa harus merusak sesuatu yang sudah sempurna, Ra? Persahabatan kalian itu murni. Kalau sekarang kalian bawa-bawa perasaan cinta, semuanya jadi rumit. Kalian masih muda, emosi masih naik turun. Kalau nanti kalian berantem, atau—amit-amit—putus, Tante kehilangan siapa? Tante kehilangan Arlan yang bakal murung, dan Tante kehilangan kamu yang nggak akan berani main ke rumah lagi."
"Kami akan berusaha supaya itu nggak terjadi, Tante," ucap Kira lirih.
"Nggak bisa janji, Ra. Cinta itu egois," Bu Rahmi meraih tangan Kira, menggenggamnya dengan jemari yang mulai keriput namun kuat. "Tante minta tolong sama kamu, sebagai 'ibu' kedua kamu. Tolong, lepaskan Arlan. Biarkan dia tetap jadi sahabatmu. Arlan itu punya masa depan besar sebagai arsitek. Dia butuh pendamping yang bisa mendukung sisi sosialnya, yang punya latar belakang keluarga yang bisa memperkuat posisinya. Seperti Safira."
Hati Kira terasa seperti diiris sembilu. "Jadi... karena saya nggak selevel dengan Safira?"
"Bukan begitu, Sayang. Safira itu sudah dipersiapkan. Dia tenang, dia mengerti tata krama keluarga besar kami, dan yang paling penting, dia tidak punya sejarah 'sahabat' dengan Arlan. Hubungan mereka akan mulai dari nol, bersih, tanpa beban masa lalu."
Bu Rahmi menatap Kira dengan tatapan memohon. "Kira, kamu anak yang baik. Kamu pasti ingin Arlan bahagia, kan? Kebahagiaan Arlan itu ada pada restu orang tuanya. Kalau Arlan memaksakan diri sama kamu, dia akan selalu merasa bersalah pada Ibu dan Ayahnya. Apa kamu tega melihat Arlan hidup dalam rasa bersalah seumur hidupnya?"
Kira tidak bisa menjawab. Air matanya mulai menggenang. Logika Bu Rahmi sangat kejam karena mengandung kebenaran. Arlan adalah anak yang sangat berbakti. Jika Arlan harus memilih, ia akan hancur di tengah-tengah.
"Pikirkan ya, Ra. Tante nggak minta jawaban sekarang. Tapi tolong, menjauhlah pelan-pelan. Biar Arlan belajar bahwa apa yang dia rasakan sekarang cuma rasa nyaman yang salah arti."
Kira kembali ke kantor dengan jiwa yang kosong.
Ia tidak bisa fokus pada layar komputernya.
Setiap kali ia melihat foto Arlan di meja kerjanya—foto saat mereka mendaki gunung dua tahun lalu—dadanya terasa sesak.
Sore harinya, Arlan menelepon.
"Ra, aku jemput ya? Kita makan malam di tempat biasa?" suara Arlan terdengar bersemangat, seolah ia sedang mencoba menutupi beban pikirannya sendiri.
"Maaf, Lan. Aku... aku harus lembur. Banyak revisi," bohong Kira. Suaranya bergetar.
"Lembur lagi? Kamu sudah tiga hari lembur terus. Jangan sampai sakit, Ra. Aku bawakan makanan ke kantor ya?"
"Nggak usah, Lan! Aku... aku mau sendiri dulu. Tolong," ucap Kira sedikit ketus, lalu segera menutup teleponnya.
Kira menangis di meja kerjanya yang sudah sepi. Ia mulai melakukan apa yang diminta Bu Rahmi: menjauh pelan-pelan. Ia merasa menjadi penjahat dalam ceritanya sendiri. Ia mencintai Arlan, tapi mencintai Arlan berarti membuatnya menjadi anak durhaka.
Tiba-tiba, pintu ruangan divisinya terbuka.
Arlan berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Ia masih memakai kemeja kantornya, wajahnya tampak sangat khawatir.
"Kamu bohong," ucap Arlan pendek. Ia berjalan mendekati meja Kira. "Aku tanya satpam di bawah, dia bilang divisimu nggak ada proyek besar minggu ini. Kenapa kamu menghindar, Ra?"
Kira menghapus air matanya dengan kasar.
"Pulanglah, Lan. Aku cuma butuh waktu."
Arlan menarik kursi di depan Kira, duduk dan menatapnya tajam. "Ibu nemuin kamu, ya?"
Kira terdiam. Diamnya Kira adalah jawaban bagi Arlan.
"Apa yang Ibu bilang? Dia minta kamu putus sama aku? Dia banding-bandingin kamu sama Safira?" suara Arlan mulai meninggi. "Ra, tatap aku!"
Kira mendongak, matanya merah. "Ibu benar, Lan. Persahabatan kita itu sempurna. Kenapa kita harus merusaknya? Kalau kita lanjut, kamu bakal kehilangan Ibu. Aku nggak mau jadi penyebab kamu jauh dari orang tuamu."
Arlan meraih tangan Kira, menariknya agar berdiri dan memeluknya dengan paksa.
"Dengarkan aku, Kiranara. Ibu memang orang tuaku, tapi hidupku adalah milikku. Aku sudah dewasa. Aku tahu siapa yang aku butuh di sampingku saat aku bangun tidur dan saat aku mau memejamkan mata. Dan itu kamu. Bukan Safira, bukan pilihan Ibu yang lain."
"Tapi Ibu nggak akan pernah setuju, Lan..."
"Maka aku akan buat dia setuju," tegas Arlan.
"Aku nggak akan menyerah secepat itu. Dan aku minta kamu juga jangan menyerah. Kalau kamu menjauh, itu sama saja kamu membiarkan Ibu menang tanpa perlawanan. Apa sebelas tahun kita cuma seharga itu?"
Kira terisak di dada Arlan. Kehangatan tubuh Arlan selalu menjadi tempat perlindungannya, tapi kali ini, perlindungan itu terasa seperti benteng yang sedang dikepung.
"Janji sama aku, Ra," bisik Arlan di telinganya.
"Jangan pernah angkat telepon Ibu kalau cuma buat dengerin permintaan putus. Jangan pernah ketemu Ibu tanpa aku. Kita hadapi ini berdua. Sebagai pasangan, bukan lagi sebagai sahabat yang saling sembunyi."
Malam itu, di kantor yang remang-remang, mereka memperbaharui janji mereka. Namun di luar sana, Bu Rahmi tidak tinggal diam. Beliau sudah menyiapkan rencana lain untuk memastikan Arlan dan Safira menghabiskan lebih banyak waktu bersama.
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, musuh mereka adalah orang yang paling mereka hormati.