NovelToon NovelToon
ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:7.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Novianti Maura

Penting untuk dibaca calon reader sebagai gambaran : Bahwa novel fiksi ini dilatar belakangi kasus kriminal berat. jadi kandungan di dalam nya berisi 40% konflik tegang, 30% romantis dan 30% komedi. Jadi mohon bijak untuk menanggapi. salam sehat selalu dari Author

Hai, Kamu. Ya Kamu yang pernah tersakiti, dicampakkan, dikhianati, didzolimi, dan dibuang seperti barang tanpa arti.
Jangan takut, kamu tidak sendirian.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Kamu sedih? Sama, akupun sedih.
Kamu kecewa? Terlebih lagi aku.
Kamu dendam? Apalagi aku.
Kita berhadapan dengan musuh yang sama walaupun dengan jalan cerita yang berbeda.
Aku butuh kasusmu dan kamu butuh perlindunganku. Untuk menghadapinya lebih baik kita bersatu.
(with Love, Ferdian)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianti Maura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Reynard memarkirkan mobilnya di tempat yang lebih privasi, di pelataran parkir gedung kantor milik sahabatnya, Ferdian.

Dengan kacamata hitam bertengger di pangkal hidung tegaknya, ia melangkah penuh percaya diri menuju lobi.

Para pegawai wanita di tempat itu tak ingin melewatkan kesempatan untuk melempar lirikan pada si tampan Reynard.

Tapi pria itu tak menggubris sama sekali. Dengan santai ia memasuki lift dan menekan angka dua puluh pada tombol samping pintu.

Tak lama, Reynard sudah sampai di lantai yang dia tuju, lantai yang paling elegant di gedung itu, lalu menuju ruang pimpinan .

“Selamat siang, Pak,” sambut dua resepsionis cantik. Intan dan Dewi.

“Selamat siang, Ibu-ibu cantik. Boleh saya langsung ke ruangan Ferdian?” goda Reynard sambil mengerlingkan sebelah mata, membuat keduanya tersenyum dengan hati penuh bunga.

“Silahkan, Pak," seru keduanya nyaris bersamaan.

Tanpa banyak cakap, Reynard berlalu dari hadapan kedua resepsionis itu. Diiringi pandangan memuja mereka yang enggan lepas dari sosok Reynard yang memang punya tubuh seksi versi laki-laki.

“Ya Tuhan, mupeng aku jadinya,” ucap Dewi menarik napas dan terkulai lemas di kursinya.

“Bokongnya itu loh, Maaakk. Seksi nian euy,” tambahnya lagi sambil memegang dadanya yang berdebar kencang.

Intan tertawa kecil mendengar rekannya itu sudah mulai goyah benteng pertahanan nafsunya.

“Kalo menurut aku sih tetep pak Ferdian yang paling seksi. Apalagi kalo dia abis cukuran, aduuhh ... bening banget kayak air mineral,” balas Intan tak kalah mupengnya dari Dewi.

“Itu kalo lagi ciuman pasti berasa geli-geli gimana gitu, yah," imbuh Intan lagi membuat Dewi memanyunkan bibirnya.

Keduanya pun akhirnya tertawa kecil saling menceritakan kehaluan mereka masing-masing.

Di ruangan Ferdian.

Pintu dibuka, Reynard langsung berlalu masuk tanpa menunggu ijin dari si pemilik ruangan.

Didapatinya Ferdian bersama Vika, sekertarisnya, sedang mendiskusikan sesuatu di meja kerja.

Keduanya tampak begitu serius sampai-sampai tak menyadari kedatangan Reynard.

“Selamat siang, laki orang dan bini orang!” seru Reynard mendekati keduanya. Mereka pun menoleh bersamaan.

“Hei Rey,“ sapa Vika memberikan tempat duduknya untuk Reynard.

“Gak pa-pa, silakan lanjutkan dulu kerjaan kalian, aku bisa nunggu.”

“Ini sudah selesai, cuma tadi ada sedikit revisi yang aku tunjukan ke Vika,” Ferdian yang menjawab.

“Oiya, minum apa, Rey? Aku pesenin ke office boy, ya?” tanya Vika seraya bersiap-siap keluar ruangan.

“Gak usah, aku gak lama kok.” Reynard menolak sopan.

Vika mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah pergi keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.

“Ada info tentang Bramanto.“ Reynard menarik kursi di depan meja Ferdian lalu mendudukinya.

Raut wajahnya terlihat serius. Begitu juga dengan Ferdian yang langsung membetulkan posisi duduknya untuk mendengarkan info yang sangat penting baginya.

Reynard menyerahkan sebuah map ke hadapan Ferdian. Lalu Ferdian membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar berkas dari dalamnya, kemudian dibacanya singkat lembar demi lembar.

“Apa ini, Rey? Sepertinya data keuangan dari auditing,” tanya Ferdian setelah merapikan berkas itu.

“Betul, itu data audit dari beberapa cabang perusahaan Bramanto yang masih sehat. Termasuk perusahaan induk, Bro. Di beberapa sektor sudah mulai kembang kempis, tapi masih bertahan karena dibantu dari perusahaan induk.” Reynard menjelaskan dengan lugas.

Kening Ferdian berkerut tanda sedang memikirkan suatu rencana baru yang sangat penting.

“Kalo begitu keadaannya, kita hajar perusahaan induknya, Rey. Jangan tanggung-tanggung. Apa bisa kau atur?“ ucap Ferdian kemudian. Reynard mengangguk dan mengangkat jempolnya mantap.

“Tenang saja, aku punya akses bebas untuk memantau pergerakan di perusahan induknya.”

Ferdian tersenyum senang. Dia sangat puas dengan info yang diterimanya. Membuatnya kian antusias untuk menghabisi Bramanto, si pembunuh kedua orangtuanya.

“Oiya ada info satu lagi...” lanjut Reynard.

“Ini tentang Lusi. Kau harus hati-hati dan tetap waspada. Bramanto sebar orang untuk mencari Lusi. Dia kasih reward untuk yang menemukan dan membawa Lusi kembali ke dia. Aku kemarin tak sengaja dapat info dari salah satu pengawal Bramanto."

“Dan Bramanto tau waktu Lusi kabur, dia ditumpangi mobil Mercedes Benz warna hitam. Aku takut pengawalnya yang kejar Lusi waktu itu ada yang sempat mengingat nomor polisi mobilmu, Fer.” lanjut Reynard lagi.

Ferdian menarik napasnya dan menghelanya dengan perasaan gundah. Ada kecemasan membayangi hatinya.

Dia tahu bagaimana sadisnya Bramanto. Orangtuanya pun menjadi korban kebiadabannya. Dia tidak rela jika sesuatu yang buruk juga terjadi pada Lusi.

“Oke, aku akan jaga ketat kemana pun Lusi pergi. Kalau perlu, mulai malam ini aku akan tidur di kamarnya,” ujar Ferdian kemudian.

Reynard tertegun mendengar ucapan Ferdian barusan. Matanya terbelalak heran.

“Jadi selama ini kalian benar-benar tidur terpisah?” tanya Reynard kaget. Dirinya sama sekali tak menyangka begitu patuhnya Ferdian pada kesepakatannya dengan Lusi.

“Iya, memang begitu yang diminta Lusi. Dia takut tidur sama aku,” ucap Ferdian dengan mimik wajah polos.

“Hahahaha! Bro...Bro, kasian sekali kau!” Reynard tertawa terbahak-bahak.

Ferdian justru heran dengan tingkah Reynard yang malah mentertawakan dirinya.

“Hey Bro, kalian ini sudah sah sebagai suami istri. Apapun perjanjian di belakangnya, yang pasti kalian sudah menikah resmi secara agama dan negara. Ya sudah, lakukanlah kewajiban kalian sebagai suami istri,“ tutur Reynard lugas dan penuh semangat.

Ferdian hanya diam tak bersuara di ceramahi oleh Reynard. Apa yang dikatakan Reynard membuat jiwa kejantanannya meronta-ronta.

Dia pun sebenarnya sangat ingin melakukannya tapi tak tega pada Lusi. Apalagi di usianya yang kini mendekati kepala tiga belum pernah sama sekali merasakan kenikmatan berhubungan intim dengan seorang wanita.

“So, just do it, Bro. You deserve it," ucap Reynard sambil tertawa ringan.

Dia tak menyangka sahabatnya yang sudah dikenalnya sejak kecil itu ternyata sangat naif untuk urusan satu itu.

“Okelah, aku pergi dulu, ya. Inget pesan ku. Just do it. Apa perlu aku ajarin caranya dan jurus-jurusnya?” goda Reynard membuat wajah Ferdian bersemu merah karena malu.

“Sialan kau, Rey,“ gerutu Ferdian seraya meninju ringan bahu Reynard.

Reynard yang masih tertawa melangkah keluar ruangan itu dan meninggalkan Ferdian yang terpekur di kursi kebesarannya.

Triingg...Triinggg...Trriiing....

Gawainya berbunyi di atas meja. Terlihat gambar wajah Lusi di layarnya. Lekas Ferdian menggeser tombol hijau untuk menjawabnya.

“Sudah pulang?” tanyanya mendahului.

“Sudah, Mas. Mas sibuk gak? Aku ke kantor ya. Mau makan siang bareng Mas.” Suara Lusi dari seberang terdengar ringan.

“Ayo kemari, aku gak sibuk kok."

“Oke Mas, tunggu ya."

Sambungan telepon berakhir. Ferdian menunggu kedatangan sang istri. Ia putuskan bergegas merapikan beberapa berkas dan buku-buku yang bertumpuk di atas meja.

Ia menuju wastafel kamar mandi yang berada di dalam ruangannya. Membasuh wajahnya sebentar. Kemudian menyemprotkan parfum favoritenya ke beberapa bagian tubuh dan lehernya. Mematut diri sejenak di depan cermin

dan merapikan rambut hanya dengan jari.

“Selamat siang, Mbak Vika. Aku mau ketemu Mas Ferdian.” Lusi menyapa Vika yang tengah sibuk menatap layar komputernya.

Vika menoleh ke arahnya. Lusi berdiri di hadapannya dengan mengenakan celana jeans dan kemeja putih dengan wajah yang menyungging senyum ramah. Spontan Vika berdiri.

“Ohh, selamat siang Ibu, ehh, adek. Aduh, aku harus panggil apa nih?” sahut Vika gugup di hadapan Lusi yang justru tertawa kecil mendengarnya.

“Panggil Lusi aja, Mbak," jawab Lusi ramah. Vika mengangguk kikuk.

Cantik banget nih anak, apa sih skincarenya, itu muka bisa mulus gitu, Vika memuji Lusi dalam hati.

“Oh iya, Lusi. Silahkan langsung aja, pak Ferdian ada di ruangan,” ucap Vika mempersilahkan. Lusi mengangguk ramah kemudian berlalu menuju ruangan yang ditunjuk.

“Maaas? Maaas?” panggil Lusi ketika sudah masuk ke ruangan Ferdian, tapi tak tampak batang hidung suaminya itu.

Lusi melangkah menuju meja kerja Ferdian yang tampak rapi dan melihat kunci mobil dan gawainya tergeletak di atas meja.

“Kamu sudah datang?” Tiba-tiba suara Ferdian terdengar persis di samping telinganya.

Tanpa menunggu reaksi Lusi, Ferdian merengkuh pinggang gadisnya itu dari belakang. Lusi langsung berbalik hingga tak dapat dihindari tubuhnya kini menempel rapat pada tubuh Ferdian yang menjulang.

Lusi tak dapat menyembunyikan semburat merah di pipinya saat wajah Ferdian mendekat ke wajahnya. Pandangan mereka pun bertemu.

Perlahan Ferdian memiringkan kepala, memberi jalan untuk bibirnya menggapai bibir mungil Lusi, lalu melum4tnya lembut.

Lusi yang disergap secara mendadak itu hanya bisa pasrah menerima ciumann sang pria.

Ternyata Ferdian sangat lihai memainkan bibirnya. Gadis itu pun sangat menikmati hingga matanya terpejam meresapi.

Terlebih saat tangan Ferdian sudah mulai merambah naik ke bagian dada Lusi dan meremas lembut buah dadanya yang cukup besar tapi sangat pas di tangan Ferdian.

Jantung Lusi berdegub kencang. Tak di pungkiri, ia menyukai sentuhan lembut di dadanya itu. Ia merasakan pada bagian itu kian mengembang dan menyesakkan.

Begitu pun yang dirasakan Ferdian, gairahnya yang lama tak tersalurkan kini serasa melonjak saat ciumann kaku Lusi membalas permainan bibirnya.

Apalagi ketika ia menyentuh dada Lusi, jantungnya makin berderap kencang layaknya kuda pacuan.

Hasrat yang sudah menggelora membuatnya ingin sekali melepas apa yang dikenakan Lusi dan menyatukan dirinya pada gadis itu saat ini juga.

Dan...

“Pak Ferdi...Ooo...Maaf...Maaf...Maaf.” Tiba-tiba Vika muncul dari balik pintu.

Dan hasrat yang menggetarkan jiwa itu pun terjun bebas seketika.

Ferdian dan Lusi spontan menghentikan kegiatan nikmatnya. Pelototan geram Ferdian tertuju pada Vika yang berdiri dengan lutut gemetar sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan, tapi masih tampak kedua bola matanya terbelalak di antara jari-jarinya yang merenggang.

Lusi salah tingkah seraya membenahi kemeja putihnya yang sudah kusut di bagian dada.

Dengan sorot mata lurus dan siap menghunus, Ferdian berkacak pinggang menatap Vika yang masih gugup dan tampak syok karena menyaksikan adegan panas bossnya bersama sang istri.

“Maaf, Pak. Lanjutkan ... lanjutkan, silahkan. Saya gak liat kok, Pak. Beneran. Ehh, cuma sedikit sih. Hmmm ... kalo sudah selesai panggil saya ya, Pak,” ucap Vika terbata-bata menahan grogi yang luar biasa. Dia memutar badannya berencana hendak keluar kembali.

“Ada apa?“ Tahan Ferdian dengan nada suara kesal.

“Ehh anu.... Ehmm, ini Pak, cuma mau minta tanda tangan untuk hasil meeting kemarin.”

“Bawa sini,” perintah Ferdian dingin. Nyali Vika menciut seketika. Dia menyerahkan berkas pada Ferdian sambil menundukkan kepala

Sebentar Ferdian membacanya, lalu meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya dengan gerakan cepat.

Vika melirik sekilas pada Lusi yang  berdiri terpaku di samping Ferdian. Gadis itu juga tak berbeda dengannya, tampak gugup dan salah tingkah sambil menyentuh bibirnya yang masih terasa berdenyut karena ulah Ferdian yang dahsyat tadi.

Ferdian menyerahkan berkas yang sudah ia tandatangani kepada Vika tanpa suara dan masih dengan raut wajah yang seolah ingin menelan Vika hidup-hidup.

“Permisi," pamit Vika, kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.

Waduh, mudah-mudahan aku gak dipecat, bathin Vika harap-harap cemas.

Kini, Ferdian dan Lusi saling menatap malu. Pria itu mengullum senyum sambil menggigit bibirnya. Lusi pun tersenyum tersipu. Semburat merah itu kembali tampak di kedua belah pipinya.

“Ganggu aja tu orang,” gerutu Ferdian di sambut tawa geli Lusi. Ferdian pun ikut tertawa.

Lalu menatap wajah Lusi setelah gelak tawa mereka terhenti. “Kamu suka gak?“ tanya Ferdian lembut sembari menggenggam jemari gadis itu.

“Suka apa?” Lusi justru balik bertanya.

“Yang tadi.”

Lusi mengangguk malu-malu. Membuat Ferdian gemas melihat pipi yang kian merona itu. Hingga tak tahan untuk menjepitnya dengan jemari.

Keduanya hanya diam tersipu saat bibir mereka masih terasa berdenyut dan jantung mereka masih berdegub kencang saat membayangkan paguttan hangat yang baru saja mereka rasakan.

LIKE, VOTE, FAVORIT DAN KOMENNYA YAH PARA READER, PLEASE.

SUPAYA AUTHOR JADI SEMANGAT NULIS.

1
Sudi Budoyo
sy suka
Mmh Astri
novel toon ia the best
Mmh Astri
👍👍👍🥰🥰🥰💪🙏
Atiqah Adnan
best
Ridwan Sutarso
klise, seperti biasa, jualan kesedihan ... bikin yang agak beda
Tutik Rahayu
tuh kan ga tegas lg si lusi,
tokohnya ga ada yg tegas slalu menggantung
reynard aja yg tegas
Tutik Rahayu
pak dirman yablak jg ya.... ngapain bilang kmr pisah , bodoh
🌺sahaja🌺
thooor malah penasaran sama kisah Maesaroh & johan😁😁😁😁😁
🌺sahaja🌺
SUAMI : JOHAN
ISTRI : MAESAROH
jauh amat thooor, suami gaul abis istri kampungan banget😅😅😅😅😅😅
🌺sahaja🌺
mengap2 deh loe,kayak ikan gak dapet air😅😅😅😅
🌺sahaja🌺
kayaknya cuma mbak ira pemeran figuran yg comel😁😁😁
🌺sahaja🌺
ikutan deg degan
Pipit Sopiah
susah milihnya Thor ganteng semua🤦‍♀️
Pipit Sopiah
baru nyadar kamu marry
Pipit Sopiah
Mak Lampir ga tau malu,, bercokol di rumah Ferdian terus, urat malunya udah putus kaliiiii
Pipit Sopiah
lanjut lagi bacanya
Pipit Sopiah
lanjut lagi bacanya walau nyicil
Mayyuzira
Alhamdulillah selamat.aku yg deg deg an
Pipit Sopiah
lanjut lagi bacanya di sela sela lelahnya pulang kerja
Pipit Sopiah
Alhamdulillah jalan dari Allah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!