Sejak bangku SMA Lili dan Anjas bersama, berangan-angan menikah dan memiliki pernikahan impian, memiliki banyak anak dan hidup menua bersama.
Rencana itu begitu indah, hingga sebuah malapetaka menguji cinta mereka.
"Gugurkan, dia bukan anakku," ucap Anjas.
Lili termenung, menyentuh perutnya yang berdenyut nadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DW Bab 24 - Tak Ada Yang Sempurna
Anjas seperti begitu malas untuk datang ke rumah kedua orang tuanya, namun dia pun menekan pedal gas lebih dalam sampai laju mobilnya di atas rata-rata.
Apa yang dia pikirkan dan lakukan kadang tak sejalan seperti ini.
Tidak sampai 20 menit di perjalanan dia telah tiba di tempat tujuan.
Saat itu malam telah menjelang, jingga berangsur turun dan gelap merangkak naik.
Ketika Anjas masuk ke dalam rumahnya, dia langsung melihat pemadangan yang terasa begitu dingin di ruang tengah.
Papa Irwan berdiri dan nampak gundah, Lili duduk sendirian dan menunduk seraya meremat kedua tangannya di atas pangkuan. Sementara mama Reni pun menangis dan nampak lemah.
"Pa," panggil Anjas ketika sudah berdiri di hadapan sang ayah.
Namun papa Irwan tidak menjawab sapaan anaknya itu dengan kata-kata, melainkan sebuah tamparan yang begitu keras ...
PLAK!!
Bukan hanya Anjas yang terkejut dengan pukulan tersebut, mama Reni dan Lili bahkan sampai memekik.
Anjas terhuyung hingga jatuh ke sofa, menandakan betapa kerasnya pukulan sang ayah.
Lili sontak bergegas membantu Anjas untuk bangkit, namun Anjas menepisnya.
Dan mama Reni makin merasa prihatin melihat pemandangan itu.
Rumah tangga sang anak yang juga dia impikan begitu indah harus berakhir seperti ini.
"Dasar pengecut kamu An! apa pernah papa mengajari kamu jadi pria tidak bertanggung jawab seperti ini?! HAH! Buat malu saja!!"
"Jangan PA!" pekik mama Reni saat suaminya tersebut hendak kembali memukul Anjas.
Tangis mama Reni kini terdengar makin kencang dan karena tangis itulah akhirnya amarah papa Irwan sedikit mereda.
Papa Irwan lantas duduk dengan nafasnya yang terengah, mama Reni berulang kali terus mengelus punggung suaminya.
"Tentang pernikahan kalian berdua. Kalian telah sama-sama sepakat dan sadar untuk menikah dalam keadaan seperti ini, artinya kalian telah siap menghadapi apapun di dalam pernikahan, termasuk tentang anak itu," ucap papa Irwan, bicara dengan kedua matanya yang nampak kosong. Daddanya sakit dan dia sudah tak muda lagi.
Emosinya kadang tak stabil hingga menganggu kesehatannya, namun sekarang harus tetap waras untuk bisa menengahi permasalahan ini.
Anjas memang anaknya, tapi Lili juga sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
Apa yang menimpa Lili adalah sebuah musibah, dan bagaimana jika anak perempuan mereka Amena pun mengalami hal buruk yang serupa? lantas apakah mereka akan pergi.
Akan meninggalkan Lili sendiri?
TIDAK, Irwan tidak akan pernah melakukan itu.
Tapi Anjas justru meninggalkan Lili sendiri, bahkan sampai tega membiarkan Lili datang sendiri untuk menghadap seperti ini.
Papa Irwan benar-benar merasa kecewa pada anak laki-lakinya tersebut.
"Tapi ternyata ketika anak itu ada pernikahan kalian mulai goyah, Lili yang ingin mempertahankan anaknya dan Anjas yang tak ingin memiliki anak bukan anak kandungnya. Begitu kan?" tanya papa Irwan.
Lili dan Anjas sama-sama terdiam.
"Sekarang papa hanya akan bertanya pada mu An, karena kamu adalah anak laki-laki papa dan sekarang telah jadi pemimpin keluarga. Anak itu memang bukan anak mu, tapi dia juga adalah anaknya Lili. Apa sanggup Lili membunuh anaknya sendiri?" tanya papa Irwan.
Tapi di pertanyaan itu Anjas pun hanya diam saja, sampai akhirnya papa Irwan kembali berucap ...
"Tidak An, Lili tidak akan sanggup. Lili bisa membenci orang yang telah menodai dia, tapi Lili tidak akan bisa membenci anak yang dikandungnya, mereka telah terhubung An, berbagi makanan, berbagi untuk hidup, detak jantung mereka berdampingan. Dan andai benar kamu mencintai Lili, harusnya kamu juga mencintai anak itu. Karena sejatinya hidup tidak ada yang sempurna. Cinta dan kasih lah yang membuat semuanya lebih baik, sampai mampu saling menyempurnakan satu sama lain." Papa Irwan sampai meneteskan air matanya saat mengatakan kalimat panjang itu, namun dia segera menghapusnya.
Lili dan mama Reni pun sudah terisak, sementara Anjas?
Entahlah, tak ada yang bisa menebak apa yang dia rasakan sekarang.
Namun yang jelas ucapan Papa Irwan itu membuat Anjas tersentak.
"Orang-orang akan menghina anak itu jika kalian menghinanya juga, namun saat kalian menyayanginya dengan tulus, orang-orang pun akan melakukan hal serupa. Anak itu hanya butuh perlindungan kalian," ucap papa Irwan dengan suara yang terdengar makin lirih.
rasa sayangmu pada anakmu itu wajar walaupun hasil pelecehan.
dan rasa sakit hati anjas juga wajar karna hargadiri laki itu besar
yg salah kalian tidak bicarakan tuntas dr awal sebelum menikah...
tidak ada anak haram dan rasa sayang pada anak itu alami bagi setiap ibu terlepas itu hasil dr hal bejat.