"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tawa Alex pecah, menggema di ruang interogasi yang sempit itu.
Suaranya terdengar sumbang dan penuh kegilaan, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar meremang.
"Hahaha! Kau pikir ini semua ideku, Arkan? Kau pikir aku cukup bodoh untuk bergerak sendirian?"
Alex menatap Gladis dengan pandangan merendahkan.
"Tanyakan pada istrimu, siapa yang paling ingin dia lenyap dari muka bumi ini. Tanya dia tentang Paman kesayangannya!"
Gladis terdiam dengan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Paman Dayu?" bisik Gladis.
"Tepat!" seru Alex. "Dayu yang memberikan semua akses padaku. Dia yang membayar semua sabotase ini. Dia ingin Gladis mati agar seluruh aset perusahaan Widya jatuh ke tangannya tanpa hambatan!"
Arkan tidak tampak terkejut. Ia justru melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Alex dengan gerakan perlahan, lalu merapikan jasnya seolah baru saja menyentuh sampah.
"Aku sudah menduganya," ucap Arkan dingin.
"Sejak audit terakhir di perusahaan Ibu Widya, aku menemukan aliran dana gelap yang masuk ke rekening pribadi Dayu. Dia melakukan korupsi besar-besaran, dan dia tahu Gladis adalah satu-satunya penghalang yang bisa melengserkannya kapan saja."
Arkan menoleh ke arah Gerald yang berdiri di dekat pintu.
"Gerald, hubungi tim hukum kita di pusat. Kirimkan semua bukti transfer dan rekaman percakapan yang sudah kita sadap dari ponsel Alex sebelumnya. Pastikan Dayu tidak punya celah untuk melarikan diri."
"Baik, Kapten," jawab Gerald tegas.
Gladis merasa lemas saat mendengar perkataan dari Alex
Karena ia tahu betul bahwa Paman Dayu, satu-satunya kerabat yang ia punya setelah orang tuanya tiada, ternyata adalah orang yang ingin mengirimnya ke dasar samudra.
Ia menyandarkan tubuhnya pada Arkan, mencoba mencari kekuatan.
"Jadi, semua ini tentang harta?" tanya Gladis dengan suara bergetar.
"Bagi mereka, iya. Tapi mereka lupa satu hal, Gladis. Mereka berurusan dengan nakhoda yang salah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang menjadi hakmu, apalagi menyakitimu."
Arkan kembali menatap Alex dengan tatapan yang sangat datar.
"Bawa dia pergi. Serahkan ke kepolisian internasional begitu kita bersandar di pelabuhan berikutnya. Dan pastikan dia ditempatkan di sel yang paling gelap."
Saat Alex diseret keluar oleh tim keamanan, ia masih terus berteriak mencaci-maki, namun Arkan dan Gladis tidak lagi mendengarkan.
"Setelah ini, apa yang akan terjadi dengan perusahaan Mama?"
"Kita akan mengambilnya kembali, Sayang. Kita akan membersihkan nama ibumu dari tikus-tikus seperti Dayu. Tapi sekarang, fokusmu adalah sembuh. Biar aku yang mengurus sisanya." jawab Arkan.
Suasana di ruang interogasi yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat canggung saat kedua orang tua Arkan melangkah maju.
Ia menatap ayah dan ibunya dengan sorot mata yang tak terbantahkan.
"Pa, Ma. Ini Gladis putri dari Widya yang aku nikahi. Dan sekarang bukan sekadar wanita yang aku bawa di kapal ini. Dia sekarang telah menjadi istriku. Wanita yang sudah bertaruh nyawa menyelamatkanku di tengah laut saat kalian semua tidak ada di sana."
Mama Arkan, Nyonya Siska, menatap lecet-lecet di tangan Gladis.
Ia melihat ketulusan yang murni di mata menantunya.
Tanpa diduga, Nyonya Siska melangkah maju, melewati Angela, dan langsung memeluk Gladis dengan erat.
"Maafkan Mama, Nak," bisik Nyonya Siska pelan di telinga Gladis.
"Mama buta karena ego. Terima kasih sudah menjaga putraku. Terima kasih sudah membawanya kembali pada kami."
Gladis sedikit terkejut ketika Mama Arkan memeluknya.
Air mata yang tadi sempat kering kini kembali menggenang.
Ia merasakan kehangatan seorang ibu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Melihat pemandangan itu, Angela menggelengkan kepalanya dengan liar.
Wajah cantiknya kini tampak buruk karena rasa iri dan amarah yang meluap.
Ia tidak terima posisinya digantikan begitu saja oleh gadis yang ia anggap remeh.
"Tante!" seru Angela dengan suara melengking, mencoba meraih tangan Nyonya Siska.
"Tante tidak bisa melakukan ini! Bagaimana dengan rencana kita? Bagaimana dengan kerja sama perusahaan Papa dan Tante? Gadis ini hanya pembawa sial!"
Ayah Arkan, Tuan Baskoro, yang sejak tadi diam, kini angkat bicara.
"Angela, cukup. Kami sudah mendengar semuanya. Kesetiaan tidak bisa dibeli dengan saham atau kerja sama bisnis. Apa yang dilakukan Gladis di pulau itu adalah bukti yang tidak bisa dibantah oleh dokumen mana pun."
Angela mundur dan menatap Arkan dengan penuh kebencian, namun Arkan bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
Pandangan Arkan hanya terkunci pada Gladis dan ibunya.
"Gerald, siapkan helikopter pribadi untuk Angela. Dia harus meninggalkan kapal ini sekarang juga. Hubungi ayahnya, katakan bahwa kerja sama kita tetap berjalan, namun masalah pribadi ini sudah selesai."
"Tapi Tante..." Angela merengek, namun Nyonya Siska tidak melepaskan pelukannya dari Gladis.
"Pergilah, Angela. Jangan buat dirimu semakin tidak terhormat di sini," ucap Nyonya Siska tanpa menoleh.
Angela menghentakkan kakinya dengan kesal dan lari keluar ruangan dengan isak tangis yang penuh rasa malu.
Kini, di ruangan itu hanya tersisa keluarga inti Arkan.
Arkan tersenyum tipis melihat istrinya akhirnya diterima.
Ia menarik Gladis dari pelukan ibunya dan mengecup kening istrinya lama sekali.
"Sudah kubilang, kan? Kamu adalah nakhodaku."
Keluarga Arkan akhirnya bersatu!
Kemudian Arkan mengajak istrinya untuk kembali ke kabin.
Pintu kabin tertutup rapat, meninggalkan hiruk-pikuk drama di luar.
Arkan duduk di tepi tempat tidur, sementara Gladis masih mematung di samping jendela, menatap pantulan dirinya yang penuh luka dan balutan perban.
Suasana begitu hening, hanya terdengar suara mesin kapal yang menderu pelan.
Gladis perlahan duduk di samping Arkan, jemarinya meremas kain sprei dengan erat.
Pikirannya masih melayang pada pengakuan Alex di ruang interogasi tadi.
"Paman Dayu. Dia adik kandung ibuku, Arkan. Dia orang yang sering membelikanku boneka saat aku kecil. Bagaimana mungkin harta bisa mengubah seseorang menjadi iblis?"
Arkan menggeser duduknya, lalu menarik Gladis ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
Ia membiarkan Gladis bersandar di sana, mencari sisa-sisa ketenangan.
"Keserakahan seringkali membutakan mata hati, Sayang," bisik Arkan sambil mengelus rambut Gladis lembut.
"Dayu merasa terancam karena namamu adalah ahli waris tunggal. Selama kamu masih hidup, dia tidak akan pernah bisa sepenuhnya menguasai kerajaan bisnis yang dibangun ibumu."
Gladis mendongakkan kepalanya dan matanya yang sembap menatap suaminya.
"Apa dia yang menyabotase kapal ini sejak awal? Apa tujuannya memang hanya ingin melenyapkanku?"
"Sepertinya begitu. Dia memanfaatkan Alex yang haus akan posisi dan kekuasaan untuk melakukan pekerjaan kotornya, sayang. Tapi dia melakukan satu kesalahan besar. Dia lupa bahwa nakhoda kapal ini tidak akan membiarkan mutiaranya tenggelam."
Gladis tersenyum pahit saat mendengar perkataan dari Arkan
"Aku hampir saja menyerah tadi malam di pulau itu. Kalau bukan karena melihatmu terluka, mungkin aku sudah membiarkan diriku terbawa arus."
Arkan memegang kedua pipi Gladis, memaksa istrinya menatap langsung ke matanya.
"Dan karena keberanianmu itu, kita sekarang di sini. Dayu pikir dia sudah menang, tapi dia tidak tahu bahwa kita sedang menuju ke arahnya dengan membawa badai yang lebih besar."
Arkan merogoh ponsel satelit di atas nakas dan menekan sebuah nomor.
"Halo, tim aset? Bekukan seluruh rekening pribadi Dayu sekarang juga. Kirimkan bukti korupsi yang kita punya ke Kejaksaan Agung. Aku ingin saat kapal ini bersandar esok pagi, dia sudah disambut dengan borgol di depan kantornya sendiri." ucap Arkan.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget