Bhadrika Anneta Fabian memilih bersembunyi dari keluarganya karena belum siap menerima pernikahannya dengan seorang pria yang tak ia cintai.
Sementara Pangeran Aditama meski sudah tiga tahun berlalu masih terus mencari Istri sirinya yang kabur, hingga pada akhirnya ia menemukan titik terang tentang keberadaannya
" Jika kamu tak ingin aku menjadi Tuan Pemaksa, maka patuhi dan cintai aku sebagai suamimu."
" Tapi aku tetap tidak bisa mencintaimu karena di hati ini hanya ada dia. Jadi lepaskan saja aku!"
" Anne dia sudah pergi, jadi lupakanalah! Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu akan tetap menjadi istriku sampai nanti. "
Di kala Pangeran masih berjuang untuk mendapatkan cinta istri, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat mirip dengan almarhum pria yang sangat Anne cintai.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan mereka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Tak berarti
"Tapi aku tak pernah memintamu untuk menungguku."
Kalimat itu terus menari-nari dalam benak Pangeran. Kalimat itu memang sederhana, tetapi memiliki makna yang cukup dalam, dimana sebuah penantian yang ternyata tak di hargai sama sekali.
Pangeran sadar jika Anne akan sulit untuk menerima dirinya, tapi haruskan berkata seperti itu? Seolah-olah dirinya itu tak berarti sama sekali.
Pangeran kembali menambah kecepatan mobilnya melaju di jalanan yang cukup sepi. Setelah mendengar ucapan Anne yang begitu pedas, Pria berusia dua puluh delapan tahun itu memilih untuk pergi. Bahkan, rasa kantuk yang awalnya mendera seakan hilang seketika menjadi rasa pedih dalam hati.
Sementara Anne terlihat tak bisa tidur dengan nyenyak di atas kasurnya. Entah karena berada di tempat berbeda, atau memikirkan seseorang yang telah ia sakiti.
" Apa sikapmu terlalu berlebihan?" gumam Anne yang tiba-tiba merasa bersalah.
" Ah, lagian kenapa juga aku mikirin hal itu. Lagipula, Aku memang tak pernah menyuruh dia untuk menungguku, bahkan di awal pertemuan kita di Swiss pun aku menyuruh dia untuk menceraikanku daripada tersakiti. Tapi, dia sendiri yang memilih untuk bertahan bersama seseorang yang hatinya masih ada orang lain. Jadi... Ini adalah pilihannya! " lanjut Anne memberi sebuah tanggapan sendiri akan apa yang tengah ia pikirkan.
Setelahnya, gadis cantik itu pun mencoba untuk memejamkan matanya dan akhirnya tertidur juga.
...***...
Waktu bergulir begitu cepatnya dan tanpa henti terus berjalan seakan tak mengenal lelah. Malam kelam dengan rasa sakit, telah berganti dengan pagi yang terlihat begitu cerah tanpa berselimut mendung.
Sesampainya di kantor Aditama grup, kehadirannya di sambut oleh Bentala sang Asisten.
" Selamat pagi, bos," sapa Bentala sambil menundukkan kepala.
Namun, tak seperti biasanya. Pangeran terlihat tak membalas sapaan selamat pagi darinya, bahkan wajahnya pun terlihat begitu surawa layaknya awan hitam.
" Ada apa dengan bos? Bukankah seharusnya ia bahagia karena istrinya telah kembali!" gumam Bentala dengan nada lirih.
Setelahnya, Ia berjalan mengikuti bosnya memasuki lift menuju lantai dimana ruangan Ceo berada.
" Apakah hari anda kurang baik, bos?" Bentala memberanikan diri untuk bertanya guna menghilangkan rasa penasaran akan keanehan dalam diri bosnya.
" Apa saja jadwal hari ini?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Bentala, Pangeran justru mengubah dengan bertanya topik lainnya.
" Hari ini___" Bentala langsung membuka layar aipad yang ada di tangannya untuk melihat jadwal Pangeran yang sudah ia tulis.
Dikarenakan sempat cuti selama beberapa hari, membuat jadwal meeting Pangeran cukup padat. Pasalnya jadwal kepergiannya ke Swiss yang awalnya hanya dua hari membengkak sampai beberapa hari.
...***...
Di tempat lain, tepatnya di sebuah kamar dengan nuansa kamar warna pink pastel. Terlihat seorang wanita cantik terlihat mondar mandir tak jelas. Ia seakan ragu untuk turun ke bawah ikut sarapan bersama. Pasalnya, Ia bingung harus menjawab apa jika keluarga bertanya soal dimana Pangeran.
Namun, panggilan dari sang maid terus terdengar menyuruhnya turun ke bawah karena semua orang telah menunggu untuk sarapan bersama. Alhasil, Anne pun memutuskan untuk turun saja. Soal pertanyaan dimana Pangeran, Ia akan mencari alasan.
"Loh Anne, suamimu mana?" tanya Papa Ken tatkala melihat putrinya hanya turun sendirian tanpa menantunya.
Akhirnya, apa yang ditakutkan oleh Anne terjadi juga. Dimana Papanya yang langsung bertanya soal keberadaan Pangeran. Kalau boleh jujur, Anne sendiri juga tak tahu dimana keberadaan pria itu. Tapi, tak mungkin ia akan berkata tak tahu. Bisa-bisa semua orang akan bertanya macam-macam.
" Iya, Anne. Kok gak diajak turun bareng?" sahut Mama Dira yang ikut menimpali.
" Em ... Itu, Pangeran ada urusan mendadak. Jadi, dia pulang duluan" dusta Anne yang akhirnya memakai alasan klise.
" Kalian tidak sedang bertengkar 'kan?" tebak Lean yang menyadari adanya kejanggalan dari sikap adiknya.
" Nggak lah," elak Anne yang kembali berbohong.
" Terus, kenapa kamu gak ikut pulang? 'kan biasanya pengantin baru pengennya nempel terus, apalagi setelah lama berpisah, " goda Nala yang membuat Anne semakin bingung harus menjawab apa.
" Sudah ... Sudah ... Kalian jangan saling menggoda dan mengintrogasi Anne. Masih pagi!" papar Mama Dira yang mencoba menghentikan semuanya.
Setelahnya, semua orang melanjutkan sarapan bersama. Kemudian, pamit pergi satu-satu untuk pergi bekerja dan berangkat ke sekolah hingga hanya menyisakan Mama Dira dan Papa Ken. Ketika melihat semuanya sudah pergi, Anne pun berniat untuk pergi karena takut jika Papanya akan kembali mengintrogasinya.
" Anne___" panggil Papa Ken tatkala melihat Anne yang akan beranjak pergi.
" Ada apa, Pa?" tanya Anne.
" Kamu mau kemana?"
" Oh, Anne ingin melihat studio lukis," jawab Anne asal.
" Kamu merindukan studio lukismu?"
Anne mengangguk.
" Kalau begitu pergilah."
Setelahnya, Anne pun beranjak pergi meninggalkan Mama dan Papanya. Setelahnya, Mama Dira bisa menghela nafas lega karena suaminya memahami kode yang ia biarkan untuk tidak membahas lagi soal Pangeran yang pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.
*
*
Sesampainya di studio lukisnya, Anne mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan ia mendapati jika tak ada perubahan sedikitpun pada ruangan itu. Anne kembali melangkahkan kakinya berjalan mendekati beberapa lukisan yang tertutup oleh kain putih.
Ia pun mencoba membuka satu persatu lukisan itu, dan memperlihatkan beberapa karya seri in memories yang belum lengkap. Pasalnya, sebagian karya itu masih ada di Swiss.
Memori demi memori kembali terlintas dalam benak Anne tatkala menatap lukisan itu. Sebuah lukisan yang menceritakan akan kenangan bersama orang tercintanya. Seseorang yang mengajarkan apa arti cinta dan perjuangan pada dirinya.
" Kamu masih belum melupakannya, Anne?" tiba-tiba ada suara barinton yang terdengar membuat Anne langsung menyeka air matanya.
" Papa," lirih Anne tatkala melihat Papanya yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu ruangan studio lukis yang tak di tutup.
Ketika Mama Dira pergi ke dapur, Papa Ken langsung menyelonong pergi mengikuti Anne ke studio lukisnya. Mumpung putrinya masih berada di sini, Ia ingin terus bersamanya menghabiskan waktu. Pasalnya, sekarang putrinya itu telah menikah, jadi otomotis ia tak akan bisa terus-menerus tinggal bersamanya di rumah ini. Akan ada masa dimana suaminya membawanya pergi untuk tinggal di rumah mereka sendiri.
Papa Ken berjalan mendekati Anne, lalu merangkul tubuh putrinya dan ikut menatap lukisan itu.
" Saat Anne tak ada, Papa sering datang ke sini untuk melihat semua lukisan yang Anne buat. Awalnya, Papa mengira dengan datang ke sini rasa rindu Papa akan berkurang tapi nyatanya rasa rindu itu semakin banyak bercampur dengan sebuah penyesalan."
" Sekali lagi Papa minta maaf ya Anne, "lanjut Papa Ken yang kembali meminta maaf.
" Kenapa Papa terus menerus meminta maaf?"
" Karena Papa sadar jika Papa lah yang membuat kalian terluka. Andai Papa___"
" Sudah lah, Pa." potong Anne yang tak mau membuat Papanya terus-menerus merasa bersalah. Apagi saat ini kondisinya kurang baik.
"Jangan terus membahas hal itu lagi, lagipula semuanya tak akan ada yang berubah."
" Benar, semuanya memang tak akan berubah. Jadi, terima dengan ikhlas apa yang ada saat ini." Bukan Papa Ken yang mengatakan, melainkan Mama Dira yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka.
...****************...
penasaran sama lnjtn nya