Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang hilang
"Jika saya menawarkan produk-produk fashion terbaru dari butik saya sendiri untuk dijual di kios bu Neli, apakah ada kemungkinan untuk kita bekerja sama?" Ucap mama Alin.
"Itu menarik bu Alin, bisa saya lihat contoh produknya?"
"Oh, tentu." Mama Alin mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu menunjukkan banyak contoh koleksi pakaian pada bu Neli. "Saya memiliki koleksi pakaian pria dan wanita yang trendy dan berkualitas tinggi, bu Neli. Saya juga menawarkan harga grosir yang kompetitif, saya akan memberikan diskon untuk pembelian dalam jumlah besar."
"Oke, bu Alin. Saya setuju, saya akan coba untuk menjual produk-produk bu Alin di kios saya ini." Kata bu Neli setelah melihat contoh koleksi pakaian dari ponsel mama Alin.
Beberapa menit mama Alin menceritakan tentang butiknya pada bu Neli. Mereka sangat nyambung hingga mencapai sebuah kesepakatan ingin bekerja sama.
Di kios sebelah, Arumni membantu Galih menyusun stang gantungan pakaian ke tempat yang sesuai.
Galih menatap dengan tatapan sayu, ia tersenyum kala Arumni juga menatapnya.
"Kiosnya masih terlihat menarik ya, mas? Letaknya juga strategis." Kata Arumni.
"Iya, karena itu ibu nggak sabar ingin kembali berjualan. Ibu berharap bisa kembali menjual banyak pakaian pada pelanggan-pelanggan lama ibu," balas Galih lalu kembali dengan aktivitasnya, ia menggeser etalase ke tempat yang dulu ibunya meletakkan.
"Aku bantu," ucap Arumni sambil mendorong etalase panjang yang masih kosong itu.
"Terimakasih." Kata Galih saat mereka berhasil meletakkan etalase itu ke tempat yang sesuai.
Arumni tersenyum lalu mengambil sapu lantai, ia sapu lantainya dengan cekatan. Sementara Galih mengamati langit-langit yang tampak ada sedikit sarang laba-laba.
"Percumah kamu sapu lantainya, Arumni." Kata Galih yang membuat Arumni menghentikan sapunya.
Ia menoleh ke arah Galih, "kok percumah?"
Galih menunjuk atas dimana ada sarang laba-laba sembari tersenyum.
Arumni tertawa kecil lalu memberikan sapunya pada Galih. "Bersihkan!" Perintah Arumni dengan lembut.
"Oke!" Balas Galih, lalu mulai membersihkan langit-langit yang terdapat sarang laba-labanya. Galih membersihkan langit-langit itu, dengan tatapan yang tertuju pada Arumni yang sedang mengamatinya, "sudah bersih belum?"
"Kenapa tanya aku? Coba lihat sendiri."
"Aku nggak berani lihat atas, Arumni."
"Kenapa?"
"Takut kelilipan debu," katanya.
"Jangan takut, coba lihat atas! Nanti kamu tahu di mana akan meletakkan harapan mu yang hilang," gurau Arumni.
Galih menurunkan sapunya, lalu menghela napas sambil tersenyum. "Aku sudah nggak bisa meletakkan harapan, Arumni. Kan sudah hilang, sudah nggak kelihatan, kan?"
"Carilah harapan baru, mas."
Keduanya tertawa, di tengah rasa canggung, mereka berusaha akrab dan melupakan peristiwa yang dulu.
Bu Susi datang menenteng dua kardus ukuran sedang yang sudah diikat rapi, iya, itu tidak lain oleh-oleh dari bu Susi untuk keluarga bu Alin yang berada di Bandung.
"Apa itu, bu?" tanya Arumni yang juga di susul oleh Galih dengan pertanyaan yang sama.
"Ini oleh-oleh untuk keluarga bu Alin yang ada di Bandung." Kata bu Susi sambil meletakkan kardus di sudut ruangan, "di mana bu Alin?"
Galih dan Arumni menunjuk ke arah yang sama, keduanya juga kompak mengatakan, "di tempat bu Neli."
Bu Susi tersenyum, teringat pada mereka yang dulu sebelum menikah saat berkunjung ke rumah.
Bu Susi menghampiri mama Alin dan bu Neli, bergabung dengan obrolan mereka yang ingin bekerja sama.
Galih dan Arumni kembali membereskan kios itu, obrolan mereka terdengar begitu asyik dan santai, seperti saudara dekat. Untuk rasa yang masih ada, Galih menyimpannya rapat-rapat.
Secara kebetulan Adit bersama dua orang yang merupakan anggota Bintara, sedang mengadakan patroli rutin di pasar yang sama. Untuk mencegah tindak kejahatan dan memastikan bahwa kegiatan di pasar berjalan lancar dan aman.
"Selamat siang ibu, bapak, apa ada masalah di sini?" Adit bertanya pada kios sebelah.
"Tidak ada pak. Alhamdulillah pasar dalam keadaan aman." Jawab pak Niko dan bu Santi yang kiosnya berada di depan kios bu Susi.
"Baik bu, jika ada apa-apa silahkan hubungi kami. Kami siap membantu."
"Terimakasih, pak. Semoga pasar kami semakin maju dan aman." Harapan pak Niko.
"Aamiin... terimakasih atas kerja samanya." Kata Adit lalu berbalik arah ke kios bu Susi.
Saat itu Arumni dan Galih sedang asyik ngobrol, duduk santai di satu bangku setelah selesai membereskan kios bu Susi.
...****************...
Kira-kira bagaimana reaksi mereka?
Nantikan episode selanjutnya. 🤗
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/